Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 38 Gunung Hantu dan Gunung Siluman


__ADS_3

Zahra tak puas dengan jawaban Pangeran Khalied. Dia kemudian kembali bertanya. "Apakah ketika pada saat aku tak sadarkan diri, kalian jadi menikah..? " tanya Zahra.


Astaga... jadi itu yang ada dalam pikiran gadis di hadapannya itu. Rupanya ada cemburu di hati Zahra kepada Mei Fang. Akhirnya, keusilan di hati Pangeran itu seketika hadir. Dia tak menjawab, melainkan hanya melempar senyum penuh misteri kepada Zahra.


Zahra semakin penasaran dengan sikap Khalied. Apakah yang telah terjadi. Benarkah ketika dia sedang mengalami mati suri, Khalied menikahi Mei Fang. Bukan dirinya mau suuzhon terhadap Khalied, tapi dia hanya ingin tahu apakah itu yang terjadi. Dirinya melihat dan mendengar sendiri bahwa gadis itu meminta Khalied agar menikahi dirinya.


Zahra yang penasaran, terus mengejar pangeran Khalied dengan pertanyaan - pertanyaan seputar apakah pangeran Khalied menikah dengan Mei Fang. Namun, Pangeran Khalied tetap tak mau memberikan jawaban pasti.


Akhirnya, lelah bertanya, Zahra kemudian memutuskan untuk mendiamkan pangeran Khalied. Sepanjang perjalanan gadis itu hanya berdiam diri saja. Tak ingin berbicara atau pun berinteraksi dengan pemuda itu. Bahkan untuk makan saja, dia harus menahan diri dan membiarkan dirinya dengan rasa lapar karena enggan untuk meminta makanan dari Pangeran Khalied.


Pangeran Khalied bukannya tak menyadari bahwa Zahra sedang ngambek karena beberapa kali pemuda itu mengajak Zahra berbicara, namun gadis itu hanya diam saja, tak menanggapi perkataan Pangeran Khalied.


Sampai suatu ketika, mereka tiba di suatu tempat. Tempat itu adalah sebuah lembah yang berada di kaki dua buah gunung. Dua buah Gunung ini mengapit lembah yang terletak persis di pinggir sebuah sungai yang hulunya mengalir dari dalam perut gunung tersebut. Gunung ini oleh para penghuni Dimensi ke empat di sebut sebagai Gunung Hantu dan Gunung Siluman. Para penghuni tempat itu bukan tanpa alasan menamai kedua buah pasaknya bumi itu dengan nama tersebut.


Disebut sebagai gunung Hantu dan Gunung Siluman, karena kadang - kadang kedua gunung tersebut tidak tampak atau tak terlihat oleh mata. Kedua gunung itu seolah-olah memiliki kemampuan untuk menghilang ataupun berpindah tempat. Keanehan lain tentang kedua gunung itu adalah bahwa sungai yang mengalir dari dalam dasar perut Gunung Hantu airnya berwarna merah. Sehingga, tanah tanah - tanah di sekitar daerah kaki Gunung Hantu juga berwarna merah, semerah darah.


Di dimensi keempat, tidak pernah terjadi hujan. Itulah sebabnya tanah - tanah sangat kering dan tandus. Pohon - pohon yang tumbuh juga sebenarnya sangat jarang. Hanya sedikit saja tanaman yang bisa bertahan hidup di dimensi ini. Mereka adalah tanaman semak dan bangsa perdu.


Namun berbeda dengan daerah di kaki Gunung Hantu dan Gunung Siluman. Tanah di sekitar daerah ini sangat subur sehingga banyak sekali tumbuhan yang tumbuh. Tumbuhan itu seperti pohon buah - buahan dan juga beberapa pepohonan jenis lain.


Pangeran Khalied dan Zahra memutuskan untuk beristirahat di tempat itu. Mereka berhenti dan berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.


Pohon apa ini , Zahra bertanya dalam hati. Matanya berkeliling mengawasi pohon itu dan juga pohon - pohon di sekitarnya. Sekilas lalu jika melihat buahnya, itu seperti pohon apel, pikir Zahra. Buah dari pohon itu tampak ranum dan menggiurkan. Apalagi buahnya mudah sekali di jangkau karena pohonnya yang tidak seberapa tinggi.


Karena lapar, Zahra kemudian memetik sebiji buah dari pohon itu dan memakannya. Terasa sangat lezat. Rasanya seperti buah apel. Jadi memang ini buah apel, pikir Zahra.


Pangeran Khalied diam - diam melirik dan memperhatikan semua tingkah laku Zahra dengan gemas. Gadis itu masih saja mendiamkan dirinya dan enggan untuk bicara.


Karena masih merasa lapar, Zahra bermaksud ingin memetik sebiji lagi buah apel tersebut. Namun, baru saja dia akan mengambil sebiji buah apel, tiba-tiba saja gadis itu merasa bahwa lehernya seperti di cekik oleh tangan - tangan yang tak terlihat.


Memanglah, sebenarnya Zahra memang sedang di cekik oleh seseorang. Karena mata Zahra adalah mata manusia biasa, dia tak melihat siapa yang sedang mencekik dirinya. Berbeda dengan Pangeran Khalied. Pemuda itu langsung berlari menghambur mendekati Zahra yang sedang kesulitan bernafas karena ternyata lehernya di cekik oleh seorang hantu wanita.


"Khalied... tolong aku..! akh.. ahhggh..!!" Zahra meronta - ronta sambil memegangi lehernya seolah-olah sedang berusaha untuk melepaskan sesuatu.


"Lepaskan dia...!! " bentak Pangeran Khalied kepada hantu wanita itu.

__ADS_1


"Dia memakan buah orang mati..!! Maka gadis ini harus mati..harus mati...!!" kata hantu wanita itu tanpa mau melepaskan tangannya dari leher Zahra.


Zahra semakin kesulitan bernafas. Tubuh gadis itu menjadi Lemas karena kehabisan nafas.


Tangan Pangeran Khalied bergerak cepat menyentak tangan wanita itu. Sehingga akhirnya cengkramannya terlepas dari leher Zahra.


Tubuh Zahra terkulai lemas jatuh terduduk di tanah. Gadis itu hampir saja mati karena kehabisan nafas. Apa tadi yang telah mencekiknya, pikir Zahra. Matanya menatap Pangeran Khalied yang berdiri membelakangi dirinya. Pangeran itu seperti sedang berbicara dengan seseorang.


"Dengan siapa Khalied sedang berbicara...? " kata Zahra dalam hati.


Sementara itu, Pangeran Khalied sudah berdiri di depan Zahra. Pangeran itu tampaknya sedang melindungi Zahra dari incaran hantu wanita itu.


Hantu wanita itu menoleh ke arah Pangeran Khalied dengan marah. Dia merasa Pangeran itu telah mencampuri urusannya.


"Kau telah mencampuri urusanku, Hai manusia jin. Tidakkah kau tahu, bahwa gadis itu sudah memakan apel orang mati. Pohon apel ini ditanam hanya untuk orang mati."kata Hantu wanita itu dengan marah.


"Maafkan kami, kami tidak tahu tentang hal itu. Untuk itu, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas nama gadis itu. Gadis itu bersamaku. Dan dia juga tidak tahu, bahwa apel itu tidak boleh di makan." ucap pangeran Khalied dengan sopan.


"Tidak bisa, gadis itu harus mati. Nyawanya sebagai ganti dari buah yang telah dia makan..!! " bentak hantu wanita itu lagi.


"Tidak bisa..! aku tak bisa memutuskan akan hal itu. Semua keputusan ada di tangan Kalla. Aku hanya ditugaskan untuk menjaga pohon apel ini. " jawab Hantu wanita itu.


"Kalla, siapa itu Kalla..?" tanya Pangeran Khalied.


"Kalla adalah penguasa tempat ini. Seluruh wilayah ini berada di bawah kekuasaannya. "jawab Hantu wanita itu.


"Hmm, menarik sekali. Baiklah, antarkan kami ke tempat tuanmu. Aku ingin bicara..! " ucap Pangeran Khalied kepada Hantu wanita itu.


"Tuanku tak memiliki tempat tinggal. Dia ada di mana - mana.. " jawab Hantu wanita itu lagi.


Pangeran Khalied terdiam mendengar Jawaban hantu wanita itu. Dia seperti sedang berpikir. Lalu secara tiba-tiba, dia beranjak mendekati pohon apel itu dan memetik beberapa buahnya lalu memberikannya kepada Zahra.


Seketika tak sangka - sangka, tiba-tiba saja angin yang sangat kencang bertiup menerjang ke arah mereka. Disusul kemudian petir dan halilintar yang menyambar - nyambar di tengah mereka.


Pangeran Khalied mendekap tubuh Zahra yang berlindung di balik tubuhnya agar gadis itu tidak merasa ketakutan. Sedangkan hantu wanita itu langsung menghilang dari tempat itu karena ketakutan. Mungkin dia sudah tahu, bahwa yang datang itu adalah tuannya.

__ADS_1


Suasana terlihat sungguh mencekam dan mengerikan. Zahra memejamkan matanya karena merasa takut. Untung saja, tubuh kekar pangeran Khalied melindungi dirinya dari ancaman petir dan halilintar yang saling bersahut - sahutan menghajar mereka.


Lalu sebuah suara yang menggelegar dan mendirikan bulu roma terdengar menghadrik mereka.


"BERANI SEKALI KAU MEMETIK BUAH APEL MILIK KALLA TANPA IZIN. APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP, HAI MAKHLUK BERNYAWA...!!!" seru sebuah suara..


Pangeran Khalied berpaling menghadap ke depan dan menyembunyikan tubuh Zahra di belakang tubuhnya.


"Tunjukkan saja dirimu, Tuan. Tak perlu mengancamku dengan semua ini..! " seru Pangeran Khalied.


"HAHAHAHA, TERNYATA NYALIMU BESAR SEKALI, HAI PUTRA PANGUASA BUKIT MALAIKAT.!! " seru suara itu lagi.


"Rupanya kau sudah tahu siapa diriku, Tuan. Maka dari itu, kurasa, aku juga berkewajiban untuk mengenalmu, Tuan. Karena sungguh tak berbudi rasanya jika saya sebagai tamu tak berkenalan dengan tuan rumahnya. Karena itu, Tuan. Izinkanlah aku untuk bertemu denganmu, Tuan.." ucap pangeran Khalied.


"Hahaha, tutur bahasamu sangat santun, Pangeran. Baiklah, aku kabulkan keinginanmu..!" jawab Suara itu. Kini suaranya tak lagi sekeras seperti tadi.


Perlahan-lahan, angin yang bertiup kencang itu mereda. Juga petir dan halilintar yang tadinya menyambar - nyambar tempat itu, kini pun lenyap . Suasana yang tadinya gelap mencekam, kini sudah tak ada lagi. Hanya kegelapan saja yang masih betah hadir di sekeliling tempat itu.


Lalu sebuah cahaya warna warni tiba-tiba muncul di tempat itu berpendar - pendar seperti nyala sebuah lampion. Cahaya yang berwarna warni mirip cahaya pelangi itu kemudian menjelma menjadi sesosok manusia dengan rupa yang sangat tampan. Keseluruhan rambutnya yang terurai panjang dan berwarna putih berkibar - kibar di tiup angin. Mata Zahra sampai dibuat tak berkedip. Astaga, tampan sekali...


Pakaian yang menutup tubuhnya seluruhnya terbuat dari sutra berwarna putih dengan sulaman benang emas. Yang menyolok adalah sebilah golok besar berwarna putih keperakan yang terselip di pinggangnya.


Pangeran Khalied seperti mengenal benda itu. Dia pernah melihat gambar senjata seperti itu di rumah pamannya yaitu Paman Azzura. Itu adalah senjata golok yang bernama Golok Dewa.


"Selamat datang di tempatku, Pangeran Khalied. Namaku Kalla. Aku adalah pemilik wilayah ini. Gunung Hantu dan Gunung Siluman adalah wilayah kekuasaanku. Aku mohon maaf, jika sambutanku kurang berkenan. Mari silahkan singgah ke tempatku."


Tangan Kalla kemudian menunjukkan ke suatu tempat. Ajaib sekali, kini di hadapan mereka berdiri sebuah istana yang megah. Istana itu berdiri tepat di tengah - tengah sungai. Megah dan indah. Zahra yang melihat hal itu sampai tercengang dibuatnya.


"Terima kasih, dengan senang hati kami singgah ke tempatmu andai tidak merepotkan dirimu, Tuan." ucap pangeran Khalied.


"Sama sekali tidak.. Mari, silahkan masuk..!" ajak Kalla sambil mempersilahkan pangeran Khalied dan Zahra masuk ke istananya.


Begitu keduanya sudah masuk ke dalam istana, tiba-tiba saja istana itu kembali lenyap tak berbekas. Yang tampak hanyalah hamparan sungai yang airnya berwarna merah yang mengalir dengan tenang di sepanjang lembah itu hingga sampai ke hilir.


Tak ada seorang pun yang tahu, apa yang ada di hulu sungai itu. Tak pernah ada yang mencari tahu, mengapa air sungai bisa berwarna merah seperti warna darah.

__ADS_1


Juga tak pernah ada yang tahu, mengapa Gunung Hantu dan Gunung Siluman bisa tiba-tiba menghilang.


__ADS_2