
Tubuh Pangeran Khalied menghantam karang terjal yang terdapat di pinggir pantai Eddena.
"Kak Khalied..!!! " seru Zahra tertahan. Separuh nyawa gadis itu seakan melayang terbang melihat tubuh sang kekasih di hantam batu karang terjal.
Zamura, Pangeran Arkana dan Kania berlari ke arah tebing untuk melihat keadaan Pangeran Khalied.
Kania memeluk Zahra yang histeris melihat tubuh kekasihnya terkapar di dalam jurang.
"KAK KHALIED.....! Kak...!!"Zahra masih berseru memanggil - manggil nama Pangeran Khalied.
"Paman...!! " Pangeran Arkana pun ikut juga berseru memanggil Pangeran Khalied.
Namun tak ada jawaban. Pangeran Arkana pun melesat turun ke bawah untuk memeriksa keadaan Pangeran Khalied.
Ternyata Pangeran Khalied belum mati. Dia masih bernafas. Hanya saja, keadaan tubuh Pangeran Khalied mengalami cedera yang sangat parah.
Tubuh itu remuk karena mengalami patah tulang dan cedera parah di seluruh bagian tubuhnya membuat pangeran itu belum bisa bergerak dengan leluasa.
Pangeran Khalied melihat Pangeran Arkana dan mendengar suara Zahra dan Pangeran Arkana yang memanggilnya. Namun dia tak bisa menjawab karena tulang lehernya patah. Sehingga banyak darah yang menyumbat di tenggorokannya.
"Kak Khalied...!" kembali Zahra berseru memanggil nama Pangeran Khalied sambil menangis.
Pangeran Arkana kembali lagi mendekati Pangeran Khalied karena mulai melihat adanya pergerakan dari Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied mulai menggerakkan lehernya dan menoleh ke arah Pangeran Arkana.
"Paman, kau tak apa - apa..? "
"Akh..... tubuhku remuk, kalau itu yang kau bilang tak apa - apa. Iya, aku tak apa - apa... " ucap Pangeran Khalied terbata - bata sambil berusaha untuk bangkit.
Namun dia belum bisa bangkit secepat itu karena beberapa bagian tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Pangeran Khalied terus berusaha untuk mengerahkan seluruh tenaganya untuk memulihkan keadaan tubuhnya yang mengalami cedera parah.
Sementara, Pangeran Arkana membantu pamannya dengan ikut menyalurkan tenaga dalam murni ke tubuh Sang Paman agar pulih semakin cepat.
Sementara itu, Nagini sudah kembali lagi menyerang. Rupanya, tadi sebelum jatuh dan terpental ke jurang, Pangeran Khalied sempat mengirimkan pukulan Halilintar ke arah Nagini. Sehingga menyebabkan makhluk melata itu mengalami luka dalam yang cukup parah. Andai saja tubuh Nagini tidak kenal terhadap senjata, sudah pasti tubuh itu remuk dan terbakar.
Namun, Nagini hanya mengalami luka dalam saja. Memerlukan waktu yang cukup lama juga untuk makhluk melata itu memulihkan diri.
Dan kini, makhluk melata itu sudah kembali bersiaplah - siap hendak menyerang Zamura, dan kedua gadis itu.
Zamura yang melihat hal itu segera mengubah diri menjadi besar dan kemudian bergerak untuk menghadang Nagini.
Sementara Kania mengajak Zahra untuk menyingkir mencari perlindungan ke tempat yang aman.
"Ayo, Zahra. Kita harus menyingkir dari sini." Kania menarik lengan Kania yang masih enggan untuk beranjak dari pinggir tebing.
"Aku ingin melihat Kak Khalied. Aku mau melihat keadaannya.. " jawab Zahra.
"Aku yakin, tidak akan terjadi sesuatu pada Khalied. Tubuhnya saja kebal senjata. Berarti dia tak bisa dengan mudah mati cuma karena terjatuh ke dalam jurang, Zahra." ucap Kania.
"Tapi aku ingin melihat keadaan, kak Khalied.. "
__ADS_1
"Cepat, Zahra...! Tak ada waktu lagi. Atau kita akan terinjak injak oleh kedua makhluk raksasa itu... " tunjuk Kania pada Zamura dan Nagini yang sedang bergelut di atas bukit.
Dengan enggan Zahra mengikuti Kania untuk menyingkir dari bibir tebing.
"Sepertinya Zamura mengubah tubuhnya menjadi besar untuk menghadapi Nagini." ucap Pangeran Arkana.
Pangeran Khalied segera menoleh dan melihat Zamura yang kini sedang bergelut dengan ular Nagini yang menyerang pengawalnya itu dengan semburan bisanya yang mengerikan.
Tiba-tiba saja, Pangeran Khalied punya ide untuk mengalahkan Nagini.
"Pangeran, ayo kita ke sana. Sepertinya aku punya ide untuk menghadapi Nagini. Ayo kita buat sate ular kobra.!" ajak Pangeran Khalied.
Pangeran Arkana menatap pamannya yang kini keadaannya sudah pulih kembali. Tubuh yang tadinya hancur remuk oleh hantaman batu karang yang terjal dan runcing kini sudah berdiri tegak dan bugar. Tak ada bekas luka sedikitpun.
"Paman apa paman sudah merasa pulih.?" Tanya Pangeran Arkana.
"Tak pernah aku merasa sesehat ini. Ayo, tunggu apa lagi..!!" jawab Pangeran Khalied.
Kedua makhluk jin itu segera melesat terbang ke tempat di mana Zamura dan Nagini sedang bertarung.
"Zamura, menyingkirlah dari sana.!!" titah Pangeran Khalied.
Sang pengawal pun mematuhi perintah tuannya dan perlahan-lahan menyingkir dari hadapan Nagini.
Ular cobra raksasa itu melihat ke arah ketiga makhluk jin itu. Tampak olehnya, Pangeran Khalied di antara ketiganya.
Langsung saja, Ular raksasa itu menyemburkan bisanya yang beracun ke arah ketiganya.
"Kan, aku sudah katakan, Nagini sepertinya sudah menandai aku sebagai target utama. Karena dia adalah penggemarku." ujar Pangeran Khalied sambil tersenyum sinis ke arah. Nagini.
"Zamura, lemparkan tongkat elder itu kepadaku. Aku punya sebuah rencana. Sepertinya ular itu harus berhadapan dengan seseorang."seru Pangeran Khalied.
Segera saja Zamura melemparkan tongkat elder itu ke arah Pangeran Khalied yang langsung menyambutnya dengan sebelah tangan.
Saat sudah berada di tangan Pangeran Khalied, tongkat elder itu langsung mengeluarkan sinar yang sangat terang.
Tongkat elder kemudian melayang terbang melayang di udara.
"Tongkat elder, jadikan engkau musuh bagi Nagini dan kalahkan Nagini untukku..!!" ucap Pangeran Khalied.
Seketika itu juga, tongkat elder berubah menjadi seekor burung elang rajawali raksasa. Burung buas itu memekik dan mengeluarkan suara yang nyaring hingga memekakkan telinga. Matanya tajam bersinar saat melihat musuh bebuyutannya, Nagini.
Memang benar, musuh ular kobra adalah burung elang atau rajawali. Burung buas itu adalah pemangsa ular.
Sudah hukum alam. Tak peduli, sebesar apa ukuran tubuh seekor hewan, tetaplah dia memiliki musuh alami.
Musuh alami Nagini, si ular kobra adalah burung elang.
Maka saat melihat kehadiran elang raksasa yang tubuhnya dua kali lipat dari ukuran tubuhnya, maka Nagini nyali Nagini pun ciut.
Binatang melata yang bertubuh sebesar batang pohon raksasa itu hendak kabur meninggalkan tempat itu. Namun, gerakannya terbaca oleh mata tajam si burung elang.
Dengan sekali gebrakan, burung elang raksasa itu menjepit tubuh Nagini dan mencengkramnya dengan erat.
__ADS_1
Tubuh Nagini menggeliat - geliat dalam cengkeraman elang raksasa jelmaan tongkat elder tadi.
Burung elang itu mematuk bagian mata Nagini. Nagini menggelepar kesakitan dalam cengkeraman si elang raksasa. Rupanya, hanya bagian mata Nagini inilah, yang tidak kebal terhadap senjata atau sesuatu. Sehingga bagian mata inilah yang di serang oleh si burung elang raksasa itu.
Kini, mata Nagini sudah buta. Ular itu tidak bisa melihat lagi mangsa di depannya dengan jelas. Sehingga, Nagini kemudian mengamuk membabi buta.
Masih dalam cengkraman erat si burung elang raksasa, tubuh nagini diangkat terbang ke angkasa kemudian dihempaskan kembali ke tanah dengan keras.
Tubuh Nagini menggelepar - gelepar kesakitan. Belum lagi sempat dia memulihkan diri dari rasa sakit, tiba-tiba saja, si elang raksasa sudah kembali lagi mematuki tubuhnya.
Tubuh Nagini kemudian di koyak - koyak tanpa belas kasih oleh elang raksasa jelmaan Tongkat elder hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Hingga tubuh Nagini hancur tak bersisa. Setelah itu, elang raksasa dengan rakusnya memakan tubuh Nagini hingga habis tak bersisa.
Tamatlah sudah riwayat Nagini. Ular raksasa penunggu Gunung tengkorak itu tewas di tangan tongkat elder yang berubah menjadi elang raksasa dan memakan habis tubuhnya.
Setelah kenyang memakan tubuh Nagini, tongkat elder kemudian berubah wujud kembali ke bentuk asalnya.
Keajaiban terjadi, setelah tubuh Nagini habis di makan oleh elang raksasa jelmaan tongkat elder itu. Tiba-tiba saja muncul seorang wanita yang sangat cantik.
"Huh, lagi - lagi aku berurusan dengan wanita. Apa di dimensi ke empat ini, penghuninya adalah makhluk jelmaan siluman wanita semua..?" sungut Pangeran Khalied.
"Pangeran Khalied, tuanku telah berhasil mengalahkan Nagini. Maka dari itu, terimalah ini sebagai perwujudan rasa terima kasih kami karena tuan telah membebaskan kami dari keganasan makhluk yang bernama Nagini." ucap Wanita itu seraya menyerahkan sebilah pedang yang terbuat dari kayu dengan ukiran yang sangat indah.
Bilah pedang terbuat dari kayu yang amat ringan dengan hulu pedang yang juga terbuat dari kayu.
Hiasan bilah pedang itu adalah lafal Allah yang ditulis menggunakan huruf kaligrafi alquran. Sedangkan gagang pedang juga berukiran huruf alquran dengan hiasan dua gambar mata. Di tengah gambar mata terdapat dua buah batu permata safir hitam.
Pangeran Khalied menatap pedang itu dengan pandangan heran. Pedang itu memanglah indah. Tapi mengapa terbuat dari kayu.
"Itu adalah pedang Mata Malaikat yang tuan cari selama ini. Pedang ini bukan sembarangan pedang. Pedang ini terbuat dari batang pohon kayu Khuldi. Pohon yang buahnya terlarang di makan oleh Nabi Adam." jelas Wanita itu.
"Pedang itu adalah jelmaan Nagini. Itulah sebabnya, Nagini tak terkalahkan, karena dia adalah perwujudan dari pedang itu. Hanya kau yang mampu mengalahkannya berkat kecerdikan anda. Sekarang terimalah pedang ini... " ucap wanita itu.
Bukan main senang hati ketiga orang itu. Pedang mata malaikat akhirnya berhasil mereka dapatkan.
Pangeran Khalied menerima pedang Mata Malaikat itu dengan perasaan bahagia yang sangat sukar dia lukiskan.
Setelah menyerahkan pedang Mata Malaikat tersebut, perempuan cantik itu lenyap begitu saja dari hadapan Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied memandang pedang yang selama ini di carinya. Pedang Mata Malaikat.
"Inikah pedang yang konon katanya sanggup mengalahkan raja iblish dari neraka dan mengirimnya kembali ke neraka..?" tanya Pangeran Khalied dalam hati.
Pangeran Khalied menimang pedang Mata Malaikat yang kini sudah berada di tangannya.
"Paman, akhirnya kita berhasil. Akhirnya kita bisa kembali pulang ke Bukit Malaikat. Aku sangat rindu sekali pada ibuku.. " ucap Pangeran Arkana dengan sendu.
"Kita akan segera pulang. Segera setelah kita menemukan cara membuka portal menuju jalan ke dunia Manusia atau jin." ucap Pangeran Khalied sambil menatap ke empat orang itu.
Nah, Nagini sudah di kalahkan oleh kecerdikan Pangeran Khalied. Dan pedang mata Malaikat pun sudah di temukan. Akankah mereka menemukan jalan pulang. Lantas bagaimana nasib ke-lima orang itu setelah berhasil keluar dari dimensi ke empat itu.
Kita tunggu saja kelanjutan cerita ini, jangan lupa like dan vote ya.
salam manis dari Minaaida
__ADS_1