
Hari ini Zahra dilamar oleh Pangeran Khalied. Bahagia, itulah perasaan Zahra saat ini. Gadis mana yang tak bahagia, bila di lamar oleh kekasihnya.
Demikian juga halnya dengan Zahra, senyum manis tak lepas di bibir gadis cantik itu.
"Perkenalkan diri, nama saya adalah Pak Ardi. Saya adalah saudara tertua dari ibu Pangeran Khalied. Jadi saya adalah uwanya Pangeran Khalied.
Maksud kedatangan rombongan kami kemari adalah ingin menyambung tali silaturahmi antar kedua keluarga yaitu antara keluarga kami dan keluarga ananda Zahra. Sudilah kiranya niat baik keluarga kami ini dapat diterima oleh keluarga ibu Suriyati, Ibunda dari Ananda Zahra.. " kata Mas Ardi yang ditugaskan sebagai penyambung lidah.
Terdengar bisik - bisik dari tetangga Zahra yang sangat mengagumi ketampanan dan kecantikan para tamu yang datang.
Dari mana asalnya semua tamu ibu Suriyati ini. Semua keluarga calon besan ibu Suri semuanya berwajah tampan dan cantik.
Para pria itu, wajah mereka tampan seperti wajah para Pangeran Arab. Sedangkan yang wanita, walaupun berwajah lokal, tapi memiliki kecantikan yang khas sekali dan terlihat agung.
Semua tetangga Zahra dibuat terpesona oleh kedatangan para tamu itu. Tak hentinya mereka menebar senyum untuk menyambut kedatangan rombongan Pangeran Pangeran Hasyeem ke rumah Zahra. Akan tetapi mata mereka tak berkedip memandang wajah tetamu itu.
Mata indah Zahra memancarkan binar kebahagiaan. Hatinya sungguh - sungguh sangat bahagia saat ini, karena sebentar lagi dia akan menjadi istri Pangeran Khalied.
"Ibunda Zahra, apakah bunda keberatan bila kami melamar putri bunda untuk kami jadikan menantu di rumah kami." tanya Ratu Asmi sambil memegang tangan Ibunda Zahra.
"Sama sekali tidak. Dengan senang hati, kami menerima lamaran Keluarga Pangeran Khalied. Serasa seperti mendapat anugrah yang tak terhingga. Namun, sayangnya, saya harus bertanya dulu kepada yang punya diri. Apakah bersedia atau tidak menjadi menantu bagi keluarga kalian." kata Ibunda Zahra.
Tatapan Ratu Asmi kemudian berpaling kepada Zahra. Zahra menundukkan wajah. Ibunda Zahra kemudian bertanya kepada putrinya.
"Putriku, apakah ananda bersedia untuk menerima lamaran Pangeran Khalied..?" tanya Ibu Suri.
Zahra yang di tanya hanya menunduk malu sambil mengangguk. Pipinya merah semerah buah tomat. Dia merasa sangat malu di tanya seperti ini oleh semuanya semua orang yang ada di ruangan ini. Terlebih lagi di hadapan Ratu Asmi dan Pangeran Hasyeem.
Melihat Zahra menganggukkan kepalanya, semua menjadi lega. Anggukan kepala Zahra menandakan bahwa gadis itu bersedia menerima lamaran Pangeran Khalied.
Diam - diam, pangeran Khalied berbisik di telinga Zahra.
__ADS_1
"Aku cemburu pada lantai, karena lantai lebih sering Kau lihat dari pada wajahku.."
Zahra langsung mengangkat wajahnya dan saat matanya bertemu dengan mata Pangeran Khalied, pangeran Khalied tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya.
Apa yang dilakukan oleh Pangeran Khalied sukses membuat Zahra salah tingkah dan malu.
"Syukurlah, kami sangat senang mengetahui bahwa lamaran putra Kami diterima. Kami tentunya mengerti akan adat istiadat daerah di sini. Maka dari itu, kami bertanya, apa saja persyaratan dan mahar yang akan pihak kalian ajukan." ucap Ratu Asmi.
"Oh, mengenai masalah itu. Aku tak pernah meminta persyaratan apapun untuk pernikahan ini. Yang penting bagiku adalah sah bagi kedua mempelai dalam menjalani rumah tangga pernikahan ini. Mengenai masalah mahar, sebaiknya bertanya langsung kepada calon mempelai wanita, apakah mahar yang dia minta." kata Ibunya Zahra.
Kembali pangeran Khalied berbisik mesra di telinga Zahra.
"Apapun yang kau pinta, akan aku usahakan untuk aku penuhi. Asalkan jangan kau pinta aku untuk melupakanmu." bisik Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied berbisik seperti itu untuk menggoda Zahra agar pipi gadis itu kembali bersemu merah. Sungguh, dia sangat menikmati kegiatan menggoda Zahra. Karena membuat wajah gadis itu seperti kepiting rebus.
"Sekiranya tidak memberatkan maka saya minta seperangkat perhiasan dan alat sholat. " kata Zahra malu - malu.
Bukan tanpa sebab, Zahra menginginkan perhiasan sebagai mahar mas kawin.
Maka dari itu, timbul dalam pikirannya untuk meminta mas Kawin sebagai maharnya menikah.
"Baiklah, jika itu yang menjadi keinginan dari mempelai wanita. Kami menyanggupinya. Saya rasa tidak ada masalah dengan itu semua.. " kata Ratu Asmi. Kami akan menyediakan seperangkat perhiasan dari ujung rambut sampai ujung kaki untuk Ananda Zahra dan seperangkat perlengkapan Sholat untuk mahar nanti." kata Ibunda Ratu Asmi.
Alhamdullillah....semua menarik nafas lega. Sejauh ini, acara lamaran berjalan dengan lancar.
Sekarang tinggal menentukan tanggal pernikahan. Pangeran Hasyeem sudah membawa ki Anom. Guru Pangeran Khalied itu pasti bisa mencarikan hari baik bagi kedua pasangan tersebut untuk menikah
Pangeran Hasyeem menunjuk ke arah Ki Anom. "Bagaimana, Ki Anom, kira kira hari apa yang baik untuk pernikahan anak-anak kita..?" tanya pangeran Hasyeem kepada Ki Anom.
"Ampun, tuanku, semua hari itu baik. Namun di antara hari yang baik itu, aku milih hari Jumat. Penanggalan bulan menunjukkan pada hari ke empat belas bintang lahir Tuanku Pangeran Khalied dan Zahra bertemu. Ini sangat bagus untuk pernikahan kedua belah pihak." kata Ki Anom.
__ADS_1
"Tanggal empat belas penanggalan bulan..? Bukankah itu berarti tak lama lagi, kurang lebih dua pekan dari hari ini.. " kata Pangeran Hasyeem.
"Benar sekali, Tuanku.. " kata Ki Anom.
"Baiklah, aku setuju dengan tanggal tersebut. Bagaimana, Ratuku..?" tanya Pangeran Hasyeem kepada Asmi.
"Aku juga setuju, Pangeran. Semakin cepat, semakin baik. Bukankah hal baik harus segera diselenggarakan..!" kata Ratu Asmi.
"Baik.Jika semuanya sudah setuju, maka saya anggap kita semua sudah sepakat. Lamaran ini sudah berjalan sesuai dengan keinginan kami. Pernikahan akan berlangsung tangan empat belas bulan Zulhijah. Pada penanggalan bulan. Apakah pihak keluarga besan, setuju..?" tanya Pangeran Hasyeem.
Semua pihak yang mewakili keluarga Zahra maupun pihak keluarga besar Istana Bukit Malaikat, merasa puas dengan hasil lamaran tersebut. Pernikahan telah di sepakati akan berlangsung tanggal Empat belas bulan Zulhijah atau dua minggu dari sekarang.
"Ibunda Zahra, sebagaimana umumnya tradisi yang ada di negeri kami. Kami berkewajiban memberi tanda mata untuk keluarga calon mempelai wanita. Maka dari itu, terimalah seserahan kami ini untuk calon menantu dan besan." kata Ratu Asmi sambil memberi kode kepada dayang - dayang yang sudah menunggu sejak dari tadi di luar rumah untuk membawa masuk barang - barang seserahan untuk Zahra dan ibunya.
Barang - barang itu hanya berupa seperangkat perhiasan emas dan permata untuk di pakai Zahra dan ibunya. Juga ada beberapa kain sutra dan kemudian buah - buahan serta aneka kue basah dan kering.
Semua itu kemudian dibalas oleh keluarga Zahra dengan suguhan makanan dan minuman serta aneka buah-buahan dan juga kue yang berasal dari dunia manusia.
Demikianlah, dua buah keluarga akhirnya bisa juga bersatu. Tanpa sibuk menanyakan asal usul kedua belah pihak. Pernikahan antara anak manusia dan anak keturunan dari bangsa jin dan manusia.
Ayo, kita ramai - ramai pergi ke pernikahan Pangeran Khalied. Tapi nanti...? bukan sekarang. Masih dua minggu lagi.
Sekarang kita pergi dulu ke istana Pangeran Azzura.
Pangeran Azzura tampak sedang termenung seorang diri. Pikiran raja penguasa hutan alas purwo itu mengembara jauh.
Sebentar lagi bulan purnama. Sekarang bulan sudah masuk ke fase tiga bulan mati. Sebentar lagi bulan akan hidup.
Dan itu pertanda, masa perubahan dirinya akan segera dia alami.
Pangeran Azzura memperhatikan tangannya yang di tiba - tiba berubah warna menjadi hitam dan berbulu.
__ADS_1
Pangeran Azzura sungguh sangat Terkesiap dan kaget.
"oh, astaga.... mengapa perubahanku cepat sekalian." kata Pangeran Azzura panik...