
Sekujur tubuh Naomi bergemetar, walau ia kini sudah tiba di rumah, ia masih tidak mampu mengontrol rasa berkecamuk yang ada didadanya.
Ketika Kuon memanggilnya, ia tidak yakin apa yang harus ia perbuat, ia tidak siap dengan pertemuan mereka yang begitu mendadak.. Ia tidak mengira jika Kuon akan benar-benar berada di desa ini...melihat Kuon yang tampak lebih kurus dari apa yang diingatnya membuat Naomi bertanya-tanya bagaimana Kuon melewati hari-harinya, apa ia bekerja terlalu keras? Apa ia tidak makan dengan tepat waktu.. perasaan khawatir muncul begitu saja.
"Kamu benar-benar menyedihkan Naomi..sudah hampir 3 tahun... 3 tahun... dan kamu masih belum mampu melupakan pria itu.. Mau jatuh serendah apa dirimu Naomi? Ingat.. Pria itu sudah membuangmu.. Ia tidak pernah mencintaimu..kenangan manis yang pernah kamu miliki dengannya hanya sebuah ilusi..apa kamu lupa ia bahkan tidak membuang waktu dengan segera menikahi Chikako? sadarlah Naomi.. " Naomi terus mengingatkan dirinya untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, ia lalu mencuci wajahnya dengan air dingin agar ia bisa segera kembali mengatur perasaannya.
Tiba-tiba Aiko berlari ke arahnya dan memeluk paha Naomi
" Mama.. " panggilnya dengan mata biru yang berbinar-binar.
Naomi pun menunduk melihat gadis kecilnya itu, ia lalu berlutut dan membelai pipi anaknya itu.
"Benar.. Prioritas Aiko adalah yang pertama.. Aku rela melakukan apa saja asal aku bisa memberikannya kebahagiaan.. Aku sudah melakukan hal yang benar..Aiko perlu ayahnya.."
"Maaf ya Aiko, mama sedikit terlambat menyiapkan makanan kesukaanmu, sekarang mama akan segera membuatnya, Aiko tunggu dikamar ya" ucap Naomi.
"Mmh!" angguknya antusias. Gadis kecil itu kemudian berlari menuju kamarnya dan bermain dengan boneka beruang yang Arata hadiahkan untuknya di ulang tahunnya yang kedua kemarin.
...*****...
Kuon sedang berbaring diatas futon penginapan yang ia sewa untuk beberapa hari kedepan, di tangannya ia memegang secarik kertas yang diberikan Naomi kepadanya. Senyum mengembang di wajahnya.
Ia lupa sudah berapa lama sejak terakhir kalinya ia tersenyum seperti ini.
"Naomi..benar-benar masih hidup.. Ia benar-benar masih hidup...dan ini bukan mimpi... Aku juga memiliki seorang puteri..puteri kecilku.. "
Kuon masih mengingat jelas rupa Aiko, Aiko memiliki perpaduan yang sempurna antara dirinya dan Naomi. Walau secara keseluruhan Aiko sangat mirip dengannya, ia juga bisa melihat Naomi didalam dirinya.
Ia ingin sekali memeluk gadis kecilnya dan mengatakan betapa ia mencintainya.. walau ini adalah pertama kalinya ia mengetahui kalau anak itu adalah anaknya, perasaan cinta seorang ayah tumbuh begitu saja dengan begitu alami .. Ia ingin sekali membawanya pulang bersamanya memastikan buah hatinya dengan Naomi mendapatkan yang terbaik.
Perasaan khawatir tiba-tiba merasukinya..walau Naomi mengatakan ia dan Aiko hidup dengan baik disini, ia tidak tahu baik seperti apa yang di maksud.
Aiko juga terlihat lebih kecil dari anak sepantarannya, belum lagi kaki Naomi yang sepertinya tidak pulih dengan sempurna.. Walau tidak bertanya.. Ia tahu jika kakinya menjadi seperti itu akibat kejadian 3 tahun yang lalu, suatu mukjizat ia masih bisa selamat jatuh dari ketinggian seperti itu.. Ia hanya menyesalkan jika seandainya ia menemukannya lebih cepat, mungkin kaki Naomi bisa di perbaiki dan pulih.
__ADS_1
Ia kemudian mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Jun.
...*****...
Keesokan harinya..
Restoran sedang ramai sekali akan tetapi telepon genggam Naomi terus berdering.
"Naomi, aku tahu kita saat ini sedang sibuk, akan tetapi jauh lebih baik jika kamu bisa segera mengangkatnya atau setidaknya menggunakan opsi getar, suaranya sangat menggangguku" ucap Megumi
"M-maafkan aku" terburu-buru Naomi melihat layar teleponnya, dari nomor yang tidak ia kenal. Ia lalu segera mematikan teleponnya dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Jam menunjukan pukul 3 sore ketika akhirnya mereka bisa bersantai sejenak.
"Hari ini sangat melelahkan, oh ya Naomi apa kamu sudah mengecek siapa yang menghubungimu? Sepertinya penting karena ia tidak berhenti meneleponmu" ucap Megumi. Mereka saat ini sedang makan Ramen bersama.
"Entahlah, bukan nomor yang kukenal. Oh ya aku akan mengecek Aiko apa ia sudah bangun" ucap Naomi sembari beranjak dari tempat ia duduk dan segera berlari ke lantai dua.
"Aiko masih tidur bukan? Tadi siang ia makan lumayan banyak, mungkin ia akan tidur lebih lama" ucap Megumi ketika Naomi menghampirinya dan kembali duduk untuk melanjutkan makannya.
"Ya tapi sebentar lagi aku harus membangunkan Aiko, setelah itu menyiapkan makan malamnya"
".. Aku masih takjub bagaimana kamu bisa melakukan ini semuanya seorang diri..Aiko beruntung memilikimu" puji Megumi.
".... Sebenarnya...aku yang beruntung memiliki Aiko..tanpanya mungkin sudah tidak ada aku yang sekarang.." balas Naomi. Wajahnya terlihat sendu.
Megumi adalah orang yang peka, ia tahu mana yang perlu di pertanyakan. Ketika Naomi datang ke desa ini dengan seorang bayi bersama Arata, ia mengira mereka adalah 1 keluarga..akan tetapi ia kemudian mengetahui jika mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, ia juga tidak bertanya dimana ayah dari anak itu. Awalnya ia sulit berteman dengan orang baru, namun Naomi mempunyai pesona yang membuat orang-orang untuk mudah menerimanya, dan Naomi pernah membantunya ketika ia sedang terpuruk, sejak itulah mereka menjadi sahabat, bukan hanya sekedar rekan kerja.
Melihat wajah Naomi yang terlihat sedih, ia tidak mengatakan apa-apa lagi walau banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan..namun ia percaya jika Naomi tidak ingin menceritakannya, tidak sepatutnya ia mencari tahu.
Mereka kembali melanjutkan makannya ketika telepon Naomi kembali bergetar.
Naomi segera meletakan sumpitnya, dengan menghela nafas, ia lalu mengangkat telepon genggamnya.
__ADS_1
"Naomi.."
Mendengar suara Kuon, ia segera berdiri dan keluar dari restoran untuk menjawab telepon dari Kuon.
"Mengapa kamu menghubungiku?" tanya Naomi
"Bukankah kamu bilang jika aku ingin menemui Aiko, aku bisa menghubungimu? Aku ingin bertemu dengannya hari ini"
"Aku sedang bekerja "
".. Kalau begitu siapa yang menjaga Aiko? Aku sedang senggang hari ini, aku bisa membantumu menjaga Aiko selagi kamu bekerja" tawar Kuon
Naomi tidak tahu apa ia perlu memberitahu situasi mereka kepada Kuon.
".. Tidak perlu, kami baik-baik saja" ia memutuskan Kuon tidak perlu tahu bagaimana ia bekerja dan mengasuh Aiko.
"Aku hanya ingin mengantarkan beberapa barang untuk Aiko.. setelah itu aku akan kembali ke Tokyo.. Aku mohon.. " Kuon masih bersikeras.
Setelah mempertimbangkannya dengan baik, Naomi akhirnya menyerah. Lagipula ia mengenal watak Kuon. Ia tidak akan menyerah ketika sudah memutuskan sesuatu.
".. Baiklah.. Aku bekerja di restoran Tetsuhiko Ramen..daerah ini kecil, kamu akan mudah menemukannya..hanya saja..aku ingin kamu menyembunyikan identitasmu. Jangan katakan kamu adalah pemilik Nakamura Group" ucap Naomi seraya mematikan teleponnya.
Ia kemudian kembali masuk ke dalam restoran.
Megumi yang melihat Naomi masuk dengan lesu pun penasaran.
"Ada apa? Raut wajahmu terlihat kurang baik" tanyanya.
Setelah menatap wajah Megumi dalam waktu yang cukup lama, Naomi pun berkata..
".. Megumi..ada hal yang belum pernah ku ceritakan kepadamu..tapi bersabarlah.. Aku akan menceritakan segalanya kepadamu nanti....
...****...
__ADS_1