Paradoks

Paradoks
Hitsumabushi


__ADS_3

2 minggu telah berlalu sejak keberangkatan Kuon ke Jerman. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera pulang untuk berkumpul kembali dengan istrinya itu.


Karena keesokan harinya ia akan pulang, ia lantas pergi ke toko perhiasan yang ada di Cologne untuk melihat-lihat apa yang bisa ia berikan untuk Naomi sebagai hadiah.


______________________________________________


Belakangan ini perut Naomi sering terasa nyeri dan mengeras.. tadinya ia ingin menghubungi Dr. Yamaguchi akan tetapi ia mengurungkan niatnya setelah ia mencari tahu apa kemungkinan yang dapat menyebabkan perut mengeras di usia kehamilan 19 minggu..dan ia menemukan artikel tentang Braxton Hicks atau Kontraksi palsu.


Dikatakan beberapa wanita bisa merasakan Braxton Hicks bahkan sejak usia kehamilan 16 minggu.. Mengetahui jawaban tersebut ia pun tidak terlalu memikirkannya, toh sekarang Haruto juga mulai semakin aktif menendang. Ia tidak sabar agar Kuon bisa merasakan tendangan si kecil.


Tersenyum membayangkan reaksi Kuon, ia kemudian melanjutkan kembali melipat baju-baju bayi yang lucu di kamar bayi mereka.


Terdapat jendela yang besar di kamar itu agar cahaya matahari dapat masuk sehingga membuat ruangan tersebut semakin terang.. warna seluruh dinding juga didominasi dengan warna biru muda, terlihat gambar pesawat dan awan menghiasi dinding kamar tersebut..


Semua lemari, tempat tidur bayi hingga tempat mengganti popok sudah tertata rapi di ruangan itu, di sebelah kiri sudut ruangan, terdapat satu buah mainan kuda-kudaan dari bahan terbaik dan juga 1 unit mobil elektronik. Kuon sangat bersemangat menyambut kehadiran putera pertama mereka, oleh karena itu hampir semua yang terdapat di kamar itu di atur oleh Kuon.


Di sebelah tempat tidur bayi, terdapat sofa tunggal yang nyaman dan empuk. Naomi sudah membayangkan bagaimana ia akan menyusui bayi mereka di sofa itu.


Walau Naomi tidak terlalu vokal dengan kehamilannya, ia juga sangat menantikan kehadiran anak mereka. Cinta yang tidak pernah ia bayangkan akan ia miliki sebelumnya, tumbuh seiring bertumbuhnya janin didalam rahimnya itu. Rasa keibuan menguasai dirinya.. Mungkinkah ini yang di rasakan ibunya ketika mengandung dirinya? Ia sudah tidak sabar untuk mendekap buah hatinya itu.


______________________________________________


Kuon baru saja tiba di rumah, dan seperti biasanya, Naomi sudah menunggu didepan pintu, menantikan kepulangannya.


"Aku pulang.." sapa Kuon saat ia memasuki rumah mereka.


"Selamat datang kembali... Bagaimana perjalananmu?" balas Naomi seraya melepaskan mantel Kuon dan menggantungkannya di gantungan mantel.


" Perjalanan dari bandara agak sedikit macet.. Bagaimana dengan hari-harimu dan Haruto?" tanya Kuon seraya mengelus perut Naomi.

__ADS_1


" Merindukanmu.." jawabnya malu-malu dan tersenyum.


Melihat tingkah Naomi yang manis, membuat Kuon ingin memeluknya.


"Aku juga merindukanmu..dan Haru..., kamu harus tahu.. 2 minggu terakhir ini...adalah minggu terpanjang...untukku.." bisik Kuon seraya memandang bibir Naomi dan mengelus bibirnya dengan jempolnya sebelum ia mendaratkan bibirnya ke bibir Naomi untuk beberapa saat, sebelum ia melepasnya.


" Ayo kita masuk kedalam terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan makan malam untukmu" ajak Naomi.


Naomi membuat Hitsumabushi, yaitu hidangan traditional dari Nagoya yang terbuat dari belut panggang yang di oles dengan saus khusus serta dihidangkan dengan nasi dan beberapa jenis herbal, dan tidak lupa di lengkapi dengan rumput laut.


Ia mengetahui dari Miyata, pelayan mereka jika Kuon sangat menyukai makanan tradisional dari Nagoya itu, oleh karena itu ia berinisiatif untuk membuatnya sendiri.


"Kamu yang membuatnya?" tanya Kuon tidak percaya ketika melihat hidangan yang ada di atas meja. Menu kesukaannya Hitsumabushi terpampang didepannya, bau harum dari belut panggang membuatnya lapar seketika.


Selain Hitsumabushi, Naomi juga membuat Tempura dan sup Miso, Kuon selalu memuji jika sup Miso Naomi adalah Miso terenak yang pernah ia nikmati.


"Ya, aku dengar dari Miyata kamu sangat menyukainya, oleh karena itu ketika kamu di luar sana, aku mengambil inisiatif untuk belajar membuatnya.. aku tidak tahu apa rasanya akan sesuai dengan seleramu.."


"mmh!! Ini sangat enak.. melebihi restaurant yang biasa kudatangi.." puji Kuon sembari mengambil potongan lainnya lagi dan makan dengan lahap.


Melihat suaminya memakan makanan yang ia buat dengan sepenuh hati, senyum merekah dibibirnya, merasa bangga dengan dirinya.


" Ayo kamu juga harus makan" ucap Kuon seraya mengambil potongan belut dan tempura kedalam mangkuk nasi Naomi.


Setelah 2 minggu lebih, akhirnya mereka bisa makan malam bersama kembali.


______________________________________________


Kuon merasa sangat senang karena Naomi mencari tahu perihal makanan yang ia sukai, walau hubungan mereka kini sudah menjadi jauh lebih intim, tidak dipungkiri masih ada hal yang membuat Kuon merasa Naomi belum sepenuhnya memberikan hatinya kepada dirinya. Ya.. Naomi belum pernah mengatakan kalau ia mencintai suaminya itu.

__ADS_1


Terlepas bagaimana sikapnya sekarang, Kuon menginginkan ucapan itu keluar dari mulut Naomi.. bolehkah ia kini berharap jika Naomi mulai jatuh cinta padanya? Ia yakin tidak ada wanita yang berusaha mencari tahu apa makanan kesukaan seorang pria, jika pria itu tidak mempunyai tempat di hati wanita itu. Oleh sebab itulah ia tidak pernah membahas apa yang menjadi makanan kesukaannya maupun warna favoritnya. Ia ingin Naomi mencari tahu sendiri, karena itu merupakan tanda Naomi mulai tertarik kepadanya..tidak mengapa walau sedikit...rasa itu akan semakin besar ketika putera mereka lahir.


Kuon sedang berada diranjang mereka yang lebar, sambil memantau pergerakan saham di layar laptopnya ketika ia mendengar erangan dari kamar mandi yang berada di kamar mereka.


Naomi sedang menyikat giginya ketika ia tiba-tiba merasa perutnya mengeras, namun rasa itu hilang begitu saja. Ia kemudian melanjutkan menyikat giginya lagi dan berhenti ketika rasa nyeri kembali menyerang perutnya... Namun kali ini rasa itu tidak pergi, justru semakin lama perutnya semakin mengeras dan mengeras, pinggangnya mulai semakin nyeri, dan rasa sakit seperti ribuan jarum menusuk-nusuk pinggul dan juga rahimnya.


Rasa sakit yang di alaminya semakin kuat, keringat dingin mulai bermunculan di kepala dan kedua tangannya. Ia merasa perutnya akan pecah, ia kemudian memegang perutnya seolah - olah perutnya akan jatuh.


Rasa sakit yang hebat kemudian melandanya, ia sudah tidak mampu berdiri lagi.. dan tiba-tiba ia merasakan cairan yang hangat mengalir di antara kedua kakinya itu. Tidak tahan lagi, ia pun mengerang kesakitan dengan posisi meringkuk di permukaan lantai kamar mandi.


Kuon yang segera memasuki kamar mandi ketika mendengar suara erangan Naomi terkejut melihat apa yang sedang terjadi didepan matanya.


Kengerian terpatri di wajahnya, raut wajahnya pucat dan panic menghampirinya ketika ia melihat Naomi meringkuk kesakitan di lantai, darah mengalir deras di antara kedua kakinya.


"Naomi!!!" panggil Kuon seraya berlutut untuk memeluk Naomi, wajahnya terlihat ketakutan dan matanya terbelalak tidak mempercayai apa yang sedang terjadi.


"Ku..on..perut..perutku..sakit..sekali..uugh" Naomi merintih kesakitan karena rasa sakit diperutnya yang semakin menggila.


Tanpa menunggu lagi, Kuon segera menggendong Naomi dan berlari keluar dari kamar mereka.


"FUJITA!!! SIAPKAN MOBIL SEKARANG JUGA!!" teriak Kuon


Fujita yang melihat tuannya berlari kecil sambil menggendong istrinya yang sedang berlumuran darah segera bergerak cepat, ia pun segera membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Rumah Sakit!! CEPAT!!" bentak Kuon panic. Ia semakin panic begitu melihat wajah Naomi yang pucat pasi, bahkan bibirnya terlihat memutih.


".. Perutku sakit..sekali Kuon.." tangis Naomi pecah.


"Ssst..semua akan baik-baik saja, aku berjanji padamu" ucapnya secara mengenggam tangan Naomi erat dan menciumnya.

__ADS_1


"Oh Tuhan..darahnya ada dimana-mana.. Kumohon bertahanlah Naomi.."


__ADS_2