
Sementara itu, pertarungan sengit masih terjadi antara Pangeran Arkana dengan makhluk yang bernama Lamma itu. Keduanya sama - sama tangguh dan kuat serta sama-sama memiliki kesaktian yang pilih tanding.
"Hahaha, akhirnya aku mendapatkan lawan yang seimbang. Tak kusangka ilmumu lumayan juga, hai makhluk setengah jin.!" ejek Lamma.
Matanya yang besar itu bersinar semerah darah menakutkan bagi siapa saja yang menatapnya. Membuat gentar lawan yang sedang berhadapan dengannya.
Sebenarnya, rasa takut dari musuhnya itulah yang menjadi sumber kekuatan Lamma. Semakin musuhnya merasa takut, maka Lamma akan semakin kuat. Lamma adalah makhluk bengis yang membunuh lawannya dengan cara menghisap habis darah mereka. Karena sejatinya Lamma adalah makhluk penghisap darah.
"Aku memang makhluk setengah jin, namun aku tak selemah yang kamu sangkakan. Majulah, jangan hanya bisanya mengejek saja, makhluk kelelawar busuk ...!! ucap pangeran Arkana. Dia sudah kesal karena sejak tadi makhluk itu hanya membuang - buang waktunya saja.
" Arka...!!" seru Kania yang tiba-tiba saja sudah muncul kembali bersama Zamura.
"Kania.., kau..!" Pangeran Arkana sangat terkejut kedatangan Kania kembali.
"Mengapa kamu kembali lagi kemari..?" tanya Pangeran Arkana. "Bukankah aku sudah meminta Zamura untuk membawamu menyingkir dari tempat ini..?"
"Aku yang memaksa Zamura untuk membawaku kembali ke tempat ini. Aku tak ingin berada di sana seorang diri, sementara kamu di sini bertarung habis - habisan menghadapi makhluk itu. Aku ingin bersamamu..." kata Kania.
Pangeran Arkana terpana akan ucapan gadis itu. Kania mengatakan ingin bersamanya. Untuk sesaat pangeran tampan itu lupa jika dirinya sedang menghadapi serangan Lamma hingga akhirnya satu serangan Lamma berhasil mengenai tubuhnya.
Bughhh.....
Satu pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi mengenai dada pangeran Arkana. Darah segar keluar dari mulutnya.
"Arka...! " pekik Kania seraya berlari menghampiri Pangeran Arkana.
Sementara Zamura maju untuk menggantikan Pangeran Arkana menghadapi makhluk itu. Tubuh lelaki itu ringan melayang melesat mendekati Lamma yang kini sedang terbang di udara.
"Majulah, biar aku juga sekalian memberimu pelajaran, Hai mahkluk jin terkutuk..! " bentak Lamma.
"Hati-hati, Zamura. Jangan tatap matanya lama - lama. Terus serang dia di daerah sekitar mata... " kata Pangeran Arkana kepada Zamura.
"Baik, tuanku.! " jawab Zamura seraya kembali melancarkan pukulan kepada Lamma. Kali ini adalah pukulan jarak jauh karena posisi Lamma yang berada di atas. Pertarungan sengit kembali terjadi. Kali ini antara Lamma dan Zamura. Berkali-kali pedang Zamura berhasil menebas beberapa bagian tubuh Lamma, namun makhluk itu seolah - olah tak bergeming. Tubuh Lamma yang terluka, akan kembali merapat seperti semula.
Hal ini terjadi secara terus menerus dan berlangsung demikian hingga tak ada akhirnya. Baik Zamura, maupun Lamma sama - sama tak mempan oleh senjata.
Pangeran Arkana duduk bersila dan mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali. Pemuda itu memejamkan mata dan mencoba berkonsentrasi untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya dan juga mengobati luka dalam yang dia alami akibat pukulan Lamma.
Tak lama kemudian, Pemuda itu terbatuk dan dari mulutnya keluar darah yang berwarna kehitaman. Rupanya Pangeran Arkana berhasil mengeluarkan racun yang berasal dari pukulan Lamma.
Sedangkan Kania menatap dirinya dengan perasaan cemas. "Arka... bagaimana keadaanmu? Apakah kamu baik - baik saja...? " tanya gadis itu dengan rasa was - was.
Pangeran Arkana membuka matanya dan mendapati gadis di depannya itu sedang menatap dirinya dengan pandangan cemas. Rasa takut dan kecemasan jelas sekali terlukis di wajah cantik itu.
"Aku tak apa - apa.. Tak usah cemas.." jawab pangeran Arkana.
__ADS_1
"Tapi,.... kamu baru saja memuntahkan darah segar.."
"Itu hanya racun akibat pukulan Lamma. Dan aku sudah mengeluarkannya.. " jawab Pangeran Arkana.
Kania akhirnya merasa lega setelah mendengar jawaban Pangeran Arkana.
Sebenarnya, Pangeran Arkana merasa kesal karena Kania kembali lagi. Mengapa Zamura bisa membawa Kania kembali ke tempat ini. Bukankah tadi dia meminta kepada pengawalnya itu agar membawa Kania ke tempat yang aman. Pemuda itu kini merasa khawatir akan keselamatan gadis itu.
Sementara itu, Lamma yang melihat kehadiran Kania menjadi girang. Dia membaui bau darah manusia dari tubuh Kania.
"Rupanya gadis itu berasal dari bangsa manusia." ucapnya seraya bergerak cepat mendekati Kania.
Pangeran Arkana yang melihat adanya gelagat tidak menguntungkan dari keadaan ini segera berdiri di depan gadis itu. Dia meminta Kania untuk menyingkir dari sana.
"Kania, cepatlah kamu menyingkir dari sana. Sepertinya mahkluk itu mencium bau darahmu. "
" Hahaha, aku mencium bau darah manusia. Serahkan gadis itu dan kalian berdua bisa bebas melewati tempat ini !" tawar Lamma. Tampaknya dia sangat menginginkan darah manusia.
"Zamura, cepat bawa kembali Kania pergi dari sini..!! " Kata Pangeran itu sambil dirinya kembali menangkis serangan yang di lancarkan Lamma ke arah dirinya dan Kania.
"Tidak, Arka, aku tidak mau pergi. Aku tak akan meninggalkan kamu sendirian di sini melawan makhluk itu sendirian!" Seru Kania.
"Tapi, di sini berbahaya. Makhluk harus darah itu menginginkan darahmu. Kamu harus menyingkir dari tempat ini sekarang..!" jawab Pangeran Arkana lagi.
"Tak ada tapi - tapian. Percayalah kepadaku, aku akan menyusul kalian!!" kata Pangeran Arkana.
Akhirnya Kania mau juga beranjak pergi dari tempat itu. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan tempat itu bersama Zamura yang berjalan lebih dahulu di depannya.
Namun baru saja berjalan beberapa langkah menjauhi tempat, satu sabetan kuku dari Lamma membuat gadis itu tersungkur jatuh ke tanah dengan luka bekas cakaran memanjang dari bahu hingga ke punggung gadis itu.
"Kania..!"
Pangeran Arkana menjadi marah saat melihat Kania yang terluka.Dia segera mendatangi Kania yang kini sudah berada di dalam gendongan Zamura.
"Bawa dia ke tempat aman, aku akan menyusul kalian setelah aku membereskan makhluk itu" kata Pangeran Arkana sambil menghunus pedangnya.
"Baik, Tuanku..! " jawab Zamura.
Segera Zamura menggendong tubuh Kania yang kini sudah terkulai tak berdaya karena luka yang di alaminya akibat cakaran Lamma ternyata sangat dalam menggores punggung gadis itu. Darah yang keluar semakin banyak.
Melihat darah segar yang keluar dari luka di tubuh Kania membuat mata Lamma menjadi berbinar. Dia senang karena melihat dan mencium bau darah yang begitu menggiurkan. Mulutnya terbuka lebar dan dari dalam mulutnya menjulur keluar lidah Lamma yang terus memanjang bergerak menjangkau tubuh Kania yang berada dalam gendongan Zamura.
Melihat hal itu, Pangeran Arkana menjadi semakin marah. Mata pangeran itu kini sudah berganti warna putih bercahaya. Itulah ilmu Mata Malaikat. Ilmu yang digunakan oleh Sang Pangeran jika dalam keadaan terdesak atau diluar batas sabarnya. Kali ini, Pangeran Arkana berada pada kedua situasi itu.
Dengan sekali gebrakkan, pangeran Arkana menyerang mahluk kelelawar itu dengan ilmu mata Malaikat miliknya.
__ADS_1
Mata Pangeran Arkana mengeluarkan sinar putih yang menyilaukan mata.
Pancaran sinar yang berasal dari mata Pangeran Arkana menyambar tubuh Lamma yang tengah mengisap darah segar yang keluar dari punggung Kania.
Ternyata kelemahan makhluk itu adalah saat dia sedang makan. Makhluk itu akan lengah dan mudah sekali untuk di serang.
Pancaran sinar dari mata Pangeran Arkana tepat mengenai tubuh Lamma. Tubuh makhluk jelmaan kelelawar itu terangkat ke atas untuk beberapa saat lalu di hempaskan jatuh ke bumi dengan sangat keras. Menimbulkan suara benturan yang amat dahsyat. Jeritan panjang yang memilukan hati keluar dari mulut Lamma. Sangat mengerikan....
Semuanya yang terjadi, terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Hanya hitungan detik. Dan hanya dengan melalui pandangan mata Pangeran Arkana saja.
Tubuh Lamma diam tak berkutik. Makhluk itu telah tewas oleh ilmu Mata Malaikat yang di miliki Putra Pangeran Alyan. Demikian dahsyat ilmu itu hingga dengan tatapan mata saja sanggup untuk membunuh lawannya. Benar - benar ilmu yang sangat hebat.
Hal yang aneh pun kemudian terjadi. Tubuh Lamma kemudian perlahan - lahan berubah menjadi sesosok bayangan berwujud m manusia yang berwarna putih terang.
"Terima kasih karena sudah menyempurnakan wujudku. Namun sayangnya, kekasihmu hatimu itu sudah terkena cakaran dari kuku Lamma, maka diapun akan menjelma menjadi makhluk penghisap darah seperti diriku. Tepat sebulan dari sekarang, kekasihmu itu akan berubah seperti diriku kecuali kamu bisa menghilangkan kutukan itu. Temukanlah air yang bisa kau rasakan akan tetapi tak bisa kau lihat, namun dapat kau pegang seumur hidupmu. Dengan meneguknya kutukan itu akan hilang dari dirinya dengan sendirinya." kata perwujudan Lamma itu sebelum akhirnya bayangan itu menghilang untuk selamanya.
Pangeran Arkana bergegas menyusul Zamura yang membawa Kania pergi ke suatu tempat.
"Zamura, bagaimana keadaan Kania..?" tanya Pangeran Arkana dengan cemas.
Dia melihat luka di punggung Kania yang terus saja mengalirkan darah.
"Aku rasa kita harus menghentikan darahnya sebelum dia kehabisan darah.. " kata Pangeran Arkana kepada Zamura. Dia lalu membalikkan badan Kania dan kemudian mentotok jalan darah Kania di sekitar lukanya untuk menghentikan pendarahan.
"Kania, sadarlah...!! Kania..! "
Pangeran Arkana berusaha untuk menyadarkan Kania yang masih pingsan. Namun tampaknya gadis itu tak juga kunjung menampakkan tanda - tanda bahwa dirinya akan segera siuman.
"Pangeran, sepertinya kita kedatangan tamu.." bisik Zamura yang berada persis di dekat Sang Pangeran.
Pangeran Arkana kemudian menoleh ke belakang. Benar saja apa kata Zamura.
Di belakang mereka telah berdiri puluhan sosok yang berwujud manusia, berwarna hitam legam dan berwajah seperti harimau. Sosok - sosok itu semuanya berdiri mengelilingi Pangeran Arkana dan Zamura yang sedang berusaha untuk menyadarkan Kania.
"Manusia Harimau...?" guman Pangeran Arkana seperti pada diri sendiri.
"Mereka adalah makhluk yang tadi dilihat oleh gadis itu, tuanku...? " sahut Zamura
Kening Pangeran Arkana berkerut saat mendengar penuturan Zamura. Jadi Kania sudah pernah melihat mereka.
"Apa saat itu, mereka menyerang Kania..? " tanya Pangeran Arkana..
"Tampaknya tidak, tuanku..! " jawab Zamura. "Meraka hanya memandang Kania dari jarak beberapa meter saja."
"Artinya mereka bukan makhluk yang berbahaya. Apa yang mereka inginkan..? " tanya Pangeran Arkana dalam hati.
__ADS_1