Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 112


__ADS_3

Pertarungan masih berjalan seru. Zahra dan ibunya, melihat pertempuran itu dari tempat yang agak tersembunyi. Takut oleh sambaran pedang dan keris yang tak memiliki mata.


"Makhluk seperti apa temanmu itu, Zahra...?" tanya Mpok Suri pada putrinya itu.


"Aku pun tak tahu, Buk." jawab Zahra jujur.


***


Dalam menghadapi pangeran Khalied, Si Codet, mengerahkan segenap kemampuan bela diri dan ilmu kanuragan yang dia miliki.


Si Codet memiliki ilmu Pancasona yang di dapat dari gurunya yang lain. Sesuai namanya. Panca yang artinya lima dan Sona yang artinya bayangan. Maka pemiliknya mengubah dirinya menjadi lima bayangan.


Itulah yang dilakukan Si Codet. Lelaki itu memecah bayangan dirinya menjadi lima. Kelima bayangan si Codet itu menyerang serentak ke arah pangeran Khalied.


Tentu saja, Pangeran Khalied merasa agak kerepotan menghadapi ilmu Pancasona milik si Codet. Melihat itu, Si codet merasa berada di atas angin. Sehingga dia menjadi sombong dan pongah. Merasa bahwa dia bisa mengalahkan Pangeran Khalied dengan mudah.


Memang sudah berkali-kali, Pangeran Khalied gagal melukai dirinya. Hal itu karena ketika hanya bayangan dirinya saja yang berhasil di lukai oleh Pangeran Khalied, maka bayangan itu akan pulih kembali secepatnya.


Itulah kehebatan ilmu Pancasona miliknya. Sampai matipun lawan rak akan bisa melukai dirimu, jika tidak berhasil menemukan yang mana bayangan aslimu.


"Ajian Pancasona ternyata sangat hebat... " guman Pangeran Khalied.


Pangeran Hasyeem sejenak terdiam saat memandang ke lima jelmaan Si Codet yang kesemuanya berwujud sama. Dia teringat pelajaran yang pernah dia dengar tentang Ajian Pancasona.

__ADS_1


Menurut gurunya Ki Anom, untuk mengalahkan ajian Pancasona maka dia harus bisa menemukan Si Perapal. Dalam hal ini, Si Codet adalah Si Perapal. Maka dari itu dia harus bisa menemukan sosok Asli Si Codet, barulah dia bisa mengalahkannya.


"Awas, hati - hati, Kak Khalied...!" ucap Zahra cemas. Dia mencemaskan pemuda itu. Pemuda yang telah berulang kali menyelamatkan nyawa ibunya.


"Terima kasih, Zahra. Menyingkirlah ke tempat yang aman. Tapi jangan terlalu jauh dariku." ucap Pangeran Khalied sambil tersenyum lebar.


Hatinya berbunga - bunga. Zahra baru saja memanggil dirinya dengan sebutan Kakak. Apakah dia sudah menjadi orang yang istimewa di hati gadis itu, pikir Pangeran Khalied.


Zahra mengangguk dan beringsut membawa ibunya di teras di depan rumahnya. Keduanya berdiri mengawasi Pangeran Khalied yang sedang bertarung dengan semua wujud jelmaan Si Codet yang berjumlah lima orang.


Pedang Pangeran Khalied terangkat ke atas saat menerima serangan demi serangan yang dilancarkan oleh kelima bayangan Si Codet.


"Si perapal memiliki pantulan bayangan, sedangkan empat lainnya, tidak memiliki bayangan."


Pangeran Khalied tersenyum seraya bergerak mendekati Zahra.


"Zahra, bolehkah aku meminjam cermin milikmu...? ucap Pangeran Khalied kepada Zahra.


"Baiklah, Kak. Aku akan mengambilnya untuk kakak." ucap Zahra. Gadis itu segera berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil m sebuah cermin.


Meskipun tak tahu, apa gunanya cermin itu untuk pertarungan itu, namun Zahra tetap mengambilkan sebuah cermin.


"Ini, kak..!" Zahra kemudian menyodorkan sebuah cermin kepada Pangeran Khalied.

__ADS_1


Pangeran Khalied tersenyum penuh kemenangan ketika matanya yang tajam menatap sekelebat bayangan di cermin.


Lalu secara tiba-tiba, tangannya terayun pada sebuah jelmaan Si Codet di antara kelima perwujudan jelmaan Si Codet yang tengah menyerangnya.


Crash.... crash... pedang Mata Malaikat berhasil menyabet dada salah satu wujud Si Codet. Jelmaan Si Codet itu mundur sambil memegangi dadanya yang terluka.


Berhasil....


Dia berhasil melukai lelaki yang katanya kebal senjata itu.


Tubuh lelaki itu rubuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, Keempat bayangan Si Codet ikut lenyap.


Tubuh si Codet berkelojotan di tanah meregang nyawa. Hari itu, kembali Pedang Mata Malaikat memakan korban..


Si codet, preman kampung itu tumbang di tangan Pangeran Khalied.


Melihat Si Codet tumbang, Zahra yang semula malu - malu seketika itu juga berlari mendatangi Pangeran Khalied.


"Kak Khalied, kau berhasil mengalahkan preman kampung ini... " ucap Zahra dengan wajah yang tak dapat menutupi rasa kagumnya kepada pemuda itu.


Pangeran Khalied tersenyum ketika menyadari bahwa tangan Zahra tanpa sadar sudah menyentuh lengannya. Hatinya berdesir hangat.


"Terima kasih, kak.." ucap Zahra.

__ADS_1


__ADS_2