Paradoks

Paradoks
Chapter 2


__ADS_3

"Ade rasa pacar ya, Vi" Tegurnya tiba tiba datang membawa mobil didepan Keishy dan Vian


"ini siapa, Bang?" Keishy menunjuk Pria itu samar


"Temen Abang. Yaudah, sana masuk mobil!" Perintah Vian


"Mau kemana?" Keishy masuk ke dalam Mobil setelah kakaknya masuk


"Ke apartemen, terus daftarin lu sekolah. Kelas dua, 'kan?"


Mobil itu bergerak sesuai dengan rute yang dituju. Vian dan temannya duduk dikursi depan sedangkan Keishy berada di tengah.


Keishy menopang dagunya malas, "Bang, gue gamau sekolah. 1 tahun TK, 6 tahun SD dan 3 tahun SMP, Gua tetep aja ****** kek elu"


"Gue pinter ye su, sembarangan kalo ngomong" Timpal Vian


"Sekolah itu butuh, dari pada lu di apart kerjaannya cuma rebahan di kasur, keluar cuma mau ke wc doang. Gak bermutu tau gak" lanjutnya dan Keishy menghela pasrah mendengarnya.


"Tenang Kei. Gue bakal masukkin lu ke sekolah favorit kok"


"Gak perlu bang, masukkin aja gue ke sekolah yang alfanya ga dipeduliin, sering jamkos, boleh bawa hp, satpamnya baik gak banyak nuntut, guru yang gak baperan, kaya akan cogan, anak yang mudah dipalak wah dah perfect tuh" jelasnya


"oh. Mana adalah nyed! Lu cari sampe ke ujung dunia pun ga ada sekolah yang kayak gitu" Timpal Vian


"Vian, maksud adek lu sekolah yang peraturannya gak terlalu ketat cem sekolah abal-abalan tapi ternama" jelas Bobby teman Vian

__ADS_1


"Ya mana ada lah bob"


Bobby menatap Vian sekilas seraya tersenyum kemudian kembali fokus menyetir, "Lu lupa, gue punya sekolah yang lagi trendi di negara ini?"


"Hah? Sekolah lu? Yang mau belajar cuma orang yang minat aja? ADOS? All Dream Of School?"


"Iya Vian, tenang aja tante gue jadi Dokter buat Uks disana, jadi adek lu bisa dijagain"


"Gamau ah! Masak ade gue sekolah di ADOS"


"Emang kenapa Bang?" Tanya Keishy bingung


"Itu Osisnya pada suka ambil hati a.k.a baperan, mending lu kalo masuk kesana ga usah berurusan sama mereka" Jelas Vian


"Psikopat Nenekmu" Timpal Vian sedangkan Bobby hanya terkekeh kecil melihat sikap temannya itu


Mobil berhenti pertanda mereka sudah sampai pada tujuan. Setelah sampai pun Bobby segera pergi membawa mobilnya sedangkan Vian bersama Keishy pergi masuk ke Apartemen itu dan memesan kamar.


Vian membawa Koper berisi baju baru Keishy yang tadi dibawa Bobby ke Lantai 3 tepat menuju Apartemen Keishy.


Vian memutar kuncinya membuka pintu pelan "Samlekom" Salam Vian


"Salam yang bener Bang" Tegur Keishy segera masuk Apartemen


"Yaudin, Assalamualaikum" salam Vian, "waalaikumussalam" gumamnya dalam hati seraya masuk ke Apartemen membawa koper itu tetapi empunya masih diluar.

__ADS_1


"Kok gak masuk, Bang?"


Vian melihat jam dan menatap adiknya, "gua ada urusan."


"Jangan bilang lu bakal mutilasi orang lagi?" Keishy menyipitkan matanya memastikan.


"Hm, ngga Keishy. Gua janji" Vian mengangkat jari kelingkingnya ke arah Keishy, "Abang gak bakal mutilasi orang lagi dan gak bakal ngelakuin kebiasaan buruk Abang lagi."


Keishy mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Vian, "Janji?"


"Janji" Seru Vian tanpa ragu.


"Emang ada urusan apalagi sih, Bang?" tanya Keishy penasaran


"Abang sekarang ada Cafe, Restoran dan Perusahaan yang mau abang urus" Vian merogoh dompetnya dan memberikan kartu ATM pada Keishy


"Itu didalemnya ada 1 miliar lebih. Sebulan harus 10 juta. Jangan boros Keishy, nyari duit susah" lanjutnya kemudian Keishy menerimanya.


"Makasih bang" Ucap Keishy seraya tersenyum menerimanya


"Iya sami-sami. Gua pergi dulu ya, baik-baik di sini. Aing sayang maneh" Ucap Vian mencium kening Keishy kemudian pergi dari sana, sedangkan Keishy mengunci pintu apartement bersandar dibalik pintu itu dan merogoh sakunya.


Terdapat sosok paruh baya yang memiliki rambut coklat pekat asli sembari tersenyum.


"Mamah.." lirih Keishy pelan memeluk foto itu terisak kesedihan yang mendalam kepada mendiang ibunya yang tadi meninggal

__ADS_1


__ADS_2