
"Ayahanda,...!" seru pangeran Khalied tertahan. Segera dia melepaskan pelukannya pada Zahra.
"Siapa gadis ini, Pangeran Khalied..?" tanya Ayahandanya.
Pangeran Hasyeem menatap lekat ke sosok yang berdiri di sebelah putranya. Anak manusia...? pikir Pangeran Hasyeem.
Pangeran Hasyeem jadi teringat ketika pertama kali dia membawa istrinya itu ke istana ini. Sama seperti gadis yang berdiri di sebelah putranya, Asmi kalau itu bingung dan takut. Karena tak tahu sedang berada di mana.
Pangeran Khalied memang persis seperti dirinya. Jika sudah menyukai seseorang, maka sulit untuk berpaling hati.
Putranya itu telah membawa seorang gadis ke istana Bukit Malaikat. Itu berarti, gadis itu pasti memiliki tempat yang spesial di hati putranya. Mungkin saja, gadis itu adalah kekasih putranya.
Sementara itu, Zahra yang ditanya langsung menundukkan wajahnya. Gadis itu merasa malu, karena tadi kepergok sedang berpelukan dengan Pangeran Khalied.
"Pangeran Khalied, ..... aih.... rupanya kita kedatangan tamu..?"
Asmi yang datang kemudian merasa bahwa terkejut melihat ada seorang gadis cantik di taman itu. Namun dia segera faham, ketika melihat bagaimana Pangeran Khalied menatap gadis itu.
"Siapa makhluk cantik ini, putraku sayang...? kali ini Asmi yang bertanya.
Dengan malu - malu, Pangeran Khalied menggandeng Zahra ke hadapan ayah dan ibunya.
Pangeran berwajah tampan itu pun memperkenalkan Zahra kepada ayahandanya dan ibunda Ratu.
"Ayahanda, ibu ratu, perkenalan ini adalah teman, eh... maksud ananda kekasih ananda, namanya Zahra." ucap Pangeran Khalied seraya tersenyum menatap ke arah kekasihnya itu.
Zahra mendekat kepada Pangeran Khalied dengan sikap malu - malu.
"Zahra, perkenalkan, mereka ini adalah ayah dan ibundaku, pangeran Hasyeem dan Ibunda Ratu Asmi." kata Pangeran Khalied memperkenalkan ayah dan ibunya kepada Zahra.
"Salam, Pangeran Hasyeem dan Ibunda Ratu Asmi. Saya Zahra... " Zahra memberi salam dengan malu - malu. Gadis itu mencium tangan Pangeran Hasyeem dan Ratu Asmi dengan takjim.
"Manusia...?!" bisik Pangeran Hasyeem kepada putranya sambil tersenyum.
"Begitulah kata, ayah. Seperti pepatah orang Inggris bilang ayah, like father like son. " bisik Pangeran Khalied sambil tersenyum manis.
Pangeran Hasyeem terkekeh mendengar jawaban putranya.
"Dasar bocah nakal.." ucap Pangeran Hasyeem.
"Baiklah, Zahra, Pangeran Khalied, tampaknya kalian butuh istirahat." ujar Asmi.
__ADS_1
"Ayo, Pangeran Khalied, ajaklah Zahra untuk masuk ke istana. Mungkin saja Zahra butuh membersihkan diri dan beristirahat." ajak Asmi kepada Putranya itu.
"Ayo, sayang. Kita masuk ke dalam..!" ajak Asmi kepada Zahra sambil menggandeng lengan suaminya yang tampan itu.
Pangeran Hasyeem melirik putranya itu. Dia kemudian menggunakan ilmu telepati untuk berbicara dengan Pangeran Khalied tanpa harus di dengar oleh istrinya atau pun orang lain.
"Pangeran, setelah ini, temui ayah di Hutan Larangan." kata Pangeran Hasyeem melalui ilmu telepati miliknya.
"Baik, ayah..!" jawab Pangeran Khalied.
Setelah berucap demikian, Pangeran Hasyeem menggandeng ratunya dan melesat terbang meninggalkan Pangeran Khalied.
Zahra yang melihat hal itu terheran-heran.
"Kak, apakah semua orang di keluargamu bisa terbang...?" tanya gadis itu dengan lugunya.
Pangeran Khalied tersenyum mendengar pertanyaan Zahra.
"Apa kamu lupa, kami bangsa apa. Tentu saja semua keluargaku bisa terbang. kecuali Ibuku."
Zahra terdiam mendengar jawaban Pangeran Khalied. Dia baru menyadari siapa sebenarnya Pangeran Khalied.
Ternyata pemuda itu tak berbohong ketika mengatakan tentang siapa dirinya yang sesungguhnya.
Jadi, dia tadi itu sebenarnya tanpa di sadari olehnya, dia sudah bertemu dengan sosok jin yang sebenarnya.
Karena Pangeran Khalied mengatakan bahwa ayahnya seorang jin dan ibunya adalah manusia seperti dirinya.
"Kak Khalied,... ja.. jadi.. tadi itu ayah kak Khalied benar-benar seorang jin...?" tanya Zahra gugup.
"Yang kau lihat di hadapanmu ini juga adalah seorang jin. Apakah hal itu membuatmu takut, sayang...?" tanya Pangeran Khalied kemudian.
"benar juga, kenapa aku tidak menyadarinya, yah..?" tanya Zahra dalam hati.
"Entahlah, kak. Aku hanya merasa sedikit aneh saja." jawab Zahra lagi.
"Sudahlah, tidak usah di pikirkan lagi. Ayo, kuantar kamu untuk membersihkan diri dan beristirahat."
Pangeran Khalied kemudian membawa Zahra melesat terbang menuju istana Bukit Malaikat.
Melihat keindahan istana Bukit Malaikat, membuat Zahra terkagum - kagum. Astaga, .... istana ini besar dan megah sekali, ucap gadis itu dalam hati.
__ADS_1
Pangeran Khalied membawa Zahra ke dalam biliknya dan memerintahkan kepada dayang istana untuk melayani segala kebutuhan Zahra.
Kembali, Zahra di buat kagum dan terheran-heran. Dirinya diperlakukan seperti kayaknya seorang putri raja.
Dari mandi hingga berpakaian, semuanya dilayani oleh dayang - dayang istana. Bahkan ketika hendak makan pun, gadis itu di layani dengan penuh hormat. Semua itu membuat Zahra merasa sedikit canggung karena belum terbiasa.
Sementara itu, pangeran Khalied pergi menemui ayahnya di Hutan Larangan.
"ayahanda, ananda sudah di sini... " kata Pangeran Khalied ketika sudah sampai di hadapan sang ayah.
"Hmm, duduklah putraku.! " kata Pangeran Hasyeem kepada Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied dan ayahnya itu saat ini berada di puncak istana yang dibangun oleh Pangeran Hasyeem ketika berhasil menaklukan Hutan Larangan.
Saat ini, istana Hutan larangan di huni oleh kakaknya yaitu Pangeran Alyan bersama Kakak iparnya, Aluna.
"Ada apa gerangan yang membuat Ayahanda mengajakku bertemu di Hutan larangan. ini..?" tanya Pangeran Khalied.
Pangeran Hasyeem tak langsung menjawab pertanyaan putranya itu. Akan tetapi, dia malah balik bertanya.
"Putraku, Pangeran Khalied, sejauh apa hubungan kamu dengan gadis itu.??" tanya Pangeran Hasyeem.
Pangeran Khalied tertegun mendapat pertanyaan seperti itu dari sang ayah.
Dia bingung harus menjawab bagaimana. Bahkan dia tak tahu seperti apa maksud pertanyaan ayahnya itu.
"Apa maksud Ayahanda bertanya seperti itu...?" tanya Pangeran Khalied kemudian.
"Putraku, kamu tentunya sudah menyadari bagaimana tentang jati diri kita dan gadis itu berbeda. apakah
dia sudah tahu, apa dan siapa diri kita ini." jawab Pangeran Hasyeem.
Sejenak Pangeran Khalied merasa bingung untuk menjawabnya.
"Dia sudah tahu, siapa sebenarnya diriku dan juga tentang jati diri keluarga kita. Hanya saja, ananda kurang yakin
jika Zahra sudah bisa menerima kenyataan tentang jati diri ananda." jawab Pangeran Khalied.
"Apakah kamu bersedia jika aku memintamu untuk melupakan gadis itu..? "
Bagai di sambar petir rasanya jiwa Pangeran Khalied mendengar permintaan ayahnya itu.
__ADS_1
Sanggupkah dirinya....?
***