
Kuon tiba di Tokyo keesokan paginya. Tanpa membuang waktu, ia segera menuju rumah dimana Chikako berada.
Chikako baru saja menyelesaikan sarapannya ketika asisten rumah tangga memberitahunya jika Kuon baru saja tiba.
Ia segera berjalan untuk menyambut suaminya itu, namun semakin dekat ia melihat raut wajah yang tidak menyenangkan sudah terpatri di wajah tampan Kuon.
"Kamu mengutus seseorang untuk mengintaiku huh?" tanyanya begitu ia melihat Chikako.
"Apa maksudmu???" walau ia sebenarnya sudah tahu apa dan siapa yang dimaksud oleh Kuon.
"Jangan berpura-pura bodoh Chikako!! Bukankah aku sudah memperingatimu untuk tidak melakukan perbuatan sia-sia seperti itu??!"
"Aku.. Aku hanya ingin tahu apa yang kamu kerjakan Kuon!!" Balasnya. Ia melihat sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kuon.
Pria itu tidaklah bodoh. Cepat atau lambat ia tahu kalau aksinya akan terbongkar oleh suaminya itu.
"Kamu jarang pulang, aku khawatir dengan keadaanmu disana..oleh karena itulah aku mengutus seseorang untuk mengawasimu" sambungnya berbohong.
Mendengar penjelasan Chikako yang tidak masuk akal membuat Kuon tertawa.
"hahahah, aku tidak tahu jika kamu selucu itu, ..apa kamu pikir aku akan percaya dengan semua yang diucapkan olehmu? Sudahlah.. Kebetulan.. Aku juga sudah lelah dengan permainan ini.. Aku sudah berusaha menahan diri selama ini... Namun sekarang aku sudah tidak sanggup lagi.. aku ingin menyudahinya.. "
"Apa maksudmu.?"
"Aku ingin bercerai "
Mendengar kata cerai membuat warna di wajah Chikako menghilang seketika. Wajahnya pucat pasi. Ia pasti salah mendengarnya.
"A-apa katamu..? Tanyanya lagi.
" Aku akan mengirimkan surat cerai untukmu, asal kamu menandatanganinya, aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan asal itu tidak menyangkut perusahaan. " jawabnya.
"Tidak!! Aku tidak akan bercerai darimu!! Bagaimana dengan Yukio??? Apa kamu tidak memikirkan Yukio??!"
"Yukio akan ikut denganku, bagaimanapun ia adalah penerusku"
"Tidak!! Aku tidak akan mengijinkannya. Aku tidak akan menyerahkan Yukio kepadamu!!" teriak Chikako.
"Kalau begitu, kamu akan berhadapan dengan pengacaraku" balas Kuon menutup pembicaraan. Ia sudah menyampaikan apa yang perlu ia sampaikan, oleh karena itu ia akan kembali ke kantornya, ia tidak ingin menghabiskan waktunya lebih lama lagi dengan Chikako.
__ADS_1
Namun sebelum ia berhasil melangkah keluar dari rumah tersebut, Chikako berlutut dan memeluk kaki Kuon.
"Kumohon Kuon..jangan pisahkan aku dengan Yukio... Aku-aku sudah tahu aku salah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Kumohon.." tangisnya.
"Lepaskan aku Chikako"
"Tidak!! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu merubah rencanamu. Aku tidak bisa hidup tanpa Yukio.. Aku juga tidak ingin berpisah darimu. Beri aku satu kesempatan lagi Kuon"
"Lepas.."
Yukio yang baru saja keluar dari kamarnya melihat sang ibu berada di lantai dan menangis, ia pun segera berlari ke arah orang tuanya
"Mama!!Ayah!!" panggilnya seraya memeluk Chikako.
"Y-Yukio.. Yukio!!" Chikako berbalik dan memeluk Yukio
"Mama, kenapa Mama nangis? Kio jadi sedih"
"Yukio... Liatlah Kuon, apa ini yang kamu inginkan?? Apa kamu tega menghancurkan hidup Yukio? Anak ini tidak bersalah, apa hanya karena aku membuat satu kesalahan kecil, kamu justru melampiaskannya kepada anak kita??" ucap Chikako menggunakan kesempatan ini untuk membujuk Kuon.
" Kau..!!"
" Ayah..?" panggil Yukio dengan mata berkaca-kaca.
...*****...
Kuon tidak menyangka jika tidak akan semudah itu untuk menceraikan Chikako. Selama ini ia berpikir semuanya bisa di atasi dengan uang, namun ia lupa satu hal yang paling penting. Yakni seorang anak.
Ia dan Chikako memiliki seorang anak, jika dulu ia pernah berpikir untuk menghamili Naomi agar Naomi terikat kepadanya, ternyata taktik yang sama dilakukan oleh Chikako. Wanita itu tahu arti Yukio dalam kehidupannya. Sepanjang anak itu masih berpihak kepada ibunya. Ia tidak akan bisa menceraikan Chikako. Ia akui ia adalah suami yang buruk. Namun dia bukanlah ayah yang tidak bernurani. Ia sendiri tumbuh besar dari keluarga yang berantakan, bahkan ia butuh waktu yang lumayan lama untuk menerima kembali ibu kandungnya Mary, setelah wanita itu menelantarkannya ketika kedua orang tuanya bercerai. Ia tidak ingin Yukio mengulangi masa lalunya.
Ia harus menemukan cara bagaimana memisahkan Yukio dari Chikako.
Lagi pula, Yukio adalah kakak laki-laki Aiko, ia ingin mempertemukan mereka, ia memutuskan ia akan membawa serta Yukio di perjalanannya berikutnya.
...******...
Chikako menggigit kuku jempolnya, wajahnya terlihat risau dan gugup.
Tampaknya kali ini Kuon akan benar-benar menceraikannya.
__ADS_1
"Tidak.. Tidak bisa.. Aku tidak akan bercerai, tenangkan hatimu Chikako! Kamu masih memiliki Yukio. Sepanjang kamu memiliki Yukio, Ia tidak akan bisa menceraikanmu"
Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon seseorang.
"ini aku.. Apa kamu bisa datang malam ini? Ada yang ingin kubicarakan.. Dan ini sangat penting... "
Setelah itu ia mematikan ponselnya dan mengintip dari balik jendela kamarnya yang besar, perhatiannya tertuju kepada Yukio yang sedang bermain di taman rumah mereka.
" Mama akan melakukan apapun untukmu Yukio" ucapnya pelan.
...*****...
Sudah hampir 3 minggu sejak Kuon kembali ke Tokyo, tidak satu kalipun ia menghubungi Naomi.
Tidak dipungkiri terselip rasa kecewa di hati Naomi, walau ia lah yang mengusir Kuon dan melarang Kuon untuk menemui Aiko, ia tidak menyangka ia akan benar-benar melakukannya. Ia kira setidaknya Kuon akan menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabar Aiko.. Namun lagi-lagi ia kembali di kecewakan, sama seperti ketika ia menikahi Chikako padahal belum genap setahun sejak "kepergiannya".
Mungkin ia memang tidak pernah ada di hati pria itu..namun yang membuatnya paling kecewa adalah dirinya sendiri.
Ia mengira setelah semua yang pernah terjadi, ia bisa melupakan pria itu, perasaan-perasaan familiar justru kembali merasukinya..terutama ketika pria itu bersikap seolah-olah sangat antusias untuk menghabiskan waktunya bersama Aiko.
Mungkin saja selama ini Naomi memang sangat mengharapkan pengakuan dari Kuon akan buah hatinya itu..oleh karena itu hanya dengan melihat bagaimana Kuon memperlakukan Aiko, membuat ia tidak berhati-hati dalam mengatur perasaannya.
Naomi lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengingatkan dirinya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Ingat Naomi, jangan terbawa perasaan. Ingat apa yang pernah kamu ucapkan kepada Kuon, kalian tidak memiliki hubungan apa-apa selain rekan dalam membesarkan Aiko.. Walau tampaknya.. Ia sudah kehilangan ketertarikan untuk itu.. Mungkin kamu harus bersyukur Aiko masih belum terlalu dekat dengannya..atau hal ini hanya akan menyakitinya lebih jauh" ucap Naomi mengingatkan dirinya.
"Naomi, 1 Ramen Shoyu untuk meja nomor 3" panggil Megumi dari luar, membuyarkan lamunan Naomi
"Eh? Siap. Ramen Shoyu segera datang" jawabnya.
Ia harus berhenti memikirkan hal-hal yang tidak penting. Jika ia ingin memiliki kehidupan yang lebih baik untuknya dan Aiko, ia harus bekerja lebih serius. Jangan sampai pekerjaannya harus terganggu oleh urusan pribadinya.
Ia pun segera menyiapkan Ramen Shoyu dan mengantarnya ke meja nomor 3.
"Silahkan, ini Ramen Shoyu anda..." ucapnya sembari menata Ramen dan beberapa botol bumbu tanpa memperhatikan pelanggan yang duduk didepannya
"N.. Naomi..?" panggil pelanggan itu
Brak, sebotol kecap jatuh dan tumpah.
__ADS_1
Rasa gugup dan gemetar menyelimuti tubuh Naomi.
Sosok yang ada di depannya saat ini membuatnya merasa seolah-olah dunianya telah berhenti.