Paradoks

Paradoks
Reuni


__ADS_3

Sudah 2 minggu sejak hari ini. Kuon merasa tidak tenang. Ia merasa ia harus bertemu lagi dengan anak itu.


Walau tidak masuk akal dan belum tentu ia akan bertemu lagi dengan anak itu, ia ingin pergi ke desa Kagawa lagi, dan berharap mendapatkan jawaban atas kegelisahannya.


Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera menyiapkan beberapa helai pakaiannya dan menghubungi Jun untuk menjemputnya.


Melihat Kuon yang sudah bersiap-siap membuat Chikako penasaran


"Kamu ingin kemana?" tanyanya.


"Bukan urusanmu" jawab Kuon singkat, dan tanpa melihatnya ia pun keluar dari rumah tersebut.


...****...


"Coba bilang Kucing" ucap Naomi membaca buku berisi nama-nama binatang.


"Ucing" Aiko berusaha mengulang apa yang di ucapkan oleh Ibunya itu.


"Aiko Mama pintar sekali, sekarang coba sebut Kelinci"


"Enci!" ulangnya seraya tersenyum girang kepada Naomi.


"Setelah belajar, Aiko ikut mama pergi belanja ya" ajak Naomi seraya mencium kepala Aiko.


Hari ini adalah hari libur Naomi, ia ingin menghabiskan harinya dengan bermain dan belajar dengan Aiko, ia juga berencana untuk membuat makanan kesukaan Aiko, yaitu Hitsumabushi.


Sungguh lucu karena Aiko memiliki selera yang sama persis dengan Kuon, mengetahui Aiko menyukai makanan yang sama dengan ayahnya membuat Naomi lagi-lagi merasa sedih, akan tetapi walau membuat Hitsumabushi mengingatkannya pada Kuon, ia tetap melakukannya karena ia menyayangi Aiko, ia tidak tahu jika Aiko akan menyukai makanan itu, karena ia tidak pernah membuatnya khusus untuk putri kecil nya itu, Aiko tahu soal makanan khas itu ketika Arata membawanya jalan-jalan dan memesan makanan itu, dan sejak mengetahui kalau Aiko menyukainya, Naomi jadi rajin membuatnya.


Setelah belajar bersama Aiko sekitar 1 jam, Ia segera memberesi mainan dan buku yang berserakan dilantai dan bersiap-siap untuk pergi ke salah satu supermarket untuk berbelanja.


...*****...


Kuon sedang berada di taman dimana ia bertemu dengan anak perempuan yang bernama Aiko itu, berharap ia akan bertemu lagi dengannya, akan tetapi yang ia dapati hanyalah sekelompok anak-anak yang sedang bermain pasir. Ia tidak melihat Aiko dimana-mana.


Menghela nafas, ia lalu duduk disebuah bangku yang ada ditaman itu, ia menutup kedua matanya seraya menengadah keatas.


Ia benar-benar sudah gila, jawaban seperti apa yang ia harapkan dengan mendatangi tempat ini lagi .. ketika ia memutuskan untuk berhenti melakukan hal yang bodoh dan mempermalukan dirinya sendiri, ia mendengar suara yang sangat ia kenali, ia segera membuka matanya dan mencari arah darimana suara itu berasal.


Seorang wanita berjalan melewati taman bermain itu dengan mengendong seorang anak dan 1 tangannya memegang keranjang belanjaan, ia tidak bisa melihat wajah wanita itu karena wanita itu sudah berjalan agak jauh, namun sosoknya sangat mirip dengan seseorang yang ia kenal, satu-satunya yang membedakannya adalah jalan wanita itu yang agak pincang.


Ia kerap mengingatkan dirinya sendiri untuk berhenti jadi seseorang yang menakutkan bagi orang lain, tingkah lakunya bisa membawanya dalam masalah besar jika orang salah paham dengannya, akan tetapi ketika anak yang berada digendongan ibunya itu menoleh ke arahnya, ia terkejut karena anak itu adalah anak yang ia temui 2 minggu yang lalu. Ia pun segera beranjak dari tempat ia duduk. Dan segera berlari kearah wanita itu.


"Tunggu!" panggilnya memegang pundak wanita itu ketika ia berhasil mengejarnya.


...****...


Badan Naomi membeku seketika, ketika seorang pria dengan suara yang sangat di kenalnya memanggil dan memegang pundaknya, tangannya yang memegang keranjang belanjaan terjatuh.


Dengan perlahan ia menoleh kebelakang dan ketakutannya menjadi kenyataan.


...****...

__ADS_1


Saat wanita itu menoleh kebelakang, Kuon hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Apa ia sedang bermimpi? Apa ia sedang berhalusinasi? Atau ia memang sudah kehilangan akal sehatnya?? Degup jantungnya semakin cepat, ia tidak sudah tidak bisa lagi membedakan antara kenyataan atau harapan.


"... Naomi..?" panggilnya pelan.


Naomi segera membuang mukanya dan mencoba untuk mengabaikannya dan berpura-pura untuk tidak mengenalnya, akan tetapi Kuon menggengam tangannya.


"Katakan.. kamu Naomi bukan..?"


".. Anda..sudah salah mengenali orang.. Maaf aku sedang terburu-bu.."


Tiba-tiba Kuon memeluknya.


"Naomi ..aku tahu ini benar-benar dirimu.." ucapnya seraya mempererat pelukannya.


".. Hentikan.. Lepaskan aku.."


"Tidak.. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu.." air mata Kuon mulai menetes, matanya masih terbelalak antara percaya dan tidak percaya jika Wanita yang didepannya bukanlah mimpi maupun halusinasi, wanita ini benar adalah Naomi.


"Aku akan berteriak jika anda tidak segera melepaskan pelukan anda"


"Berhenti berpura-pura Naomi, apa kamu pikir aku tidak bisa mengenalimu? Aku akan tetap mengenalimu bahkan ketika orang sedunia ini tidak mengenalimu. Kamu.. Kamu masih hidup..., kenapa kamu tidak pernah menghubungi kami..ap kamu tahu bagaimana aku harus melewati hari-hariku..?" ucapnya menahan tangis.


Naomi tahu ia tidak akan bisa mengelak lagi, ia lalu membalikan badannya.


Aiko memeluk leher Naomi dengan erat seraya menyembunyikan wajahnya.


".. Kita perlu bicara.. "ucap Naomi akhirnya.


...****...


Naomi akhirnya menceritakan bagaimana ia bisa selamat karena ia melihat sudah tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikannya.


".. Syukurlah.. Syukurlah kamu masih hidup.." ucap Kuon mengucap syukur dengan tulus. Selama ini ia mengira ia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Naomi, ia tidak akan memiliki lagi kesempatan untuk menebus semua dosa yang ia perbuat kepada Naomi.. Ia masih merasa ini seperti mimpi.. setelah hampir 3 tahun lamanya ia kini bisa duduk dengan Naomi disampingnya.


".. Anak...ini..anakku bukan..?" tanya Kuon, matanya memandangi anak itu dengan penuh kelembutan.. walaupun jika Naomi menjawab bukan, ia tetap yakin anak itu adalah anaknya, batin ini tidak akan bisa membohonginya ditambah wajah anak itu yang begitu mirip dengannya.


Melihat Naomi mengangguk pelan, Kuon kembali tidak mampu menahan air matanya.


Ia ternyata memiliki seorang anak dengan Naomi.. Anak dari wanita yang ia cintai selama ini..anak yang selalu ia nanti-nantikan kehadirannya.. kejutan demi kejutan ia dapatkan hari ini..selain mendapati Naomi masih hidup, ia juga memiliki seorang buah hati dengannya..dan bodohnya ia tidak mengetahui hal itu..seandainya ia tahu Naomi tengah mengandung anaknya, ia tidak akan melepaskannya begitu saja.


".. Bolehkah.. aku melihatnya.." tanya Kuon setelah berhasil menenangkan dirinya.


Sempat ragu, Naomi memutuskan jika Kuon berhak untuk melihat anaknya, akan tetapi ketika ia ingin memberikan Aiko kepada Kuon, Aiko segera memeluk Naomi lebih erat dan menolak untuk melihat Kuon, ia memalingkan wajahnya dari Kuon.


Melihat putri kecilnya sendiri menolak dirinya, hati Kuon terasa sakit, dan perasaan kecewa juga menyelimutinya namun ia berusaha tegar.


Untuknya saja sulit dipercaya jika ia memiliki anak selain Yukio, tentu ini juga sangat sulit untuk anak seusianya yang tiba-tiba memiliki seorang ayah yang tidak di kenalinya, oleh karena itulah ia tidak memaksakan kehendaknya, dengan memperbaiki postur tubuhnya ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya.


".. Berarti..saat ini ia sudah berusia 2 tahun?" tanya Kuon lagi mengalihkan topik pembicaraan.


"... Ya.. Kami baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 2, 2 bulan yang lalu.." jawab Naomi singkat.

__ADS_1


Mendengar hal itu, lagi-lagi Kuon diselimuti rasa bersalah. Ia sudah melewatkan 2 tahun pertama hidup putri kecilnya.


"... "


" ..jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kami akan pulang.. "


" Tunggu.. Apa kamu tidak ingin kembali ke Tokyo..?" tanyanya lagi.


".. Tokyo..? Aku sudah tidak mempunyai tempat disana Kuon.."


"Tapi kamu bisa kembali kerumah kita yang lama, selain itu bukankah Aiko berhak bersama dengan ayahnya..?"


".. Apa kamu lupa kita sudah bercerai..?"


Mendengar kata Naomi, ia kembali di ingatkan dengan masa kelam mereka. Ketika melihat Naomi, ia memang sempat lupa jika mereka tidak mempunyai hubungan suami istri lagi, kenyataan Naomi masih hidup atau telah tiada, tidak mengubah fakta jika mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.


"... Walau demikian..bukankah keluargamu juga berhak tahu jika dirimu masih hidup??"


"..Keluargaku.. Hehe.. Ternyata hingga detik ini pun kamu tidak benar-benar mengenalku..tidak apa-apa, lagipula bukan sesuatu yang perlu kamu ketahui.. Aku harap kamu tidak akan memberitahu mereka jika saat ini aku msih hidup.. Naomi Sato dari 3 tahun yang lalu memang sudah tiada. Saat ini aku adalah Naomi Ikeda.. Aku.. tidak ingin kembali lagi kesana..hidupku dan Aiko disini sangat baik..."


".... Jika memang itu yang kamu inginkan.. Aku akan menghormatinya...akan tetapi..aku juga punya permintaan..ijinkan aku untuk bertemu dengan Aiko kapanpun.. "


" Kuon.. Aku rasa itu bukan keputusan yang tepat..lupakanlah kami.., kita harus kembali ke jalan kita masing-masing"


"Tapi Aiko adalah anakku! Aku sudah melewatkan masa kehamilanmu..aku juga tidak ada di sampingmu ketika kamu melahirkannya..aku sudah melewatkan 2 tahun pertamanya..aku ingin ada untuknya dan didalam kehidupannya.."


"..Aiko sudah.."


"Aku mohon Naomi. Aku memang sudah bersalah kepadamu..aku tidak mempermasalahkan bagaimana kamu akan menghukumku..tapi jangan pisahkan aku dengan anakku..Aiko tidak bersalah, ia berhak untuk mengenal ayah kandungnya...ia berhak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayahnya bukan?"


Mempertimbangkan apa yang dikatakan Kuon, Naomi tahu jika apa yang dikatakan mantan suaminya adalah benar. Selama ini ia merasa bersalah kepada Aiko karena tidak mampu memberinya keluarga yang lengkap.. Sekarang Kuon sudah mengetahui segalanya dan ia juga mengakui Aiko, apa yang perlu ia ragukan lagi?


Menghela nafas, akhirnya Naomi mengiyakan.


".. Baiklah.. Tapi kamu harus melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita..apa yang kita lakukan saat ini semua demi Aiko..dan aku tidak ingin mengingat kembali apa yang sudah terjadi dimasa lalu" ucapnya.


"... Ini adalah nomor teleponku,... Hubungi aku ketika kamu ingin menemui Aiko.." sambungnya lagi seraya menyerahkan secarik kertas yang sudah ia isi dengan nomor kontaknya.


".. Terima Kasih Naomi.."


"Kalau begitu kami permisi dulu" pamit Naomi seraya menenteng keranjang belanjaannya.


"Biarkan aku untuk mengantar.."


"Tidak perlu.." potongnya dingin, dengan jalan sedikit pincang, ia pun berjalan meninggalkan Kuon.


Ketika melihat punggungnya menjauh, ingin sekali Kuon mengejar dan memeluknya, terlebih ketika melihatnya dengan jalan terpincang-pincang, rasa sedih yang ia miliki saat ini tidak mampu ia lukiskan dengan kata-kata.


Walau hatinya tengah bergejolak, ia tetap menahan dirinya. Ia tidak ingin Naomi membencinya lebih dari ini lagi..


...*****...

__ADS_1


__ADS_2