
...**Warning...
...Cerita ini hanyalah fiksi belaka, di utamakan pembaca yang bijak serta dewasa dalam mengelola informasi maupun alur ceritanya, author tidak mendukung kekerasan dalam bentuk apapun. Apabila ada kesamaan pada nama, lokasi dan cerita, itu hanyalah kebetulan. ...
...Terima kasih dan selamat membaca** ...
...****...
Bunyi toilet yang baru di flush terdengar dari balik pintu, Chikako dengan matanya yang berbinar-binar menatap 2 garis merah yang ada di tangannya, seketika senyumnya merekah..
Ia telah berhasil......
...***...
Sudah 3 minggu berlalu sejak Kuon meninggalkan kediaman mereka, Naomi sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Kuon, ia tahu pernikahan mereka sudah berakhir saat Kuon memutuskan untuk menamparnya pada hari itu. Ia mampu mentolerir hinaan dan makian yang di tujukan kepadanya, namun ia tidak akan membiarkan kekerasan fisik menimpa dirinya.
Jika memang Kuon sudah tidak memiliki lagi perasaan kepadanya, tidak mengapa. Toh ia sudah kehilangan segalanya..tidak ada lagi yang perlu dipertahankan..hanya saja ia tidak mengerti mengapa air matanya terus mengalir..walau sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
Dari lubuk hatinya yang terdalam ia sadar jika ia masih berpegang pada harapan yang tipis, berharap kalau pernikahannya masih bisa di selamatkan..ia masih berharap asalkan Kuon meminta maaf kepadanya, ia rela memulai segalanya dari awal dan melupakan kejadian kelam di antara mereka..namun ia ragu jika Kuon memiliki keinginan yang sama dengan dirinya..
...****...
Kuon sedang berada di Bar seperti malam-malam sebelumnya, tampaknya itu sudah menjadi kebiasaan barunya. Ia masih menyesali perbuatannya yang telah melakukan kekerasan kepada wanita yang ia cintai ...
"Cinta... Hik.. Itu hanya ilusi.. Aku tidak percaya dengan cinta! Semua wanita sama...licik dan kotor..,Naomi juga tidak jauh berbeda dengan wanita lainnya..dengan Michiko ..." ucapnya dengan kondisi mabuk sembari melihat gelas berisi minuman keras yang ia pegang.
Kuon berkali-kali meyakinkan dirinya jika ia tidak mencintai Naomi, perasaan yang ia miliki sebelumnya hanyalah ilusi belaka, ia terus menegak minuman beralkohol itu sembari menekankan dirinya untuk melupakan Naomi.
Ia berusaha untuk membenci Naomi dan menekankan dirinya sendiri jika perempuan itu memang pantas mendapatkan tamparan yang ia layangkan kepadanya, hanya saja semakin ia membenci Naomi, yang terjadi justru sebaliknya..hatinya semakin pilu. Ia tidak mengerti apa ia sedang menghukum Naomi atau justru tengah menghukum dirinya sendiri.
Sebenarnya ia sudah memaafkan Naomi yang menemui Kenichi, ia tahu jika pernikahan mereka bukanlah keinginan Naomi. Ia lah yang dengan egois membuat mereka berpisah, oleh karena itu Kuon sadar jika ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Naomi sepenuhnya..bagaimana ia bisa benar-benar berharap mendapatkan hasil yang baik dengan merebut sesuatu yang bukan miliknya? Hanya saja.. Ada 1 hal yang tidak mampu ia lupakan.. Dan itu adalah Haruto. Walau kejadian pada malam itu sudah berlalu berbulan-bulan yang lalu.. Ia masih mengingat dengan jelas pelukan pertama sekaligus pelukan terakhir yang ia berikan kepada Haruto seolah-olah itu baru terjadi kemarin.. padahal sebelumnya ia sudah bermimpi bagaimana ia akan membesarkan Haruto, bagaimana ia akan menyediakan apapun yang anak itu inginkan demi masa depan buah hatinya, namun semua itu sirna karena perbuatan istrinya..kesempatan hidup Haruto dirampas begitu saja.. oleh sebab itulah ia tidak mampu memaafkan Naomi, karena jika ia memaafkan perbuatan istrinya, itu tidak akan adil untuk Haruto.. Bagaimana ia harus menghadapinya kelak jika ia sudah tiada? Sebagai seorang ayah sudah kewajibannya untuk menegakkan keadilan bagi anaknya bukan.. Walau itu artinya ia harus menyakiti wanita yang ia cintai?
Tidak.. Ia tidak boleh memaafkan Naomi.. Ia akan membuat hidup Naomi berantakan sebelum mengembalikannya kepada keluarganya yang busuk. Dengan tekad yang kuat, ia segera menghabiskan minumannya dan pergi meninggalkan Bar itu.
__ADS_1
...****...
Naomi baru saja bersiap-siap untuk tidur ketika pintu kamarnya terbuka, ia terkejut mendapati Kuon dalam keadaan mabuk memasuki kamar mereka.
"Apa kamu merindu..kan..ku?" tanyanya dalam keadaan teler.
Melihat suaminya yang mabuk, ia segera memapahnya dan membantunya duduk di ujung ranjang.
"Kamu sudah mabuk.. Aku akan menyiapkan minuman pereda mabuk untukmu.."
Namun sebelum sempat Naomi meninggalkan Kuon, tangannya di tarik oleh suaminya itu.
"Apa kamu tahu jika saat ini aku sangat membenci..mu?"
Tentu saja mendengar ucapan Kuon yang blak-blakan membuat hati Naomi teriris. Ia tidak mengira Kuon akan mengatakannya secara gamblang di depannya.
"..Aku tahu..walau aku tidak pa-"
"Namun aku juga mencintaimu.. Semakin aku membencimu, rasa cintaku kepadamu juga semakin kuat..coba katakan..apa yang sudah kamu perbuat kepadaku..?" tanya Kuon memotong pembicaraan Naomi dan berusaha mencium Naomi.
Kuon tentu saja tidak terima dengan penolakan Naomi, oleh karena itu ia menarik Naomi kembali dan menjatuhkannya ke atas permukaan ranjang.
"Sampai.. sekarang pun kamu..masih meremehkanku huh.." tanyanya sembari memegang kedua tangan Naomi dengan 1 tangannya sedangkan tangannya yang lain membuka kancing piyama Naomi.
Walau saat ini Kuon dalam keadaan mabuk, Naomi tidak mampu melepaskan dirinya dari cengkeraman Kuon yang kuat, semakin ia berusaha melepaskan kedua tangannya, Kuon akan mencengkeramnya dengan lebih kuat lagi.
" Aku akan menunjukan kepadamu.. Siapa pemilikmu yang sebenarnya .." ucap Kuon dengan suara yang serak, seraya mencium Naomi.
"mmmh!! Hentikan Kuon!!!" teriak Naomi.
"Diam perempuan jalang!!! Lakukan bagianmu dan layani aku!" ujarnya tanpa memberi ampun seraya menekan dada Naomi dengan kuat hingga ia kesulitan bernafas.
Dengan ganas, Kuon melucuti pakaian Naomi, ia tidak peduli jika ia akan melukai Naomi ketika melakukan aksinya, yang ia tahu ia sudah sangat merindukan istrinya itu dan ingin melampiaskan semuanya pada malam ini.
__ADS_1
Tanpa belas kasian, Kuon melancarkan aksinya, tangis Naomi tidak membuatnya berhenti, ia ingin membuat wanita itu berteriak hingga ia kehilangan suaranya.
Kuon mengambilnya berkali-kali dengan kasar pada malam itu, ia bahkan tidak mengingat berapa lama mereka melakukannya..yang jelas setelah malam ini berlalu, wanita itu tidak akan mampu melupakan dirinya, bahkan disaat setelah mereka berpisah kelak..
...***...
Waktu sudah menunjukan dini hari, ketika akhirnya Kuon puas dengan aksinya, ia mengambil pakaian yang ia tanggalkan sebelumnya di lantai, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya, sebelum ia memasuki kamar mandi yang terletak di kamar mereka, ia menoleh ke arah Naomi.
Naomi tidak bergeming atau menunjukan reaksi apapun, sekujur tubuhnya basah oleh keringat serta dipenuhi oleh tanda-tanda merah dan lebam baik karena cengkeraman Kuon yang kuat atau karena diakibatkan oleh ciuman Kuon yang ganas. Pertahanannya sudah luluh lantak di hancurkan oleh Kuon. Harapan yang ia pegang sebelumnya walau tipis sudah sirna sepenuhnya. Mereka sudah tidak bisa kembali lagi seperti dulu.
ia kini sudah lelah menangis atau mungkin air matanya yang telah kering. Tidak cuman sekali Kuon memperlakukannya seperti seorang pelacur ketika melampiaskan nafsunya, ia juga sudah kehilangan sepenuhnya harga diri serta kehormatannya sebagai seorang wanita yang merdeka...Kuon sudah berhasil menghancurkan spirit serta jiwanya. Naomi yang sekarang terbaring di ranjang tidak berbeda dengan boneka yang sudah rusak.
...* * * *...
Kuon sedang berada di kantornya ketika Chikako menghubunginya.
"Apa maumu?" tanya Kuon
"Tidak perlu terlalu dingin kepadaku Kuon.. Apalagi aku membawa berita yang baik untukmu.."
"..? Jika tidak ada yang kamu inginkan, aku akan menutup telepon, hari ini aku si.."
"Aku hamil Kuon.." Chikako dengan terburu-buru memotong pembicaraannya.
".. Apa kamu bilang?" Kuon tidak yakin jika ia mendengarnya dengan benar.
"Aku hamil.. sudah 2 bulan..dan aku... ingin kamu bertanggung jawab.." jawabnya
Kali ini ia mendengarnya dengan sangat jelas..dan dalam seketika itu juga ia merasa bumi dimana ia berpijak telah berhenti. Yang terdengar hanya bunyi detak jantungnya sendiri yang semakin lama semakin nyaring.
"Chikako.. Chikako hamil..? Tidak mungkin..ini tidak mungkin.." Kuon tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaimana mungkin ia menghamili Chikako? Ia sudah sangat berhati-hati.. Apa ini hanyalah permainan semata dari wanita murahan itu..? Tidak.. Bagaimana jika itu benar? Tiba-tiba ia merasa tenggorakannya kering, dengan suara yang terseret-seret, ia meminta Chikako untuk bertemu dengannya.
".. Dimana kamu sekarang..? Aku akan menemuimu.." ucapnya. Ia harus melihatnya dengan mata kepalanya sendiri sebelum mempercayai apa yang di katakan Chikako.
__ADS_1
Setelah mendapatkan alamat dimana wanita itu berada, ia segera mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan perusahaannya.
...*****...