
Pangeran Arkana dan Kania serta Zamura, berangkat melanjutkan perjalanan mereka ke Barat sambil mencari sumber air penawar bagi Kania yang terkena kutukan Lamma.
Menurut Zaddak, sumber air itu berada di lembah gunung keramat di dimensi ini yaitu Gunung Tengkorak.
Dari namanya saja, kita sudah bisa membayangkan seperti apa keangkeran gunung tersebut. Berada di dimensi keempat, semakin menambahkan level keangkeran tempat tersebut.
Konon, Gunung Tengkorak adalah gunung berapi yang terdapat di dimensi ini. Gunung itu kerap kali memuntahkan lahar panasnya dan juga gempa yang sering kali terjadi akibat aktivitas vulkanik dari gunung tersebut.
Namun bukan hal itu yang membuat takut para penghuni dimensi ini akan keangkeran gunung itu, melainkan Nagini.
Makhluk berbentuk ular naga besar berkepala manusia itu adalah penguasa gunung Tengkorak yang sejati. Makhluk siluman ular itu selalu menjaga wilayah Gunung Tengkorak dari siapa saja yang mencoba memasuki wilayah tersebut. Tubuhnya melingkari gunung itu dengan sempurna hingga menutupi sampai ke puncaknya. Tubuhnya terselimuti oleh gelap kegelapan yang abadi hingga tersamarlah warna gelap tubuhnya dengan warna kelamnya kegelapan.
Dan sekarang ketiga orang tersebut sedang menuju ke tempat itu. Tempat dimana sumber Air penawar itu berada. Tepatnya di lembah Gunung Tengkorak. Pangeran Arkana memutuskan untuk mendatangi tempat tersebut demi mencari air penawar bagi kutukan Lamma yang telah jatuh pada Kania. Karena dirinya tak rela jika harus membunuh Kania, jika sampai gadis itu berubah menjadi makhluk penghisap darah seperti Lamma.
***
***
Kita tinggalkan dulu ketiga orang yang sedang berjalan menuju ke Gunung Tengkorak. Kini kita bertemu dengan Pangeran Khalied dan Zahra yang juga sedang menuju ke Barat.
"Apakah kamu lelah...?" tanya Pangeran Khalied kepada Zahra.
Gadis itu hanya menganggukkan kepala sambil melihat ke sekeliling. Hanya kegelapan. Langit berwarna hitam Kelam. Itu artinya saat ini mereka sedang berada di waktu malam. Hanya ada cahaya bulan separuh yang menerangi tempat ini hingga sedikit banyak mampu menghalau kegelapan malam yang pekat.
Rupanya, kegelapan yang selama ini menutupi dimensi ini adalah karena awan - awan itu. Awan - awan itu tak pernah bergerak, dan hanya diam di tempatnya sepanjang hari hingga malam. Namun jika malam hari, awan itu akan lenyap tergantikan oleh warna malam yang kelam. Demikian lah seterusnya, selalu seperti itu.
"Sebaiknya kita beristirahat.. jika kamu merasa lelah kamu dapat tidur di tikar ini.. " kata Pangeran Khalied. Dia lalu membentang sebuah tikar permadani kecil. "Tidurlah di sini, aku akan menjagamu..! " katanya sambil menunjuk ke arah tikar yang terhampar di depan mereka.
Dari mana Khalied mendapatkan tikar itu, pikir Zahra.
Zahra menatap ragu ke arah tikar permadani yang membentang di hadapannya. aneh, mengapa tikar itu mengambang dan bukan tergeletak di atas tanah.
"Kenapa..? Apa kamu takut..? " Tanya Pangeran Arkana ketika melihat Zahra yang tampak ragu untuk membaringkan tubuhnya di sana.
"Tidak, aku hanya merasa aneh saja melihat tikar permadani yang mengambang.. " jawab Zahra.
Seumur hidup baru kali ini dia melihat dengan mata kepala sendiri ada tikar yang mengambang. Di dalam pikiran Zahra, tikar mengambang itu hanya ada dalam film Aladin. Film tentang seorang pemuda miskin yang bersahabat dengan jin yang tinggal di dalam lampu ajaib. Dan jin itulah yang mengabulkan semua permintaan Aladin.
__ADS_1
Gadis itu menghilangkan keraguan di hatinya untuk kemudian akhirnya dia
memberanikan diri untuk merebahkan tubuhnya di atas tikar yang lebih mirip permadani itu hanya dalam ukuran yang lebih kecil.
Nyaman dan empuk, sangat empuk. itulah yang Zahra rasakan. Bahkan lebih nyaman dari tilam di rumahnya yang sudah sangat tipis karena sudah terlalu lama di pakai.
Sejenak Zahra lupa akan keanehan tikar itu. Saat ini baginya yang dia butuhkan hanyalah kenyamanan saja.
"Siapakah kamu sebenarnya, Khalied." tanya Zahra tiba-tiba.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu ?" Pangeran Khalied balik bertanya.
"Entahlah, aku hanya merasakan semakin banyak saja keanehan yang terjadi padamu, dan juga pada kita berdua? "ucap Zahra.
Bukan tanpa alasan gadis itu menanyakan pertanyaan seperti itu? Bukan sekali dia kali dia mendapati keanehan pada diri pemuda di depannya itu. Dia tahu bahwa pemuda di depannya itu bukanlah manusia seperti dirinya. Tapi makhluk apakah dirinya..?
"Apakah kamu adalah makhluk sejenis siluman..?" tanya Zahra kemudian.
Ada keterkejutan di mata Pemuda itu saat mendengar pertanyaan Zahra. Dirinya tertegun untuk sesaat. Saat itulah baru di sadarinya bahwa selama ini dia tak pernah mengatakan kepada gadis itu siapa dirinya yang sebenarnya.
"Bukan..., Aku bukanlah sebangsa siluman seperti dugaanmu..? "
"Aku adalah seorang jin.. "
Mata Zahra yang bulat terbelalak sempurna. Dirinya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Khalied, pemuda itu adalah jin. Bukan sebangsa siluman seperti dugaannya, tapi sebangsa makhluk ghaib yang diceritakan dalam al-quran yang memiliki wujud seperti manusia dan dikenai juga kewajiban - kewajiban terhadap Ilahi seperti manusia pada umumnya.
Zahra bangun dan kemudian berjalan mendekati Pangeran Khalied yang sedang berdiri tak jauh dari tikar permadani itu.
"Maaf, apa aku tak salah dengar. Benarkah kamu adalah sebangsa makhluk jin. Tapi bukankah wujud kalian tidak terlihat. Lantas mengapa aku bisa melihatmu. Sama seperti halnya dengan si codet dan anak buahnya..? "pertanyaan Zahra bertubi-tubi. Rasa penasaran dalam hatinya akan jati diri siapa khalied sebenarnya membuat dia bertanya - tanya.
"Aku memang ingin memperlihatkan kepada mereka tentang keberadaanku. Demikian juga halnya denganmu. Dirimu tak akan bisa melihat wujudku jika aku tak menginginkan dirimu melihatku." papar Pangeran Khalied.
"Apakah dirimu juga seorang pangeran..? " tanya Zahra lagi.
Pangeran Khalied tak menjawab pertanyaan Zahra. Dirinya tahu, di dalam hati, gadis itu sedang mengukur - ukur dan membandingkan antara dirinya dan Pangeran Khalied. Dan Pangeran Khalied sungguh tidak menyukai hal itu. Baginya derajat seseorang itu tidak di ukur dari derajat kedudukan, kekayaan ataupun kekuasaan. Hanya ketakwaan dan keimanan saja yang membuat seseorang istimewa di mata Tuhan.
"Aku memang seorang pangeran. Namun itu bukan sesuatu yang harus di banggakan... " ucap Pangeran Khalied seraya menatap lurus ke manik mata Zahra.
__ADS_1
Zahra terkesiap oleh jawaban jujur Pangeran Khalied. Gadis itu kini merasa tak nyaman dan gugup. Terlebih saat matanya beradu pandang dengan iris mata sang Pangeran yang berwarna kuning itu.
Mata itu indah, namun amat aneh rasanya. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Jujur saja, dia merasa gugup saat ini. Tatapan mata sang Pangeran terasa amat membiusnya.
"Apakah kamu ragu dengan hubungan kita ini...? " tanya Sang Pangeran. Wajahnya kian dekat dengan wajah Zahra. Dipindainya lukisan Ilahi pada wajah yang sempurna itu.
"A.. Aku, tak tahu... " jawab Zahra namun matanya tak lepas dari tatapan mata sang Pangeran.
"Apakah kamu ragu menjalani hubungan ini karena jati diriku atau kamu ragu karena dirimu...? " tanya Pangeran Khalied sekali lagi.
Zahra membuang pandangan. Dirinya merasa jengah oleh semua itu. "Aku tak tahu. Aku hanyalah seorang anak yang yatim piatu yang tak punya apa-apa. Manalah pantas mendapatkan seorang pangeran seperti dirimu, Tuan." Zahra beringsut menjauh dari Pangeran Khalied.
Sedangkan Pangeran Khalied terkejut dengan perubahan sikap Zahra. Gadis itu kini kembali memanggil Pangeran Khalied dengan sebutan tuan karena sudah tahu siapa sebenarnya pemuda itu.
"Tuan..? Apakah aku tuanmu? Aku lebih suka panggilan kamu yang sebelumnya. Panggilan tuan seakan menjadi jarak antara hubungan dirimu denganku.. " Pangeran Khalied berdiri dan menyentak bahu Zahra hingga kini kembali gadis itu berhadapan dengannya.
"Tapi tuan, dirimu seorang pangeran. Bagaimana mungkin saya mengabaikan semua itu. Saya dan anda jelas berbeda." ujar Zahra lirih. Dia menundukkan wajahnya tak berani lagi menatap wajah itu.
Ada penyesalan dalam hatinya mengapa dulu dia mengenal pemuda itu. Pemuda yang ternyata adalah seorang pangeran dari bangsa jin. Sekarang bagaimana..? Hatinya diam - diam sudah terlanjur mencintai pemuda itu. Pemuda dengan iris mata berwarna kuning itu sudah menjadi tambatan hatinya tanpa dia sadari.
"Jika hanya karena aku seorang pangeran maka kau ragu menerima cintaku, maka aku rela membuang semua gelar itu demi bisa bersamamu. Sekarang aku hanya ingin bertanya satu hal, apakah kamu mencintaiku atau tidak....? "kata Pangeran Khalied.
Terkejutlah Zahra, terkesima dia dibuat diam tak bisa menjawab pertanyaan sang Pangeran.
" Aku.. aku.. " Zahra benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Dirinya memang sangat menyukai pemuda itu. Namun dia sadar diri, bahwa tak mungkin dirinya mencintai pemuda itu yang nyatanya merupakan seorang pangeran dari negeri jin pula.
Pangeran Khalied mendengus gusar. Gadis itu, dia tak tahu harus bagaimana. Dia tak bisa menebak jalan pikiran Zahra karena ada sesuatu yang tak bisa dia tembus. Gadis itu memiliki semacam tirai yang menyelimuti pikirannya sehingga amat sulit untuk di bacanya.
"Baiklah, aku bisa faham, jika kamu tak bisa menerima hubungan ini. Setidaknya aku sudah jujur kepadamu tentang siapa diriku. Aku tak bisa memaksa jika nyatanya kamu tidak bisa menerima keadaan diriku." ucap Pangeran Khalied.
Hening....
Tak ada suara yang keluar dari mulut Zahra. Zahra bingung dan sedih. Dirinya mencintai Khalied, namun dia merasa tak pantas. Sehingga dia akhirnya memilih bungkam. Biarlah, waktu saja yang akan bicara, jika memang dirinya mesti berjodoh dengan Khalied, maka meskipun pemuda itu dari bangsa jin sekalipun, dia tetap akan menerimanya.
Biarlah cinta menemukan sendiri jalannya.
@Minaaida_ 92,
__ADS_1
Bagaimana kisah cinta antara Zahra dan Pangeran Khalied. sanggup Zahra menahan cinta itu di dalam hatinya saja.