
"Menara Eiffel... " seru Kania.
Kania merasa takjub dengan semua ini. Lelaki yang ada di depannya ini bisa melakukan berbagai hal yang ajaib. Hal - hal yang di luar nalar manusia. Dia semakin yakin, bahwa pemuda yang sedang berdiri menatap jauh ke arah kota Paris yang indah adalah bukan manusia.
Mereka benar - benar berada di menara yang menjadi ikon kota Paris itu sekarang. Karena perbedaan waktu, maka saat ini, di kota Paris masih menunjukkan waktu sore hari. Suasana kota Paris pada waktu sore hari sangat indah. Banyak penduduk lokal maupun mancanegara yang datang berkunjung ke kota ini sekedar untuk menikmati keindahan kota Paris ataupun keindahan menara Eiffel.
Beberapa pengunjung nampak sedang berlalu lalang di tempat itu sambil menikmati keindahan kota Paris dari ketinggian menara. Beberapa lainnya, nampak sedang asyik berdua dengan kekasih mereka. Suatu pemandangan yang membuat iri Kania.
Kania terdiam seraya menatap sepasang kekasih yang sedang memadu cinta di sudut menara.
" Kenapa..? Apa kau iri melihat pasangan kekasih di sana itu.. " tanya Pangeran Arkana sambil menunjuk ke arah pasangan kekasih yang di lihat oleh Kania tadi.
" Tidak, aku tidak iri. Aku hanya tak percaya bahwa sekarang ini aku sedang berada di Paris. Di menara Eiffel, lagi.. " kata Kania.
" Kenapa mesti susah untuk membuktikan bahwa kamu pernah ke sini. Kamu punya benda segi empat ajaib yang bisa menyimpan semua foto - foto kamu. Nah, kenapa tidak menggunakannya? " tanya Pangeran Arkana.
Astaga... benar. Kenapa dia tidak ingat kalau dia memiliki handphone. Cepat - cepat Kania membuka tas selempang miliknya dan Jepret.... jepret... Kania berfoto bersama Pangeran Arkana. Alhasil gambar Kania dengan latar belakang menara Eiffel pun jadi.
Namun ada yang aneh. Wajah Kania mendadak pucat pasi. Pasalnya tak satupun dari foto - foto yang di ambil Kania menampilkan citraan dari Pangeran Arkana. Bayangan putra Pangeran Alyan yang tampan itu tidak tertangkap oleh kamera ponsel Kania. Hanya citraan Kania saja yang tampak.
__ADS_1
" Ke..kenapa bayangan dirimu tidak terekam di ponselku?" tanya Kania dengan terbata - bata. "Apakah kamu sebangsa Vampir. "
Kania sering membaca di novel - novel dan juga dia lihat di film - film, bahwa makhluk supranatural yang hobi menghisap darah itu tidak memiliki bayangan di cermin dan tidak tertangkap di layar kamera. Jadi apakah Arkana juga merupakan makhluk seperti itu.
" Kania, aku bukan makhluk seperti yang ada dalam pikiran kamu." kata Pangeran Arkana sambil tersenyum. Dia sempat membaca isi hati dan pikiran Kania saat Gadis itu melihat hasil foto di ponselnya.
" Tapi, bayangan kamu tak ada di dalam layar ponselku." kata Kania.
" Benarkah, mungkin kamu kurang fokus saat mengambil gambar. Coba sekarang ulangi lagi mengambil gambarnya." kata Pangeran Arkana.
Dia lalu mengarahkan kamera ponsel Kania ke arah mereka berdua dan jepret... kamera membidik gambar mereka berdua. Benar saja... kini gambar Kania dan Pangeran Arkana tercetak di layar ponsel Kania. Pangeran muda itu terlihat sangat tampan dengan warna mata kucingnya dengan bintik kuning terang di tengah.
" Bagaimana, apakah sekarang gambar diriku sudah terlihat di layar ponselmu?" tanya pangeran Arkana.
"Benarkah...! Baru kali ini ada orang yang mengatakan aku tampan.. " kata Sang Pangeran.
Pangeran Arkana dan Kania menghabiskan sore itu di Paris bersama Kania. Hingga akhirnya, matahari terbenam dan malam pun hadir menyapa mereka.
" Bagaimana, Apakah kamu ingin kembali sekarang.. ? "
__ADS_1
Pertanyaan Pangeran Arkana membuat Kania yang sedang asyik memandangi lampu - lampu yang terlihat indah saat menyala di malam hari dari atas puncak menara, menjadi sadar bahwa dia sedang berada di negeri orang dan dia harus kembali ke indonesia. Tapi bagaimana caranya mereka kembali...?
" Arka, bagaimana cara kita kembali ke Indonesia." tanya Kania bingung.
" Mengapa bingung, apakah kamu ingin kembali sekarang...? " tanya sang pangeran.
Kania menganggukkan kepala.
Pangeran Arkana meraih tangan Kania dan membawanya terbang kembali melewati dimensi waktu untuk kembali ke Indonesia.
Namun, baru saja Pangeran Arkana dan Kania tiba di tempat semula, sekonyong-konyong, muncul asap hitam yang entah datang dari mana, bergulung - gulung lalu menyergap dan menyelimuti keduanya.
" Arka, tolong....! " jerit Kania ketakutan. Dia tak tahu, apa yang terjadi.
Pangeran Arkana menggenggam tangan Kania dan kemudian memeluk tubuhnya dengan erat untuk melindungi gadis itu. Tampaknya ada semacam kekuatan yang tidak terlihat oleh mata biasa yang sedang mengepung mereka.
" Kania, tetap genggam tanganku. Dan jangan takut. Berdoalah... " kata Pangeran Arkana.
Asap hitam itu kini menutupi tubuh keduanya. Secara perlahan-lahan tubuh keduanya terseret ke dalam sebuah pusaran. Kedua makhluk yang berbeda asal itu terus saja terseret masuk ke dalam sebuah pusaran angin yang berputar kencang dan terus melemparkan tubuh mereka ke sebuah tempat.
__ADS_1
"Dimana ini...? " kata Kania begitu asap hitam itu sudah menghilang.
" Dimensi ke empat, dimensi alpa... "