
"Sekarang kamu sudah mempercayainya bukan?" tanya Chikako.
Mata Kuon masih tertuju pada 2 garis merah yang terpampang nyata di alat tes kehamilan yang saat ini berada di tangannya.
".. Bagaimana mungkin.."
"Kamu tentu tahu jelas bagaimana itu bisa terjadi..." ucapnya seraya berjalan mendekati Kuon dan membelai punggungnya.
" Aku sudah sangat berhati-hati..dan bukankah kamu mengkonsumsi pil kontrasepsi selama ini??" tanyanya.
"Well.. Mungkin saja aku lupa meminumnya...,lagipula itu sudah tidak penting.., faktanya adalah aku sedang mengandung anakmu, aku hanya ingin tahu bagaimana kamu akan bertanggung jawab.."
Kuon sendiri tidak tahu bagaimana ia harus menjawab..ia tidak ingin mengulangi kesalahannya dimasa lalu dimana ia meminta Sarah untuk menggugurkan kandungannya.. Ia sudah membayar kesalahannya dimasa lalu dengan harga yang sangat mahal, ia tidak boleh sampai melakukan kesalahan yang sama bukan? Namun di satu sisi , ia tidak ingin Chikako menjadi ibu dari anaknya..Kuon tidak bisa membayangkan jika ia dan Chikako harus terikat seumur hidup melalui anak mereka..
"... Beri waktu untukku berpikir.." ucap Kuon setelah diam beberapa saat. Ia benar-benar tidak punya jawabannya saat ini.
"Aku tidak bisa menunggu. Usia kehamilanku akan terus berjalan. Bagaimana tanggapan orang-orang jika mereka mengetahui aku telah hamil tanpa seorang suami??"
"Terus apa yang kamu inginkan??! Aku benar-benar tidak punya jawabannya untuk saat ini!"
"Sederhana, aku ingin kamu menceraikan istrimu secepatnya dan menikahiku!!" ucap Chikako.
Jawaban Chikako tentu saja membuat Kuon terkejut..
"Menikahimu? Apa kamu sudah gila? Aku tidak bisa melakukannya! Aku bisa memberikanmu apa saja..tetapi tidak untuk itu. Kamu sendiri sepakat ketika kita menjalin hubungan ini, kamu tidak akan berharap mendapatkan status apapun dariku, apa yang kita miliki saat ini murni saling menguntungkan satu sama lain. Aku tidak bisa menikahimu.. "
" Lalu bagaimana kamu akan bertanggung jawab?"
" Aku.. Aku akan mengatur semuanya.." Kuon berpikir dengan cepat.
" Bagaimana jika kamu tinggal di luar negeri untuk sementara waktu? Jika memang kamu mengkhawatirkan statusmu.. Kamu bisa tinggal di luar negeri hingga kamu melahirkan kelak...aku akan mengambil hak asuh penuh setelah ia lahir, kamu juga bisa kembali menjalani hidupmu.. Bukankah ini solusi yang baik..?" lanjut Kuon berharap kata-kata yang ia keluarkan masuk asal.
" Kamu ingin aku menyerahkan anakku? Bagaimana bisa kamu memintaku untuk menyerahkan darah dagingku?"
" Lalu apa yang kamu inginkan? Jika kamu ingin aku menikahimu, kamu sudah mendapatkan jawabannya. Jika kamu masih kukuh ingin aku menikahimu, kita sudahi saja pembicaraan kita disini, kamu hanya mempunyai 2 pilihan.. Tinggal di luar negeri hingga kamu melahirkan kelak, dan mendapatkan fasilitas serta akomodasi terbaik sebagai penggantinya..atau.. Aku serahkan sepenuhnya kepadamu keputusan seperti apa yang akan kamu ambil terkait dengan kehamilanmu itu.. Setidaknya aku sudah memberikan solusi bagaimana aku akan bertanggung jawab.. tetapi jangan lupa.. kamu juga ikut berperan bagaimana ini bisa terjadi..kamu tidak bisa menuntutku sepenuhnya untuk bertanggung jawab"
"Kamu!!"
"Chikako, pikirkan tawaran ku dengan baik.. Setelah kamu menyerahkan bayimu, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan.. Apapun itu..selain menikahimu..tawaranku tidak akan datang dua kali.. Oleh karena itu pikirkan dengan matang.."
...****...
__ADS_1
Jika sebelumnya Kuon panik dengan kehamilan Chikako yang diluar rencana, saat ini ia justru merasa kehamilannya juga bukan sesuatu yang sangat buruk..nalurinya sebagai seorang ayah kembali muncul.. Ia memang telah kehilangan Haruto..namun sekarang ia kembali diberikan kesempatan untuk menjadi seorang ayah.. Ia bahkan berpikir untuk membesarkannya bersama-sama dengan Naomi.. Mungkin saja dengan kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka bisa menjadi titik awal baginya untuk memaafkan Naomi..
Ya.. Bagaimanapun caranya, ia akan mengambil hak asuh anaknya dari tangan Chikako...
...****...
Chikako melempar tas bermerknya yang mahal ketika ia baru saja tiba di rumah. Amarah terlihat dari raut wajahnya yang merah. Ia mengira setelah ia hamil, Kuon akan menikahinya.. namun yang terjadi justru sebaliknya! Ia sudah merencanakan semuanya dengan begitu sempurna.. Ia tahu hubungan Kuon dan istrinya memburuk ketika pria itu kembali datang mencarinya.. Oleh karena itulah ia segera mengambil kesempatan itu untuk memiliki Kuon sepenuhnya.. Namun siapa sangka ternyata Kuon masih belum mampu melepaskan istrinya.
"Dasar perempuan sialan! Hingga akhirpun kamu masih merusak rencanaku...tidak..aku sudah berjalan hingga sejauh ini.. Rencanaku tidak boleh gagal.. Bagaimanapun juga Kuon harus menikahiku...aku hanya perlu menyingkirkan perempuan sial itu.."
...****...
Naomi sedang berada di kamar Haruto, membelai pakaian bayi yang berada di atas meja pengganti popok.. Ada sebuah logo beruang panda kecil di tengah-tengah onesie bayi itu. Ia sedang membayangkan jika seandainya kehamilannya berjalan dengan lancar.. Mungkin ia kini telah melahirkan dan Haruto sedang mengenakan pakaian yang lucu itu..lampu-lampu tidur akan menyala di kamar ini dan bunyi musik pengantar tidur akan mengisi ruangan ini.. hanya saja itu semua tidak akan pernah terjadi.. Kamar ini akan tetap selamanya kosong tanpa penghuni, musik pengantar tidur tidak akan pernah di putar diruangan ini..dan suara tangis bayi tidak akan pernah terdengar di kamar yang sudah ia dan Kuon persiapkan ketika mengetahui mereka akan segera mempunyai anak.
Tidak ada orang tua yang mampu melupakan rasa sakit kehilangan seorang anak..dan itu juga yang di rasakan oleh Naomi..ditambah dengan kehidupannya sekarang yang sudah hancur berantakan.. Ia sampai berharap andai saja ia pergi bersama dengan Haruto pada malam itu mungkin Kuon tidak akan memperlakukannya seburuk itu.
Knock knock, "Nyonya.. Seseorang bernama Ishikawa ingin menemui anda" ucap Miyata mengetuk pintu kamar dan membuyarkan lamunan Naomi.
"Ya..? Aku segera keluar" sahutnya sembari segera melipat baju-baju bayi dan memasukannya ke dalam lemari.
Ia kemudian keluar dari kamar itu dan berjalan memasuki ruang tengah. Disana Chikako sudah menunggu.
"Maaf aku terlambat menyambut anda" sapa Naomi.
"Maafkan aku yang datang dengan tiba-tiba.. Namun ada yang ingin kubicarakan dengan anda dan ini penting.." ujar Chikako.
Naomi pun segera mempersilahkan Chikako untuk duduk.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Naomi setelah mereka duduk.
"Ah.. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada anda.. Aku tidak tahu apa aku sudah mengambil keputusan yang tepat.. Di satu sisi.. Aku merasa anda berhak mengetahui kebenarannya.."
"Tidak apa-apa, jika memang aku berhak mengetahuinya, maka anda sudah mengambil keputusan yang tepat, aku tidak akan marah.."
".. Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi.. Aku pernah mengatakan bagaimana suami anda banyak membantuku..tetapi sebenarnya.. ia membantuku bukan karena semata-mata aku adalah rekan bisnisnya.. "
Naomi merasa ia tidak akan suka kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut, ia mempunyai firasat yang buruk.
".. Aku dan Kuon.. Mempunyai hubungan khusus... " lanjutnya.
Deg! Sebilah pisau seolah-olah menancap jantung Naomi, ia tiba - tiba merasa kesulitan untuk bernafas..ia tidak salah mendengarnya bukan?
__ADS_1
".. Aku harap anda sedang bercanda.., anda seharusnya tahu kalau ini bukan waktu yang tepat untuk melucu.." Naomi berusaha menyangkalnya. Degup jantungnya berdetak semakin cepat, dan ia merasa ada benjolan di tenggorakannya yang membuat ia sulit untuk menelan.
" Aku tahu anda akan berpikir demikian.. Oleh sebab itu aku membawa ini.." ucap Chikako seraya menyerahkan sebuah amplop kepada Naomi.
Ia pun segera membukanya, ia tidak percaya dengan apa yang sekarang ia lihat. Sejumlah foto-foto intim suaminya dengan Chikako terpampang di depannya..dengan tangan yang gemetar, ia melihat foto itu satu demi satu.., tiap foto mewakili pisau yang kini sedang menusuk-nusuk jantungnya.. tetesan air mata terlihat terjatuh pada lembaran foto itu..
"Maafkan aku..kalau anda harus mengetahuinya dengan cara seperti ini...tetapi kami.. sudah bersama jauh sebelum kalian bertemu.. ia memutuskan untuk menikahi anda..semata-mata demi keuntungan perusahaannya.." lanjut Chikako berpura-pura bersimpati, ia sudah berakting dengan begitu baik padahal ia berteriak kegirangan melihat luka batin yang ia sebabkan kepada Naomi.
Naomi tidak tahu bagaimana ia harus mengambil sikap..Kuon memfitnahnya telah berselingkuh dengan Kenichi..namun pada kenyataannya justru suaminya yang berselingkuh di belakangnya selama ini!! Ia benar-benar bodoh karena mempercayai Kuon pernah mencintainya hanya karena ia pernah bersikap lembut kepadanya.
"...Kalian menjijikan.." hanya ucapan itu yang bisa ia keluarkan dari mulutnya. Tidak ada sebutan yang lebih pantas dalam mengambarkan apa yang telah mereka lakukan di belakangnya.
"Aku tahu Naomi, aku tahu kalau aku sudah bersalah kepadamu!! Tetapi kami saling mencintai!! Walau pada akhirnya..aku ingin menyelesaikan hubungan kami.. karena aku sudah tidak tahan lagi harus terus berbohong didepanmu..akan tetapi..semua sudah terlambat..aku..aku hamil Naomi..." tanpa rasa malu Chikako memberitahu Naomi jika ia telah mengandung anak dari suaminya itu. Ia juga sudah tidak perlu lagi repot-repot untuk berbicara formal dengan Naomi.
Ini adalah pukulan kedua untuk Naomi, ia masih belum bisa menerima kenyataan jika suaminya telah berselingkuh dan sekarang ia dihadapkan pada kenyataan jika suaminya telah menghamili wanita lain?? Ia mengira hidupnya belakangan ini sudah cukup pahit, namun ia tidak menyangka Kuon begitu ahli dalam menyakitinya.. Disaat ia mengira ia sudah kebal dengan semua rasa sakit yang diberikannya.. Ia kembali di berikan kejutan demi kejutan, ia tidak yakin mau sejauh mana Kuon menghancurkan hatinya..
".. Hamil..? He he.. Hamil?! Bagaimana bisa kalian lakukan ini padaku??!" ucap Naomi histeris sembari berdiri dari tempat ia duduk, ia sudah tidak mampu bersikap tenang lagi.
"Tidak sepantasnya aku meminta tolong padamu..tetapi kamu juga pernah hampir menjadi seorang ibu.. Aku ingin mempertahankan anak ini.. Aku tidak bisa membiarkannya bertumbuh tanpa seorang ayah" ucap Chikako yang tiba-tiba berlutut dan memeluk kaki Naomi.
"Lepaskan aku! Nyalimu besar juga..kamu meniduri suamiku dan sekarang kamu ingin aku membantumu??! Perbuatan kalian tidak jauh berbeda dengan binatang! "
"Aku tidak bisa membiarkan anakku hidup di tindas hanya karena ia tidak mempunyai ayah.. Aku mohon.. Bercerailah dengan Kuon.. Bukankah kalian menikah bukan atas dasar cinta??"
"Aku tidak akan pernah bercerai dari Kuon! terlepas atas dasar apa ketika kami menikah, itu menjadi urusan kami! Keadaanmu saat ini adalah konsekuensi yang harus kamu terima karena telah menjalin hubungan dengan seorang pria yang sudah berkeluarga!"
"Apa hanya karena kamu telah kehilangan anakmu, kamu tidak ingin memberikan kesempatan untuk anakku??? Anakku juga berhak hidup bukan?? Anak yang sedang kukandung saat ini adalah saudara dari anakmu! Aku tidak bisa membiarkan anakku menjadi bahan olokan.. Aku lebih memilih untuk menggugurkannya daripada harus melihatnya hidup tanpa seorang ayah! "
"Jangan menyeret anakku dalam perbuatan bejat kalian!" ia tidak terima ketika ia masih terluka karena kehilangan buah hatinya, Kuon justru akan memiliki anak dari perempuan lain. Bagaimana ia bisa membiarkan mereka bersama ketika ia sudah kehilangan semuanya??
" Naomi, aku mohon!! Pilihanku saat ini hanya menikah dengan Kuon atau menggugurkan kandunganku"
" Pergi dari rumah ini!! Aku tidak ingin mendengarnya" teriak Naomi histeris seraya menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"Naomi..!"
Melihat majikannya yang histeris dan tertekan, Miyata segera menggiring Chikako keluar dari kediaman Nakamura.
"Maaf Nn, aku rasa sebaiknya anda kembali di lain waktu" Miyata juga merasa jijik dengan Chikako namun ia berusaha bersikap profesional dengan mengantar wanita itu keluar.
Melihatnya sudah pergi, Naomi jatuh tersungkur dan menangis meraung-raung.
__ADS_1
...*****...