
Zyfhar duduk mengawasi Putri Humairah yang sedang duduk dan berdoa. Putri Humairah memang sangat cantik.., pikirnya kemudian.
Diam - diam, dia mencuri pandang ke arah junjungannya yang sedang duduk tepekur dan berdoa. Semakin dia memandang, semakin besar kekaguman pemuda itu kepada junjungannya. Andai saja putri Humairah bukanlah Putri dari junjungannya pangeran Hasyeem, keluh pemuda itu dalam hati.
Tak dapat dipungkiri olehnya bahwa kekaguman di hatinya kepada Putri Humairah lambat laun berubah menjadi rasa sayang dan suka. Namun dia cukup tahu diri, siapa dirinya di mata Putri Humairah. Jadi dia hanya bisa mengagumi Putri Humairah secara diam-diam saja. Sejenak angan Zyfhar melayang jauh di awan membayangkan andai saja Putri Humairah benar-benar mencintai dirinya.
"Zyfhar, sepertinya rasa sakit di kepalaku sudah hilang." ucapan Putri Humairah membuyarkan lamunan Zyfhar akan junjungannya itu.
"Benarkah..? Apakah tuanku putri sudah tidak merasakan demam lagi..?" tanya Zyfhar.
"Sepertinya, demamku juga sudah reda." jawab Putri Humairah lagi.
" Maaf, Tuan Putri.." tanpa terduga, tangan Zyfhar menyentuh kening Putri Humairah.
Twntu saja, Putri Humairah tergagap menerima perlakuan Zyfhar. Putri Humairah merasa gugup dan canggung hingga tanpa sengaja dia menginjak sebuah batu yang membuatnya hampir terjerembab ke belakang.
Tubuh Putri Humairah terhuyung ke belakang hingga nyaris terjerembab jatuh. Untung saja sigap tangan Zyfhar yang kokoh menangkap tubuh Putri Humairah hingga tak sampai jatuh ke tanah. Tubuh Putri Humairah berada dalam dekapan tangan kokoh Zyfhar.
"Hati - hati, Tuan Putri." ucap Zyfhar penuh kekhawatiran. Bukan tanpa sebab, kepala adalah taruhannya jika sampai tuan Putrinya itu kenapa - napa.
Namun, justru yang dilakukan oleh Zyfhar itu membuat Putri Humairah semakin gugup. Wajah dia dan wajah Zyfhar hanya berjarak beberapa senti meter saja. Pipi Putri Humairah sampai bersemu merah karena malu.
"Lepaskan aku..!" sentak Putri Humairah. Wajah Putri cantik itu sudah seperti kepiting rebus karena marah dan malu. Keadaan yang seperti tadi tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya. Meskipun secara sadar tadi, dia sempat membayangkan berada dalam pelukan pemuda itu.
"Ampun, Tuan Putri. Maafkan, hamba. Hamba tidak bermaksud untuk kurang ajar. Hamba hanya ingin memastikan keadaan Tuan Putri. Dan untuk yang tadi, hamba juga reflek saja ingin menolong..." ucap Zyfhar dengan gugup dan takut. Pemuda itu sampai berlutut di hadapan Putri Humairah karena takut akan kemarahan junjungannya.
Putri Humairah menghela nafas panjang. Dia sampai beristighfar karena merasa turut juga bersalah.
"Astagfirullah, maafkan aku, Zyfhar. Aku khilaf." ucap Putri Humairah. "Tak sepantasnya aku marah kepadamu. Aku tahu kamu bermaksud baik. ucap Putri Humairah penuh sesal. "Ayo, bangunlah! Sepertinya kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya jika tidak ingin terjadi sesuatu dengan kita." ucapnya kemudian.
"Jika aku tak salah lihat tadi, sepertinya aku melihat jalan besar di sana." tunjuk Putri Humairah ke suatu arah.
Zyfhar memperhatikan arah telunjuk Putri Humairah. Memang benar, tak jauh dari tempat mereka berada, ada sebuah jalan.
Putri Humairah terbang melesat mendahului Zyfhar ke arah tempat yang di tunjuknya tadi.
"Ayo, Zyfhar. Kita pulang. Kita sudah terlalu lama di tempat ini. Mudah - mudahan, tentara Jin itu sudah tak mengejar kita lagi." suara Putri Humairah sayup - sayup terbawa angin membuat Zyfhar tersadar dan bangun dengan cepat.
Tak ingin kehilangan kehilangan jejak junjungannya, Zyfhar pun berlari secepat kilat untuk mengejar Putri Humairah.
"Tuan Putri, tunggu...! Tunggu..!!" serunya.
"Hahahaha. Ayo, kejar dan tangkap aku, Zyfhar.!" sahut putri Humairah sambil terus saja berlari. Di belakangnya menyusul Zyfhar yang sedang berlari menyusul.
__ADS_1
"Aku akan mengejarmu, Tuan Putri." jawab Zyfhar sambil mempercepat lari. Dia tak ingin kehilangan kesempatan langka ini. Jarang - jarang, Tuan Putrinya itu bersikap demikian. Mengajaknya bercanda, adalah sesuatu yang hampir tak pernah Putri Humairah lakukan.
Kini pun, dia sudah tidak berbicara terlalu kaku dan formal lagi di hadapan putri berwajah cantik itu. Dia sudah menggunakan panggilan aku dan bukan hamba lagi kepada putri Humairah.
Putri Humairah masih berlari kencang sambil tertawa riang. Sejenak mereka melupakan kondisi mereka yang sedang sulit di bukit Malaikat.
Mereka berkejaran - kejaran seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran, bukan sebagai junjungan dan abdi.
"Wah, larimu seperti siput hamil. Pelan sekali. Bagaimana bisa kau mendapatkan aku?" ejek Putri Humairah.
Memanglah sebenarnya Zyfhar tidak sungguh-sungguh mengeluarkan kemampuan larinya yang sebenarnya sangat cepat. Jin dari golongan ini, sebenarnya dapat berlari dengan cepat laksana kilat. Dan bisa membuat dirinya kecil seperti debu atau besar seperti Raksasa.
"Benarkah..? Baiklah. Kali ini aku akan bersungguh-sungguh. Awas saja, aku akan mendapatkan dirimu, Tuan Putri?" Hati Zyfhar panas di ejek seperti siput hamil oleh putri Humairah.
Kali ini diapun berlari dengan sepenuh hati. Karena dia berasal dari golongan jin yang bersayap maka dia bisa berlari dengan cepat. Dengan mudahnya, dia pun dapat menyusul Putri Humairah. Dan akhirnya
"Aku mengalahkan dirimu, Tuan Putri.. " Zyfhar tersenyum penuh kemenangan saat dirinya berdiri di hadapan Putri Humairah.
Putri Humairah tak bisa lagi berkutik. Dia mengakui, ilmu lari cepat miliknya kalah dengan larinya Zyfhar. Namun dia tak mengakui kekalahannya di depan pemuda itu.
"Hmmm, bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau mengalahkan aku..? Aku tidak Terima. Tidakkah kau menggunakan kemampuanmu untuk mengalahkan aku...?" ucap Putri Humairah.
"Tuan Putri, aku hanya sedikit saja mengeluarkan kemampuan lari cepatku. Bagaimana, Tuan Putri..?apakah tuan putri sudah mengaku kalah. .?"
Merasa di perhatian oleh Zyfhar, putri Humairah menoleh dan balas menatap pemuda itu. Sebenarnya, di dalam hati dia mengakui kehebatan pemuda itu, tapi rasanya amat sulit untuk menerima kekalahannya.
" Baiklah, aku mengakui. Tapi kau juga curang. Tentu saja kau menang karena kau kan memiliki sayap. Tentu saja larimu bisa secepat kilat." ucap Putri Humairah.
" Itu memang sudah bakat bawaan, Tuan Putri. Bangsa kami semuanya terlahir dalam wujud seperti ini." jawab Zyfhar lagi.
" Maaf, aku tidak bermaksud untuk menghina keadaan dirimu. Banggalah menjadi dirimu. Banyak di antara bangsa kami yang ingin memiliki sayap seperti dirimu.." ucap Putri Humairah.
"Benarkah, aku merasa sungguh beruntung sekali." ucap Zyfhar. Wajahnya berbinar mendengar pujian Putri Humairah.Putrinya sudah mulai genit.
Putri Humairah memandang wajah Zyfhar yang sedang tersenyum ceria. Baru kali ini dia memandang wajah pengawal pribadinya itu secara langsung.
Ternyata Zyfhar memiliki wajah yang sangat tampan. Entah itu wajah aslinya atau bukan, tetapi ia tahu, wajah yang dilihatnya itu sangatlah tampan. Rambutnya yang panjang aku - aku
Rambut Zyfhar yang berwarna putih Abu - Abu sewarna dengan warna kulitnya yang berwarna putih pucat. Namun yang menyolok adalah warna mata Pemuda itu. Semuanya berwarna merah. Sehingga ketampanan itu terlihat mengerikan jika di pandang mata.
Apalagi jika Zyfhar berada di dunia manusia seperti dirinya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang - orang di desa. saat melihat pemuda itu. Di tambah lagi sepasang taring kecil di sudut bibirnya. Benar - benar seperti monster. Untung saja Zyfhar tak memiliki tanduk. Atau apakah wujud asli Zyfhar memiliki tanduk? pikir Putri Humairah.
Menurut ayahnya, jin yang memiliki tanduk adalah jin kafir. Apakah Zyfhar juga termasuk di dalamnya..? Mengapa Zyfhar sampai menjadi pengawal pribadi ayahnya jika pemuda itu berasal dari jin kafir. Putri Humairah sibuk bertanya - tanya dalam hati.
__ADS_1
Tanpa dia sadari, putri bungsu pangeran Hasyeem itu terpesona dan terus saja memandang wajah Zyfhar.
Hal itu tentu saja membuat Zyfhar heran. Junjungannya itu apakah sedang melamun memikirkan sesuatu atau memang sedang memandangnya, pikir pemuda itu dalam hati.
Entah disadari atau tidak, tubuh keduanya saling mendekat lalu merapat. Dan tidak tahu siapa yang memulai, namun yang pastinya, kedua bibir itu bertemu dan saling bertaut. Kedua insan yang berbeda jenis itu saling berciuman dengan mesranya. Canggung namun begitu indah.
Sayangnya, ciuman itu hanya sesaat saja. Karena Detik berikutnya, Zyfhar langsung tersadar dan buru - buru melepaskan diri. Pemuda itu langsung berlutut di hadapan Putri Humairah.
"Ampunkan hamba atas kekurangajaran hamba, Tuan Putri.. " ucapnya dengan tubuh gemetar karena menahan malu dan juga takut.
Putri Humairah langsung sadar dari keadaan yang menghanyutkan tersebut. Sama halnya dengan Zyfhar, Dia pun merasa sangat malu. Malu karena merasa tidak semestinya dirinya Sebagai seorang putri berbuat demikian.
"Sudahlah Zyfhar. Bukan kesalahanmu. Salahlah juga diriku. Tak mampu aku menahan godaan hati, hingga terjadilah hal yang demikian tadi. Andai saja aku bisa menahan diri." ucap Putri Humairah.
"Maafkan hamba Putri. Seharusnya hambalah yang pantas di hukum. Karena telah berani berbuat yang tidak sepantasnya terhadap tuan Putri. Tapi hamba memang sungguh tak pandai menahan diri. Karena hamba.....akh sudah lupakan saja. Sekali lagi, hamba mohon maaf, Tuan Putri.." ucap pemuda itu tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Apakah kau, mencintaiku, Zyfhar...?" tanya Putri Humairah tiba-tiba.
Zyfhar terdiam mendengar pertanyaan Putri Humairah. Apakah dirinya mencintai junjungannya itu. Jawabannya sudah pasti iya. Namun, yang jadi pertanyaan, apakah dia pantas..?
"Ampunkan hamba, Tuan Putri. Hamba tidak berani... " jawab Zyfhar semakin dalam dia menundukkan kepalanya. Dia tak sanggup jika mengangkat kepalanya dan menatap wajah junjungannya itu.
Putri Humairah terdiam mendengar jawaban Zyfhar. Dia bertanya dalam hati mengapa Zyfhar tidak berani menyatakan cinta kepada dirinya. Pemuda itu malah memiliki memendam cintanya dari pada menyatakan perasaannya. Dia cuma bisa mengagumi dan menjadi pengagum rahasia putri Humairah.
'Sebenarnya, apa yang kamu takutkan, Zyfhar..?" tanya Putri Humairah dalam hati. ..." Apakah salah seorang abdi mencintai junjungannya..?" tanya Putri Humairah lagi.
"Maafkan hamba tuan Putri. Bukan hamba takut mengatakan cinta padamu. Tapi, ...hamba merasa sangat tidak pantas sekali. Karena hamba hanyalah pengawal biasa bukan pangeran ataupun raja - raja," ucap Zyfhar dalam hati dengan sedih.
"Bangkitlah, Zyfhar. Aku mengampunimu." ucap Putri Humairah seraya berlalu dari hadapan Zyfhar. Putri itu lantas kembali melesat terbang meninggalkan Zyfhar yang kemudian turut menyusul Putri Humairah. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan pulang tanpa saling berbicara lagi.
Sesampainya di dekat istana Bukit Malaikat, Putri Humairah mengeluarkan sebuah cincin. Cincin itu bisa membawa keduanya memasuki istana bukit Malaikat tanpa kesulitan sedikitpun juga.
Dengan mudahnya, mereka memasuki istana dan menutup kembali. Semua itu benar - benar di bawah kendali Pangeran Hasyeem.
Sedang asyik berjalan menuju istana, tiba - tiba Putri Humairah merasakan tangannya di sentuh oleh seseorang.
??.
??
????
....
__ADS_1
ayo siapa....????