Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 61


__ADS_3

"Akmmm , paman, sepertinya kapal ini ada kemungkinan akan tenggelam.! seru Pangeran Arkana.


"Apa,....?? " kenapa bisa seperti itu Pangeran Khalied bingung.


Pangeran Arkana menunjuk ke arah lambung kapal yang sudah dipenuhi air. Air itu berasal dari retakan dinding kapal akibat dari benturan saat perkelahian kedua makhluk raksasa tadi.


Charon pun turut melihat ke arah yang di tunjuk Pangeran Arkana. Charon sedikit gusar saat menyaksikan kapal miliknya rusak karena perkelahian Pangeran Khalied dan Senjata trisula iblish miliknya.


"Minggir, Kalian..!!" bentak Makhluk jelmaan ikan duyung itu seraya melesat terbang melewati keduanya.


Sampai di depan lambung kapal yang kini telah retak dan di masuki air, Charon berhenti. Sejenak dia mengamati retakan kapal tersebut.


Kemudian tangannya bergerak untuk menyentuh bagian dinding kapal. Ajaib sekali, dinding kapal tersebut merapat kembali dan air yang masuk ke dalam kapal hilang tak berbekas.


Pangeran Arkana dan Pangeran Khalied melongo takjub atas kejadian itu. Rupanya kapal ini memanglah memiliki jiwa. Buktinya, hanya dengan sentuhan tangan Charon saja, dinding lambung kapal yang rusak sudah pulih kembali seperti sedia kala.


"Pangeran Khalied, baiklah. Aku memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini. Aku mengakui kehebatan dirimu. Untuk kedua gadis itu, mereka ada di kamar bunga." ucap Charon. Kemudian makhluk jelmaan putri duyung itu meluyur pergi meninggalkan kedua orang manusia jelmaan jin tersebut.


"Bagaimana ini, Paman? Dimana letak kamar bunga...? " tanya Pangeran Arkana.


Keduanya patutlah bingung karena tidak pernah tahu di mana letak kamar bunga.


Tampaknya Charon sengaja mau membuat bingung kedua makhluk jin tersebut karena masih kesal dengan ulah keduanya.


"Aku rasa Charon sengaja mengerjai kita. Biar kita mencari sendiri di mana letak kamar bunga. Mungkin saja dia masih kesal dengan kita. " ucap Pangeran Khalied.


"Awas saja jika dia berani membohongi kita. Akan kehancuran dan aku tenggelamkan kapal ini berikut bersama makhluk bersisik itu sekalian." sungutnya sambil kembali menyarungkan pedangnya. Dia merasa gusar dan kesal sekali terhadap makhluk jelmaan ikan di duyung tersebut.


"Aku mengkhawatirkan nasib Zahra dan Zamura. Andai saja Zamura ada di sini." ucap Pangeran Khalied.

__ADS_1


"Saya sudah disini, Tuanku." ucap Zamura yang tiba-tiba saja sudah muncul di hadapan kedua tuannya itu.


"Zamura...!!" seru Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana serentak.


Tanpa di duga Zamura sudah berada di hadapan mereka dengan tak di sangka - sangka.


Akan tetapi, tiba-tiba saja, Pangeran Arkana menyerang Zamura. Zamura tentu saja kaget bukan kepalang mendapati serangan mendadak tersebut. Namun karena sudah terbiasa dan mahir ilmu bela diri, pengawal pribadi Pangeran Khalied itu dengan mudah mengelak dari serangan tersebut. Malahan pengawal pribadi pangeran Khalied itu sempat menyarangkan satu pukulan balasan ke tubuh Pangeran Arkana.


"Maafkan, saya, Pangeran. Hamba tadi keterusan karena gerak refleks." ucap Zamura sambil menunduk menghaturkan sembah.


"Tak apa, Zamura. Aku hanya tak ingin terkecoh lagi. Makhluk jelmaan ikan duyung itu amat pandai merubah diri menjadi apa yang ada dalam pikiran kita." ucap Pangeran Arkana.


"Apakah makhluk yang di maksud pangeran adalah Charon?" tanya Zamura dengan heran.


"Benar, sekali..! Apa kau pernah melihatnya.?" Pangeran Arkana balik bertanya. Dia balik merasa heran bagaimana Zamura tahu tentang Charon.


"Dia yang melepaskan hamba, Pangeran. Dia juga yang mengatakan bahwa tuanku dan Pangeran ada di tempat ini." jawab Zamura.


"Kau tak sedang bergurau, kan Zamura..?" tanya Pangeran Arkana kepada Zamura.


"Hamba tidak berani, Pangeran. Hamba mengatakan yang sebenarnya. Sebenarnya makhluk yang bernama Charon itu tidaklah sejahat yang Anda kira. Dia amat baik dan sangat penyayang. Semua ruh orang mati yang terlantar, atau di telantarkan oleh sanak keluarganya akan di ambil dan di antar ke Eddena." jelas Zamura.


"Apakah kau tahu di mana Eddena itu, Zamura...? tanya Pangeran Khalied.


" Ampun tuanku, hamba tidak tahu. Tapi menurut para ruh, sebentar lagi kita akan sampai." jawab Zamura.


" Hmmm, kalau benar - benar demikian, sebaiknya kita harus cepat menemukan Zahra dan Kania." ujar Pangeran Khalied. "Zamura, apakah kau tahu dimana letaknya kamar bunga.?" tanya Pangeran Khalied lagi.


Zamura tampak berpikir sejenak. Mencoba mengingat - ingat kembali apakah pernah ada dia mendengar percakapan tentang kamar bunga. Tiba-tiba saja, Zamura berseru setelah ingat sesuatu.

__ADS_1


"Ahhh, aku ingat sekarang. Aku ingat... kalau tidak salah kamar bunga adalah sebuah tempat di Eddena. Tempat itu di jaga oleh seekor makhluk yang bernama


Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana saling berpandangan. Mereka sungguh-sungguh tak menyangka bahwa tempat yang dimaksud oleh Charon berada di Eddena.


Kalau benar demikian seperti yang dikatakan oleh Zamura, maka mereka masih harus ke Eddena lagi untuk mencari Zahra dan Kania, pikir Pangeran Khalied. Padahal, sebenarnya dirinya sudah jemu berada di Dimensi ke empat ini.


Dia harus mencari dimana keberadaan Pedang Mata Malaikat. Dan kalau bisa secepatnya menemukan pedang itu karena dia ingin secepatnya kembali lagi ke dunia jin atau juga dunia manusia. Yang mana, kedua tempat itu adalah tempat yang amat dia rindukan saat ini.


"Paman, sepertinya tempat yang kita tuju sudah dekat. Aku melihat sebuah pulau di ujung haluan kapal ini." kata Pangeran Arkana. Dia menunjuk ke suatu tempat di ujung haluan dari kapal yang sedang mereka tumpangi saat ini.


Namun, rupanya sang Paman sedang tidak fokus. Pamannya itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Pangeran Arkana juga heran, apa yang sedang dipikirkan oleh Pamannya itu.


Zamura berinisiatif untuk melihat tempat itu dari ujung kapal. Kemudian, pangawal pangeran Khalied itu bergerak cepat menuju ke arah haluan kapal


Benar saja, saat Zamura berdiri di ujung haluan kapal, tampak olehnya sebuah pulau di sana. Sebuah pulau yang aneh.


Apakah pulau itu yang mereka maksudkan, tanya Zamura dalam hati.


Saat melamun memikirkan semua itu, tiba-tiba saja, kapal oleng seperti menabrak sesuatu. Setelah bergetar hebat, kapal itu tiba - tiba saja berhenti.


Zamura yang berada paling depan terjengkit kaget. Hampir saja, pengawal pribadi pangeran Khalied itu jatuh ke dalam lautan yang airnya kini sudah berganti warna ke hitam - hitaman karena pengaruh awan.


Untung saja sebuah tangan.


yang kekar dan kokoh berhasil Menangkap tangan pemuda itu dan menariknya ke atas.


'"Terima Kasih, tuan. Anda sudah menyelamatkan saya.. " ucap Zamura.


"Tak masalah, Zamura. Tapi sekarang, tahukah engkau siapa yang menguasai dan memiliki tempat itu." tanya Pangeran Khalied.

__ADS_1


Karena menurutnya tempat itu sangat di indah dan sejuk. Namun yang lebih indah lagi adalah langitnya yang berwarna biru cerah. Hanya tempat itu yang memiliki warna langit biru dan cahaya yang terang. Tempat apakah itu..? Itulah yang ada dalam pikiran masing-masing ketiganya.


__ADS_2