
"Apakah kau ingin kembali lagi ke alam manusia...!" tanya Pangeran Khalied kepada Zahra.
"Tentu saja. aku sudah sangat sangat keluarganya, khususnya ibuku.. " jawab Zahra.
Pangeran Khalied tertegun saat mendengar ucapannya Zahra tersebut. Rupanya Zahra masih saja lupa bahwa ibunya telah wafat.
"Baiklah, ayo aku akan mengantarkan kamu kembali ke rumahmu...!" ajak Pangeran Khalied sambil merangkul Zahra.
"Baiklah, sebaiknya kita berpamitan dulu kepada ayah dan ibuku."
Baru saja Pangeran Khalied dan Zahra hendak berlalu pergi menemui Pangeran Hasyeem dan Ratu Asmi, tiba-tiba dari arah luar istana masuk Putri Humaira, saudara kembarnya.
Putri Humaira baru saja pulang dari rumah sakit milik kakaknya, putri Arryan.
Begitu melihat Pangeran Khalied, saudara kembarnya sudah kembali, putri cantik itu menghambur memeluk Pangeran Khalied.
"Astaga, Putri Humaira mengapa badanmu semakin besar saja. Apakah selama aku perg,i kau kurang berlatih, hinggap berat badanmu naik. Ibunda saja masih lebih langsing daripada kamu...?" canda Pangeran Khalied.
"Pangeran Khalied, jangan mengejek diriku. Lihatlah, tampangmu sendiri. Kau terlihat lebih tua dari pada ayah." balas Humaira tak mau kalah.
"Itu karena aku tidak mengukur cambang dan kumisku." jawab Pangeran Khalied membela diri.
"Ciiih.. alasan saja. Bagaimana bisa ada gadis yang tertarik denganmu kalau kau berpenampilan seperti ini..?" Kini giliran Putri Humaira yang mengejek Pangeran Khalied.
"Apa kamu tidak melihat, calon saudara iparmu sudah berdiri di belakangku. Untuk apa lagi aku mencari gadis lain." jawab Pangeran Khalied seraya menoleh ke arah Zahra yang berdiri tepat di belakangnya.
Mendengar perkataan Pangeran Khalied, Putri Humaira langsung menoleh ke belakang Pangeran Khalied.
"Manusia...? Astaga, pantas saja sejak masuk tadi, aku sudah mencium bau manusia. Aku pikir itu ibu, atau Kakak Luna.. " ucap Putri Humaira.
"Iya, perkenalkan, ini adalah Zahra. Dia adalah calon saudara iparmu, Putri Humaira... " ucap Pangeran Khalied sambil tersenyum memeluk Zahra.
__ADS_1
"Hai, aku adalah saudara kembar Pangeran Khalied.." sapa Putri Humaira memperkenalkan diri.
"Hai, juga Putri Humaira. Aku Zahra." jawab Zahra dengan malu - malu.
Dalam hati Zahra merasa sangat kagum akan kecantikan Putri Humaira. Wajahnya sebelas dua belas dengan Pangeran Khalied. Hanya matanya saja yang berbeda. Mata Putri Humaira agak hitam kecoklatan seperti warna mata ibu ratu.
Pada saat itu, dari arah depan, melesat sebuah bayangan putih. Bayangan itu kemudian berdiri tepat di belakang Putri Humaira.
Itu adalah Zyfhar. Rupanya pengawal pribadi Putri Humaira itu baru saja tiba. Dia bertugas mengawal Putri Humaira kembali ke rumahnya.
Mata Zahra terbelalak sempurna ketika melihat penampakan Zyfhar. Dia seperti melihat penampakan vampir seperti di film - film. Zahra menatap nanar sosok Zyfhar. Seumur hidup, dia baru melihat makhluk seperti Zyfhar.
Seperti dikatakan sebelumnya, Zyfhar adalah sosok jin yang bersayap. Penampakan wujud Zyfhar memiliki kemiripan dengan Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana.
Mereka sama - sama memiliki taring Hanya saja, taring pemuda jin itu sedikit lebih panjang dari Pangeran Khalied. Hingga nyata terlihat.
Sedangkan Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana, meskipun keduanya memiliki taring, namun tidak terlalu nampak.
Zahra bergerak mundur ke belakang Pangeran Khalied.
Melihat hal itu, Putri Humaira tersenyum.
"Hhm, tampaknya kekasihmu itu takut melihat wujud Zyfhar yang menyeramkan." ucap Putri Humaira.
Mendengar bahwa Zahra, takut melihat penampakan dirinya, Zyfhar mundur ke belakang. Pengawal Pribadi Putri Humaira itu berdiri menjauh agak ke belakang. Kemudian dia meminta maaf kepada Pangeran Khalied.
"Maafkan saya, Pangeran. Saya tidak bermaksud untuk membuat takut teman wanita anda.. " ucap Zyfhar sambil membungkuk takjim.
"Tidak apa - apa, Zyfhar. Aku rasa Zahra tidak takut. Hanya saja, mungkin dia merasa heran dan takjub. Dia belum terbiasa melihat hal - hal yang aneh - aneh.. " ucap pangeran Khalied kemudian.
"Terima kasih, pangeran.." Zyfhar menghaturkan terima kasih kepada Pangeran Khalied. "Tapi ngomong - ngomong, anda mau kemana, Pangeran Khalied?" tanya Zyfhar kemudian.
__ADS_1
"Aku mau berpamitan kepada ayahanda dan ibu ratu. Aku akan mengantarkan Zahra kembali ke rumahnya."
"Mengapa mesti buru - buru, Zahra. Tinggallah barang sehari dua hari di sini. Kita bisa bermain bersama." ajak Putri Humaira.
"Apa kurang banyak interaksi kau dengan manusia, hingga kau juga mengajak kekasihku bermain bersamamu...?" tanya Pangeran Khalied kepada Putri Humaira.
Mata Putri Humaira melotot ke arah Pangeran Khalied. " Ingat, mereka pasien, bukan saudara ipar. Wajar jika aku mengajak calon saudara iparku untuk bermain bersama. Biar kami akrab." ujar Putri Humaira.
"Sudah, nanti lain kali saja. Sekarang, Zahra dan aku mesti kembali ke alam manusia. Ada sesuatu yang harus kami lakukan di sana." ucap Pangeran Khalied kemudian.
"Baiklah, kalau begitu, ayo kita pergi menemui ayah dan ibu..." ajak Putri Humaira lagi
Setelah itu, mereka segera pergi untuk menemui ayah dan ibu ratu Asmi untuk berpamitan.
"Pakailah, ini dan bayangkan kalian ada di tempat yang kalian inginkan. Maka cincin biru bermata Safir ini akan mengantarkan kalian ke sana." kata Asmi sambil menyodorkan sebuah cincin ke hadapan Pangeran Khalied.
Pangeran tampan bermata indah itu memakai cincin itu di jari manisnya.
"Terima kasih, ibu Ratu...!?" kata Pangeran Khalied seraya memeluk Zahra.
Kedua pasangan sejoli itu kemudian terbang melesat meninggalkan istana Bukit Malaikat menuju alam manusia.
"Kak Khalied, apa yang terjadi...?" tanya Zahra gugup saat melihat banyak orang yang berkumpul di depan rumah Zahra.
"Bapak - bapak dan ibu - ibunya, kalau boleh tahu, apakah yang telah terjadi.."
tanya Zahra.
"Lah, ini Zahra, ....anaknya almarhumah. Zahra kemana saja, kamu, Nak..? Ibumu meninggal dunia tadi malam." kata orang itu sambil menarik Zahra agar segera masuk ke dalam rumahnya.
Gadis itu tak menjawab pertanyaan orang itu. Hanya hatinya saja yang sibuk mencerna kata - kata orang itu. Apakah benar ibunya sudah meninggal..?? Tanya Zahra bingung.
__ADS_1