Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 162 MP


__ADS_3

Pangeran Khalied dan Zahra akhirnya menikah. Pernikahan kedua insan yang berbeda alam itu sejatinya adalah takdir Allah juga. Di dunia ini, apakah ada yang tak mungkin. Semuanya mungkin saja dan akan selalu ada kemungkinan.


Pangeran Khalied telah menjatuhkan pilihan kepada Zahra. Gadis miskin yang sudah ditinggal pergi sang ayah yang menghadap sang Khalik sewaktu Zahra masih kecil.


Pangeran Khalied telah jatuh cinta kepada gadis penjual kue bulan yang di tolongnya. Melalui perjalanan panjang dan penuh dengan kisah petualangan serta ujian cinta hingga sampai akhirnya bisa sampai ke pelaminan ini.


Sekarang kita pergi dulu ke acara pesta pernikahan Pangeran Khalied dan Zahra. (Sstt...bawa kado berupa like, komen dan Vote, hehehe ).


Banyak tamu undangan yang datang menghadiri pesta pernikahan itu. Mereka semua adalah para tetangga dan juga tamu undangan dari desa sebelah.


Tentu saja keluarga besar pangeran Hasyeem dari bukit Malaikat dan bukit Duri hadir dalam acara yang sakral ini. Putra terakhir pangeran Hasyeem telah mengakhiri masa lajangnya.


Juga para raja - raja Sekutu Pangeran Hasyeem. Tak ketinggalan pula, Kakek Pangeran Khalied yaitu Raja Haizzar dan Ratu Kalina. Tentu saja, mereka datang dengan pakaian dan gaya busana layaknya manusia.


Mereka para tamu yang datang silih berganti itu adalah rakyat pangeran Hasyeem dari istana Bukit Malaikat dan dan juga istana Bukit Duri.


Mereka datang untuk menyaksikan acara ceremonial Pernikahan Pangeran Khalied dan Zahra yang merupakan anak dari junjungan mereka


Warga desa di mana Zahra tinggal dibuat bingung dengan kehadiran tamu - tamu undangan yang berjibun. Mereka tidak mengenal tamu - tamu tersebut karena baru kali ini melihat dan bertemu.


Tetapi anehnya, para tamu tersebut tak ada yang menyentuh makanan atau minuman yang terhidang di pesta itu.


Seperti yang kita ketahui, pernikahan pangeran Khalied dan Zahra laksanakan di rumah kediaman Zahra, pada hari Sabtu pagi pukul 10.00. Upacara itu berlangsung khidmat dan syahdu.


Zahra yang tampil sempurna duduk di sisi Pangeran Khalied yang dengan lancar mengucapkan akad nikah di depan penghulu yang bertindak sebagai wali hakim karena Zahra tidak lagi mempunyai ayah.


"Bagaimana, apakah sah..?" tanya Pak Penghulu.


"SAH...!" Ucap para saksi.


Dengan terucapnya kata sah dari para saksi maka resmi terjalin ikatan suci antara pangeran Khalied dan Zahra dalam ikatan benang merah pernikahan. Zahra pun resmi menjadi istri pangeran Khalied.


Zahra dan pangeran Khalied duduk bersanding di pelaminan dengan wajah yang berseri - seri.


Zahra yang cantik terlihat semakin cantik dengan balutan kebaya berwarna putih. Di tambah dengan hiasan bunga melati pada sanggu Zahra semakin membuat kecantikan Zahra bersinar.


Pangeran Khalied pun tak kalah tampan. Dengan balutan pakaian kebesaran dari istana, Putra pangeran Hasyeem itu terlihat sangat gagah dan berkharisma.


Senyum bahagia terlukis di wajah cantik Zahra. Demikian juga dengan pangeran Khalied. Kedua insan itu tak hentinya menebar senyum dan canda.


Pesta itu pun berlangsung sangat meriah sampai malam hari.

__ADS_1


Menjelang tengah malam, barulah pesta tersebut usai. Pangeran Hasyeem dan seluruh tamu undangan pulang ke rumah masing-masing. Demikian juga halnya dengan rakyat Bukit Malaikat dan Bukit Duri.


Zahra segera masuk ke dalam bilik Pengantin untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, Pangeran Khalied menyusul masuk ke dalam kamar.


Saat melihat Zahra sudah selesai membersihkan diri, pangeran Khalied pun lantas turut pula membersihkan diri.


Setelah selesai, pangeran Khalied lantas pergi menemui Zahra yang sudah bersiap - siap di atas tempat tidur.


"Assalamu'alaikum, Istriku sayang." kata Pangeran Khalied sambil mencium tangan Zahra.


"Waalaikum sayang, Suamiku tercinta." balas Zahra dengan malu - malu.


Gemas dengan Zahra yang malam ini sangat manis sekali, Pangeran Khalied pun langsung memeluk dan mencium Zahra dengan penuh gairah.


"Zahra, bolehkah kakak meminta hak kakak malam ini..?" tanya Pangeran Khalied.


Zahra menundukkan kepalanya. Dia gugup ketika pangeran Khalied bertanya seperti itu. Padahal dia tadi sudah berkata dalam hatinya bahwa dia akan menyerahkan diri seutuhnya untuk Khalied malam ini.


Akhirnya Zahra mengangguk.


"Tapi Zahra malu, Kak. Di luar masih banyak orang." kata Zahra pelan.


Pangeran Khalied mengerti karena memang saat ini, di luar sana, masih banyak tetangga dan kerabat Zahra yang masih sibuk berbenah membersihkan sisa - sisa pesta.


"Benarkah??" ucap Zahra dengan raut wajah heran. "Di mana itu, Kak..? tanya Zahra penasaran.


"Ikutlah denganku. Aku akan membawa kamu ke sana sekarang." ajak Pangeran Khalied. Pemuda itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Zahra.


Zahra mengangguk dan segera berdiri menyambut uluran tangan Pangeran Khalied. Dalam sekejap kedua pasangan sejoli yang baru saja sah sebagai suami istri itu lenyap dari bilik pengantin.


"Kak Khalied, kita ada di mana..?" tanya Zahra penuh keheranan sambil mengedarkan pandangan matanya ke. seluruh tempat itu.


Di sekeliling tempat itu adalah sungai. Tempat itu amatlah mirip seperti istana bukit Malaikat. Tapi tempat ini bukan istana bukit Malaikat. Dia seperti mengenal tempat itu. Tapi mustahil rasanya tempat ini bisa berubah secepat itu.


"Apakah tempat ini istananya Barda kemarin..?" tanya Zahra pada Pangeran Khalied.


"Iya, benar sekali. Kita ada di istana Badra. Kau lihat di sana..?" tunjuk Pangeran Khalied ke arah bawah di sebelah barat Istana.


Zahra menoleh ke arah yang ditunjuk Pangeran Khalied. Di antara kegelapan malam, Zahra dapat melihat sebuah taman kecil yang indah di terangi lampu taman yang terang hingga keadaan di sekitar tempat itu terlihat indah. Di tengah - tengah taman itu di letakkan sebuah tempat tidur berukuran besar yang bertabur bunga - bunga mawar merah dan putih.


"Wahhh, indah sekali...!seru Zahra dengan mata berbinar.

__ADS_1


" Kau ingin ke sana..?" tanya Pangeran Khalied.


Zahra menganggukkan kepalanya. "Aku mau..!" jawab Zahra.


Pangeran Khalied segera menggendong Zahra dan terbang menuju ke taman di bawah sana.


Dengan hati - hati pangeran Khalied membaringkan tubuh Zahra di sana. Pangeran Khalied membacakan doa sebelum berhubungan dan meniup ubun ubun Zahra.


Setelah itu, Pangeran Khalied menindih tubuh Zahra dan menatap Zahra mata Zahra dengan penuh gairah.


Tak ada kata - kata yang keluar dari mulut keduanya. Bibir pangeran Khalied sudah memagut bibir Zahra dan mengulumnya dengan penuh nafsu.


Kemudian bibir itu berpindah ke leher Zahra yang putih bersih. Tak tahan untuk tidak memberikan tanda kepemilikan di sana.


Tanpa Zahra sadari, pakaian yang melekat di tubuh Zahra satu persatu lenyap.


Tubuh Zahra menggelinjang hebat ketika ciuman Pangeran Khalied mendarat di kedua gunung kembar milik Zahra yang kini sudah mengeras dan membusung.


"Kak, Zahra malu.." bisik Zahra.


"Hemm, apa. kamu lebih suka yang sedikit gelap." tanya Pangeran Khalied.


Zahra menganggukkan kepalanya dang memejamkan. matanya karena menahan gejolak di dalam dirinya yang menanti belaian Pangeran Khalied.


Tangan Pangeran Khalied bergerak di udara dan dalam sekejap mata suasana di tempat itu kini berubah menjadi sedikit gelap dan temaran.


"Zahraaa...!" bisik Pangeran Khalied ketika kemudian pemuda itu sudah mulai memasuki tubuh Zahra.


Jeritan tertahan keluar dari mulut Zahra ketika rasa perih karena terasa ada yang robek. di dalam sana.


Pangeran Khalied melabuhkan ciuman di bibir Zahra agar perhatian gadis itu teralihkan. Sampai miliknya benar-benar masuk seluruhnya. Pangeran Khalied melepaskan ciumannya dan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan pelan.


Satu sentuhan lolos dari mulut Zahra sebelum kemudian tubuh gadis itu melenting ke atas dan kembali lagi ke bawah.


Merasa jika kemudian Zahra mulai menikmati permainan ini, maka Pangeran Khalied mulai menggerakkan pinggulnya agak cepat. Semakin lama. semakin cepat hingga kemudian wajah pangeran Khalied terdongak ke atas.


Dia menyemburkan lahar putih panas miliknya di dalam tubuh Zahra.


Zahra memekik perlahan sambil mengangkat pinggulnya tinggi - tinggi.


"Kak, Khalied.. ! Seru Zahra tertahan.

__ADS_1


Tubuh Zahra yang bersimbah keringat di peluk oleh Pangeran Khalied .


Tak beberapa lama kemudian Pangeran Khalied kembali lagi menusukkan pedang tumpul miliknya ke tubuh Zahra.Ternyata permainan ini belum berakhir.


__ADS_2