
"Apakah kakak mengetahui apa isi pikiranku saat ini...?" tanya Zahra lagi.
"Sayangnya, kau adalah pengecualian. Aku sama sekali tak bisa membaca isi hati dan pikiranmu." ucap Pangeran Khalied dengan jujur.
"Mengapa bisa demikian, kak...?" tanya Zahra penasaran.
"Entahlah, aku juga tak tahu, mengapa aku tak bisa membaca jalan pikiranmu. Sejak pertama melihatmu, aku sangat tertarik padamu. Hanya kamu gadis yang tak bisa ku baca isi hati dan jalan pikirannya. Ada sesuatu dalam dirimu yang menghalangi aku untuk masuk ke sana."
"Sesuatu, seperti apa...?" tanya Zahra lagi.
"Pancaran aura kamu berwarna kuning keemasan dan gemerlap. Aura yang amat indah. Amat jarang manusia yang memiliki aura yang seperti itu. Mungkin itu juga sebabnya, aku tak bisa memasuki alam pikiranmu.." ucap pangeran Khalied.
Zahra tertarik ketika mengetahui bahwa pangeran Khalied bisa melihat aura seseorang.
"Kak, Khalied. Apakah bangsa suka pada manusia yang memiliki aura terang." Tanya Zahra.
"Bangsa jin menyukai aura manusia yang berwarna merah atau berwarna gemerlap. Entahlah, aura seperti itu mempunyai daya tarik tersendiri bagi bangsa kami."
"Apakah semua anggota keluarga kakak menguasai keahlian untuk mengetahui isi hati dan pikiran lawan bicara mereka...?"
"Ayahku, kedua kakak laki-lakiku dan aku. Sedang kakak perempuanku dan Putri Humaira tidak memiliki keahlian tersebut. Jadi intinya, hanya anak laki-laki dari ayahku saja dan juga cucu laki-lakinya yang memiliki keahlian tersebut."
"Menarik sekali, ya Kak. Mengapa hanya anak laki-laki saja yang memiliki keahlian tersebut." kata Zahra.
"Itu karena anak lelaki itu istimewa..!" kata pangeran Khalied sambil menepuk dada dan berjalan ke depan dengan membusungkan dada.
__ADS_1
Zahra tertawa melihat tingkah pangeran Khalied.
"Oh, ternyata pangeran Khalied yang tampan dan baik hati bisa juga sombong." Ucap Zahra.
"Hmm, apakah itu pujian atau ejekan. Aku lihat dulu, ucapan tampan dan baik hati itu pujian, tapi ucapan sombong, ckckckck... aku rasa kau mengejekku putri Zahra.." ucap pangeran Khalied.
"Hahaha, lucu sekali saat kau memanggilku putri Zahra. Apa aku pantas mendapat panggilan itu..?"tanya Zahra sambil tersipu malu.
"Apanya yang lucu..? Mengapa kau bertanya seperti itu...? " tanya Pangeran Khalied.
"Iya, rasanya aneh saja. Lagi pula, aku bukanlah seorang putri raja, kak. Berbeda denganmu, kau seorang pangeran.." ucap Zahra sendu.
"Bagiku itu semua hanya gelar. Tak menjamin seorang mulia atau tidak.Lagi pula gelar dari manusia tak atau makhluk Tuhan lainnya, tak akan membawamu ke surga. hanya gelar dari Allah yang akan memastikan bahwa kau masuk golongan mana. Dan golongan itulah yang membawamu ke surga. Golongan muslimin atau kafirun. Gelar taqwa atau kafir, itulah yang menentukan kamu pantas tidaknya untuk berada di sisi Allah.." ucap Pangeran Khalied panjang dan lebar. Pangeran tampan itu menggandeng tangan Zahra.
Zahra makin tersipu malu ketika pangeran Khalied kemudian mencium tangan gadis itu.
"Cobalah kau lihat Zahra, dia rupanya masih belum bisa menerima kematian ibunya. Sejak tadi, aku perhatian, gadis itu berbicara sendiri, kadang-kadang tertawa tertawa sendiri. Aku jadi kasihan. cantik - cantik stress.."
"iya, kasihan sekali memang. Tapi kalau di suruh ngawinin si Zahra buat jadi bibi kedua, aku sih kagak nolak. Biar aja stress, yang penting cantik, hehehe.. "
Andai mereka tahu, bahwa saat ini Pangeran Khalied mendengar apa yang diucapkan oleh mereka, pasti mereka tak akan berani untuk menggunjing Zahra.
"Aduh,... mengapa kau menjewer telingaku...?"
"Enak saja, kau menuduhku. Bukannya kamu yang tadi menarik telingaku."
__ADS_1
"Aku tidak melakukannya. Kau lihat, kan. tanganku di sini, jadi bagaimana caranya aku bisa menjewer telingamu?" jawabnya
" Aku juga, bagaimana caranya aku menjewer telingamu . Aku berjalan di sampingmu...?"
Mereka saling pandang. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi.... tak ada siapapun di sana. Jadi... siapa yang melakukannya...?
Menyadari bahwa tak ada siapapun di sana, maka tanpa di komando lagi, keduanya langsung kabur dari tempat tersebut dengan wajah yang pusat pasi karena ketakutan.i.
"Hantu......!! " teriak keduanya sambil lari tunggang langgang ketakutan. Mengira bahwa mereka telah di ganggu setan kuburan.
***
Malam baru saja merangkak hadir menggantikan siang yang terik.
Di sebuah hutan yang lebat, sesosok bayangan berkelebatan di antara rimbunnya pepohonan yang ada di hutan tersebut. Warga sekitar menyebutkan nama hutan tersebut, yaitu Alas Roban.
Alas Roban, demikian penduduk di sekitar tempat itu menyebutnya. Hutan ini terkenal angker dan amat menakutkan bagi penduduk di sekitar tempat itu.
menurut kepercayaan masyarakat sekitar, hutan alas Roban memiliki sebuah pasar ghaib dan juga beberapa penampakan makhluk ghaib yang berjualan di sekitar tempat itu.
Bukan hanya itu saja, hutan alas Roban juga sering memakan korban.
Hutan alas Roban adalah hutan yang dilalui oleh jalur lalu lintas antara kota.
Jalur ini amat menyeramkan bagi yang pernah melewatinya. bahkan para sopir senior saja jika melewati hutan ini, mesti permisi dengan cara dengan membunyikan klakson mobil tiga kali.
__ADS_1
Jika tidak, ada saja yang kecelakaan yang terjadi di areal tersebut. Sudah banyak banget yang terjadi dan memakan korban yang tak sedikit.
Karena alasan itulah, sangat sedikit orang yang mau tinggal atau berada di sekitar tempat tersebut.