
Mama..! Papa... !!" seru gadis kecil itu kemudian.
Putri Humaira dan Zyftar serentak saling pandang.
Mama, papa...???
Siapa yang dipanggil gadis kecil itu dengan panggilan mama dan papa..? pikir keduanya heran.
"Mama, kita ada di mana!" gadis kecil itu mengguncang tangan Putri Humaira membuat Putri pangeran Hasyeem itu akhirnya sadar jika yang dipanggil mama itu sudah tentu adalah dirinya.
Jika yang dipanggil mama itu adalah dirinya maka berarti yang dipanggil der panggilan papa tadi adalah... Zyftar.
"Kita ada di rumah sakit, sayang. Tadi Balqis sakit. Makanya di bawa kemari..!" kata Putri Humaira dengan lembut.
"Papa, benarkah...? Balqis sakit ya, Pah..?" tanya Balqis dengan ekspresi yang menggemaskan.
Zyftar masih merasa canggung dengan sebutan itu. Apalagi Balqis memanggil Putri Humaira dengan panggilan mama. Dia merasa sangat sungkan dan juga malu.
"Zyftar, Balqis bertanya padamu. Jawab saja. Aku tak apa - apa. Toh itu hanya panggilan..." kata Putri Humaira.
Hebat banget, Putri Humaira, pikir Zyftar. Dia mengetahui apa yang ada di dalam pikiran dan hati Zyftar.
"Iya, sayang. Tadi malam Balqis sakit dan badannya demam. Jadi di bawa kemari sama mama." jawab Zyftar dengan canggung.
Balqis memanggil Putri Humaira dengan panggilan mama. Dia heran, di kehidupan yang mana, dia menjadi mama bagi Balqis. Dan Putri Humaira juga jadi penasaran, apakah Zyftar memang suaminya di kehidupan yang lain itu.
Wajah Putri Humaira bersemu merah seperti terkena panas matahari. Dia menjadi malu dan salah tingkah karena ulah gadis kecil yang bernama Balqis itu.
Rupanya saat mengembalikan ruh Balqis tadi, gadis kecil itu telah kehilangan seluruh ingatannya akan siapa dirinya. Dia seperti terlahir kembali layaknya seorang bayi.
Maka dari itu, Balqis tidak ingat siapa pun kecuali orang yang selalu bersama dirinya di saat - saat terakhir. Dan orang itu adalah Zyftar dan Putri Humaira.
Karena hari sudah pagi, mereka akhirnya memutuskan untuk tidak jadi kembali ke Bukit Malaikat. Lagi pula, sekarang ada Balqis di antara mereka. Bagaimana cara menjelaskan kehadiran bocah itu kepada Pangeran Hasyeem.
__ADS_1
"Kita harus bagaimana, ini Zyftar?" tanya Putri Humaira bingung.
Putri Humaira bingung, Zyftar juga sama bingungnya. Pemuda dari bangsa jin ini sama sekali tidak tahu cara merawat anak kecil. Dia tak pernah berurusan dengan anak kecil sebelumnya.
Namun hal yang membuat dirinya sangat merasa bingung adalah bagaimana caranya membawa Balqis ke negeri jin. Bisakah gadis itu menyesuaikan diri di sana..?
Putri Humaira akhirnya memutuskan untuk mengajak Balqis dan Zyftar singgah di rumah kakaknya, yaitu Putri Aryyan.
Rumah Putri Arryan terletak di belakang rumah sakit ini. Dan di sanalah saat ini mereka berada.
Putri Arryan kaget bukan kepalang karena melihat adiknya membawa seorang bocah perempuan yang cantik.
Bocah itu sangat lengket dengan adiknya.
"Dinda Putri Humaira, Zyftar..? Apa yang terjadi..?" tanya Putri Arryan.
"Tidak ada. Aku hanya numpang istirahat saja. Karena mau ke Bukit Malaikat, sudah tanggung. Apa lagi sekarang ada Balqis.." kata Putri Humaira.
"Siapa Balqis..? Apakah yang kau maksud gadis kecil ini, Dinda...?" tanya Putri Arryan menunjuk gadis kecil yang ada di gendongan Zyftar.
Putri yang masih saja terlihat cantik meski sudah memiliki beberapa orang putra dan putri yang sudah beranjak dewasa, merasa heran. Lantas kemudian dia pun bertanya sekali lagi apa yang telah terjadi.
"Katakan saja, Apa yang terjadi, Dinda. Siapa sebenarnya Balqis...?"
Putri Humaira dan Zyftar bergantian menjelaskan kepada Putri Arryan tentang semua yang telah terjadi secara urut. mulai dari dirinya yang secara tak sengaja bertemu dengan ruh Balqis yang bersedih di rumah sakit, sampai kemudian dia yang menolong gadis kecil itu dari cengkraman para iblis yang ingin berebut merampas ruh gadis itu. Dan tak lupa juga bagian tentang orang tua Balqis yang rupanya telah membunuh putrinya untuk dijadikan tumbal.
Putri Arryan mendengarkan dengan seksama. Wajahnya Putri Arryan berubah serius ketika mendengar ayahnya memperbolehkan pengawal pribadi adiknya itu untuk memegang pedang Halilintar. Apa maksud ayahandanya itu berbuat demikian. Apakah Zyftar memiliki kelebihan yang tidak diketahui oleh dirinya kecuali ayahnya.
"Sepertinya kalian memang berjodoh dengan anak itu. Mungkin juga Kalian berjodoh untuk menjadi pasangan suami istri dan orang tua bagi gadis kecil ini...!" kata Putri Arryan.
Putri Humaira merasa heran. Dia lupa, kakak perempuannya itu bisa mengetahui isi hati orang lain. Apakah kakaknya juga tahu, bahwa diam - diam dia menyukai Zyftar. Putri Humaira mencintai pengawalnya itu namun tak berani berucap karena takut.
Putri Arryan tersenyum menggoda. Dia tahu apa yang ada di pikiran kedua makhluk di hadapannya ini.
__ADS_1
Maka dengan ekspresi menggoda dia bertanya pada Zyftar yang sedang menggendong Balqis.
"Zyftar, andaikan saja Putri Humaira mencintaimu, apakah kau merasa keberatan menerima cinta adikku..? tanya Putri Arryan kepada Zyftar.
Wajah Putri Humaira langsung pucat pasi dan kemudian berubah merah semerah tomat.
Sementara itu, Zyftar yang ditanya merasa gugup. Dia melirik Putri Humaira yang juga sedang menatap ke arah dirinya.
"Ampun, Tuanku. Hamba tidak berani. Putri Humaira adalah milik Pangeran Sa'if. Kecuali jika ayahanda Tuan Putri sendiri yang memutuskan, maka hamba akan menerima semua anugrah itu dengan senang hati." kata Zyftar.
Putri Humaira dan Putri Arryan saling pandang. Tahulah sekarang Putri Humaira, bagaimana perasaan Pengawal Pribadinya itu terhadap dirinya. Rupanya, meraka sama-sama saling memendam perasaan.
Hal itu wajar saja, mengingat Zyftar adalah seorang abdi pengawal. Dirinya sadar diri karena tidak mungkin mendapatkan seorang putri Humaira yang merupakan junjungannya dan tunangan dari Pangeran Sa'if.
"Baiklah, nanti saja kita bicarakan masalah ini. Sekarang kalian beristirahat saja dulu. Putri Humaira, Zyftar, kalian boleh menempati kamar yang mana saja. Tidur dimana pun kau mau. Aku tak bisa lama - lama di sini. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Oh, iya kak Andros dan anak-anak ada di bukit Malaikat sekarang." kata Putri Arryan.
"Terima kasih, Kanda Putri Arryan. Aku memang membutuhkan istirahat walaupun hanya sejenak." kata Putri Humaira.
"Tidurlah, Tuan Putri. Aku akan menjaga Balqis di sini, Tuan Putri boleh beristirahat sekarang. Tentunya Tuan Putri merasa lelah karena semalaman anda belum ada tidur." kata Zyftar.
Putri Humaira menoleh ke arah Balqis. Rupanya gadis kecil itu sudah tertidur di pelukan Zyftar. Pantas saja pemuda itu menyuruhnya untuk tidur.
"Lalu, bagaimana denganmu, Zyftar. Bukankah kamu juga butuh istirahat..?" tanya Putri Humaira lagi.
"Aku sudah terbiasa. Aku akan tidur setelah nanti aku membutuhkannya." kata Zyftar.
"Bawa saja Balqis dan baringkan di kamar. Lalu kau bisa tertidur juga." kata Putri Humaira.
"Baik, tuanku...!"
Zyftar kemudian membawa Balqis ke dalam kamar dan membaringkannya di kasur.
Putri Humaira pun merebahkan diri di samping Balqis dan ikut pula tertidur. Keduanya tidur di kasur yang sama. Balqis tertidur dalam pelukan Putri Humaira.
__ADS_1
Sementara itu, Zyftar memandang kedua orang wanita yang tertidur di depannya dengan tatapan yang sukar dilukiskan. Mata merahnya itu berbinar sejenak dan berubah warna kuning lantas kembali lagi berubah warna menjadi merah kembali.
"Selamat tidur, Tuan Putri Humaira. Aku mencintaimu dalam diam, dan itu adalah hal terindah yang pernah aku rasakan dalam hidupku."