
Setelah hampir 15 menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di rumah sakit.
Tanpa menunggu, para perawat segera menempatkan Naomi diatas tempat tidur beroda dan mendorongnya kedalam ruang unit darurat, tidak berapa lama kemudian beberapa dokter juga menyusul memasuki ruangan tersebut.
Kedua tangan dan baju piyama Kuon berlumuran darah, ia tidak peduli untuk membersihkannya.. Ia hanya ingin Naomi dan bayinya baik-baik saja.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sudah satu jam berlalu, Dokter masih belum juga keluar dari ruangan tersebut.
Kuon merasa tidak berdaya, ia meletakan kedua tangannya di kepalanya..karena masih berusaha menangkap apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ia tidak menyadari kedua kakinya tidak beralaskan apapun, kedua telapak kakinya telihat kotor karena berlari tanpa sepatu di sepanjang koridor rumah sakit.
Sesekali ia mengigit kuku jarinya, kebiasaan yang ia lakukan ketika ia sedang gugup.
Rasa khawatir dan takut masih menghantui dirinya. Bagaimana jika kejadian terburuk menimpa Naomi..? atau bayinya? atau bahkan keduanya? Ia masih belum mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya kepada Naomi bukan? Selama ini ia berpikir ia hanya berpura-pura mencintai Naomi...namun entah sejak kapan justru Naomi yang berhasil memasuki hati dan pikirannya...walau ia sudah berkali-kali menyangkal perasaannya itu, namun kejadian hari ini mengkonfirmasi jika ia benar-benar telah jatuh cinta kepadanya. Ia rela melakukan apa saja asal ia masih bisa bersama dengan Naomi.. walau itu artinya ia harus melupakan dendamnya kepada keluarga Sato. Ia hanya ingin istrinya baik-baik saja, dan menghabiskan masa tua mereka bersama.. Ia sudah begitu menantikan hari dimana mereka akan menjadi keluarga yang sebenarnya dengan kelahiran buah hati mereka.
Kuon bukanlah pria yang religius, dan ini adalah pertama kalinya ia berdoa memohon keajaiban..
Mereka sudah berada diruang operasi selama 2 jam.. sampai kemudian, akhirnya lampu merah diruang OP itu berubah menjadi hijau. Seorang dokter terlihat keluar dari ruang Operasi itu, Kuon yang melihatnya langsung berdiri dari tempat dimana ia duduk untuk menghampiri dokter tersebut.
".. Apa anda keluarga dari pasien?" tanya dokter tersebut.
"Aku adalah suaminya, bagaimana keadaan istriku dok??" tanya Kuon.
Wajah dokter paruh baya itu terlihat muram.
"Istri anda..sekarang sudah stabil.. tetapi bayi anda..tidak di dapat dipertahankan.. kami sudah berusaha semampu kami.."
Mendengar ucapan dokter tentang bayi mereka, dunia Kuon seketika berhenti berputar. Suara dari dokter masih tergiang-giang ditelinganya.
__ADS_1
" Tidak dapat di pertahankan.. " bayi mereka sudah tidak ada...bayi yang selama ini selalu ia ajak bicara dan nanti-nantikan sudah tidak ada lagi..?
Seketika itu juga ia tidak mampu merasakan apa-apa seolah-olah seluruh inderanya juga sudah turut gugur.
Tenggorakannya terasa kering dan membuatnya sulit untuk menelan ludah...
"..Apa.. aku bisa menemui istriku...?" tanya Kuon dengan suara yang serak.
"Saat ini pasien masih harus di observasi karena kekurangan darah yang banyak.. telat 5 menit saja..mungkin hal yang paling buruk akan terjadi.., oleh karena itu kusarankan untuk menemuinya ketika ia sudah di pindahkan keruangan lain" ucap dokter itu.
"Oh ya, anda harus ke bagian administrasi untuk mengisi informasi dan data pasien, aku harus berbicara dengan dokter kandungan istri anda" tambah dokter itu sebelum kemudian berjalan meninggalkan Kuon.
Malam ini menjadi malam terpanjang dan terburuk untuk Kuon..
Kehilangan ayahnya lebih dari 20 tahun silam membuatnya berpikir tidak ada lagi hal yang lebih buruk dari itu..namun malam ini ia mendapatkan pelajaran yang sangat mahal.. kehilangan anak ternyata jauh lebih menyakitkan, tidak ada orang tua yang pantas kehilangan buah hatinya..karena separuh hati orang tuanya telah ikut pergi bersama dengan bayi mereka di saat yang bersamaan.
Kejadian malam ini membawanya mengingat kembali kejadian lebih dari 2 tahun yang lalu.. ketika kekasihnya saat itu, Sarah memberitahunya ia telah hamil..dengan bejat ia justru meminta wanita itu untuk menyingkirkannya...
______________________________________________
Keesokan harinya, Wajah Kuon terlihat sangat berbeda. .bola mata merah dan cekung tanda tidak tidur semalaman, jambang yang tumbuh dalam waktu semalam, serta rambut yang berantakan menunjukan tingkat stress yang tinggi pada diri Kuon.
Ia saat ini sedang berada diruangan khusus.. dimana bayinya berada..baru sekarang ia memberanikan diri untuk menemui bayinya itu.
Pada usia 19 minggu, janinnya sudah berbentuk. Ukurannya hanya sebesar kepalan tangannya.. Merah dan kulitnya sangat tipis.
Haruto sudah mengenakan pakaian bayi, walau itu justru membuatnya makin terlihat kecil karena ukurannya yang longgar.
Melihat Haruto, Kuon tersedak karena tidak mampu menahan tangisnya lagi.
"Maafkan ayah.." ucapnya dengan hati yang hancur.. ia membelai pipi Haruto dengan lembut.. dan kemudian mengangkatnya dengan hati-hati, memberikan pelukannya yang pertama dan terakhir.
__ADS_1
______________________________________________
Kuon baru menyelesaikan beberapa panggilan telepon untuk menyiapkan pemakaman Haruto, matanya masih terlihat bengkak, namun ia terlihat sudah lebih tegar.
Hari ini ia akan menemui Naomi, tentu ia tidak boleh membiarkan Naomi melihatnya dalam keadaan yang terpuruk bukan? Ia harus kuat untuk keluarganya.
Naomi masih meratapi keadaannya, perutnya sudah tidak ada lagi Haruto yang suka menendang-nendang.. Ia merasa kosong.
Begitu siuman dari obat bius, ia segera tahu sesuatu telah terjadi.. Ia memegang perutnya dan tahu Haruto sudah tidak ada dirahimnya lagi.
Tidak ada yang mampu mengambarkan betapa hancurnya hati Naomi mengetahui anak yang sudah dibayangkannya setiap hari sudah tiada.
Ia menyalahkan dirinya sendiri, merasa ia lah yang menyebabkan keguguran itu. Kenapa ia tidak ikut pergi bersama anak itu??
Ia tidak tahu bagaimana ia harus melanjutkan hari-harinya mengetahui anaknya sudah tiada..
______________________________________________
Knock knock.. Bunyi pintu di ketuk, tidak berapa lama kemudian Kuon masuk dengan membawa 1 buket bunga.
"... Bagaimana kabarmu Naomi..?" tanya Kuon berusaha tegar, ia memberikan buket bunga itu kepada Naomi seraya mencium keningnya.
"Kuon.." melihat Kuon untuk pertama kalinya setelah kejadian malam itu, membuat air mata Naomi tidak terbendung lagi. Ia segera memeluk Kuon dan nangis meraung-raung.
Melihat keadaan istrinya yang begitu putus asa, runtuh sudah pertahanan terakhir Kuon, dengan terisak ia memeluk erat Naomi dan mengelus - elus punggung Naomi berusaha memberikan kekuatan..
"Maafkan aku.." ucap Kuon terisak.
"Huhuhuhu.."Naomi tidak mampu menjawabnya.. Tangisnya semakin kuat.
Hari itu, disaat dunia masih berjalan seperti biasanya, dunia pasangan itu justru terhenti, menangisi buah hati mereka yang sudah gugur.
__ADS_1
Tidak ada yang lebih memilukan dibandingkan ketika melihat sepasang orang tua yang sedang berkabung mengucapkan selamat tinggal kepada buah hatinya.