
Pangeran Khalied merasa terkejut dengan semua ucapan Zahra. Namun dia juga merasa senang karena gadis itu tidak marah atas semua yang terjadi tadi. Apakah itu pertanda bahwa Zahra mulai menyukai dirinya.
"Apakah benar bahwa kau tidak marah atas apa yang terjadi tadi..?? " tanya Pangeran Khalied. Dia ingin memastikan lagi bahwa perkataan Zahra tulus dan benar adanya. Bahwa gadis itu tidak marah padanya.
"Iya, benar Khalied. Aku tidak marah. Kau kan, bermaksud untuk menolongku." jawab Zahra lagi.
Pangeran Khalied tersenyum. Timbul lagi niat di hatinya untuk menggoda Zahra.
"Jadi kau tidak marah. Padahal tadi aku memelukmu dengan sengaja. Hmm, tubuhmu lumayan juga. Padahal kurus dan tak banyak yang menonjol. Hahaha.... !! " ucapnya. Semakin keras lagi pangeran Khalied tertawa hingga menampakkan gigi - gigi taringnya, karena melihat Zahra yang melotot marah kepadanya.
"Hei, katanya kamu tak marah..?" kata Pangeran Khalied seraya mengelak untuk menghindari cubitan Zahra yang kini sudah memburunya.
"Tapi kau mengatakan bahwa tubuh aku kurus dan tak ada yang menonjol. Itu namanya body Shemming. Aku tak terima..!! Sengit Zahra, sambil terus saja mengejar Pangeran Khalied. Karena kasihan akhirnya Pangeran Khalied membiarkan saja Zahra mendapatkan dirinya.
Zahra yang gemas dengan Khalied karena mengolok-olok dirinya melampiaskan kekesalannya dengan mencubit habis pemuda itu. Khalied sebenarnya tidak merasa sakit sedikitpun, namun dia pura - pura mengaduh kesakitan agar Zahra semakin merasa puas.
Setelah puas menghadiahkan cubitan di tubuh Pangeran Khalied, Zahra terduduk lelah di atas sebuah batu di pinggir sungai.
"Aihhh, lelahnya. Ternyata menganiayanya dirimu, sungguh melelahkan..!!" kata Zahra melirik kesal ke arah Pangeran Khalied. "Itu tubuh apa batu. Keras sekali. Tangan aku malah sakit semua..!" sungutnya.
"Sudah, puassss...? Sekarang nggak marah lagi. Juga masalah Mei Fang, sudah puas, kan marahnya..?" tanya Pangeran Khalied kemudian.
Zahra tertegun. Sadar, jika masalah Mei Fang lah yang membuat dirinya marah - marah sama Khalied dan akhirnya memakan buah apel tersebut hingga harus berakhir seperti ini ceritanya.
"Kau...,arghh...!! Mata Zahra kembali melotot karena kembali dia merasa kesal akibat ingat dengan Mei Fang dan Khalied.
Zahra kembali hendak menyarangkan cubitan ke tubuh Khalied namun belum juga cubitannya sampai di tubuh Khalied, tangan Khalied sudah keburu menangkap tangatangannya dan membawa gadis itu ke pelukannya.
Zahra terdiam mendapati perlakuan Khalied seperti ini. Dia tak marah. Hanya jantungnya saja yang berdetak semakin cepat. Pangeran Khalied bisa mendengar dengan jelas, irama detak jantung Zahra yang berdetak sangat cepat.
"Kau gugup..?" tanya Pangeran Khalied seraya menatap Zahra yang wajahnya memerah karena gugup dan malu. Gemas sekali dirinya dengan tubuh mungil dan wajah yang merona itu. Ingin rasanya dia menciumnya. Namun dia menahannya. Dia takut jika gadis itu kembali berubah pikiran dan menjauhi dirinya.
Zahra mengangguk dan membuang pandangannya ke arah lain. Dia malu karena ketahuan oleh Khalied bahwa dia gugup dan malu. "Kau membuat aku gugup, Khalied. Sudahlah... aku malu..!" jawab Zahra.
"Bolehkah aku menciummu..?" tanya Pangeran Khalied yang sungguh tak dapat menahan dirinya karena gemas dengan sikap Zahra yang menurutnya sangat imut dan menggemaskan.
Wajah Zahra semakin memerah. Sungguh mati dia merasa malu. Dia tak pernah di cium oleh pria manapun kecuali oleh ayahnya sewaktu bayi dan balita.( πππ ) Jadi bagaimana caranya berciuman dia tak tahu.
Mendapati Zahra yang terdiam, pangeran Khalied menduga jika Zahra merasa malu. Sumpah mati, seandainya bisa dia ingin sekali mengetahui isi hati gadis di depannya itu agar dirinya merasa tenang. Ayahnya dapat memahami isi hati ibunya dengan baik karena bisa membaca pikiran dan isi hati ibunya.
__ADS_1
Sedangkan dirinya, mengapa dengan Zahra dia tidak bisa melakukannya. Gadis itu lain dari yang lain. Pikiran dan perasaannya sulit untuk di baca.
Akhirnya pangeran Khalied memberanikan diri untuk membawa kepala Zahra dan menahan tengkuk gadis itu untuk sekejap dengan tangannya. Lalu dengan cepat bibirnya meraup bibir ranum gadis itu dan me****tnya dengan hangat.
Zahra hanya terdiam untuk beberapa saat. Otaknya sedang mencerna seperti apa rasanya dicium seseorang. Setelah itu, tubuh Zahra pun merespon balik. Dia pun membalas ciuman Khalied dengan canggung. Terasa kaku namun sangat indah.
Alam di dimensi empat menjadi saksi untuk pertama kalinya pangeran Khalied merasakan hangatnya gelora cinta yang tumbuh di dalam dadanya. Perasaan yang kuat dan ingin melindungi Zahra tumbuh dalam hatinya. Kemudian perasaan itu berubah menjadi bunga - bunga cinta yang bermekaran di hatinya.
Saat ini, bunga - bunga itu semakin bersemi indah di hatinya karena kini sepertinya cintanya telah bersambut. Zahra sudah menerima dirinya sebagai kekasihnya.
"Hem, aku kira sedang bertempur habis-habisan, ternyata pamanku yang tampan malah sedang bertarung bibir di sini..." sindir sebuah suara.
Pangeran Khalied langsung menghentikan ciumannya dan berbalik ke arah datangnya suara itu.
Dilihatnya, Pangeran Arkana dan Zamura serta seorang gadis dari bangsa manusia sedang berdiri di belakangnya memandang ke arah dirinya dengan senyuman menggoda.
"Pangeran Arkana, Zamura..!!" serunya dengan gembira.
"Paman..!!" seru Pangeran Arkana tak kalah gembiranya.
Kedua paman dan keponakan itu saling berpelukan melepas haru.
"Tuan, saya kembali..!" kata Zamura seraya menghaturkan sembah kepada junjungannya Pangeran Khalied.
"Zamura, senang melihatmu kembali. Aku pikir aku kehilangan dirimu. Syukurlah kita bertemu kembali dalam keadaan sehat walafiat. " kata Pangeran Khalied.
"Berkat rahmat Allah, Tuan.." jawab Zamura seraya mengangguk takjim.
"Tuanku, ternyata anda bersama gadis itu. Benar seperti dugaanku.." ucap Zamura.
"Hemm, sepertinya aku bakalan mendapatkan calon bibi. Bangsa manusia...?" ucap Pangeran Arkana.
Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana sejenak saling pandang kemudian lantas tertawa bersama. Kini keduanya sama-sama menyadari bahwa selera mereka sama. Sama-sama menyukai seorang gadis dari golongan manusia.
Sementara itu, Zahra yang kesal karena merasa di acuhkan dengan adanya reuni keluarga itu segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Dia kesal karena Pangeran Khalied jadi melupakan dirinya. Namun baru saja dia berjalan beberapa langkah, sebuah tangan yang kekar mencekal pergelangan tangannya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Mau kemana, kau sayang. Aku belum selesai dengan dirimu.." bisik Pangeran Khalied nakal di telinga Zahra.
__ADS_1
Zahra segera mendorong tubuh Khalied karena dia merasa malu. "Khalied, malu di lihat orang." bisiknya kemudian.
Pangeran Arkana dan Zamura senyum - senyum melihat Zahra yang tersipu malu. Sedangkan Kania, sejak pertama datang, gadis itu melongo menatap pangeran Khalied. Pandangan kagum dan terpesona terpancar jelas dari wajah gadis itu terhadap pangeran Khalied.
Astaga... lelaki ini sangat tampan dan kharismatik sekali, pikir Kania. Tubuhnya tegap dan berotot. Mirip seperti ksatria yang dilihatnya dalam film - film laga barat. Kumis tipis lelaki itu membingkai bibirnya membuat wajah tampan itu semakin menawan. Rambutnya yang dikuncir ke belakang membuat dia terlihat jantan. Kania sampai tak berkedip menatapnya.
"Kania, berhenti memandangi wajah pamanku. Sudah kukatakan, bahwa pamanku ini memang tampan dan menawan. Bila kau terus - terusan memandangnya, nanti kau jatuh cinta. Bila hal itu terjadi, maka yang ada kau akan mendapat masalah dari wanita yang ada di sebelahnya. Dia adalah calon bibiku." ucap pangeran Arkana.
Kania langsung melotot mendengar ucapan Pangeran Arkana."Arka, kau jahat sekali. Aku hanya kagum pada pamanmu. Ternyata ada juga bangsa jin yang setampan ini.." ucap Kania malu - malu.
Pangeran Khalied dan Arkana serta Zamura tak dapat menahan tawa. Kania memang sungguh lucu. Gadis itu selalu terbuka dan blak - blak-blakan tentang perasaannya.
"Paman, kenalkan dia, Kania. Dia adalah temanku. " Pangeran Arkana memperkenalkan Kania kepada Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Kania. Gadis itu tak berhenti menatap ke arah Pangeran Khalied sambil tangannya menyambut uluran tangan Pangeran Khalied.
"Kania, aku adalah paman Pangeran Arkana dan ini adalah calon istriku, Zahra. Senang mengenalmu.." ucap Pangeran Khalied sambil merangkul Zahra dalam pelukannya.
"Sayang, ini adalah Pangeran Arkana, dia keponakanku, dan ini Zamura. Kau pasti sudah pernah bertemu dengannya sebelum kita sampai ke tempat ini. Dan ini adalah Kania, teman Pangeran Arkana." Pangeran Khalied memperkenalkan Zahra kepada Pangeran Arkana dan Zamura, serta Kania yang merupakan teman Pangeran Arkana dari bangsa manusia.
"Sepertinya, kau akan mendapatkan seorang teman, Sayang.." ujarnya lagi.
Zahra menyalami satu persatu ketiga tamu mereka dengan canggung. Maklum saja, baru saja dia dan Pangeran Khalied jadian. Sudah dikenalkan dengan keluarganya sebagai calon istri.
"Wah, bibiku ternyata cantik sekali. Untung saja pamanku sudah mengatakan terlebih dahulu tentang statusnya, jika tidak, aku bisa jatuh cinta padamu, Zahra." ucap Pangeran Arkana pada Zahra.
Wajah Kania mendadak berubah masam mendengar perkataan Pangeran Arkana. Sedangkan Pangeran Khalied hanya tertawa mendengar ucapan keponakannya itu.
"Jangan coba - coba, Pangeran Arkana. Dia milikku." Kata Pangeran Khalied dengan posesif.
Ketiga lelaki itu tertawa terbahak-bahak entah apa yang di tertawakan. Begitulah kaum lelaki. Mereka seolah memiliki bahasa isyarat tersendiri yg hanya merek sendirilah yang mengerti dan memahami. Jika kaum wanita unik dengan segala sifat unik mereka. Maka lelaki pun tak kalah uniknya dengan wanita dengan tingkah laku mereka terhadap teman dan pasangannya.
Sedangkan Kania dan Zahra, hanya bisa saling pandang dan mengangkat bahu. Sepertinya mereka akan cocok.
Kini, kelimanya sudah bersatu dan bertemu. Lima bintang sudah bertemu di suatu titik. Sebuah pusaka pun telah ditemukan. Ramalan Zaggart kini telah terbukti. Tinggal mencari dua pusaka lagi. Pusaka yang satu, tentulah kita sudah tahu, yaitu Pedang mata Malaikat. Namun untuk pusaka yang satu lagi, masih menjadi misteri.
Bagaimana kelanjutan cerita ini. Bagaimana cara mereka menemukan pusaka kedua dan ketiga..? Ikuti terus petualangan mereka di dimensi ke empat. Jangan lupa untuk like, komen dan vote, yah. ππβΊβΊππ
salam manis dari Mina...
__ADS_1