Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 81


__ADS_3

Jika tidak, ada saja yang kecelakaan yang terjadi di areal tersebut. Sudah banyak banget yang terjadi dan memakan korban yang tak sedikit.


Karena alasan itulah, sangat sedikit orang yang mau tinggal atau berada di sekitar tempat tersebut.


Sesosok bayangan itu terus saja berlari di antara rimbunan pohon. Sesekali, bayangan itu berjalan biasa.


Hingga kemudian, bayangan itu berhenti di suatu tempat. Tempat itu tepat berada di pinggir jalan raya yang membelah hutan Alas Roban.


Tepat pada saat itu, sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Suara raungan mesin motor bising memecah kesunyian di tempat itu.


Tak berapa lama kemudian, sebuah benturan keras terdengar. Bersamaan dengan itu, pengemudi sepeda motor beserta motor yang ditumpanginya masuk ke dalam jurang setelah menabrak pagar pembatas jalan dan kemudian terpental masuk ke dalam jurang yang terletak di sisi kanan kiri jalan.


Sepi....


Tak ada saksi mata yang melihat kejadian itu. Hanya bayangan hitam itu saja yang kemudian bergerak menghampiri tempat kejadian.


Perlahan-lahan, bayangan itu merayap turun mendekati bangkai sepeda motor yang sudah hancur berantakan tak lagi berwujud motor.

__ADS_1


Menjilati setiap tetes darah dari pengemudi sepeda motor yang tergeletak tak jauh dari sana.


Sampai kemudian, bayangan itu berada di samping pengemudi sepeda motor tersebut.


Dia tersenyum menyeringai ketika melihat tatapan terakhir pemuda yang menjadi pengemudi sepeda motor itu sebelum menutup mata untuk selamanya - lamanya.


"Satu tumbal lagi untuk Ki Bawut, hahaha... " tawanya pecah seiring kemudian bayangan hitam itu berlalu pergi dengan membawa jiwa dari pemuda yang malang itu.


Tanpa disadari oleh makhluk itu, sesosok bayangan lain menyaksikan semua itu dengan tatapan geram. Bayangan itu tak lain adalah Zamura.


Beberapa hari sebelumnya.....


Pengawal pangeran Khalied itu rupanya belum kembali ke Istana Pangeran Hasyeem di bukit Malaikat. Saat ini, Pengawal pribadi pangeran Khalied itu sedang berada di hutan Alas Roban.


Ketika memasuki pintu batu yang menghubungkan jalan pulang ke dimensi manusia, Zamura adalah yang paling terakhir masuk. Dia masuk setelah pangeran Arkana dan Kania.


Setelah beberapa saat kemudian, dia pun tiba di dimensi tempat alam manusia berada.

__ADS_1


Namun ada yang aneh, dia tidak bersama dengan Pangeran Khalied atau pun Pangeran Arkana, namun dia tiba di suatu tempat yang menurutnya suasananya aneh dan ganjil.


"Tempat apa ini...?"


Zamura merasa asing dengan tempat itu. Tempat itu bukanlah alam jin namun aroma jin kafir dan siluman kental sekali tercium di tempat itu.


"Aku mau pulang saja. Tidak baik berada di tempat ini lama - lama." ucapnya.


Namun saat kaki Zamura hendak melangkah pergi menuju istana Pangeran Khalied, tiba - tiba saja dia mendengar suara dari beberapa orang di bawah sana.


Zamura pun segera menengok ke bawah untuk mengetahui siapa yang berbicara.


Di antara ketenangan hutan Alas Roban ini, Zamura mendekati sekelompok orang yang sepertinya akan mengadakan upacara.


"Manusia - manusia itu sepertinya akan mengadakan upacara. Upacara apa, yah...?? tanya Zamura dalam hati.


kemudian, Zamura memperhatikan lagi tingkah laku para manusia itu. ternyata mereka adalah tiga orang laki-laki yang ingin kaya mendadak dengan melakukan perjanjian dengan setan. Mereka mengadakan perjanjian dengan menghadiri kan tumbal berupa nyawa salah satu anggota keluarganya..

__ADS_1


Zamura yang geram tak jadi pulang ke Bukit Malaikat . Pengawal pangeran Khalied itu mengikuti. ke-tiga laki-laki tersebut untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan berikutnya...


__ADS_2