Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 23 Bertemu Zamura


__ADS_3

"Apakah itu artinya kita sudah resmi berpacaran...? " tanya Khalied.


Wajah Zahra bukan lagi seperti tomat masak tapi kini sudah menjadi kepiting rebus. Dirinya MALU...


...----------------...


Sementara itu, Pangeran Arkana masih menatap resah ke seraut wajah tirus yang sejak tadi hanya terdiam membisu. Pertanyaan pangeran Arkana telah membuat semua persediaan kata di mulutnya lenyap.


Kania tak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh putra Pangeran Alyan itu karena sejujurnya dia sendiri bingung harus menjawab apa.


Hatinya bingung. Dirinya juga tak tahu seperti apa perasaannya terhadap pemuda itu. Pemuda yang baru saja dia kenal beberapa hari.


Pertanyaan pemuda itu sungguh sangat tak di sangkanya. Pemuda aneh itu menanyakan kesediaanya untuk menjadi pacar pemuda itu. Sedangkan dia tak mengenal siapa pemuda itu. Apa dan bagaimana keluarganya. Pemuda itu juga tampaknya bukanlah berasal dari golongan manusia. Begitu banyak perbedaan di antara mereka. Dia takut apa yang akan mereka katakan. Kania tak bisa menentukan keputusan saat ini. Dia belum bisa.


"Kania, aku tak butuh jawaban kamu sekarang. aku tahu, kamu perlu waktu untuk mengenal diriku. Aku faham, kamu juga sedang bingung saat ini dengan perasaanmu.. aku juga tak akan memaksamu untuk menerimaku menjadi pacarmu, jika nanti pada akhirnya kamu berpikir untuk menjadikan aku sebatas teman saja, aku bisa menerimanya.. " kata Putra Pangeran Alyan itu dengan bijak.


Kania mendadak kelu. Pemuda di hadapannya ini seperti sudah bisa membaca isi hati dan pikirannya..


Kania merasa jadi serba salah. Tiba-tiba saja dia merasa seperti seorang wanita yang tak punya perasaan.


"Arka... maafkan aku. Aku belum siap untuk menjawab pertanyaanmu. Aku.."


"Sudahlah, Kania. Aku tak apa - apa. Santai saja... " pemuda itu melempar senyum ke arah Kania. Kania membalas senyum Pangeran Arkana walau terasa kaku.


Malam sudah semakin larut. Mereka memutuskan untuk beristirahat di tempat itu. Pangeran Arkana segera mencari tempat yang aman yang dapat mereka gunakan sebagai tempat tidur.


Mereka pun akhirnya dapat beristirahat dengan aman malam itu.


...----------------...

__ADS_1


Sementara itu di Bukit Malaikat, Pangeran Hasyeem dan Ratu Asmi sedang duduk di hadapan Ki Anom. Guru tiga generasi itu sedang duduk bersila sambil bersemedi. Demikian juga halnya dengan Pangeran Hasyeem. Kedua murid dan guru itu sedang membuka seluruh mata bathin dan merapalkan ajian nitis Sukma untuk mencari dan menemukan keberadaan Sang Putera dan Cucu dari Pangeran Hasyeem itu.


"Tuanku, menurut penglihatan hamba, tampaknya mereka sudah berada di dimensi ke empat. Namun, mereka tidak hanya berdua, melainkan ada lima yang terpilih. Tiga golongan Jin dan dua anak manusia. Namun, apakah mereka bersama - sama atau tidak, hamba tidak mengetahuinya. " kata Ki Anom.


"Apakah Putra kita saat ini sedang bersama Zamura, Pangeran..? " tanya Asmi dengan penuh harap. Dia sangat merindukan putra bungsunya itu.


"Sepertinya tidak, Sayang." jawab Sangat Pangeran.


"Mengapa bisa seperti itu..? " tanya Asmi lagi. Wajah perempuan itu menampakkan kegusaran. Zamura adalah pengawal kepercayaan Pangeran Hasyeem. Dia adalah salah satu prajurit pilihan yang pilih tanding hingga dia percaya bahwa Zamura bisa melindungi putranya. Kini, bahkan mereka tidak bersama. Putranya itu sendiri di negeri entah berantah tanpa tahu pasti kapan akan kembali.


"Dinda sayang, .. dinda tak perlu risau akan nasib putra kita. Serahkan kepada Allah. Perbanyaklah berdoa memohon keselamatan untuk putra kita dan juga Pangeran Arkana. Insya Allah, Allah akan memberi petunjuk dan keselamatan pada putra kesayangan kamu itu." kata Pangeran Hasyeem kepada Sang istri dengan lembut. Dia tahu, perasaan istrinya itu sedang tidak baik - baik. saja.


"Astaghfirullahalazim, ampuni hamba yang lalai ini, ya Allah. Karena cinta kepada anak, lupa hamba kepadaMu. Semua jiwa ada dalam genggaman-Mu. Mengapa aku mesti risau... "


Pangeran Hasyeem tersenyum mendengar perkataan ratunya. Tampaknya istrinya itu semakin bijak dan dewasa. Dia bangga akan hal itu. Semakin Pangeran Hasyeem merasa sangat menyayangi dan mencintai istrinya itu dengan penuh perasaan cinta yang menggebu dan tak pernah padam.


"Apakah aku mengganggu kalian...? " tanya sebuah suara.


Pangeran Hasyeem lalu berdiri dan memeluk adik kesayangannya itu dengan haru. Sekali dia tak bertemu dengan Putri Bilqis. Semenjak menikah, putra bilqis dengan Pangeran Jin dari Bagdad, adik pangeran Hasyeem itu memang belum pernah pulang kembali ke Gunung Khayangan.


Asmi pun demikian, kedua wanita yang berbeda jenis itu berpelukan saling melepas rindu.


"Apa aku juga dilupakan..? "


"Bunda ratu Kalina....!! " Asmi berseru hari seraya menghambur memeluk wanita yang kecantikannya abadi itu.


Pangeran Hasyeem tak dapat menahan haru. Matanya berkaca - kaca melihat pertemuan ibundanya dengan sang istri. Dia bahagia, bisa berkumpul dengan adik dan juga ibunya hari ini.


"Bagaimana bunda Ratu dan Adik Bilqis bisa sampai di tempat ini." tanya Asmi tak mengerti. Di luar istana, sedang di kepung oleh ribuan tentara iblis. Jadi bagaimana Ratu Kalina dan Putri Bilqis bisa masuk kemari.

__ADS_1


"Kamu lupa... aku memiliki ini..! " kata Ratu yang selalu menyukai baju hijau itu seraya mengangkat tangan kirinya sambil menunjukkan sebuah cincin.


"Cincin bermata safir biru..?! " Astaga Asmi hampir saja melupakan cincin itu.


Benar sekali... cincin itu bisa membawa pemiliknya kemana saja yang dia inginkan. Dan tampaknya Ratu Kalina dan Putri Bilqis menggunakan cincin itu untuk teleportasi mereka ke istana ini.


Asmi merasa senang karena ada yang menemani dan menghibur dirinya. Ketiganya lalu pergi menuju ruang Balairung untuk berkumpul bersama dan berbagi cerita.


Sementara pangeran Hasyeem dan ki Anom kembali meneruskan semedi. mereka.


...----------------...


Hari tampaknya sudah kembali siang. Pangeran Arkana dapat melihat dan mengetahui hal tersebut dari warna langit yang berwarna abu-abu dan bukan lagi berwarna hitam.


Pangeran Arkana menengok ke sampingnya, Kania, gadis itu masih tertidur pulas.


Dipandanginya wajah cantik itu diam - diam. Akankah dia memiliki wajah itu. Dia tahu pasti apa yang ada di benak gadis itu saat dia mengutarakan isi hatinya. Gadis itu masih asing dan merasa takut dengan dirinya.


"Kania, bangunlah..! Tampaknya hari sudah siang. "


Kania bangun dan mengucek - ngucek matanya. Dia mengerjapkan pandangan saat matanya menangkap sesuatu di belakang Pangeran Arkana.


"Arka... Siapa yang berdiri di belakangmu...!?? " tanya Kania seraya bangkit dan bergerak berlindung ke sisi Pangeran Arkana.


Pangeran muda itu segera berpaling dan menghunus pedangnya siap sedia untuk menerima serangan. Namun hal itu kemudian urung dia lakukan. Dia memasukan kembali pedangnya ke dalam sarungnya.


Dirinya mendatangi makhluk itu. Makhluk bertubuh besar dan berwarna hitam legam yang sedang berdiri mematung itu sedang berdiri menatap dirinya dengan tatapan tak percaya.


"Pangeran Arkana....!! " seru mahkluk itu.

__ADS_1


"Zamura....!! "


__ADS_2