Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 159 Kerajaan Alas Amarta


__ADS_3

Hutan kecil itu sepenuhnya di kelilingi oleh sungai lebar yang melingkar dan memisahkan antara hutan itu dengan desa - desa di sekelilingnya.


Masyarakat desa di sekeliling tempat itu menyebutnya sebagai hutan alas Amarta. Disebut demikian karena konon menurut penduduk setempat yang pernah tersesat hingga sampai ke sana. Menurut mereka yang sempat menjadi saksi mata, di dalam hutan itu terdapat sebuah kota ghaib.


Makanya penduduk setempat menyebutnya sebagai Alas Amarta. Alas yang berarti hutan, dan Amarta artinya adalah kota yang tak ada atau tak terlihat alias ghaib. Jadi kalo di artikan secara bahasa, arti Alas Amarta adalah hutan kota Ghaib.


Hutan itu terletak tak jauh dari desa tempat tinggal Zahra. Hanya di batasi oleh sungai yang sama seperti desa - desa di sekitar tempat tinggal Zahra.


Hutan itu sepintas jika dilihat dari jalan raya yang seperti sebuah pulau kecil di atas sungai. Di tumbuhi oleh sebagian besar pohon bambu yang timbun dan beberapa pohon ketapang yang besar. Juga terdapat beberapa pohon buah dan tanaman perdu. Terlihat rimbun dan gelap karena tumbuhan bambu yang menutupi hampir sebagian besar pulau tersebut.


Itu adalah deskripsi hutan Alas Amarta jika dilihat dengan pandangan mata manusia biasa.


Akan tetapi, lain halnya jika kita melihat mata ghaib atau mata bathin. Daerah yang tadinya hutan yang lebat itu akan berubah menjadi sebuah istana yang besar, megah dan berwarna hitam legam. Menyeramkan sekali bukan. Tampak dingin dan menyeramkan karena istana itu terbuat dari batu granit hitam. Sehingga keseluruhan istana itu berwarna hitam.


Jika kita sampai di depan gerbang istana, maka kita akan disambut dengan patung berwajah iblis yang terdapat di gerbang istana.


Di lihat dari depan saja sudah sedemikian seram, apalagi ketika kita memasuki istana itu.


Istana itu di huni oleh genderuwo yang merupakan perwujudan dari Raja jin penguasa Hutan Alas Amarta. Raja jin itulah yang kini sedang membawa Zahra ke tempatnya.


***


Zahra lenyap tak berbekas dari kamarnya. Dan tak ada seorang pun yang tahu. Semua terjadi begitu cepat hanya dalam hitungan detik.


Kemudian kamar itu sepi. Semua orang di rumah Zahra menduga bahwa Zahra sudah tertidur pulas di kamarnya.


Zahra membuka matanya ketika menyadari ada seseorang yang menyentuh wajahnya.


Yang pertama kali dia lihat adalah wajah tampan kekasihnya, Pangeran Khalied.


Zahra bangun dan segera menghambur memeluk pangeran Khalied. Gadis cantik itu menangis di pelukan pangeran Khalied m


"Kak, Zahra takut..!" isaknya.

__ADS_1


"Sudah, jangan menangis lagi. Tak ada yang perlu kau takutkan lagi. Kamu aman bersamaku di sini.. " bujuk Pangeran Khalied.


Zahra tertegun sejenak saat mendengar pangeran Khalied berucap. Mengapa suara kekasihnya itu berubah berat dan dalam. Zahra langsung melepaskan pelukannya.


"Kak, kenapa suaramu berubah berat seperti itu. Apa kakak sedang sakit..?" tanya Zahra sambil mengamati wajah Pangeran Khalied.


Iris mata pemuda itu tidak lagi berwarna kuning pucat seperti biasanya melainkan sudah berganti warna merah.


"Warna mata kakak juga berubah. Sekarang berwarna merah. Apakah memang sering seperti itu." tanya Zahra lagi. Sudah banyak tanya Zahra macam Dora the explorer.


"Tidak.. aku hanya sedikit lelah saja dan agak haus. Nanti kalau sudah minum, suaraku akan kembali lagi seperti semula. Warna mataku juga nanti berubah dengan sendirinya.." ujar pangeran Khalied.


"Oh, begitu.!!" Zahra mengangguk sambil mengamati sekelilingnya. Dia ada di dalam sebuah bilik. Semua dinding bilik itu terbuat dari batu hitam.


Bahkan tempat tidur dimana dia tadi berbaring, semuanya berwarna hitam dengan sulaman kuning keemasan. Ruangan ini terasa dingin dan lembab. Agak aneh dan seperti tidak biasa. Di mana mereka berada, pertanyaan itu yang ada saat ini dalam benak Zahra.


"Kita ada di mana, Kak..?" Zahra yang tak bisa menahan keingintahuannya akhirnya bertanya kepada Pangeran Khalied.


"Istana, Kakak..? Bukankah istana kakak itu kalau tak salah di Bukit Malaikat..? Tanya Zahra masih diliputi keheranan.


" Tidak, Sayang. Ini adalah istanaku yang sebenarnya. Kita sedang berada di istanaku. Kerajaanku. Kerajaan Alas Amarta..!" kata Pangeran Khalied dengan nada yang sedikit sombong.


"Kerajaan Alas Amarta..? Kakak tak pernah menceritakan padaku jika kakak mempunyai istana milik kakak sendiri." kata Zahra tersenyum manja. Dia


Tergoda melihat kemanjaan dan juga kemolekan tubuh Zahra, pangeran Khalied pun akhirnya memeluk Zahra dengan penuh gairah.


Dia ingin mencumbu Zahra. Tentu saja hal ini membuat Zahra sedikit merasa heran. Mengapa Khalied bertingkah aneh seperti itu. Apa yang terjadi..? pikir Zahra.


Tiba-tiba saja, pangeran Khalied menggeram seraya menarik diri dari pelukan Zahra.


"Arghhh.... arghhh... panas..! Aduhh... panas..!!" teriak pangeran Khalied.


"Kak, kakak kenapa..?. Apa yang terjadi..?" tanya Zahra tidak mengerti..

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba saja, Khalied mengeluh kepanasan.


"Panas sekali..! Apa yang ada di tubuhmu..! Mengapa tubuhmu rasanya panas sekali..!!" bentak Pangeran Khalied dengan suara yang semakin berat.


Zahra terkejut sekali. Itu bukan suara Khalied. Suara kekasihnya tidak berat seperti itu.


Sadarlah Zahra, bahwa itu bukanlah Pangeran Khalied. Itu adalah orang lain yang menyamarkan diri menyerupai Khalied.


"Siapa kamu..? Mengapa kamu mengubah dirimu menyerupai Kak Khalied..?" tanya Zahra yang kini sudah kembali lagi ketakutan.


Menyadari jika penyamarannya sudah terbongkar, pemuda itu kemudian menyeringai lebar dan tertawa terbahak-bahak.


Seiring dengan itu, tubuh Khalied kemudian berubah menjadi sosok genderuwo yang tubuhnya besar berbulu hitam dan menakutkan.


"Astaghfirullah... Lailahaillallah... Muhammad darasulullah. Makhluk apa dirimu.!! " seru Zahra.


"Hahaha, Zahra... !! Sayang, jangan takut. Ini aku, Barda. Aku adalah penguasa istana Alas Amarta ini. Kau adalah calon ratuku. Tak, perlu takut padaku..! Kita akan segera menikah dan kau akan menjadi ratuku untuk selamanya...! "seru genderuwo yang bernama Barda itu.


"Aku rasa tidak semudah itu, Langkahi dulu mayatku..! Baru kamu bisa mendapatkan Zahra. Karena dia adalah kekasihku. Dia milikku..!' seru Pangeran Khalied. Dia langsung menghadiahkan sebuah pukulan tepat di dada Barda.


Barda menjerit tertahan merasakan nyeri yang menghantam dadanya. Barda meringis menahan rasa sakit di dadanya.


Pangeran tampan putra pangeran Hasyeem itu muncul tiba-tiba dan langsung memberikan hadiah pukulan di dada genderuwo yang bernama Barda itu karena sudah berani membawa lari Zahra.


Mulut Zahra membelalak karena melihat pangeran Khalied sudah berganti menyerupai Gorilla. Gadis itu ngeri bercampur heran.


Akan tetapi kemunculan Khalied yang sebenarnya membuat dia merasa senang dan gembira.


" Kak Khalied...!" Zahra berlari mengejar Pangeran Khalied yang kini sudah berdiri di hadapan genderuwo itu.


" Zahra, berdiri di belakangku. berdoa agar Genderuwo itu bisa kita kalahkan..!" kata Pangeran Khalied lagi.


"Baik, Kak.! Hati - hati" kata Zahra sambil mulutnya komat membaca doa agar harinya tenang dan tidak takut. Dia tidak takut lagi karena ada khalied di sisi.Pangeran Khalied yang sesungguhnya, bukan jelmaan genderuwo.

__ADS_1


__ADS_2