
Seperti yang di ceritakan sebelumnya, Pangeran Alyan di minta Asmi untuk memanggil adiknya pangeran Khalied agar segera pulang ke Bukit Malaikat. Karena sudah dua hari pemuda itu tak pulang - pulang ke bukit Malaikat.
Dari sana, pangeran Alyan kemudian mengetahui bahwa saat ini istana kerajaan Hutan alas Purwo sedang terancam bahaya. Pangeran Azzura, adiknya itu saat ini sedang dalam kondisi tak stabil.
Perpindahan kekuatan yang tak terkendali, dari tubuh Pangeran Azzura yang menjelma menjadi siluman Serigala.. ( Baca novel sebelumnya yang berjudul suami keduaku Pangeran jin) membuat Pangeran jin yang satu ini kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri.
Saat berubah wujud menjadi serigala, Pangeran Azzura sering lepas kendali dan tak bisa lagi membedakan yang mana teman dan yang mana lawan. Hal itulah yang amat mengkhawatirkan Pangeran Hasyeem.
Pangeran Hasyeem bukan saja mengkhawatirkan anaknya akan tetapi juga dia amat mengkhawatirkan keadaan cucu dan menantunya.
Untuk itulah kemudian Pangeran Hasyeem memanggil Pangeran Fatan, yaitu Putra Pertama Pangeran Azzura dan Zamura untuk pergi ke Istana Rantau Pulung.
Menurut penglihatan mata Bathin Ki Anom, Batu Giok Setan berada di pusat bumi tetap di bawah istana Rantau Pulung.
"Maafkan Ananda, tapi apa bunda Ratu tidak melupakan sesuatu. Bukankah bunda berjanji akan menemui uwa Ardi. Pangeran Khalied pasti sudah menanti Bunda Ratu untuk melamar Zahra.. " kata Pangeran Alyan mengingatkan ibunya.
__ADS_1
"Benarkah..? Astagafirullah, Pangeran Alyan. Bunda lupa...!! seru Asmi dengan panik.
Karena sibuk mengurus masalah Adikmu Pangeran Azzura, aku bisa sampai melupakan satu lagi masalah lamaran putraku. Semoga saja belum terlambat..!? " kata Asmi penuh harap.
"Ayo, ananda akan mengantarkan Bunda Ratu ke rumah Uwa Ardi sekarang juga..!" kata Pangeran Alyan.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita ke sana..!? ajak Asmi. Wanita keturunan manusia itu bergegas mendatangi rumah Kakaknya, yaitu Ardi dengan maksud untuk meminta pertolongan Ardi untuk datang melamar Zahra.
Sementara itu, Pangeran Khalied kini sedang duduk di hadapan Ibunya Zahra. Seperti perkataan Zahra, ibunya ingin mendengar langsung dari Pangeran Khalied bahwa pemuda itu bermaksud mempersunting Zahra sebagai istri.
"Benar, Bu. Saya rasa, saya sudah cukup mengenal pribadi dan sosok Zahra sehingga saya mantap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Saya ingin mewujudkan keinginan saya untuk menikah dengan Zahra." kata Pangeran Khalied.
"Tapi apa keluarga kamu tahu, siapa dan bagaimana kami ini. Ibu belum pernah bertemu dengan kedua orang tuamu. Ajaklah mereka kemari, mari menyambung tali silaturahmi agar bisa saling mengenal..!" kata Ibunya Zahra.
"Itu sudah saya lakukan. Sebentar lagi, ibu dan ayahku serta keluargaku akan berkunjung kemari. Mereka semua dalam perjalanan menuju ke tempat ini." kata Pangeran Khalied.
__ADS_1
"Benarkah, aduhhh, bagaimana ini..!" seru Ibunya Zahra panik..
"Kenapa, Bu..? " Tanya Pangeran Khalied yang tak mengerti mengapa Ibunya Zahra menjadi panik.
"Masalahnya, ibuku belum mempersiapkan apa pun juga untuk menyambut kedatangan ibumu, Kak Khalied." kata Zahra.
"Ohh, masalah itu. Sudah ibu tak perlu panik. Sebentar lagi akan datang yang mengurus semua itu." kata Pangeran Khalied sambil bertepuk tangan.
Dalam sekejap, bermunculan di rumah Zahra beberapa orang wanita dan Pria yang membawakan beraneka macam sajian berupa makanan dan minuman serta buah - buahan.
Semua makanan dan minuman serta buah - buahan segar yang enak itu diberikan kepada ibunya Zahra untuk menyambut kedatangan calon besan mereka.
Ibunya Zahra merasa sangat takjub sekali. Belum pernah dia melihat makanan dan minuman serta buah - buahan sebanyak ini.
"Assalamu'alaikum, ...!" sebuah suara terdengar dari arah luar rumah.
__ADS_1