Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 41 Kristal Arwah


__ADS_3

"Aku berharap Khalied mampu mengalahkan Kalla. Aku tak mau menjadi istri dari siluman rubah !! kata Zahra dalam hati.


Pertempuran terus berlanjut. Pangeran Khalied mulai kehabisan sabar menghadapi Kalla siluman rubah yang licik itu.


Pemuda itu kemudian merubah dirinya menjadi besar seukuran tubuh Kalla. Tentu saja, Kalla tak menyangka bahwa Pangeran jin itu bisa merubah dirinya menjadi seukuran tubuhnya. Dia lupa satu hal, bahwa bangsa jin bisa merubah dirinya menjadi apa yang mereka inginkan.


Dia melupakan Pangeran Khalied adalah makhluk berdarah jin yang tentu saja mewarisi sifat asli sang ayah yang bisa berubah bentuk sesuai keinginan. Hanya sedikit sifat genus dari ibunya yang dimiliki oleh Pangeran Khalied


Dia juga telah melupakan satu aturan dalam pertarungan yang sangat fatal yaitu jangan pernah remehkan lawanmu walaupun sekecil apa dirinya. ( Hahaha, pangeran Khalied apanya yah yang kecil...??🤔🤔).


Kini, Pangeran Khalied telah berdiri di hadapan Kalla dengan menghunus pedangnya yang juga ikut berukuran raksasa. Memanglah kesaktian pedang pangeran Khalied bertambah semenjak diperciki darah Zahra. ( baca : episode Tumbal Darah Perawan).


Pedang dan tuannya kini menyatu dan siap menghadapi Kalla. Siluman rubah itu kini menciut nyalinya karena lawan di depan tak lagi bisa dia remehkan dengan hanya memandang sebelah mata.


Kalla beringsut ke belakang. Mengambil nafas dan menyusun strategi baru untuk menghadapi Pangeran Khalied yang kini sudah berubah seukuran dirinya.


"Hah, ternyata kau takut juga, rubah busuk. Bersiaplah untuk ku kirim ke neraka biar menjadi sate rubah. Pasti dagingmu sangat enak untuk santapan iblish di neraka..!! " seru Pangeran Khalied kesal.


Selesai berkata demikian, Pangeran Khalied melesat terbang menerjang ke arah Kalla. Kini, keadaan jadi berubah. Pangeran Khalied seperti berada di atas angin.


Pukulan demi pukulan yang dilancarkan olehnya dengan mudahnya mengenai sasaran. Hingga Kalla sedikit kerepotan untuk menghindar. Tinggallah Kalla yang kini jadi bulan - bulanan Sang Pangeran.


Bahkan suatu ketika, Kalla, siluman rubah itu sempat terkena pukulan jurus Halilintar dari Pangeran Khalied. Siluman rubah itu terlempar ke belakang dan jatuh ke bumi meninggalkan suara bunyi benda besar yang jatuh.


Kembali bumi bergetar hebat karena benturan antara dua buah masa yang berbeda. Kalla, akhirnya benar-benar jatuh. Siluman rubah itu berhasil tumbang oleh Pangeran Khalied setelah Pangeran itu menjelma menjadi raksasa dan mengalahkannya.


Namun ada hal yang aneh yang terjadi setelah tubuh Kalla jatuh ke bumi.

__ADS_1


Dari mulut siluman rubah itu keluar sebuah batu permata yang berwarna putih bening seperti batu Kristal. Batu itu memancarkan cahaya kemerahan yang keluar dari dalam batu itu.


Itulah batu Kristal Arwah. Batu Kristal yang banyak di buru oleh para penghuni negeri jin karena khasiatnya yang sangat sakti. Batu itu bisa membuat pemiliknya dianugerahi hidup abadi.


Dengan menelannya, maka kita akan mendapatkan keabadian. Kecuali jika Batu itu sudah keluar dari tubuhmu, maka alamat pertanda bahwa keabadian yang kamu miliki akan berakhir.


"Aku mengakui kekalahanku, Pangeran. Tapi kau tak bisa membunuhku. Demi kelangsungan alam ini. Sebagai gantinya, aku menyerahkan kristal arwah ini untuk kau miliki." kata Kalla sambil menyerahkan Batu Kristal itu ke tangan Pangeran Khalied.


"Tuan, aku tidak butuh Batu Kristal ini. Yang aku butuhkan adalah obat penawar untuk Zahra. Aku mau kehidupan untuk gadis itu, bukan Batu Kristal ini." ujar Pangeran Khalied gusar.


"Penawar gadis itu ada di depan mata. Minum dan mandikan saja air dari sungai itu, maka racun dari apel itu akan hilang." ucap Kalla.


Astaga, hanya itu..???


Pangeran Khalied geram setengah mati pada Kalla. Dasar rubah licik. Seandainya saja dia tahu bahwa air sungai itu adalah penawar racun dari apel yang di makan Zahra, buat apa bersusah payah harus bertarung mati -matian melawan Kalla.


"Baiklah, aku ma'afkan kesalahanmu kali ini. Meskipun aku sangat kesal. Kau telah membuang - buang waktuku." kata Pangeran Khalied.


"Aku tahu, apa yang kau cari, Pangeran. Pakailah Kristal arwah itu untuk menemukan Pedang Malaikat. Karena menurut legenda yang tersurat bahwa lima bintang akan berjodoh dengan tiga Pusaka. Dan satu pusaka yang terkuat adalah Pedang Mata Malaikat. Batu Kristal itu yang akan menuntunmu untuk menemukan pedang itu." kata Kalla lagi.


Setelah mengatakan hal itu, tubuh Kalla kemudian menghilang dari tempat itu. Tubuh Kalla lenyap bersama dengan menghilangnya istana Kalla dari hadapan Pangeran Khalied dan juga Zahra.


Kini tinggallah Pangeran Khalied dan Zahra yang keadaannya semakin lemah saja. Namun di dalam hati, Zahra merasa sangat bersyukur, bahwa dia tidak jadi istri Kalla, siluman rubah itu. Dia tak bisa membayangkan andai saja dia benar - benar mati dan kemudian rohnya akan terkurung di dimensi ini lalu menjadi istri dari siluman rubah itu. Maka dia akan selamanya berada di sini.


Segera saja Pangeran Khalied menggendong tubuh Zahra yang lemah terbang melesat menuju ke sungai. Perlahan-lahan, tubuh Zahra yang masih berada dalam gendongan Pangeran Khalied diturunkan ke sungai yang airnya bergejolak dan berwarna semerah darah.


Pangeran Khalied mengambil sedikit air sungai yang berwarna merah itu dan meminumkannya ke mulut Zahra. Lalu dia merendam tubuh Zahra sampai tenggelam seluruhnya di air sungai itu. Untuk beberapa saat, tubuh Zahra di biarkan saja berendam di sungai itu.

__ADS_1


Lalu, Pangeran Khalied mengangkat dan membawa Zahra terbang kembali ke daratan. Membaringkan tubuh Zahra yang masih pingsan itu di tanah.


Melihat tubuh dan pakaian di tubuh Zahra basah, Pangeran Khalied lalu berinisiatif untuk mengganti pakaian di tubuh gadis itu.


Dengan sekal sentuh saja, baju Zahra. secara ajaib kering seperti sedia kala. Demikian juga halnya dengan pakaian di tubuh pemuda itu. Semuanya kering, dan utuh seperti Sedia kala.


Setelah menggantikan baju gadis itu dengan baju yang kering dan baru, Dia membiarkan saja tubuhnya memeluk tubuh Zahra. Itu semua dilakukannya untuk menghangatkan tubuh Zahra yang sedingin es.


Cukup lama Zahra tidak sadarkan diri dan ketika sadar gadis itu membuka matanya perlahan-lahan.


Zahra memekik tertahan ketika menemukan dirinya masih berada dalam pelukan Pangeran Khalied. Langsung saja dia pun beringsut menjauh dari pangeran Khalied.


"Maaf, aku tak bermaksud membuatmu malu. Aku hanya mau melakukan seperti apa yang para manusia lakukan." kata Pangeran Khalied.


Pangeran Khalied pernah melihat bahwa seorang yang mengalami kedinginan akibat dari penurunan suhu bisa mati karena penyumbatan pembuluh darah akibat cuaca dingin. adalah dengan memeluknya.


Itu satu - satunya agar dia bisa kembali merasa hangat. Dia terpaksa memeluk Zahra agar Zahra tidak merasakan dingin lagi.


"Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya... ” kata Pangeran Khalied lagi.


Zahra terdiam menyadari bahwa semua itu dilakukan Khalied karena terpaksa. Dia tahu, bagaimana jiwa Khalied. Tak mungkin pemuda itu mau berbuat yang tidak senonoh dengan dirinya. Terlebih lagi di adalah seorang pangeran.


"Tidak apa - apa, Pangeran. Aku tahu, bahwa kau tidak bermaksud apa - apa. Kau hanya menolongku. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Aku ucapan terima kasih karena kau sekali lagi sudah menolong diriku." ucap Zahra dengan tulus.


Pangeran Khalied merasa terkejut dengan semua ucapan Zahra. Namun dia juga merasa senang karena gadis itu tidak marah atas semua yang terjadi tadi. Apakah itu pertanda bahwa Zahra mulai menyukai dirinya.


???????

__ADS_1


__ADS_2