Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 121 Ajakan Kencan ( Edisi Pangeran Khalied)


__ADS_3

Sudah seminggu Pangeran Khalied tidak menemui Zahra. Zahra sendiri juga heran, mengapa pemuda itu tak pernah datang lagi. Apa yang terjadi dengan Khalied...? pikir Zahra cemas.


Semenjak kejadian di rumah Ibu Amalia, pemuda tampan itu seolah - olah menghilang. (Sepertinya emang begitu kan, sifat jin, mbak Zahra.. suka ngilang - ngilang.. ☺😊😁) .


Sejujurnya, Zahra amat merindukan pemuda itu. Pemuda yang diam - diam telah mencuri hatinya.


Dia tahu, bahwa Khalied bukanlah manusia seperti dirinya. Dia tahu, bahwa pemuda yang sering kali menolong dirinya itu adalah pemuda yang berasal dari golongan jin muslim.


Karena dia menyadari, tak ada manusia yang bisa terbang dan menghilang dengan mudahnya. Tak ada manusia yang bisa muncul secara tiba-tiba lalu kemudian menghilang lagi secara tiba-tiba.


Sulit rasanya untuk membohongi diri dan hatinya bahwa dia mulai menyukai pemuda itu.


Meskipun Khalied bukan dari bangsa manusia. Tapi apakah salah jika dia menyukai pemuda itu.?


Akan tetapi, dia ragu, apakah ibunya akan setuju, jika sampai kemudian dia dan pemuda itu menjadi pasangan kekasih yang sebenarnya.


Sehingga Zahra berpikiran, untuk membuang jauh - jauh rasa di hatinya itu.


Terlebih saat menyadari keadaan dirinya. Khalied itu sangat tampan. Tak mungkin tak memiliki pacar. Apalagi, Zahra tahu, Khalied adalah seorang Pangeran.


Biarlah, cukup dia saja yang tahu rahasia hatinya. Dia menyukai dan mencintai Khalied, titik. Itu saja.. semua itu tersimpan aman di dalam hatinya.


Kalau di tanya bagaimana bisa seorang manusia jatuh cinta kepada seorang pemuda dari golongan bangsa jin, jawabnya bisa saja. Karena cinta itu soal perasaan, bukan pertanyaan.


"Zahra, kau belum tidur...?" Suara ibunya memecah lamunan Zahra tentang Khalied. Ibunya muncul dari balik pintu masih dengan memakai mukena.


"Ibu dari sholat isya, yah...?" tanya Zahra.


"Iya, ibu baru selesai membungkus tempe dan tahu yang akan dijual besok." jawab ibunya.


Semenjak heboh kejadian dengan si Codet, kini ibunya sudah mulai lagi berdagang di pasar. Di samping itu juga, dia membuat usaha pengolahan tahu tempe secara kecil - kecilan. Dan kemudian menjualnya di pasar.


Semua itu berkat uang pemberian yang diberikan Khalied. Khalied memberikan sejumlah uang kepada ibunya Zahra sebagai ganti karena sudah membuat kerusakan di rumahnya.


Saat berkelahi dengan si Codet, beberapa bagian rumah Zahra ada yang rusak. Sebagian di rusak oleh anak buah si Codet dan sebagian lagi rusak karena tak sengaja oleh Khalied akibat pertarungannya dengan si Codet dan anak buahnya.


Awalnya, ibunya Zahra menolak uang pemberian pemuda itu. Wanita itu merasa tak enak, karena merasa sudah di tolong dan di selamatkan oleh pemuda itu. Masa dia harus meminta lagi ganti rugi kepada pemuda itu.


Akan tetapi, Khalied mengatakan bahwa uang itu adalah sedekah dirinya untuk ibunya Zahra, barulah wanita itu mau menerima uang pemberian Khalied.


Uang itu cukup banyak untuk ukuran keluarga Zahra yang sederhana. Bahkan setelah selesai memperbaiki rumah, uang pemberian Khalied masih tersisa banyak.

__ADS_1


Ibunya kemudian menggunakan sebagian uang itu untuk modal berdagang di pasar dan membuat usaha tempe tahu secara kecil - kecilan.


"Belum, Bu.." jawab Zahra.


"Tidurlah... hari sudah malam. Besok pagi bantu ibu mengantarkan pesanan tempe dan tahu ke rumah Bu Karyo." kata Ibunya.


"Iya, bu... " sahut Zahra. Zahra kemudian menutup dan mengunci kamarnya dan bersiap untuk tidur.


Ibunya kemudian kembali lagi ke kamarnya yang terletak di sebelah kamar Zahra.


Tak lama kemudian, ibunya kembali lagi mengetuk pintu kamar Zahra. Zahra turun dan membukakan pintu untuk ibunya.


"Iya, Bu.. ada apa..?" tanya Zahra.


"Zahra, maafkan Ibu. Ibu lupa.. sebenarnya ibu ingin bertanya tentang temanmu itu.." kata Ibunya.


Alis Zahra berkerut mendengar nama teman. "Teman, teman yang mana, Bu..? tanya Zahra bingung.


"Itu, temanmu yang telah memberi kita uang. Siapa namanya...?" tanya Ibunya lagi.


"Khalied, maksud, Ibu..?" tanya Zahra kemudian.


"Iya, benar, Khalied...!" ibunya berseru gembira karena Zahra berhasil mengingatkan dia akan nama pemuda itu.


"Apa kamu tahu, kenapa sekarang teman kamu itu tidak pernah lagi datang kemari, ya..?" tanya Ibu Zahra.


Owalah....ibu kan tidak pernah berjumpa dengan Khalied karena Khalied memang jarang menampakkan diri di depan ibunya Zahra.


Zahra menggelengkan kepalanya. "Memangnya kenapa sih, Bu..?" tanya Zahra.


"Bukan apa - apa, sih. Ibu hanya mau berterima kasih kepada anak itu, karena sudah membantu keluarga kita. ...Oh Iya, apakah kau tahu di mana rumah Khalied..?" tanya Ibunya Zahra kemudian.


Kembali Zahra menggelengkan kepalanya. Sungguh, dia pun tak tahu dimana rumah Khalied. Jangankan rumah pemuda itu, keberadaannya pun Zahra tidak tahu.


Pasalnya, Khalied bukan manusia yang punya handphone dan bisa dihubungi kapan saja. Dia adalah sebangsa jin. Susah di hubungi akan tetapi bisa muncul tanpa terduga.


"Zahra pun tak tahu, Bu.. " kata Zahra kemudian.


"Ya sudah kalo begitu. Istirahatlah.. sekarang. Ibu juga mau beristirahat..!" kata Ibunya.


Zahra segera menutup dan mengunci pintu kamarnya. Gadis itu kembali ke tempat tidurnya. Berbaring di sana untuk beberapa saat.

__ADS_1


Tak lama Zahra pun menarik selimut dan berusaha untuk memejamkan matanya.


Meskipun sudah berusaha untuk memejamkan mata, namun usahanya itu tampaknya sia - sia saja. Bayang - bayang Khalied selalu saja muncul dan menari - nari di pelupuk matanya.


Zahra menghela nafas dan berkata pada dirinya sendiri, sebegitu rindukan dirinya kepada pemuda dari bangsa jin itu..


"Assalamu'alaikum, Zahra...! " sebuah suara halus menyapa Zahra.


Jantung r Zahra berdebar - debar karena mengetahui siapa yang baru saja menyapanya. "Khalied...!" bisik Zahra resah.


"Ini aku. Apakah aku boleh menampakkan diri di depanmu saat ini." tanya Pangeran Khalied kepada Zahra.


"Iya, aku memintamu untuk muncul di hadapanku saat ini..!" kata Zahra. Dadanya berdegup kencang.


Gadis itu kemudian beranjak bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.


"Oh, Tuhan..! apakah aku akan bertemu dengan sosok jin sesungguhnya." bisik Zahra dalam hati.


Tiba-tiba saja dari dinding rumah Zahra, muncullah Pangeran Khalied. Pangeran itu memberi kode agar Zahra diam dan jangan bersuara.


"Merindukan diriku...?" Tanya Pangeran Khalied. Pemuda itu muncul di hadapan Zahra untuk yang pertama kalinya secara terang - terangan dan menunjukkan tentang siapa jati dirimu.


"Nggak juga, sih. Tapi ibuku Iya... " jawab Zahra ramah.


Pangeran Khalied mengangguk seraya tersenyum penuh misteri.


"Ada apa kamu kemari, malam - malam begini, Khalied..? " tanya Gadis itu kemudian.


Ditodong pertanyaan seperti ini oleh Zahra membuat pangeran Khalied kembali ingat apa tujuannya datang kemarin.


"Aku ingin mengajakmu jalan - jalan malam ini. Apakah kamu keberatan..?" tanya Pangeran Khalied kepada Zahra.


"Jalan - jalan...? Malam. - malam. seperti ini..?" tanya Zahra tak percaya.


"Iya... itupun jika kau tak berkenan aku tak akan memaksa. Aku tahu, ini sudah larut malam. Tapi di duniaku masih siang. Maka dari itu, aku berinisiatif untuk mengajakmu keluar. " kata Pangeran Khalied.


"Baiklah. Tapi aku ada satu syarat.?" kata Zahra kemudian.


"syarat ...?" kening Pangeran Khalied bersatu. "Baiklah, apa syaratnya...?" tanya Pangeran Khalied kemudian.


"Aku mau kamu mengajakku ke rumahmu, Kak. Bagaimana.. apakah kakak mau mengajak aku ke rumah kakak..?"

__ADS_1


"Oke, deal...! Ayo kita berangkat...!" kata Pangeran Khalied.


Dia segera menyambar tangan Zahra dan kemudian membawa gadis itu pergi ke istananya di Bukit Malaikat.


__ADS_2