
Kediaman Sato
"Apa katamu???!!!" tanya Hideyoshi setengah berteriak, badannya beranjak dari tempat ia duduk.
"Semua pemegang saham menunjuk Kuon sebagai pemimpin perusahaan kita.. Saat ini ia telah memiliki 51% saham.. Perusahaan kita sekarang miliknya.." ucap Ichirou ketika ia baru saja mendapatkan hasil dari rapat terbaru diperusahaan Sato.
".. B.. Bagaimana mungkin? Hubungi Kuon sekarang!!" perintah Hideyoshi. Ia tidak percaya perusahaan yang sudah ia jaga dengan susah payah selama ini harus jatuh di tangan Kuon. Ia sudah begitu mempercayai Kuon setelah ia menjadi menantunya, bagaimana mungkin Kuon bisa mengkhianatinya begitu saja? Ia harus berbicara dengan Kuon. Namun walau Ichirou sudah beberapa kali menghubungi Kuon, Kuon tidak menjawab teleponnya.
"Ia tidak menjawabnya ayah.. Apa yang harus kulakukan?" tanya Ichirou.
Hideyoshi terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Naomi.
" Telepon adikmu sekarang" ucap Hideyoshi.
...****...
Naomi sedang berada di kamar Haruto, melamun dan merenungkan apa yang sudah terjadi selama beberapa hari belakangan ini, kejadian yang selama ini terjadi cukup menguras pikiran dan tenaganya..baik dia dan Kuon tidak saling berbicara sejak hari itu, baik dirinya maupun Kuon berusaha menghindari satu sama lain, tidak siap bagaimana mereka harus bersikap jika bertemu.
Ia tersentak dari lamunannya ketika teleponnya berdering, nama Sato tertera di layar telepon genggamnya.. Dengan berat hati, ia pun mengangkat teleponnya itu.
"..Halo.."
" Apa yang sudah suamimu lakukan??!!!" teriakan Hideyoshi terdengar sebelum ia sempat menyapa ayahnya itu.
"A-apa maksud ayah?" tanya Naomi kebingungan.
"Coba tanyakan kepada suamimu itu!!! Ia bahkan tidak menjawab teleponku! Aku ingin kamu sekarang menemuinya dan suruh dia menghubungiku segera!!" bentak Hideyoshi sebelum mematikan telepon.
Tercengang dengan reaksi ayahnya, Naomi tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Hideyoshi tidak pernah menghubunginya walau hanya untuk sekedar menanyakan kabar, bahkan ketika pemakaman anaknya..Haruto, ayahnya tidak berusaha untuk berpura-pura memberikan perhatiannya dengan menanyakan keadaan Naomi maupun menunjukan kesedihan layaknya seorang kakek, namun ketika akhirnya ia menghubungi Naomi untuk yang pertama kalinya, Naomi justru mendapatkan bentakan dan teriakan dari ayahnya itu. Bagaimana mungkin ia tahu apa yang sudah dilakukan oleh Kuon sehingga membuat Hideyoshi begitu marah?
Ia ingin sekali mengabaikan perintah ayahnya, namun ia tahu jika itu ia lakukan, masalah akan menjadi semakin runyam.
__ADS_1
Menghela nafas, ia kemudian menghubungi telepon genggam Kuon.
...****...
Kuon sedang sibuk beraktifitas dengan seorang wanita di atas ranjang, punggungnya basah oleh keringat dan terdengar desahan wanita di bawahnya, wanita itu memeluk leher Kuon, dan dengan jarinya yang terawat membelai punggungnya, wanita itu terlihat begitu menikmati kegiatan yang dilakukan oleh mereka berdua.
Namun Kuon menghentikan aksinya ketika telepon yang terletak di atas meja samping tempat tidurnya berdering, ia pun memeriksa layar teleponnya, dan nama Naomi tertera disitu. Ia lalu mematikan teleponnya dan berbaring di ranjang, satu lengannya menutupi kedua matanya, ia sudah kehilangan mood untuk melanjutkan apa yang tengah ia lakukan sebelumnya.
Wanita seksi itu kemudian mendekatinya dan membelai dada bidang Kuon.
".. Mengapa kamu berhenti?" tanya wanita itu manja.
" Aku sudah kehilangan hasrat untuk melakukannya, kenakanlah pakaianmu" ujar Kuon.
".. Apa itu telepon dari istrimu..?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Chikako.
Ya, sejak hubungannya dengan Naomi memburuk, Kuon kembali menemui Chikako. Ia melakukannya karena ia ingin melupakan Naomi. Ia tidak ingin lagi terikat dengan Naomi secara emosional, dan Chikako adalah pilihan yang tepat menurutnya untuk mengalihkan perhatiannya dari Naomi.
"aih aih.., kamu tidak perlu semarah itu padaku.. aku bertanya karena aku peduli padamu..aku tahu hubungan kalian memburuk sejak kalian kehilangan anak kalian..oleh karena itu kamu mencariku kembali bukan?? Aku hanya ingin memberikan.. " ucapan Chikako terhenti ketika Kuon melepaskan pelukannya.
" Jangan pernah mengungkit kejadian yang menimpa anakku" ucap Kuon dingin. Ia kemudian mengambil dasinya dan keluar dari kamar itu.
Chikako hanya bisa menggigit bibit bawahnya menahan amarah ketika Kuon berjalan meninggalkannya. Ia mengira Kuon akan kembali menyembahnya layaknya seorang Dewi setelah hubungannya dengan Naomi telah rusak..namun Kuon justru memperlakukannya seperti seorang pelacur murahan.
"Sekarang kamu bisa memperlakukanku seperti ini..tetapi aku bersumpah, aku akan membuatmu memohon-mohon kepadaku Kuon..membuatmu tidak bisa hidup tanpa diriku"
...****...
Kuon tidak pulang pada malam itu, Hideyoshi terus mendesak Naomi agar ia bisa berbicara dengan Kuon, namun tidak banyak yang bisa ia lakukan jika Kuon sendiri tidak pulang dan tidak menjawab panggilannya
"Istri seperti apa kamu??!! Bagaimana mungkin kamu tidak bisa menghubungi Kuon?!" bentak Hideyoshi.
Naomi saat ini berada di rumah keluarga Sato karena Hideyoshi memerintahnya untuk pulang menghadapnya langsung, ia sebenarnya tidak ingin pulang kerumah dimana ia dibesarkan, namun karena Ichirou yang memintanya, ia pun pulang kerumah.
__ADS_1
"Maafkan aku ayah..aku sudah berusaha menghubungi Kuon berkali-kali tetapi tidak di jawab.. Tidak ada yang bisa kulakukan.." ucap Naomi membungkukan badannya.
Dengan amarah, Hideyoshi melempar asbak rokok dan hampir mengenai Naomi.
"Seharusnya aku meminta ibumu untuk menggugurkanmu sedari dulu! Tidak ada hal becus yang bisa kamu lakukan untuk membalas semua yang telah kuperbuat untukmu!!!"
"Ayah!!!" Ichirou berusaha menengahi.
"Dasar perempuan tolol! Tidak ada satu hal pun yang bisa kamu lakukan dengan benar, menjaga janinmu dengan baik saja kamu tidak becus, sekarang kamu juga tidak mampu menjaga perasaan suamimu! Tidak mengherankan jika suamimu tidak ingin menjawab teleponmu! Aku yang bodoh sudah menaruh harapan padamu!"
Awalnya Naomi mencoba untuk menutup mata dan telinga ketika Hideyoshi mulai memakinya tanpa alasan yang jelas, namun ia telah melanggar batas yang dibuat oleh Naomi ketika ia mengungkit kehamilan Naomi.
"... Tidak becus..? bagaimana dengan ayah??? Mengapa ia tidak menjawab panggilan ayah?? Jika ayah mampu, kenapa harus memintaku?! Kenapa tidak ayah sendiri yang pergi menemuinya???! Aku sudah cukup lama menahan diri, tapi hari ini aku tidak akan membiarkan ayah memperlakukanku semena-mena, aku sudah muak!!! Semua menyalahkanku!!! Apa ada di antara kalian yang berada di posisiku???! " teriak Naomi. Ia merasa ia sudah kehilangan akal sehatnya.. tetapi ia kini sudah tidak peduli lagi. Ia sudah tidak mampu menahan beban ini seorang diri.
" Naomi.. " panggil Ichirou.
Plakk!!" tutup mulutmu! Beraninya kamu meninggikan suaramu kepada ayah!! " bentak Seiji, menampar Naomi.
"Seiji!!"
"Bukankah sudah pernah kukatakan kalau kamu tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini, ayah bisa sampai kehilangan perusahaannya karena kamu!! Jika kamu tidak menikahi Kuon, ini semua tidak akan terjadi. Dasar pembawa sial!" lanjutnya.
"Karena aku??? Siapa yang memintaku untuk menikahi Kuon??!! Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin menikah dengannya!!!" teriak Naomi menangis.
"Kamu!!!"
"Kak Seiji! Selama ini aku berusaha menghormatimu, tetapi sekarang aku tidak akan tinggal diam, aku tidak peduli jika kalian ingin memutuskan hubungan kalian denganku, aku sudah tidak ingin menemui kalian lagi!! Hutangku kepada kalian sudah lunas seperti yang ibu katakan ketika aku menikahi Kuon, kumohon jangan mencariku lagi, hubungan kita sebagai keluarga sudah berakhir hari ini!" teriak Naomi.
" Aku sudah lelah!! Aku tidak pernah meminta untuk di lahirkan! Aku tidak pernah meminta untuk di nikahkan tanpa persetujuanku! Dan aku juga tidak pernah berharap kehilangan anakku! Apa kalian tidak merasa apa yang kalian lakukan padaku sangat menjijikan??? Satu hal yang kusesali dalam hidup ini adalah terlahir didalam keluarga ini.. Benar kata ayah.. Seharusnya ia meminta ibu kandungku untuk menggugurkanku.. "
Akhirnya.. Semua beban yang ia simpan sepanjang hidupnya sebagai seorang Sato, kini berhasil ia keluarkan semuanya pada hari ini. Ia tidak akan pernah menemui mereka lagi. Dengan langkah kaki yang goyah, ia berjalan meninggalkan mereka semua.
...*****...
__ADS_1