Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 78 Waktu yang Terhenti


__ADS_3

"Lah, ini Zahra, ....anaknya almarhumah. Zahra kemana saja, kamu, Nak..? Ibumu meninggal dunia tadi malam." kata orang itu sambil menarik Zahra agar segera masuk ke dalam rumahnya.


Gadis itu tak menjawab pertanyaan orang itu. Hanya hatinya saja yang sibuk mencerna kata - kata orang itu. Apakah benar ibunya sudah meninggal..?? Tanya Zahra bingung.


Zahra terdiam membeku menatap mayat ibunya yang terbujur kaku di atas tempat tidur.


Mpok Suri menghembuskan nafas terakhir tadi malam, akibat pukulan dari anak buah si Codet yang mengenai kepala wanita itu.


Kata beberapa orang tetangganya yang mengintip kejadian itu, semalam Codet dan anak buahnya datang tengah malam buta untuk menyambangi rumah Zahra.


Sempat terjadi adu mulut antara Mpok Suri dengan Si Codet. Salah seorang anak buah Si Codet kemudian memukul Mpok Suri dengan sebuah tongkat kayu hingga wanita itu tersungkur jatuh ke tanah dan tak bergerak lagi.


Si Codet dengan beringas kemudian membawa Zahra secara paksa ke markasnya. Sampai kemudian sebuah keanehan terjadi.


Lebih jauh lagi, tetangga itu Zahra menceritakan keanehan yang terjadi semalam di markas si Codet. Ketua Preman kampung itu ditemukan mati dalam keadaan yang mengenaskan bersama beberapa orang anak buahnya.


Ketua preman di kampungnya itu tewas dalam keadaan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Sedangkan Zahra, yang katanya dibawa Codet ke markasnya, nyatanya tidak di temukan di tempat itu.


Saat ini, polisi sedang menyelidiki kasus ini. Polisi belum menemukan jejak pembunuh preman kampung itu. Karena semua keterangan yang diberikan oleh anak buah Codet yang masih hidup dinilai berbelit - belit.


Ketika ditanyai oleh polisi, mereka menjawab bahwa semalam, markas mereka didatang oleh seorang pemuda yang berpenampilan aneh. Pemuda itu memiliki bola mata yang berwarna kuning seperti warna lampu.

__ADS_1


Mereka bercerita kalau pemuda itu bisa terbang dan membawa Zahra pergi bersamanya.


Tentu saja, polisi tidak mempercayai ucapan mereka. Mereka dianggap sudah tidak waras karena mabuk. Namun polisi masih bingung soal menghilangnya Zahra dari tempat Codet. Semua masih menjadi teka teki selama Zahra belum ditemukan.


Napas Zahra mendadak sesak ketika perlahan-lahan ingatannya tentang kejadian malam itu kembali pulih.


Iya, kini Zahra mengingat semuanya. Zahra ingat pada malam itu Codet dan anak buahnya datang ke rumahnya.


Tangan Zahra terkepal menahan geram. ketika dia ingat bagaimana ketika salah satu anak buah si Codet tanpa belas kasihan memukul ibunya dengan balok kayu sampai perempuan itu tak berkutik lagi..


Oh, Tuhan.. Zahra hampir mati karena sesak napas yang dideritanya ketika melihat darah yang menggenang di tanah yang berasal dari kepala Ibunya.


Zahra menoleh ke arah Pangeran Khalied. Pemuda itu sejak tadi memang masih berada di sisi gadis itu. Hanya saja, keberadaannya tidak bisa di lihat oleh orang - orang di sekitar Zahra.


Dia ingat sekarang, pemuda itu datang tepat pada saat si codet hendak menggagahinya. Sehingga terjadilah perkelahian antara si Codet dengan Khalied.


Dalam perkelahian itu, Codet terbunuh. Setelahnya, datang bergulung - gulung asap tebal hitam yang menyelimuti keduanya.


Zahra dan Khalied terperangkap di dalam asap tersebut. Zamura yang datang kemudian bermaksud untuk menyelamatkan tuannya.


Namun, sayangnya, ke-tiganya malah terseret dalam dunia lain. Di suatu dunia yang bernama DiMenSi Keempat.

__ADS_1


"Pangeran, apa kau tidak merasakan keanehan yang terjadi sejak kita datang?" bisik Zahra kemudian.


Beberapa tetangga Zahra menatap iba kepadanya. "Kasihan, Pasti si Zahra sedih dan stres lantaran kematian ibunya yang tiba-tiba dan dengan sangat mengenaskan. makanya, dia berbicara sendiri seperti orang yang tak waras. Kasih, pasti Zahra amat terguncang jiwanya menerima kenyataan ini." bisik tetangga Zahra kepada orang yang duduk di sebelahnya.


"Iya, sepertinya begitu. Sejak tadi, aku melihat gadis itu bicara dengan seseorang, tapi tak ada siapapun yang berada di sebelahnya." jawab orang itu.


Sementara itu, Zahra masih saja asyik mengobrol dengan Pangeran Khalied tanpa peduli omongan tetangganya.


"Aku memang merasakan adanya keanehan sejak kita tiba tadi, sayang" jawab Pangeran Khalied.


"Iya, tapi apa itu, kak,...? " tanya Zahra. Gadis itu tak sepenuhnya bisa memahami arti ucapan Pangeran Khalied.


"Waktu...! " jawab Pangeran Khalied cepat.


"Apa maksud Kak Khalied...?"


"Zahra, kita berada di dimensi empat sudah lebih satu purnama. Tapi mengapa saat kita kembali, semuanya masih sama. Waktu kembali lagi berulang pada saat aku selesai bertarung melawan si Codet"


.


Setelah Pangeran Khalied berucap demikian, sadarlah Zahra bahwa yang aneh bukan mereka tapi waktu...

__ADS_1


__ADS_2