Paradoks

Paradoks
Chapter 23


__ADS_3

Kaki itu melangkah menuruni tangga keluar dari rumah sakit seraya menyaku pistol memasukki mobil. Keishy melirik Arvin yang di sampingnya menancap gas pergi dari sana, posisi mereka masih di Bali. Bagaimana dengan sekolah? Mereka meminta izin dengan kepala sekolah selama dua bulan. Jika mereka tidak naik kelas, maka mereka akan mengabdi pada HSD selama 10 tahun. Itu perjanjiannya.


Keishy mendecak, "kemana kita sekarang?" tanya Keishy seraya mengisi peluru di pistolnya


Arvin membungkam sejenak, "Sena's Location" jawabnya singkat sedangkan Keishy cuma mengangguk kemudian menyalakan musik lewat radio mobil.


Keishy merasakan mobil itu bergerak dengan arah yang tak beraturan kemudian melirik Arvin dengan tatapan pertanyaan


Arvin pun mengernyit heran, "gatau nih Kei" Ucapnya seraya memutar setir beberapa kali untuk membenarkan arah.


Ban mobil depan di sisi kanan mendecit kemudian lepas, membuat mobil itu melaju dalam posisi miring dengan percikan api diantara jalan dan besi mobil, "Vin! itu ban lepas! Gimana sih lu?! Gak di periksa dulu apa?!" mendengar gerutu dari Keishy Arvin mendecak kesal, karna dia memang tidak memeriksa mobil itu terlebih dahulu.


Keishy mendengar suara kecil di telinganya, kemudian melihat ruangan mobil di sekelilingnya, Keishy membelalak kaget saat melihat kaca depan mobil bolong, kemudian ia melihat kaca belakang mobil, dia mendapatkan lubang yang sama, "Kita diserang" Ucap Keishy pada Arvin kemudian dia meliriknya sekilas dan kembali pada rute yang tidak jelas arahnya.


Ban mobil disisi kanan sudah terlepas keduanya. Besi mobil mendecit hebat hingga mengeluarkan percikan api yang sangat banyak, "lepaskan sabuk pengaman" Ucap Arvin memberikan Arah, Keishy mendengarnya mengangguk mengerti kemudian melepaskan sabuk pengamannya di susul dengan Arvin berada di sampingnya.


Suara pistol itu mendenging di telinga mereka. Benar! Mereka diserang. Orang orang yang menggunakan baju serba hitam dengan mobil Jeep-nya itu berlomba - lomba untuk menembak mereka. Ban belakang terlepas, Arvin reflek membanting setir menginjak gas dengan gigi 'R' membuat mobilnya mundur hingga terseret ke bawah jurang.


Arvin membuka pintu mobil kemudian menarik Keishy ke pangkuannya, dengan cepat Arvin meraih ranting pohon yang cukup besar keluar dari mobil. Mobil itu terseret kemudian jatuh terlempar ke jurang dengan ledakan yang sangat besar membuat segerombolan manusia berpakaian serba hitam yakin bahwa Keishy dan Arvin telah hangus terbakar.


"siapa yang menembak ban itu?" Ucap salah satu dari mereka kemudian salah satu Pria yang menggunakan topi hitam itu menyeringai, "Aku" jawabnya


"500 juta untukmu" Ucap Pria yang lain melempar koper hitam pada Pria itu kemudian mereka pergi dari sana.

__ADS_1


Di sisi lain Arvin bertahan dengan tubuh yang menggantung di ranting dengan tangannya yang lain mendekap Keishy agar tidak jatuh, begitupun sebaliknya, Keishy memeluk Arvin erat untuk mempertahankan nyawanya.


"Bodoh lu Kei" Ucap Arvin dengan wajahnya yang datar. Mendengar ucapan Arvin pun Keishy memukul pundak Arvin pelan, "maksud lu apa hah?!" Ucap Keishy tidak terima


"Lu bawa pistol, kok gak di gunain?" pertanyaan Arvin sukses membuat Keishy menepuk keningnya pelan dan merutuki kepikunannya. Benar juga, kenapa ia tidak membalas serangan itu? Sudahlah penyesalan itu tidak berguna. Intinya sekarang mereka harus kembali ke atas dan memberi tahu Vian atas kejadian hari ini.


...*****...


                      


Vian dan rekan Mia yang lain sudah sampai di rumah keramat itu, tempat Jay dan Sena disekap. Sebelumnya Vian telah mengunjungi kedua kakak beradik itu, sedikit terjadi pertengkaran tetapi itu tidak lama. Ibunda Sena dibunuh oleh Leona. Benar, itu Leona Ibunya Vian.


Leona memaksanya untuk membuat sebuah obat untuk aborsi, Sena telah menceritakan semuanya sendangkan Vian semakin benci pada Ibunya karna obat aborsi itu akan dibagikan ke rumah bordil untuk para wanita menjijikan disana.


Maka dari itu Ibunya Sena menentang apa yang dipinta Leona, karna korbannya saja sudah anaknya sendiri. Siapa yang tega mengorbankan anaknya untuk para Pria yang haus akan nafsu? Jika ada, itu bukan seorang Ibu.


Vian mendecak kesal saat memeriksa bilik Sena, sebelumnya juga Vian memeriksa bilik Jay tetapi disana hanya tinggal tali dan kursi yang tergeletak di lantai, yang benar saja.


Mereka tidak ada di tempat itu, Vian memeriksa seluruh sudut ruangan disusul dengan Mia dan rekannya tetapi mereka tidak ditemukan.


"Seluruh penjaga dibantai, mayat mereka berserakan dimana-mana"Jelas mereka kabur" pikir Vian.


Mia berlari menuju Vian yang berada di teras rumah, "mereka bukan kabur, tapi dibawa lari" Ucap Mia seraya menunjukkan sebuah kertas yang tertulis di kertas itu, dalam waktu yang sama, Keishy dan Arvin berjalan sempoyongan dengan baju yang lusuh membaringkan badannya di teras, mereka merasa bahwa mereka tidak kuat untuk berdiri lagi.

__ADS_1


Vian melihat mereka kemudian mengerutkan keningnya heran, "kenapa kalian?" tanya Vian pada mereka


"Beri gua waktu untuk bernapas" Ucap Keishy dengan napas yang terputus putus


Setelah berbaring Arvin pun duduk dan menetralkan napasnya, "tadi kami diserang, gatau sama siapa. Yang pasti mereka pengen kita berdua mati. Mereka menggunakan baju serba hitam" Jelas Arvin dengan sela napas yang lelah


Vian mengangguk mengerti, mereka menyerang Arvin dan Kei bukan tanpa alasan, pasti ada sebabnya.


Mia menepuk pundak Vian, "baca!" sarkasnya singkat dengan matanya yang tajam, "jika lu membacanya, semua pertanyaan akan terjawabkan" lanjutnya lagi


Vian merebut kertas itu kemudian membukanya seraya membacanya. Saat membacanya pun Vian membelalak kaget dan pergi mempersiapkan diri dan memanggil anggotanya yang lain. Kertas itu ia remas kemudian membuangnya ditempat.


...Lo semua! Gua benci sama kalian!...


...Eoh! Menolong kami? Apa maksud lo nolong hah?! ...


...Orang-orang udah tau sifat asli kalian! Misi HSD hanya kepalsuan belaka!...


...Nama kalian pun terasa menjijikan di telinga gua!...


...Alangkah baiknya kalian pasrah dan tidak mencariku lagi, karna aku benci Kalian!...


Jelas Sena yang menulis surat itu.

__ADS_1


__ADS_2