Paradoks

Paradoks
Kebenaran Terkuak


__ADS_3

Di suatu hotel dibagian Tokyo utara, terlihat sepasang kekasih yang tengah bercumbu di atas ranjang yang besar itu.


".. Sudah lama kita tidak melakukannya.. Aku sangat merindukanmu" ucap pria itu tersenyum.


"Kamu tahu kalau aku.. Belakangan ini sangat sibuk.." jawab wanita itu sembari membelai pipi pria itu, terlihat bekas luka pisau terpatri di bagian matanya.


".. Aku tahu jika kamu mencariku hari ini.. Ada yang kamu inginkan.. Katakan apa yang bisa kulakukan untukmu.. "ucap pria itu tersenyum licik.


".. Hehehe memang kamu yang terbaik.. Tidak ada yang lebih memahamiku selain dirimu..."


" Tentu saja..kamu tahu jika aku sangat mencintaimu.. Tapi.. Kamu justru memilih untuk menikahi pria yang tidak bisa menghargai mu.. "


".. Tetsu...kamu juga tahu jika aku menyukaimu... Aku bersamanya hanya demi Yukio.. " ucap wanita itu lagi yang ternyata adalah Chikako.


".. Yukio.. Kapan aku.. Bisa menemuinya..? " tanya pria yang bernama Tetsu itu


" Bersabarlah.. Aku akan membuat kalian bertemu secepatnya.. "


" Kamu tahu aku sudah cukup lama menahan diri..aku ingin menemui anak kita" ucap Tetsu. Mendengar ucapan pria yang ada di depannya itu, ia segera menghentikan aktifitasnya dan merapikan pakaiannya


"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk berhati - hati, Yukio saat ini adalah anak dari Kuon Nakamura, tidak ada yang boleh tahu tentang hubungannya denganmu"


"Tapi disini hanya ada kita berdua, aku belum pernah bertemu dengannya.. Hanya melalui foto-foto yang kamu kirimkan kepadaku.. Kamu tidak tahu bagaimana bahagianya diriku saat aku mengetahui kalau kamu mengandung... Tetapi aku tahu.. Kamu hanya ingin bersama dengan pria brengsek itu..dan aku pun harus mengalah demi kebahagiaanmu.. Hanya saja.. aku ingin menemui anak kita walau hanya sehari .. " Tetsu berharap Chikako akan mengabulkan permohonannya.


Tetsu adalah anggota Yakuza yang tidak sengaja bertemu dengan Chikako beberapa tahun silam di sebuah bar. Dari awal hubungan mereka, Tetsu sudah tahu jika Chikako hanya menaruh perhatian kepada Kuon.


Suatu hari Chikako datang menghampirinya dengan keadaan patah hati dan menangis, dan berharap ia bisa mengandung agar bisa membuat Kuon untuk tidak meninggalkannya, karena rasa cintanya kepada Chikako , ia pun mengabulkan permintaan wanita itu.. Namun kini ia harus membayarnya dengan berpura-pura tidak mengenal anaknya sendiri.


Ada rasa iri dan kecemburuan ketika melihat anaknya memanggil sebutan ayah kepada pria lain.. Sedangkan ia tidak bisa menemui anaknya sendiri dengan leluasa..ia sudah menahan diri cukup lama karena ia tidak ingin menghancurkan rencana Chikako. Di satu sisi ia juga ingin anaknya tumbuh besar sebagai pewaris Nakamura Group. Ia akan melakukan apa saja demi wanita dan anaknya walau itu artinya ia harus berada di balik layar selamanya.


".. Yukio sebentar lagi akan berulang tahun... Aku.. Akan mengundangmu sebagai salah satu rekan bisnisku dulu.."


"Benarkah??"


"Tapi ada satu hal yang aku inginkan darimu.."


".. Apa itu? Kamu tahu aku akan melakukan apa saja untukmu"


".. Singkirkan wanita yang bernama Naomi Ikeda dan anaknya.. Sepanjang mereka masih hidup.. Posisi Yukio sebagai pewaris tunggal akan terancam.."


"... Aku mengerti..aku tidak akan bertanya mengapa atau bagaimana, asal itu adalah permintaanmu, aku akan melaksanakannya tanpa perlu mempertanyakan keinginanan mu itu.. kamu tidak perlu khawatir akan apapun, aku akan membereskannya untukmu...sekarang..bagaimana jika kita melanjutkan lagi aktifitas kita..?" tanya pria itu yang kemudian kembali membawa Chikako kembali ke atas ranjang.


...*****...

__ADS_1


Naomi dan Aiko sedang berjalan ke arah sekolah, biasanya Kuon yang akan mengantar langsung Aiko untuk ke sekolah hanya saja pada hari itu, jadwal Kuon sangat padat hingga ia tidak bisa mengantar mereka dengan mobil pribadinya, oleh karena itu iapun meminta Jun untuk mengantar mantan istri dan anaknya itu, hanya saja cuaca cukup bersahabat setelah beberapa bulan mendung dan dingin, berhubung perjalanan ke sekolah juga tidak begitu jauh, Naomi memutuskan untuk berjalan kaki dan meletakan Aiko untuk duduk di kereta dorong anak, saat sedang menikmati cerahnya cuaca, seunit mobil berlari kencang ke arah mereka, dan sebelum ia sadari


BRAKKKK CCKITTTTT!!!


Dengan kecepatan penuh menabrak mereka hingga Naomi terpelanting cukup jauh dengan posisi kereta anaknya berada di bawahnya seolah-olah di detik terakhir, Naomi menahan tabrakan tersebut dengan tubuhnya.


Darah mengalir deras dari kepala, hingga kakinya, orang - orang segera berlari menghampiri mereka, dan mobil yang menabrak mereka segera melarikan diri meninggalkan kerumunan dipagi itu.


"T-tolong a..nakku.." ucap Naomi sebelum. Kehilangan kesadarannya sepenuhnya.


...*****...


Hati Kuon terasa tidak tenang pada pagi itu, ia tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya, entah kenapa ia memiliki firasat yang buruk..


Gelas yang sedang ia pakai untuk meminum kopi tiba-tiba retak dan terbelah menjadi dua.


Ia lalu memanggil bagian cleaning service untuk membersihkan meja dan lantai akibat kopi yang tumpah dari gelasnya itu, setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Baru saja akan memulai untuk mereview laporan yang masuk, Jun memasuki ruangannya, ekspresinya tampak tidak baik.


"Tuan Nakamura.." panggilnya


Melihat raut wajah sekretaris pribadinya itu, ia tahu ia tidak akan menyukai kabar yang akan ia berikan kepadanya.


Kuon sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, kedua tangannya dingin mencengkerem kemudi yang ada didepannya itu.


Ketika mendengar kecelakaan Naomi dan Aiko, jantungnya sempat berhenti berdetak, ingatan akan kejadian beberapa tahun yang lalu kembali berputar di kepalanya.. Bagaimana jika kali ini akan menjadi perpisahan mereka yang sebenarnya? Tidak. Tidak, ini semua tidak boleh terjadi. Kepalanya sudah tidak mampu berpikir.


Begitu tiba di rumah sakit, ia segera berlari ke dalam tanpa memperdulikan sekelilingnya.


Ia kemudian tiba di meja resepsionis.


"Dimana pasien Ibu dan anak korban tabrak lari pagi ini?" tanyanya terburu-buru.


".. S-sebentar.. Ah pasien masih be-berada diruang operasi 201"


Belum usai mendengar, Kuon kembali berlari mencari koridor ruang operasi 201.


Ia kemudian akhirnya tiba dan melihat lampu merah masih menyala diatas pintu ruangan tersebut. Pandangan yang ada didepannya sangat familiar. Sama persis dengan kejadian saat mereka harus kehilangan Haruto.


Menunggu dalam ketidakpastian, Kuon menelan ludahnya sendiri yang terasa pahit. Ia sangat ketakutan bagaimana jika kali ini ia akan kehilangan Aiko dan Naomi.. Bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya..?


Tidak berapa lama kemudian, perhatiannya tertuju pada pintu yang terbuka, dokter pun keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana Dok? Bagaimana keadaan istri dan anakku??!" tanya Kuon putus asa hingga ia tidak peduli dengan status istri yang ia berikan kepada Naomi.


" tenangkan dirimu Tn, operasi berjalan lancar..masa kritis mereka sudah lewat.. walau keduanya kehilangan darah yang banyak, beruntung kecelakaan tersebut tidak mengenai organ penting mereka, anak dan istri Tuan akan dipindahkan keruangan perawatan, setelah itu anda bisa menjenguk mereka..


".. Syukurlah.. Syukurlah..." tidak berhenti-henti Kuon mengucap Syukur. Badannya tiba-tiba terasa lemas, ia pun kemudian berjalan ke arah kursi yang ada di koridor tersebut dan duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya.


"Syukurlah.." ucapnya lagi setelah duduk di atas kursi tersebut....


...*****...


Naomi saat ini sudah berada diruang perawatan VIP, perban menutupi kepalanya, kedua matanya walau tertutup, tetap jelas terlihat bengkak, dan kedua kakinya juga tertutup perban.


Kuon sedang duduk disampingnya seraya memegang tangannya dan sesekali mencium dan merasakan kehangatan Tangan dari Naomi.


Ia baru saja dari ruangan dimana Aiko di rawat. Ia tidak sanggup berlama-lama diruangan tersebut ketika melihat leher Aiko harus menggunakan neck brace dan oxygen terpasang di hidungnya. Dia kedua tangan kecilnya terpasang infus baik cairan maupun darah, dan memar2 terlihat jelas di tubuhnya..


Ia menyesali kenapa ia harus bekerja pada hari naas itu.. Lagi-lagi ia gagal melindungi orang-orang yang ia cintai. Ia kembali menyalahkan dirinya sendiri.


...*****...


Setelah beberapa saat, Naomi pun mulai siuman.. Satu hal yang ia tanyakan saat membuka matanya adalah Aiko.


".. Ai.."


"Naomi??? Naomi kamu sudah sadar??" panggil Kuon.


".. A-aiko, Aiko anakku di..mana..?" cari Naomi.


"Aiko.. Aiko saat ini berada diruang perawatan anak, tidak.. Tidak apa-apa, Aiko sedang beristirahat.., bagaimana dengan perasaanmu? Apa kamu ingin minum?" tanya Kuon.


Naomi pun menggeleng-gelengkan kepalanya


".. Aku hanya... Ingin Aiko.." dengan suara pelan Naomi menjawab.


".. Aku akan memanggil dokter karena sekarang kamu sudah siuman"


Kuon lalu memencet bel yang ada di samping tempat tidur Naomi dan tidak berapa lama kemudian dokter maupun perawat memasuki ruangan tersebut.


Mereka kemudian melakukan pemeriksaan terhadap Naomi, melihat dokter sedang melakukan pekerjaannya, Kuon pun keluar dari ruangan tersebut.


Ia kemudian menghubungi Jun.


"Apa kamu sudah mendapatkan rekaman dan cctv dari daerah tersebut..? Aku ingin kamu segera menemukan siapapun yang mengendarai mobil tersebut, bagaimanapun caranya.." ucapnya. Setelah itu ia mematikan teleponnya.

__ADS_1


Ia tidak akan tinggal diam. Ia akan memastikan orang yang sudah menyakiti Naomi dan Aiko mendapatkan ganjaran yang setimpal.. Tidak.. Mungkin lebih dari itu...


__ADS_2