Paradoks

Paradoks
Chapter 22


__ADS_3

Semenjak kemarin, tidak bukan kemarin. Saat Keishy di tembak oleh Sena, dia koma selama lima hari. Pistol Sena tipe listrik yang tersembunyi didalam peluru, saat dia menembak, listrik itu akan menyala didalam tubuh hingga dalam hitungan detik orang itu akan pingsan kemudian mati atau koma.


Semua rekan Keishy sudah ada didepan mengelilinginya, termasuk Vian kakaknya yang sudah pulang dua hari yang lalu. Keishy sudah memikirkan ini matang matang, mimpi itu bukan hanya sekali, tapi sering terjadi saat Keishy tidur. Itu panggilan bahwa Keishy harus menyelesaikan semuanya.


Keishy menghela napasnya berat, "Kita harus menolong Sena, kalian sudah tau kenapa Sena nembak Gua pake pistol ber-type CX21?" Tanya Keishy seraya dia memandang teman temannya satu persatu di atas ranjang rawat.


Mia berfikir sebentar kemudian menganggukkan kepalanya pelan, "dia sempet teriak dan menyinggung kita jahat, Apa yang kita lakuin?" Jelas Mia.


"Itu bukan nyinggung mi, kita beneran jahat. Kita udah biarin Ibunya Sena meninggal dan Sena membalasnya dengan cara menghabisi Gua" Jawab Keishy seraya memeras selimutnya, sedangkan mimik muka Mia dan yang lain kaget, menahan dua orang membuat satu nyawa manusia melayang. Sedangkan Vian hanya biasa saja, menurutnya pembunuhan adalah sesuatu yang setiap hari dia lihat.


"Siapa yang membunuhnya?" Zeyvin angkat bicara seraya mengerutkan keningnya, "setau gua diantara kita mana kenal sama orang tua member Cranium Motw"


Keishy menatap Zeyvin dengan mata merahnya, sungguh Keishy tidak bisa menahan bendungan tangis miliknya itu, Kematian Ibunya Sena membuat Keishy mengingat proses pembunuhan Ibunya sendiri, "Leona" Ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi


"gua yakin, orang itu juga membunuh Mamah Gua dulu!" Tekannya sekali lagi kemudian Keishy melemparkan tatapan sinis pada mereka dengan mata merahnya, "Terserah kalian" Keishy menghela napas, "Gua mau nolong Sena dan memberi pelajaran Leona, walaupun dia dari Cranium Motw tetapi dia sosok gadis yang baik" Jelas Keishy


"Tapi Kei, kalo dia jahat lu mau apa? orang kalo dibaikin, bukannya balik baik ke kita, tapi malah ngelunjak. Gua gasuka orang yang kayak gitu Kei" Zean berujar kemudian dibalas dengan anggukan oleh Arvin dan Zen


"Gua lihat dari matanya, dia tulus sayang sama orang tuanya. Jangan kalian berpikir bahwa orang jahat itu selalu jahat, setiap orang memiliki sisi baik" Kemudian Keishy melepas Infus yang melekat di tangannya hingga darahnya menyiprat sedikit di selimut


"Jika Sena dan Jay berulah, Gua akan tanggung jawab" Vian menganggukkan kepalanya mengerti, dia memandang mimik wajah Keishy dan memperhatikannya yang membuang infus rumah sakit ke sembarang tempat, sepertinya dia serius. Bukan karena Sena, itu urusan bonus, urusan pokoknya adalah memberi pelajaran pada Leona.


"Jadi kapan kita bakal nemuin Leona?" Tanya Mia mendekati posisi Kei di ranjang seraya menepuk bahunya pelan, "tunjukkin kemampuan stalker lu sekarang Mia" Ucap Keishy seraya tersenyum.

__ADS_1


"Gua ikut" Zean angkat bicara kemudian melirik Kakaknya Zen seraya mengangkat alisnya menggoda, "ck, yaudah gua juga ikut" Ucap Zen


Zeyvin mengangkat tangannya yang panjang itu, "Gua juga" kemudian ia menurunkan tangannya, "Misi tanpa gua itu hambar, slur" Ucap Zeyvin seraya tertawa sedangkan Keishy hanya tersenyum kagum kepada mereka, keputusannya dihargai semua orang.


Dia sangat bahagia kemudian Keishy melirik Arvin yang dari tadi hanya diam, "Arvin mau ikut?" Tanya Kei padanya


Manik Arvin mulai melirik Keishy, dia menatapnya lekat kemudian menghela napasnya, "dimana ada lu disitu ada gua" Ucapnya setelah itu ia memainkan ponselnya. Seketika Kei sumringah.


Mia melirik Vian kemudian dia tersenyum, "Lemari kecil disamping ranjang Kei ada Laptop, kita bisa membuka kode Cctv yang Vian bawa. Itu Cctv yang udah dirancang tanpa kabel, bisa disebut dengan kamera pengintai. Agen HSD yang memasangnya" Mia mengambil laptop itu kemudian menaruhnya diatas Lemari setelah itu dia menyalakan laptop dan memasukkan flashdisk yang Vian berikan tadi kemudian membuka kode angka, Seketika Kamera pengintai itu menyala menampakkan ruang tamu di Laptopnya.


"Agen HSD itu adalah member baru, dia memasang kamera pengintai itu untuk menyelesaikan Levelnya yaitu Level 1 bagian 8. Setiap level mempunyai 10 bagian dan yang paling tinggi Levelnya yaitu Level 4. Kita semua? Masih di level 3 bagian 5. Level 4 yang didudukki Vian itu susah untuk didapatkan" Mia menjelaskan kemudian melirik Vian sekilas, "Benarkah itu Vi?" tanya Mia yang masih mengutak atik Laptopnya,


Vian mengangguk setuju "Ya, Level 4 hati dan pikiriannya seimbang. Tidak egois dalam menjalankan misi. Solidaritas. Selalu memikirkan rekan. Tidak takut dalam misi di keadaan apapun, sekalipun dia lumpuh, kalau bisa berusaha pengorbanannya akan berhasil jika dia mati maka kematiannya akan selalu dihormati. Dan, Tidak gila harta dan yang lain semacamnya, taktik dan rencana harus seperti realita. Percaya pada diri sendiri. Tidak tergantung pada orang lain. Gesit, tangkas berani pada maut yang datang." Jelas Vian panjang lebar sedangkan mereka yang mendengar hanya mengangguk mengerti.


Level tiga kek nya dah cukup bagi gua. yang paling penting gesit. Batin Zean


"Leona, nama lengkapnya Leona Gracia Angel. Dia wanita, ehh dia pelakor!" Ucap Mia exited saat melihat identitas dan rumor rumor fakta tentang Leona


"H-hah?" kali ini Vian bersuara, " pelakor? Maksudnya apa?" Ucap Vian seraya mendekat ke arah Mia untuk melihat fakta tentang Leona


Mia melihat artikel itu dibalik kacamatanya detail, "Leona sempat menghabiskan malamnya dengan pewaris harta Kolongmerat dari Almarhum Georala Andara yaitu Ravanda Reyhan Andara suami dari Emilly Rachel Syahlan, kemudian dia mengandung dan menggugurkan anaknya agar tidak merasa dipermalukan, kutipan langsung dari sumber. Cerita fakta dari Leona sendiri dan ia sempat meminta maaf dipublik atas kesalahannya pada Emilly, 2001 05 02" Mia memperjelas


"Revanda Reyhan Andara, Suami resmi Leona marah besar saat Ravanda sempat melecehkan istrinya, walaupun rahasia Leona telah di kubur dalam dalam selama empat tahun tetapi tidak ada alasan rahasia itu tidak terbongkar sama sekali. Revanda marah besar kemudian membunuh Suami dari Emilly, yaitu Ravanda dengan cara menusukkan pisau bergerigi pada perutnya, sedangkan Emilly menjadi gila karna depresi saat dia hamil dan tak lama kemudian dia keguguran" Jelas Mia seraya men-scroll artikel itu detail

__ADS_1


Keishy angkat kepala saat mendengar kalimat terakhir, "eh" Ucapnya spontan kemudian Keishy sadar, ini urusannya bukan urusan mereka. Leona sangat berbahaya begitu juga dengan Revanda. Keishy menundukkan kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya khawatir dan meremas selimutnya.


Vian menyadari apa yang Keishy rasakan, bukan hanya Kei yang terbuang, Vian juga sama. Anak yang dikandung Leona adalah Vian sendiri, Leona tidak menggugurkannya melainkan menitipkannya ke panti asuhan, semua yang terkait keguguran itu bohong belaka. Keishy masih hidup dan Vian juga. Vian menggenggam tangannya erat, Leona dan Revanda telah membuatnya semakin benci, yah ini waktu yang tepat untuk memberi pelajaran kepada mereka berdua.


Mia menutup Laptopnya kemudian menghela pelan, "artikel itu udah lama, wajar mereka mudah membunuh seseorang. Toh dulunya juga sang pembunuh, 'kan?" Ucap Mia memastikan kemudian mereka mengangguk kecuali Vian dan Keishy.


"Mereka udah pernah perang saudara dan juga terbiasa membunuh. Jangan asal maju, Kita harus mempersiapkan diri, Kei?" Zen meyakinkan Keishy yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya


Keishy tidak menangis, dia hanya merenungkan apa yang terjadi dulunya. Maniknya melihat Zen kemudian mengangguk dengan senyumnya yang kecut.


"Kalian pulang duluan sekarang ya, gua sama bang Vian mau ngobrol dulu. Maaf" Ucapnya sekali lagi dengan senyum yang hambar.


Manik Mia menoleh pada Keishy yang disampingnya, "jangan minta maaf, kita sama sama berjuang. Jika ada masalah cerita sama kita, kita rekan Kei" Ujar Mia kemudian mengusap bahunya pelan kemudian tersenyum setelah itu Mia mengajak Arvin, Zean, Zeyvin dan Zen pergi dari sana meninggalkan Keishy dan Vian sendiri.


Semuanya telah keluar, Mia yang terakhir keluar pun sudah menutup pintu bilik kamar Keishy. Vian segera berjalan menuju Kei dan membaringkan Kepalanya diatas paha Keishy sedangkan kakinya menjulur Ke ranjang.


"Elus" Ucapnya, Kei mengerti apa yang dimaksud Vian. Vian bukan psikopat, dia masih punya empati dan simpati, dia masih punya hati yang tulus dan lembut untuk mencintai seseorang, terkadang Vian hanya melampiaskan kemarahannya dengan membunuh, itu saja.


Kei mengusap rambut Vian dari kening hingga ke belakang kepala dengan pelan, "bang, apa kita perlu memberi pelajaran pada tante Leona?" Tanya Keishy dengan tatapan kosongnya bersandar di kepala ranjang


Vian diam sejenak kemudian melirik Keishy, "menurut lu?" bukannya memberi jawaban malah Vian bertanya balik pada Kei, yang ditanya pun hanya menggeleng pelan, "gua gatau bang. Gua bimbang"


Vian menghela napasnya, "santai Kei, jangan terlalu dipikirin, dinginkan kepala lu. Sekarang cobalah untuk sedikit lega sedikit lebih rilex dan lanjutkan ritualnya" Ritual yang dimaksud Vian bukan ritual dukun atau semacamnya, melainkan ritual untuk mengusap kepala Vian.

__ADS_1


Keishy peka kenapa Vian menyuruhnya untuk mengusap kepala, karna dia juga merasa bimbang, bingung apakah tindakannya itu benar atau tidak. Yang ia butuhkan hanya mendinginkan kepala dan mencoba untuk santai sejenak.


Kami ... butuh ketenangan.


__ADS_2