Paradoks

Paradoks
Chapter 13


__ADS_3

"Bang, sepatu Kei mana ya?"


Dia memberantakkan rak sepatu itu demi menemukan sepatu sekolah miliknya.


Vian memutar matanya malas, "udah gua bilang, sekolah itu siapin dari kemaren kemaren Kei, biar lu gabakal nyari-nyari seperti sekarang ini" Ucapnya kembali fokus pada play station miliknya


Keishy menghela nafasnya kasar, percuma menanyakan hal itu pada kakaknya, sungguh tidak membantu.


Keishy merutuki perbuatannya seraya mengetuk kepalanya pelan hingga manik nya melihat sesuatu yang bisa dia pakai.


Mengambil sandal yang bertuliskan 'sellow' kemudian memakainya.


"Bang, Kei berangkat dulu ya, Assalamualaikum" Keishy menyalami tangan Vian dengan empunya yang masih fokus pada game nya itu


"Waalaikumussalam" jawabnya


Keishy berjalan menuju mobil kemudian melaju pergi ke sekolah seraya menyalakan musik di sepanjang perjalanan.


Jarak dari rumah ke sekolahnya hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai, sebenarnya Keishy bisa menaiki bus untuk pergi, tetapi rasa malasnya lebih tinggi dari pada rasa hematnya dan memilih untuk memakai mobil milik kakaknya.


Padahal halte bus berada tepat didepan Apartemen.


Setelah sampai pun Keishy memarkirkan mobilnya dan segera ke ruang guru untuk membayar uang bulanannya.


"Assalamualaikum" Keishy membuka pintu ruangan khusus guru seraya melihat sekelilingnya tanpa masuk ke dalam, sunyi? Tentu saja. Keishy berangkat pada pukul setengah tujuh padahal ADOS memulai pelajaran pada pukul setengah delapan.


Keishy Kepagian.


Menutup kembali pintu ruangan itu kemudian berjalan mengikuti arah langkah kakinya melangkah.


Tukan apa gua bilang? Ni gedung kek pabrik indomi, gede amat, batin Keishy.


Mungkin hanya beberapa murid yang sudah ada di sekolah itu, jadi Keishy tidak merasa sendirian.


Mengelilingi gedung sekolah itu dengan bersenandung lemah seraya menghentak hentakkan kaki layaknya anak kecil.


Keishy memasukki perpustakaan membaca buku disana selama 10 menit kemudian turun pergi ke lapangan bola basket.


Udah lama ga main bola kaki, batin Keishy.


Keishy mempunyai kebiasaan aneh, tapi tak terlalu aneh. Ia memainkan bola basket layaknya futsal begitu sebaliknya, Keishy malah menjadikan bola kaki sebagai bola basket.


Entahlah.


Keishy menururuni tangga dengan semangat itu terhenti dan memperlambat langkah kakinya saat terdengar pantulan bola basket yang dimainkan seseorang.


Keishy berjalan menuju sumber suara dan terlihat Pria memantulkan bola beberapa kali kemudian melempar bola itu hingga masuk ke dalam ring.


Sepertinya Dia sudah memainkan bola itu berulang ulang.


Pria itu bermain dengan asiknya memasukkan bola itu ke keranjang, Keishy melihatnya tanpa mengedipkan mata sama sekali.


Dengan baju sekolah abu abu putih dengan keringat yang membasahi punggung.


Tubuh yang jangkung, badan yang six pack dan rambut hitam yang menawan. Bagaimana Keishy bisa melewatkan kesempatan yang bagus ini? Mubadzir cuy, Pikirnya.


Cuci mata hehe, batin Keishy duduk dibangku tepi lapangan.


Pria itu membalikkan badannya sana tak sengaja kedua mata mereka bertumpu, ia memiringkan kepalanya kemudian dahinya berkerut.


"Lah, Lu?"


"A-apa?" Ucap Keishy canggung

__ADS_1


"Kagum ya sama badan gua" Ucapnya dengan nada yang menjengkelkan kemudian pergi duduk disamping Keishy


Dengan sontak Keishy segera menjaga jarak dengannya, "Jauh jauh sana! Bau keringet tau Vin!" usir Keishy mengibaskan tangannya


Yah! Keishy memandang temannya sendiri yang tak lain dan tak bukan adalah Arvin sendiri.


"Nih bau!" Arvin memeluk geli Keishy sontak ia teriak takut jaket yang dia pakai lembab dan bau


"Asem bodoh! Jijik ew" Keishy melepas pelukan Arvin dengan kasar sedangkan Arvin tertawa merdeka


Keishy berdiri melepas jaketnya kemudian melempar jaket itu tepat pada wajah Arvin, "tuh laundry ampe wangi, lusa baru kasih ke gua!"


"Cuma keringet doang ampe minta di laundry" ujarnya seraya mengenakan jaket milik Keishy yang ternyata pas di badannya


"Eh muat, gila" seru Arvin.


"Yaiyalah, kan itu kegedean di gua" Ucap Keishy kembali duduk disamping Arvin


"Pantesan" balasnya seraya memutar bola basketnya iseng


Hening, hanya diam. Suara burung yang berkicauan itu terdengar keras, tak ada percapan lagi. Mereka membungkam dengan suasana yang cukup canggung.


"Udah ah!" Keishy beranjak pergi dari sana meninggalkan Arvin sendirian


"Eh mau kemana lu?" Arvin mempercepat langkahnya menuju Keishy kemudian berjalan beriringan meninggalkan lapangan bola basket


"Ruang guru"


"Ngapain repot repot ke ruang guru kalo ada aplikasinya?" Tanya Arvin dengan muka polosnya


Keishy memutar matanya malas kemudian mencubit perut Arvin pelan sehingga empunya sontak mengusap perutnya meringis.


"Hehe bercanda ah gua ci" Kekeh Arvin


"Eci hehe"


"Hah?"


Arvin menghela nafasnya kasar, dia lupa bahwa otak Keishy sedikit lemot dan lelet dalam mencerna suatu kalimat yang menurutnya baru ia dengar.


"Nama lu kan Keishy panggil aja eci cocok sama muka lu yang babyface" Jelas Arvin


"Oh itu hng. jadi inget mamah gua" Ujar Kei lemah kemudian diam.


Seterusnya dalam perjalanan dan saat sampai ke kelasnya dia masuk tanpa pergi ke ruang guru untuk membayar bulanannya pergi tanpa berbicara sepatah katapun.


Apa gua salah ngomong? - Arvin


...•••••...


Bel pulang berbunyi, ADOS membuat orang orang disana keluar seperti kerumunan semut yang sarangnya disiram dengan air.


Keishy berlari pergi menuju mobilnya yang terpampang di salah satu tempat parkir. Ia memasukki mobil itu kemudian memutar kunci untuk menyalakan mobilnya.


Mobilnya tak menyala.


Keishy kembali memutar kunci nya tetapi mobilnya tetap tak menyala.


Keishy geram kemudian memutar-putar kunci mobilnya tetapi mobilnya tak kunjung menyala.


Dengan kesal Keishy keluar dari mobilnya, membanting pintu itu tertutup dan melempar kunci itu sejauh-jauhnya.


"Aduh!!" ringis seseorang

__ADS_1


Keishy melihatnya langsung beralih pandang berlawanan dan pura pura tidak tahu, ia tak mengira bahwa lemparannga akan melukai seseorang.


Keishy menggigit kukunya khawatir.


Arvin berlari seraya membawa kunci mobil yang mengenainya tadi menuju Keishy, "punya lu kan Kei?"


Keishy berbalik dan merebut kunci itu kemudian masuk kedalam mobilnya memutar kunci itu bertujuan untuk menyalakan mobilnya.


Tak menyala.


Keishy lupa.


Kekesalan Keishy sudah memuncak, keluar dari mobil membanting sekeras kerasnya pintu mobil menutup kemudian menginjak kunci mobil itu yang sebelumnya ia banting.


"Imut banget sih, Anak orang" Ucap Arvin dalam hati, "Pulang sama gua aja yok" tawarnya lembut


"Gak mau, gua bisa jalan sendiri" Ucap Keishy acuh tak acuh


"Yaudah, hati hati ya disini, minggu kemaren banyak gangster, bisa mati lu disini. Bye bye" Arvin segera pergi dari sana seraya melambai tangannya pada Keishy


"Kebohongan seorang pria" Gumam Keishy


"Gua serius woy! Lu tau kan petugas perpus koma karna kasus peluru salah sasar? Nah itu yang nembak gangster itu!" teriak Arvin seraya mengancungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan


Benar juga, petugas perpustakaan yang bertugas untuk bersih-bersih koma karna kasus penembakan, alhasil kemarin lusa Keishy yang membersihkan perpustakaan itu.


Mau tidak mau Keishy terpaksa untuk ikut Arvin dengan motornya.


Arvin segera menyalakan motor itu kemudian pergi dari sana.


"Eh Kei! Kok dingin ya" Ucap Arvin sedikit teriak


"Ck, pelanin aja motornya!" Teriak Keishy


"Eh Kei!"


"Apa!!"


"Gua laper! Mau beli makan dulu" Ucap Arvin dengan teriakan yang kencang, dia membawa motor sedikit cepat wajar saja mereka saling berteriak


"Alan walker fans nya adek lu dulu?! Bodoamat kaga nanya!!" Balas Keishy tak kalah teriak


Arvin berdecak kesal kemudian memberhentikan motornya di salah satu toko eskrim pinggir jalan.


"turun" Ucap Arvin


"Hah?"


"Turun Kei!" Nada Arvin meninggi membuat Kei segera turun dari motor itu


"Gua mau cuci mulut, lu mau tunggu sini apa mau ikut?"


"Tunggu aja ya" Ucap Keishy pergi ke salah satu bangku panjang yang berada di teras toko eskrim


"Mba pesen eskrim rasa coklat sama vanila ya" Ucap Arvin pada sang penjual kemudian penjual itu menyajikan kedua eskrim dengan rasa yang berbeda dan memberikannya pada Arvin


"selamat menikmati" sambut penjual itu dibalas Arvin dengan senyuman dan tak lupa berterima kasih


"Nih" Arvin menyodorkan eskrim Vanila tepat di hadapan Keishy yang sedang memainkan ponselnya


Keishy mendongak kemudian kembali memainkan ponselnya, "lu aja yang makan, gua gak selera"


Arvin mendecak kemudian duduk di sebelah Keishy, "Ih apaansih Vin! Balikin gak!" Arvin merebut ponsel milik Keishy kemudian menyakunya di celana

__ADS_1


"Nih" Arvin meraih tangan Keishy kemudian manaruh eskrim itu diatas telapak tangannya, "Makan dulu, karna pura pura bahagia butuh tenaga, Keishy"


__ADS_2