
"Panglima Ammar, perintahkan pasukanmu menjaga pintu gerbang. Jangan biarkan mereka berhasil membuka pintu itu..!" perintah Pangeran Hasyeem.
"Baik Tuanku..!" jawab Panglima Ammar
Panglima Ammar segera memerintahkan kepada separuh pasukannya untuk menjaga pintu gerbang agar jangan sampai di buka oleh anak buah Iblis Merah.
"Prajurit, jaga pintu gerbang. Jangan biarkan satupun pengikut iblish merah yang mendekati pintu gerbang. Jangan biarkan mereka membuka pintu gerbang...!" seru Panglima Ammar kepada Prajuritnya.
Semua prajurit berkumpul di depan pintu gerbang. Mereka menjaga pintu gerbang yang kini sudah mulai di dobrak oleh para pasukan raja iblish dari arah luar. Menambah palang dan memasang pagar ghaib yang semakin banyak dan berlapis - lapis. Semua bertujuan untuk melindungi istana Bukit Malaikat.
Sedangkan dari dalam, mereka harus menghadapi pasukan iblish merah yang sudah berhasil masuk ke dalam istana.
Iblish Merah berhasil membawa pasukannya masuk melalui pintu gerbang rahasia yang di buka oleh Zamura.
Pertempuran sengit masih berlangsung. Rakyat Bukit Malaikat semakin banyak berdatangan. Meraka ikut berjuang membela Pangeran Hasyeem.
Demikian juga, Ki Anom. Lelaki yang merupakan guru dari Pangeran Hasyeem dan juga seluruh anak - anaknya, datang bersama dengan Nyi Mirah dan Pangeran Anggada.
Juga beberapa siluman yang menjadi Sekutu Pangeran Hasyeem. Mereka berdatangan menyumbangkan bakti mereka untuk membela Pangeran Hasyeem.
__ADS_1
"Allahu Akbar.....!" teriak pasukan Ammar. Mereka meneriakkan takbir untuk mencambuk semangat para pasukan yang sedang bertempur.
"Allahu Akbar.... Allahu Akbarr....!!! Lahaula wala Quawata illah billah..!!!" Jawab mereka.
Suara gema takbir bersahut-sahutan hingga memekakkan telinga pasukan iblish Merah dan juga pasukan raja iblish yang ada di depan gerbang istana.
Bagi para pasukan iblish merah dan Raja iblish, suara takbir yang saling bersahut-sahutan itu, terasa seperti lecutan cambuk api neraka yang membakar habis telinga dan tubuh mereka. Dan itu tentu saja membuat mereka menjadi lemah.
Keduanya, bagaikan kayu bakar yang di makan api. Habis semua tak bersisa.
Di samping itu, senjata pedang perak yang digunakan oleh pasukan Ammar, membabat habis setiap pengikut iblish merah yang ada di hadapan mereka menjadi abu. Membuat jerih mata iblish Merah. Anak buahnya lenyap satu persatu di hadapan Iblish Merah.
Disaat yang sama, Iblish Merah pun sedang kerepotan dan mulai terdesak saat berhadapan dengan Pangeran Khalied.
Beberapa kali, Pedang Pangeran Khalied berhasil melukai Iblish Merah. Iblish Merah tak menyangka bahwa putra bungsu Pangeran Hasyeem itu akan sehebat ini
Iblish Merah pun mencari akal bagaimana caranya mengalahkan Pangeran Khalied.
"Sial..? " Pangeran Khalied terlalu hebat untuk ku kalahkan. Aku harus mencari cara lain agar bisa membuatnya bertekuk lutut." ucap Iblish Merah dalam hati.
__ADS_1
Sampai pada suatu ketika, mata Iblish Merah tertuju pada Zahra yang sejak tadi bersembunyi di balik tembok. Namun sayangnya, Gadis itu di jaga ketat oleh Zamura.
Iblish Merah menyeringai menampakkan gigi - giginya yang runcing dan tajam. Tampaknya dia menemukan cara agar dapat mengalahkan Pangeran Khalied.
Segera saja iblish Merah memerintahkan kepada beberapa orang pengawalnya untuk mengganggu dan memecah konsentrasi dan fokus Zamura.
Beberapa makhluk mengerikan kini sudah bergerak mengelilingi Zamura.
Sadar akan hal itu membuat Zamura bergerak untuk menghindari dan melancarkan serangan balasan agar semua makhluk itu lenyap.
"Heh, dasar licik... kau mau mencoba mengacaukan konsentrasiku. Percuma...!! " ucap Zamura. "Aku tak akan terperdaya oleh iblish busuk seperti dirimu...!" ucap Zamura.
"Kau salah, Zamura. Aku sudah berhasil mendapatkan ZAHRA., hahaha.. " Iblish Merah tertawa terbahak-bahak .
"Apa....!? "
?
?
__ADS_1