
Langit malam ini sangat kelam. Tak ada bintang satu pun di langit. Yang ada hanyalah awan hitam yang menggumpal - gumpal di langit. Tak lama berselang, hujan pun turun dengan derasnya. Menumpahkan semua dari langit untuk para penghuni bumi.
Istana Bukit Malaikat pun demikian keadaannya. Cuaca malam ini benar-benar tak bersahabat. Badai petir menggelegar memekakkan telinga bagi insan yang mendengarnya.
Mengapa alam sedemikian marahnya. Apakah gerangan yang terjadi...?
Jauh di ujung sana, di belahan bumi yang lain. Di atas sebuah tebing terjal yang terletak di pinggir pantai. Tampak seorang lelaki sedang berdiri dan memandang ke bawah sana.
Jauh di bawah sana, tergeletak tubuh seseorang. Tampaknya tubuh itu sudah tak lagi bernyawa. Hantaman batu karang yang runcing dan cadas yang tak mengenal ampun, telah menghantarkan pemilik tubuh itu ke alam baka detik itu juga.
Bahar, nama lelaki itu. Dia adalah suami dari pemilik tubuh di bawah sana. Yah...Baharlah yang telah membunuh istrinya itu dengan cara mendorongnya ke pinggir tebing.
Ada kepuasan terlukis di wajah Bahar karena telah berhasil menyingkirkan istrinya itu. Wanita yang selama ini dianggapnya sebagai beban karena cacat dan tak berguna.
Sudah lima tahun, istrinya itu menderita kelumpuhan total. Sehingga wanita itu tak bisa lagi menjalankan kewajiban selayaknya wanita lain.
Dengan dalih mengajaknya jalan - jalan, Bahar membawa istrinya itu ke suatu tempat. Iya, sebuah Vila di pinggir tebing adalah tempat yang cocok untuk mereka berdua menikmati keindahan alam dan panorama pantai yang indah.
Bahar rupanya telah mempersiapkan semuanya. Istrinya yang tak menyadari akan rencana jahat sang suami merasa senang dan bahagia karena Bahar begitu memanjakan dirinya.
Sampai akhirnya setelah makan malam, Bahar mengajak istrinya itu menikmati pemandangan alam di luar sana. Saat itulah, Bahar mendorong tubuh ringkih sang istri berikut kursi rodanya ke pinggir tebing. Kursi roda berikut tubuh istrinya itu meluncur ke bawah sana tanpa ampun. Detik berikutnya, tubuh itu di sambut oleh batu karang dan cadas yang menghantam tubuh wanita malang itu tanda belas kasih.
"Mampus... matilah kau perempuan pembawa sial...!!" kutuk lelaki itu sambil meludah ke bawah.
Tubuh wanita itu diam tak berkutik lagi. Wanita itu telah meregang nyawa dengan tubuh remuk dan kepala pecah.
"Kini Amalia telah aku singkirkan. Sekarang hidupku bebas dan aku kaya raya, ha..ha...ha..." Lelaki itu tertawa terbahak - bahak seperti orang gila.
"Tak ada lagi yang akan menghalangi aku untuk menguasai harta kekayaan Amalia, karena perempuan sialan itu sudah aku singkirkan..!" ucap laki-laki itu sambil tersenyum licik.
Dia berbalik dan meninggalkan tempat itu tanpa ada rasa bersalah sama sekali atas apa yang telah dia lakukan.
__ADS_1
Jauh di sana, di atas puncak tebing, sesosok bayangan putih rupanya menyaksikan semua kejadian itu dengan tatapan geram. Matanya berkilat penuh amarah.
"Dasar biadab...! Apa yang di lakukan oleh laki-laki itu sungguh kejam... Aku harus memberinya pelajaran...!" kata bayangan putih itu.
Kemudian, bayangan putih itu pun melesat terbang mendekati mayat wanita malang itu. Sejenak dia memandangi wajah itu. Wajah yang mengerikan karena sudah hancur oleh tumbukan batu karang terjal.
"Hai jiwa yang malang. Jiwa yang dipenuhi kesedihan dan dendam. Bangkitlah... aku memberimu satu kehidupan. Ayo bangkit dan balaskan dendammu. Bangkit..ayo bangkitlah...!!" Dia berseru pada mayat wanita itu.
Keanehan pun terjadi... mayat wanita itu bangkit dan berjalan melewati batu karang yang terjal untuk kemudian melesat terbang ke atas bukit.
"Bahar....Bahar....!!" panggil wanita itu. Akan tetapi, Bahar yang dia tak cari sudah tak ada lagi di tempat itu.
Wanita itu kemudian melesat terbang menembus kegelapan malam yang pekat. Tujuannya hanya satu, rumahnya.
***
Sudah dua minggu, Zahra tidak melihat pintu rumah ibu Amalia terbuka. Zahra heran. Apakah wanita itu sedang pergi.
Biasanya, wanita itu memanggilnya untuk meminta bantuan Zahra mencuci dan menyetrika beberapa pakaian dan juga membersihkan rumahnya karena ibu Amalia tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan itu lantaran keadaan dirinya yang cacat.
Hari ini, Zahra kembali mendatangi rumah kediaman ibu Amalia. Siapa tahu, wanita itu sudah kembali. Dan itu berarti akan ada pekerjaan untuk Zahra.
Sudah beberapa hari ini, penghasilan yang Zahra dapatkan dari hasil berjualan kue bulan dan upah mencuci agak berkurang. Karena ada beberapa langganannya yang beralih menggunakan jasa laundry.
Mata Zahra langsung berbinar cerah saat melihat jendela kamar ibu Amalia terbuka lebar.
"Pasti Ibu Amalia sudah pulang." pikir Zahra. Gadis itu pun bergegas berjalan mendatangi rumah ibu Amalia.
Zahra berdiri di depan pagar rumah besar itu. Pagarnya juga tidak terkunci. Hal ini semakin memperkuat keyakinan Zahra bahwa wanita itu sudah kembali lagi.
"Assalamu'alaikum, Bu...!!" Zahra mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah ibu Amalia.
__ADS_1
Sepi... tak ada jawaban.
Krekk.... terdengar pintu rumah seperti di buka dari dalam. Selanjutnya pintu rumah itu pun sudah terbuka lebar.
"Masuklah, Zahra...! " terdengar suara ibu Amalia dari dalam kamar.
Zahra kemudian terus masuk ke dalam rumah tanpa ragu - ragu karena dia memang sudah terbiasa dengan keadaan di rumah itu.
"Ibu dari luar kota, ya. Tumben ibu perginya lama sekali... " kata Zahra berbasa-basi.
"Iya... aku baru saja sampai, Zahra.. " jawab Ibu Amalia dari dalam kamar.
"Apakah ibu memerlukan bantuan saya untuk membersihkan rumah ini..?" tanya Zahra kemudian.
Hening.....
Tak ada jawaban dari dalam kamar. Hingga kemudian Zahra berinisiatif untuk meninggalkan rumah itu. Zahra pikir, mungkin ibu Amalia lelah dan ketiduran.
"Mungkin sebaiknya aku kembali besok saja." kata Gadis itu dalam hati.
"Bu, kalau ibu sibuk, saya datangnya besok saja. Sekarang saya pamit dulu. Assalamu'alaikum...!" ucap Zahra.
Namun, baru saja Zahra hendak beranjak pergi, tiba-tiba pintu kamar Ibu Amalia terbuka lebar.
seorang wanita berjalan keluar dari dalam kamar.
"Ibu Amalia...!" seru Zahra kaget.
Gadis itu mengucek mata tak percaya akan penglihatannya. Benarkah ibu Amalia bisa berjalan...!
Sejak kapan ibu Amalia bisa berjalan...?
__ADS_1