
Zahra tersadar dan terbangun dari tidurnya. Dia melihat Khalied, pemuda itu masih berada di sebelahnya. Ternyata semua itu hanyalah mimpi belaka.
Sangat miris, akibat terlalu cemburu terhadap Khalied, sampai - sampai Zahra memimpikan Khalied bersama gadis lain.
"Kamu mimpi buruk..?" tanya Khalied pada Zahra yang sedang menatapnya.
Pangeran tampan itu melihat wajah murung kekasihnya yang terbangun dari tidur.
Zahra menganggukkan kepalanya. Rasa kesal di hatinya masih lagi tertinggal di sana. Meskipun dia tahu, apa yang dialaminya tadi cuma mimpi.
"Iya, tadi aku bermimpi buruk tentang kakak.." kata Zahra dengan wajah masghul. Dia teringat kembali mimpinya tadi dan menjadi jengkel.
"Hmm, pasti mimpinya tentang aku dan gadis lain, kan..?" tebak Khalied.
Mata Zahra terbelalak kaget mendengar ucapan pangeran Khalied. Bagaimana Khalied bisa tahu apa yang ada di dalam mimpinya, pikir Zahra.
"Aku kebetulan saja menebak semua itu. Hanya dengan melihat ekspresi wajahmu saja, aku sudah bisa menebak apa yang baru saja kamu mimpikan, hahaha..!" meledaklah tawa Pangeran Khalied.
Zahra terdiam tak bisa berucap. Menghadapi kekasih seperti Khalied nampaknya sulit untuk berbohong.
Pemuda itu terlalu pintar untuk di bodohi. Seakan-akan, tak ada celah bagi Zahra untuk berbohong.
__ADS_1
"Huhhhh... jika menilai dari mimpi yang kualami, mungkin itu suatu pertanda agar aku tidak menikah denganmu.." sungut Zahra.
"Tidak bisa seperti itu. Mimpi tidak bisa di jadikan tolak ukur akan tanda - tanda pernikahan itu baik atau tidak. Bisa saja itu adalah kebalikannya. Atau mungkin ketakutan terdalam dalam diri seseorang akan suatu hal. Mungkin saja kecemburuan kamu kepada Mei Fang membuat kamu kemudian memimpikan yang tidak - tidak tentang aku dan dia.. " Sengit Pangeran Khalied.
Dia menjadi kesal karena Zahra mengaitkan mimpinya dengan rencana mereka untuk menikah.
"Tapi dalam mimpi itu, semuanya seperti pernah terjadi. Aku pernah memimpikan mimpi yang sama jauh sebelum aku mengenal dirimu. Saat itu aku melihat seorang gadis datang dan melamar kamu untuk di jadikan suaminya."
Degg...
Jantung Pangeran Khalied berdetak kencang. Zahra mengalami mimpi yang sama dengan kejadian yang pernah mereka alami.
Hanya saja, pada saat itu dia belum memacari Zahra dan mereka masih belum saling mengenal.
Tidak, itu tidak boleh terjadi. Zahra tidak boleh membatalkan rencana pernikahan mereka.
Sekarang giliran Pangeran Khalied yang merasa cemas.
"Kak, bagaimana jika aku benar-benar membatalkan pernikahan kita." tanya Zahra tiba-tiba.
"Tidak, kau tidak boleh seperti itu. Aku akan segera menikahimu. Jika perlu malam ini juga kita menikah." kata Pangeran Khalied gusar.
__ADS_1
Zahra menatap Khalied dengan perasaan gamang.
"Sudahlah, sekarang sudah hampir pagi. Aku mau kembali tidur.!" ucap Zahra.
Zahra lantas menarik selimutnya yang melorot turun di kakinya. Gadis itu kembali memejamkan matanya
***
Sementara itu, Pangeran Arkana sedang menunggu seseorang. Sejak tadi, pandangan mata pangeran muda itu jeli menatap ke satu arah.
Dia menunggu seseorang. Seseorang yang saat ini sedang mengerjakan tugasnya yaitu merawat pasien - pasien di rumah sakit ini.
Akan tetapi gadis yang dia tunggu itu tak juga kunjung menampakkan diri. Pangeran Arkana menjadi tak sabar. Dia mulai gelisah.
Karena lama menunggu, akhirnya Pangeran Arkana sudah tak bisa sabar lagi. Dia kemudian memutuskan untuk mendatangi rumah sakit milik bibinya tersebut.
Dilihatnya, Kania sedang asyik berbicara dengan seorang.
Awalnya dia ingin menghampiri Kania secara langsung. Akan tetapi tiba-tiba saja dia melihat sesuatu mengikuti Kania.
Sesuatu seperti sesosok ular besar berwarna putih sedang berjalan di belakang Kania. Tampaknya ular tersebut adalah sosok Siluman yang menghuni rumah sakit ini.
__ADS_1
Saat Ular tersebut hendak menyemburkan sesuatu dari mulutnya ke tubuh Kania, Pangeran Arkana dengan sigap menyambar dan menangkap ular tersebut seperti gerakan elang yang menyambar Cobra. Pangeran Arkana melemparkan ular tersebut jauh - jauh.
"Enyahlah dari tempat ini siluman ular busuk.. !" usir Pangeran arkana.