Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 115


__ADS_3

Andai saja mulut Kania terbuat dari karet, sudah sejak tadi akan panjang dan lebar menganga, saking takjubnya gadis itu mendengar cerita Pangeran Arkana tentang dirinya.


"Jadi Arka, apakah memang benar kamu ini berasal dari bangsa Jin...?" Tanya Kania ingin memastikan


"Andai semua itu memang benar adanya, apakah kau masih mau menemui aku lagi...?" Tiba-tiba, Pangeran Arkana bertanya dengan raut wajah serius.


Wajah Kania langsung berubah. Ada keterkejutan di matanya ketika mendengar Pangeran Arkana bertanya seperti itu.


"Mengapa kau bertanya seperti itu, Arka...? Tanya Kania bingung.


"Karena biasanya semua manusia takut kepada bangsa kami. Mereka selalu saja punya penilaian yang buruk tentang bangsa jin." jawab Pangeran Arkana.


"Tapi, aku tidak takut kepadamu, Arka.." ucap Kania.


Pangeran Arkana tersenyum mendengar ucapan Kania.


"Aku senang jika kau tidak merasa takut terhadapku. Karena kebanyakan bangsamu berpikir bahwa bangsa kami adalah bangsa yang menakutkan dan suka mengganggu bangsa manusia. Setiap kerusakan yang terjadi terhadap manusia, kebanyakan kaum kamilah yang dituding sebagai penyebabnya.. Apakah kamu juga berpikir demikian, Kania..?


Kania menggelengkan kepalanya. " Aku tidak pernah merasa punya pemikiran seperti itu. Malahan aku merasa jika aku seperti sudah mengenalmu sangat lama. Aku senang bisa mengenalmu, Arka. Bagiku kau sangat keren..."


"Keren...?" alis Pangeran Arkana bertaut ketika Kania menyebut dirinya keren.


"Kenapa kau bisa berpikiran bahwa aku keren..?" tanya Pangeran Arkana bingung.


Kania senyum - senyum mendengar pertanyaan Pangeran Arkana.


"Karena aku tak pernah memiliki seorang teman cowok yang punya mata seindah warna matamu.." jawab Kania jujur.


Sekarang gantian Pangeran Arkana yang tersenyum mendengar pengakuan Kania. Hatinya bersorak gembira. Ini adalah pujian baginya. Dia senang sekali.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu..?" tanya Pangeran Arkana. Matanya tajam menatap lurus ke dalam mata kelam Kania yang warnanya sama dengan kegelapan malam yang mulai menghampiri senja.


Kania tak kuasa melawan tatapan mata itu. Mata yang kini diam - diam mempesona dirinya. Dia pun mengangguk. "Iya, boleh. Kau boleh bertanya apa saja.." ucapnya kemudian dengan malu - malu.


"Apakah kau sudah memiliki seseorang yang spesial di hatimu. Maksud aku.. seperti teman lelaki yang spesial." Tanya Pangeran Arkana.


"Maksud kamu, pacar...?" tanya Kania.


"Iya, seperti itulah... " jawab Pangeran Arkana.

__ADS_1


"Aku.... "


Tiba-tiba, dari dalam tas Kania, handphone gadis itu berbunyi. Kania segera merogoh saku tasnya dan mengambil handphonenya.


"Iya, hallo Bude. ?" ucap Kania begitu telepon terhubung.


Rupanya Kania itu mendapat telpon dari budenya. Akan tetapi, kemudian wajah gadis itu mendadak pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat untuk kemudian gadis itu jatuh tak sadarkan diri.


Tentu saja Pangeran Arkana panik. Dia segera meraih tubuh gadis itu dan mengambil alih handphone dari tangan Kania.


Terdengar suara teriakan budenya yang memanggil - manggil namanya.


"Halo Bude, saya Arka. Saya teman Kania. Saya mau memberitahukan bahwa Kanianya pingsan, Bude." kata Pangeran Pangeran Arkana melalui handphone Kania.


"Astagafirullah, anak itu rupanya shock mendengar berita yang baru saja Bude sampaikan.." kata Bude Kania.


"Memangnya ada berita apa, Bude..?" tanya Pangeran Arkana lagi.


"Ayah dan ibunya Kania, baru saja mengalami kecelakaan. Keduanya tewas di tempat kejadian, Nak Arka.." kata Bude Kania.


Pangeran Arkana terkesiap mendengar berita duka yang baru saja di sampaikan oleh Budenya Kania. Pantas saja gadis itu pingsan. Ternyata Kania baru saja menerima berita tentang kematian kedua orang tuanya.


"Halo, Nak Arka. Bude titip Kania, ya. Saat ini Bude sedang mengurus jenazah kedua orang tuanya. Kami akan menunggu Kania pulang dulu, baru jenazah kedua orang tuanya di makamkan." ucap Bude Kania.


"I...iya.., Bude..." jawab Pangeran Arkana. Bude Kania kemudian mengakhiri percakapan mereka.


Pangeran Arkana berusaha untuk menyadarkan Kania dari pingsan.


"Kania, sadarlah... " Pangeran Arkana berusaha untuk membangunkan Kania. Namun tampaknya susah sekali membangunkan Kania.


Pangeran Arkana tak kehilangan akal. Dia mengambil jurus cepat. Pemuda itu kemudian mengeluarkan ilmu tenaga dalam yang di milikinya dan menyalurkan ke tubuh Kania.


Tak beberapa lama kemudian, Kania tampak mulai menggerakkan tangannya. Sampai beberapa saat kemudian, gadis itu sudah kembali siuman.


Begitu siuman, gadis itu langsung menangis di pelukan Pangeran Arkana.


"Hu..hu.. Hu..., Arka. Tolong aku. Kedua orang tuaku, mereka baru saja mengalami kecelakaan, hu...hu....hu, " ucap Kania masih sambil menangis.


Pangeran Arkana membelai pucuk kepala Kania, membesarkan hati gadis itu agar tidak larut dalam kesedihan.

__ADS_1


"Berhentilah menangisi keduanya. Mereka butuh do'amu. Bukan tangisanmu. Ikhlaskan saja kepergian kedua orangmu. Semua sudah di gariskan oleh Yang Maha Pencipta. Kita tak akan bisa melawan kehendakNya." nasehat Pangeran Arkana.


Kania terdiam mendengar kata - kata Pangeran Arkana. Gadis itu kini berhenti menangis dan kini sedang menatap ke arah Pangeran Arkana.


"Arka, bisakah kamu menolongku..?" tanya Kania kemudian.


"Apapun itu. Aku akan berusaha melakukannya untukmu." jawab Pangeran Arkana.


"Tolong antarkan aku ke rumah orangtuaku di Semarang. Aku ingin pulang sekarang juga, Arka. Aku ingin melihat jasad kedua orang tuaku untuk yang terakhir kalinya sebelum di makamkan." ucap Kania.


Pangeran Arkana mengangguk."Baiklah, aku akan meñgantarmu pulang sekarang juga. Marilah, kita berangkat sekarang juga."


Selesai berucap demikian, Pangeran Arkana meraih tangan Kania dan memeluk gadis itu. Membawanya terbang bersama angin menuju ke rumah Kania yang ada di Semarang.


"Bukalah matamu. Kita sudah sampai. Lihatlah, apakah benar ini adalah rumah orangtuamu...?" tanya Pangeran Arkana.


Kania membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada di depan rumah kediaman orang tuanya di Semarang.


Kania langsung meringsek masuk menerobos kumpulan orang - orang yang sudah berkerumun di depan rumahnya.


"Ayahhhh.... ibuuu.....!" Kania menjerit sambil menubruk jasad kedua orang tuanya yang kini sudah terbujur kaku di ruang tengah rumahnya. Dia menangis sejadi-jadinya ketika melihat jenasah keduanya.


Bude Kania yang melihat sang keponakan sudah berada di depan mata menjadi heran sekaligus senang. Dia segera menghampiri Kania dan memeluk gadis itu. Mereka berpelukan dan saling melepas kesedihan.


"Hu...hu...hu, kenapa bisa begini, bude. Aku sama siapa, Bude. Ayah dan ibuku, telah tiada Bude... Huh... hu... hu.." ratap gadis itu.


"Kamu jangan begitu, sayang.Masih ada bude yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu. Kamu jangan merasa sendiri, Nduk.. " ucap Budenya.


Beberapa pasang mata menatap iba kepada Kania. Kania yang merupakan anak tunggal dari pasangan Darmadji dan Sutinah itu adalah anak kesayangan dan kebanggaan keduanya. wajar saja, jika gadis itu merasa sangat kehilangan.


Pangeran Arkana sejak tadi terus berada di sisi Kania. Walaupun tak terlihat di mata orang - orang, namun Kania masih bisa melihatnya.


Tiba-tiba, Pangeran Arkana yang sejak tadi berada di sisi Kania menangkap pergerakan dua sosok roh. Pangeran Arkana menduga pasti keduanya adalah roh ayah dan ibunya Kania.


"Assalamu'alaikum, wahai roh - roh yang suci. Mengapa kalian masih di sini.. ? Apakah ada yang memberatkan langkah kalian...?" Tanya Pangeran Arkana.


"Kania,...! ucap ke dua roh tersebut dengan tatapan kosong.


"Kania, ...? Kenapa dengan Kania..?' tanya Pangeran Arkana.

__ADS_1


"Tolong, tolong jaga Kania...!' ucap keduanya sambil menangis sedih.


__ADS_2