
Keesokan harinya, belum sempat Naomi menghubungi Kuon, pria itu sudah menunggu di restoran dengan sebuah Teddy Bear yang sangat besar.
Naomi dan Aiko baru saja selesai sarapan dan turun ke restoran untuk memulai aktifitas mereka.
Melihat Kuon dengan Teddy Bearnya yang besar, mata Aiko pun berbinar-binar dan segera berlari menghampiri Kuon dan memeluk Kuon.
Kuon yang melihat Aiko berlari menghampirinya tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia segera menggendong Aiko.
"Apa kamu suka dengan hadiahmu?" tanya Kuon.
"mmh!" angguk Aiko, matanya tidak lepas dari sosok boneka tersebut.
Melihat interaksi mereka, membuat Naomi sadar jika memang ia sudah sangat egois terhadap Aiko. Ia pun berjalan mendekati pasangan ayah dan anak itu.
"Naomi.." sapa Kuon.
".. Kamu datang sangat pagi hari ini.." potong Naomi.
Dengan tersenyum gugup, Kuon pun menjawab
".. Ya.. Tadinya aku ingin berangkat pagi ini.. Tapi aku terlalu merindukan Aiko.. Oleh karena itu aku putuskan untuk berangkat semalam agar aku bisa tiba pagi ini.. "
"..Kamu bisa jatuh sakit jika tidak beristirahat dengan baik." ucap Naomi.
"Apa kamu mengkhawatirkanku?" balas Kuon.
"Aku tidak ingin gara-gara Aiko, seseorang terluka"
Mendengar jawaban Naomi, Kuon pun tersenyum. Ia tahu jika lubuk hati terdalam, Naomi mengkhawatirkan dirinya. Dan ia menyukai hal itu.
".. Naomi.. Alasan mengapa hari ini aku kemari karena aku ingin membicarakan.."
"Aku mengerti.." potong Naomi lagi
"Eh?" tentunya ucapan Naomi tidak sesuai dugaan Kuon.
"Aku sudah memikirkannya dengan matang.. Apa yang kamu katakan tiga minggu yang lalu.. benar adanya.. Oleh karena itu kami akan pindah ke Tokyo" jawab Naomi.
Kuon tidak menyangka akan semudah itu merubah pikiran Naomi, tentu saja hal ini ia sambut dengan suka cita.
__ADS_1
"Syukurlah, kalau begitu kalian bisa ikut denganku ke Tokyo malam ini. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kalian" ucap Kuon
"Malam ini? Apa tidak terlalu terburu-buru??" tanya Naomi.
"Tidak, aku akan menyuruh asistenku untuk mengurus semuanya.. Kamu tidak perlu khawatir"
".. Tidak, aku tidak akan pindah hari ini juga. Aku butuh waktu.. Beri aku waktu 2 hari" pinta Naomi.
Sementara itu, Kuon khawatir bagaimana jika selama 2 hari itu Naomi akan mengubah pikirannya lagi.. Namun ia tahu ia tidak boleh gegabah, jika ia melarangnya.. Bisa jadi Naomi akan mengurungkan niatnya hari ini juga.
".. Baiklah.. Aku juga akan tinggal disini hingga lusa agar kita bisa kembali ke Tokyo bersama" ucap Kuon.
Ia tidak menyangka jika harapannya untuk membawa Naomi dan Aiko kembali bersamanya akan terjadi secepat itu. Ia tidak akan menyia-nyiakan dewi fortuna yang sedang berada di pihaknya...
...****...
Restoran sedang di tutup karena setelah Naomi memberitahu rencana kepindahannya yang mendadak, Tetsuhiko dan Wakana memutuskan untuk mengadakan pesta perpisahan untuk Naomi dan Aiko yang sudah mereka anggap bagian dari keluarga mereka.
"Jangan lupa kunjungi kami disini" ucap Tetsuhiko dengan mata yang berkaca-kaca
"Aku akan sangat merindukan Aiko " ucap Wakana, wanita paruh baya itu sembari memeluk Aiko dan menangis.
Naomi pun memeluk Megumi, ia sangat beruntung memiliki mereka. Jika dulu ia dikelilingi oleh orang-orang yang membencinya, ia kini justru dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Ia tidak akan pernah melupakan mereka. Ia berjanji jika ia akan kembali ke desa ini.
Setelah memeluk mereka satu per satu, perhatian Naomi pun tertuju kepada Arata. Arata memandangnya dengan senyum terpatri diwajahnya, walau matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Tidak tahan, Naomi pun memeluknya dan menangis.
Arata adalah penolongnya. Tanpa Arata, ia tidak akan berada disini.
Awalnya pria itu terlihat sedikit canggung, namun kemudian ia juga memeluk Naomi dan mengelus punggungnya berusaha menenangkan Naomi.
Tentu saja pemandangan ini sangat mengganggu Kuon, hanya saja ia sedang berusaha keras untuk tidak merusak momen tersebut.
".. Jangan menangis, atau Aiko akan ikut menangis.. Bukankah kepindahan kalian kali ini akan membawa perubahan yang positif untuk Aiko?" hibur Arata.
".. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadamu.. Berkatmu.. Aku dan Aiko diberi kesempatan untuk ada hingga hari ini" tangis Naomi
"Bodoh.. Kalian hanya pindah ke Tokyo.. Bukan berarti kita tidak akan pernah bertemu lagi.. Aku tidak ingin pesta ini di akhiri dengan air mata. Kamu sudah bukan wanita tiga tahun yang lalu yang lemah.., aku bangga padamu" bisik Arata.
Aiko yang melihat Arata pun ingin segera digendong oleh Arata, oleh karena itu Arata pun menggendongnya.
__ADS_1
"Papa!" panggil Aiko
"Kalian harus hidup bahagia" ucap Arata seraya memeluk Aiko dan Naomi. Ia membenamkan wajahnya di kepala Aiko, karena ia tidak ingin mereka melihat air matanya yang tumpah.
Ia tidak pernah merasa sedekat itu dengan pasiennya.. Entah kenapa dengan Naomi dan Aiko..ia memiliki perasaan yang khusus.
Setelah menenangkan dirinya, ia pun melepaskan Naomi, lalu ia berjalan menghampiri Kuon..
"Aku harap kamu bisa menjaga mereka dengan baik. Jika mereka terluka lagi, aku tidak akan segan mencarimu" ucap Arata dengan wajah serius.
"..Aku tidak perlu diingatkan olehmu untuk melakukan hal yang memang harus kulakukan" balas Kuon dingin.
Atmosfir yang membuat orang bergidik mengelilingi mereka. Kuon yakin ia tidak akan pernah menyukai Arata.
"Ayo kita bersulang!" ucap Kenji yang membawa mereka kembali pada kenyataan.
Pada malam itu, mereka pun berpesta hingga subuh.
Pada keesokan harinya Naomi dan Aiko pun naik kedalam mobil Kuon, dan bersama mereka melakukan perjalanan kembali ke Tokyo.
Naomi tidak menyangka setelah 3 tahun ia akan kembali ke Tokyo.
Ia sempat berpikir bagaimana jika ia akan bertemu orang tuanya kembali..tapi rasanya dunia tidak akan begitu sempit. Asal ia berhati-hati dan tidak menarik perhatian, tidak akan ada yang tahu jika ia adalah Naomi Sato..
Ya.. Ia hanya perlu berhati-hati..
...*****...
Senyum tidak terlepas dari raut wajah Kuon, karena Aiko sedang tertidur pulas di pelukannya. Perjalanan dari Kagawa ke Tokyo butuh sekitar 8 jam perjalanan.. Ia justru berharap bisa lebih lama lagi jika itu artinya Aiko bisa berada di pelukannya lebih lama lagi..
Ia tahu walau Naomi ikut dengannya ke Tokyo bukan berarti sebagai istrinya, ia sudah cukup puas dengan keadaan mereka saat ini.
Ia tidak sabar ingin menunjukan apa yang sudah ia siapkan untuk mereka.
"Berikan Aiko padaku" ucap Naomi yang membuyarkan lamunan Kuon.
"mmmh? Biarkan saja, ia masih tertidur pulas, nanti ia terbangun" tolak Kuon sembari menepuk pelan punggung puteri kecilnya itu.
Naomi menawarkan diri untuk menggendong Aiko karena Kuon terlihat tidak nyaman harus duduk diam selama berjam-jam, namun sepertinya pria itu tidak keberatan. Oleh karena itu ia pun tidak mempertanyakannya lagi.
__ADS_1
...*****...