
Gadis itu menggerutu kesal seraya menggosok lantai dengan alat pel secara kasar.
"Seharusnya gua tadi atur waktunya. Pasti gabakal jadi telat gini" Gerutu gadis itu.
Dia mengepel lantai wc guru seraya diawasi Pria dibelakangnya yang sedang bersandar di dinding wastafel.
Gadis itu menoleh ke belakang kemudian melemparkan tatapan sinis pada Pria itu.
"Perlu amat lu ngehukum gua kayak gini?" protes Gadis itu kembali mengepel lantai
Pria itu menarik sudut bibir kanannya menyeringai, "berani berbuat berani tanggung jawab, sayang".
Dengan sekejap Gadis itu berbalik ke arah wastafel mengangkat alat pel dan menempelkan ujung pegangan pel pada dahi Pria itu.
"pacar-pacarlu sama gua itu beda level ya Zey, salah server deh lu ngegombalin gua" kemudian dia menurunkan alat pel itu dari dahi Zeyvin
"Yang bilang sama siapa sih Mi?" Ujar Zeyvin sembari terkekeh kecil yang tadinya kaget sekilas dengan perlakuan Mia kepadanya
"Gaada yang bilang" Mia mendekat ke arah Zeyvin kemudian menyentil dahinya, "jadi jangan memperlakukan gua sama seperti mangsa lu itu, Zey" lanjut Mia kembali mengepel lantai.
Zeyvin mendecih dan menyeringai kemudian menarik tangan Mia hingga tubuh mereka bertumpu tak ada jarak.
"Lu beda Mi, beda banget malah" Ucap Zeyvin tersenyum sedangkan Mia melemparkan tatapan datarnya seperti tidak terjadi apa apa
"lepasin gua" Mia mencoba melepaskan dirinya sedangkan Zeyvin menatapnya dengan tersenyum tanpa menghiraukan perintah dari Mia
"Gimana kabar senjata amunisi itu Mi?" tanya Zeyvin kemudian Mia mengalihkan tatapannya
"Dia masih keras kepala, gamau ngembaliin milik gua" jelasnya singkat kemudian Zeyvin mengangguk mengerti
"Tenang, si X ada ditempat yang semestinya" Ucap Zeyvin santai seraya mengeratkan tautannya
"Apa maksud lu ditempat yang semestinya?"
...•••••...
"Yang bener itu ngebersihin lemarinya"
__ADS_1
Tegur Arvin santai membaca di salah satu bangku perpustakaan sedangkan Keishy sibuk membersihkan debu dengan kemoceng di tangannya.
Sesekali Keishg berjinjit meninggalkan Arvin disana pergi ke sudut ruangan untuk tidur tapi rencananya selalu gagal.
Arvin selalu membuntutinya sehingga ia tidak ada waktu untuk pergi tidur dan memilih pasrah menerima hukuman itu.
Di sela-sela hukumannya Keishy membuka buku dan membacanya singkat kemudian kembali membersihkan lemari dari debu yang membandel untuk menimalisir kebosanannya.
Kei menghela kasar dan menghentak hentakkan kakinya berjalan menuju habitat Arvin berada.
"Nih! udah selesai" Ucap Keishy dihadapan Arvin dengan Meja yang membatasi jarak diantara keduanya kemudian menaruh kemoceng itu diatas meja
Manik mata Arvin bergerak melihat ke arah Keishy yang sudah kelelahan dibilik buku yang dibacanya.
Tak heran Keishy kelelahan, satu perpustakaan ada duapuluh lemari buku dan tujuh rak dalam satu lemari.
akhir-akhir ini juga perpustakaan jarang dibersihkan karna petugas sedang sakit, wajar saja jika debu sangat nyaman bersinggah ke 20 lemari itu.
"Yakin udah semuanya?"
Keishy berfikir kemudian mengangguk mantap, Arvin melihatnya kemudian mengeluarkan buku tulis dari saku celana lalu dia menaruhnya di atas meja memberikannya kepada Keishy.
"Kerjain pr gua" Ucapnya yang masih fokus dengan novel yang dibaca
Keishy menatapnya tidak percaya kemudian menggelengkan kepalanya, "gak mau! Gua bodoh" Jawabnya lugas
"Ck, walaupun lu bodoh, ngeselin, jahil, suka bolos, doyan cogan, lemot amat, telmi, ngomong ceplas ceplos tanpa difilter kalo marah. Tapi lu cukup tau tentang pr gua itu" jelas Arvin dalam posisi yang sama
"Lu muji apa menghina?"
"Dua-duanya" jawab Arvin singkat
Keishy mendecak kesal kemudian duduk dikursi yang berhadapan dengan Arvin, mengambil buku tulis itu kemudian membaca satu persatu soal yang ada disana.
"Ceilah! ini mah mudah, ade gua aja bisa" Ucapnya kemudian mengerjakan pr itu
"Jangan ngibulin gua, lu gaada adek sama sekali"
__ADS_1
Keishy mendengarnya kemudian terkekeh kecil dan melanjutkan pekerjaan rumah milik Arvin, sedangkan dia sendiri menopang dagunya seraya memegang buku di tangan lainnya fokus membaca.
"Gini ya Vin, ini dikali ini trus dibagi ini, sepuluh pangkat lima per sepuluh pangkat tiga, per kalo dibandingin dengan bilangan berpangkat itu dikurangin, lima dikurang tiga sama dengan dua, jadi sepuluh pangkat dua" Jelas Keishy fokus menunjukkan angka angka yang memusingkan kepala menggunakan pena yang dibawanya
"Ngerti kan Vin sampe sini? ... Vin?" Tak ada jawaban dari Arvin, Keishy mengerutkan dahinya melihat buku novel yang menutupi pandangan Keishy pada wajah Arvin.
Keishy menyentil buku itu hingga terjatuh dan terpampanglah wajah Arvin yang sudah tertidur pulas dengan dagu yang tertopang di tangan.
"OALAH JINGAN! MALAH TIDUR NIH DAKI JEPIN!"
Teriakkan Keishy sukses membuat Arvin terbangun, mengedipkan matanya berkali kali dan mengusap matanya mencoba melihat.
"Berisik amat sih lu" Ucap Arvin dengan suara beratnya membuat pipi Keishy merona, sungguh Keishy sangat lemah dengan suara deepnya seorang Pria.
"K-kok s-suara lu j-jadi g-gitu" Ucap Keishy gugup seraya menunjuk Arvin berulang ulang
"Jadi gitu gimana sih Kei" Ucap Arvin mengusap matanya mencoba sadar seratus persen dari tidurnya itu
"j-jangan ngomong!" bentaknya
"Apaan sih lu kei? Mana pr gua tadi? Udah selesai belom" Ucap Arvin dengan suara normalnya membuat Kei menghela nafasnya lega
Kei menyodorkan buku itu pada Arvin "Ini nih, lu gini aja gabisa, balik tk aja sana"
"Bacot dah. makasih ya, gua mau ke uks mau bogan" Ucap Arvin beranjak dari sana mengambil buku itu, melipatnya dan menaruhnya di saku celana
Kei mengerutkan dahinya heran "Bogan?"
"Bobo ganteng" Ucap Arvin kemudian keluar dari perpustakaan sedangkan Keishy bergidik jijik dengan bahasa yang Arvin gunakan
Keishy melihatnya segera menyusul Arvin meraih tangannya mengisyaratkan untuk berhenti.
Arvin menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang melihat Keishy dengan tatapan bertanya.
"Gimana keadaan si X ?" tanya Keishy pada Arvin
"Oh, dia berada ditempat yang semestinya" Ucap Arvin dengan tatapan yang datar melepaskan genggaman Keishy kemudian pergi meninggalkannya
__ADS_1
"Apa maksud lu ditempat yang semestinya ... Vin" gumam Keishy mengusap tangannya yang mendingin