Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 43 Makhluk Panghisap Darah


__ADS_3

Malam berganti siang dan siang pun berganti malam. Namun tak ada bedanya di dimensi keempat. Semua sama saja. Baik siang ataupun malam, keadaan dan suasana selalu gelap. Hanya ada dua warna pada langitnya, yaitu warna hitam dan warna abu - abu.


Hari terus berganti. Tanpa mereka sadari mereka sudah melewatkan waktu selama dua minggu berada di negeri yang tak bertuan ini.


Selama dua minggu ini sudah banyak hal yang mereka berlima alami. Akan tetapi, baik Pangeran Khalied maupun Pangeran Arkana belum menemukan tanda - tanda keberadaan pedang Mata Malaikat itu.


Masih di dalam kegelapan, lima orang sedang berjalan beriringan menyusuri kegelapan hari di dimensi keempat. Mereka adalah Zamura yang berjalan paling depan. Kemudian ada Pangeran Khalied yang berjalan di belakang Zamura.


Pangeran Khalied sedang menggandeng tangan Zahra yang nampak kesulitan mendaki sebuah bukit. Di belakangnya ada Pangeran Arkana. Keponakan Pangeran Khalied itu terlihat sedang membantu Kania yang juga sedikit kesulitan berjalan menelusuri daerah perbukitan di sekitar tempat ini.


Tujuan mereka kali ini adalah ke Gunung Tengkorak. Menurut Zaddak, Gunung Tengkorak adalah daerah yang sangat berbahaya untuk di lalui. Bukan saja oleh bangsa manusia dan jin, tetapi juga oleh para penghuni dimensi ke empat.


Karena daerah itu adalah daerah yang memiliki banyak sekali aktivitas vulkanologi serta gempa.


Kita sudah bisa membayangkan seperti apa keangkeran tempat itu hanya dengan mendengar namanya saja. Apalagi jika kita sudah berada di tempat itu.


Gunung Tengkorak adalah gunung berapi yang terdapat di dimensi ini. Gunung itu kerap kali memuntahkan lahar panasnya dan juga gempa yang sering kali terjadi akibat aktivitas vulkanik dari gunung tersebut.


Keadaan itu membuat Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana serta Zamur semakin meningkatkan kualitas kewaspadaan mereka terhadap Keadaan itu.


Apalagi mereka sudah mengetahui akan keangkeran tempat itu dan keberadaan Nagini yang selalu mengintai mangsanya dalam kegelapan.


Menurut Zaddak, makhluk berbentuk ular naga besar berkepala manusia itu selalu mengintai mangsanya secara diam - diam.


Makhluk siluman ular itu selalu menjaga wilayah Gunung Tengkorak dari siapa saja pun yang mencoba memasuki wilayah tersebut dengan ganasnya. Tubuhnya melingkari gunung itu dengan sempurna hingga menutupi sampai ke puncaknya. Tubuhnya yang memang berwarna hitam itu menjadi selimuti gunung untuk menyamarkan dirinya dengan sempurna di dalam kegelapan.


Dan sekarang kelima orang tersebut sudah hampir sampai ke tempat itu. Tempat dimana sumber Air penawar untuk Kania itu berada. Tepatnya di kaki lembah Gunung Tengkorak.


Pangeran Arkana memutuskan untuk datang bersama Pangeran Khalied dan Zamura karena dia memikirkan tentang keselamatan Kania. Jika ada pamannya, sedikit banyak akan bisa membantunya saat harus berhadapan dengan situasi yang sulit nantinya.


"Sepertinya kita hampir sampai di Gunung Tengkorak.. " kata Zamura. Telunjuknya mengarah ke suatu tempat. " Apakah gunung yang terlihat dari tempat ini adalah Gunung Tengkorak? " tanyanya lagi.


"Benar, sepertinya itu adalah Gunung Tengkorak. Gunung itu jika di lihat dari jauh mirip seperti tengkorak kepala manusia. Karena itulah maka kemudian di sebut Gunung tengkorak."


"Kalau begitu, tunggu apa lagi, ayo kita ke sana!!" ajak Kania dengan tidak sabarnya.


"Sabarlah dulu, Kania. Kita tunggu hingga hari menjelang pagi, baru kita pergi ke tempat itu. Saat ini sebaiknya kita beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk menghadapi mahluk itu." ucap Pangeran Arkana.

__ADS_1


Mereka berlima pun sepakat untuk beristirahat sejenak sebelum memilih untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai ke lembah. Lembah di kaki gunung tengkorak tempat mata air itu berada tampaknya tidak jauh lagi.


Mereka segera mencari tempat berteduh yang pas. Kania lebih memilih tidur di atas sebuah batu, sedangkan Pangeran Khalied dan Zahra lebih memilih tidur di bawah sebuah batu besar bersandar pada tubuh sang Kekasih. Sedangkan Pangeran Arkana dan Zamura berjaga-jaga di sekitar daerah itu sampai pagi menjelang.


Menjelang pagi, barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju ke lembah gunung tengkorak.


Jarak Setengah hari perjalanan, akhirnya mereka tiba juga di bawah kaki gunung tengkorak. Kania dan Zahra bergidik ngeri saat menatap ke arah gunung tengkorak yang bentuknya mirip seperti tengkorak manusia.


Keduanya seperti membayangkan bahwa seolah - olah mereka sedang berhadapan langsung dengan tengkorak manusia. Di tengah kegelapan suasana, gunung tengkorak semakin mengerikan jika di pandang.


"Kita sudah sampai di Gunung Tengkorak, bagaimana caranya kita bisa menemukan sumber mata air tersebut, letaknya saja kita tak tahu..? " kata Pangeran Khalied.


"Menurut Zaddak, kita harus menyusuri ke selatan agar bisa sampai ke sumber mata air itu, Paman..?"jawab Pangeran Arkana.


Kelimanya kemudian menyusuri tempat itu menuju ke selatan kaki Gunung Tengkorak sesuai petunjuk dari Zaddak. Mereka sudah berjam - jam berjalan, namun tak juga menemukan sumber air tersebut.


"Apakah benar seperti yang manusia harimau itu katakan? Awas saja kalau dia berani berbohong, aku akan kuliti tubuhnya dengan pedangku." ucap Pangeran Khalied kesal karena sudah sejak tadi menyusuri tempat itu mereka tak juga menemukan tempat itu.


Sementara itu, Kania merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Gadis itu seperti merasakan bahwa tubuhnya seperti di panggang di atas bara. Semakin panas membakar tubuhnya hingga sampai membuat dia berkali-kali harus meminum air dari botol minuman yang di bawanya.


Padahal, waktu siang hari saja tak ada matahari yang menyorot, sehingga udara yang tidaklah sepanas seperti di bumi. Apalagi saat ini waktu sudah menjelang malam hari.


"Aku merasa haus sekali, Arka. Rasanya tenggorokan aku seperti terbakar. Rasanya biarpun satu sungai air di tumpahkan ke mulutku, tak akan tuntas dahaga ku. Aku harus bagaimana? " tanya Kania.


Dia terlihat semakin payah dan kehausan sekali. Pangeran Arkana memegangi dahi Kania.


"Astaga... badan kamu panas. Kamu demam, Kania..! " Pangeran Arkana menjadi panik.


Pangeran Arkana merasa gelisah dan panik melihat keadaan Kania. Dia tak ingin terjadi sesuatu dengan gadis itu.


Dia segera mendatangi Pangeran Khalied dan Zamura yang sedang berjalan bersama di depan.


"Tak usah panik, Pangeran. Semua itu akan membuat Pangeran kehilangan fokus. Itu hanya demam biasa saja. Siapa tahu nona Kania hanya kecapekan saja...!" ucap Zamura.


"Ahkkk....!!!!" tiba-tiba saja terdengar sebuah jeritan.


"Itu Zahra..!! " kata Pangeran Khalied. Mereka bertiga segera saja mendatangi Zahra.

__ADS_1


"Apa yang terjadi..??" tany Pangeran Khalied kepada Zahra yang terlihat sedang memegangi lehernya yang mengalirkan darah. Sementara Kania sudah tak berada di sana lagi.


" Paman, Kania kemana. Dia tidak ada. Padahal tadi dia kutinggal di sini bersama Zahra.." tanya Pangeran Arkana.


"Dia kabur..!! " jawab Zahra sambil meringis memegangi lehernya yang semakin banyak mengeluarkan darah.


Segera Pangeran Khalied menotok aliran darah di leher Kania agar pendarahan di lehernya berhenti.


"Apa yang terjadi...?" tanya Pangeran Khalied.


"Kania menggigit leherku..!" jawab Zahra.


"APA... !!! "


Ketiganya kaget bukan kepalang. Astaga.... apakah Kania sudah berubah menjadi makhluk penghisap darah seperti yang dikatakan Lamma. Pangeran Arkana dan Zamura bertanya - tanya dalam hati. Waktunya ternyata lebih cepat dari perkiraan mereka. Padahal seharusnya seminggu lagi.


"Apa yang terjadi, Pangeran..? Jelaskan padaku mengapa teman wanitamu ingin mengigit Zahra..? Apa dia sejenis manusia vampire" tanya Pangeran Khalied.


"Bukan begitu, paman. Kania terkena kutukan Lamma....?" jawab Pangeran Arkana.


Pangeran Khalied memandang Zahra dengan pandangan heran. Zahra akhirnya ingat, gadis itu sejak kemarin mengeluh karena merasakan rasa harus yang begitu menyiksa.


"Apakah ada yang tahu pukul berapa sekarang?" Tanya Pangeran Arkana lagi.


"Mungkin sekarang sekitar pukul delapan malam.." jawab Zamura.


"Benarkah..?"


Keduanya langsung mengganguk saat mendengar pertanyaan Pangeran Arkana.


" 0h, sial, sekarang ini aku harus segera bergegas menyusulnya. Sebelum jatuh korban lagi...! kata Pangeran Arkana.


Pangeran Arkana bergegas lari menyusul Kania ke arah selatan.. karena dia membaui tubuh Kania yang berasal dari selatan.


Sedangkan Pangeran Khalied bergegas menyobati luka di tubuh Zahra.


"Pangeran, apakah kau tak berniat hendak menyusul mereka...? " tanya Zamura.

__ADS_1


"iya, tunggu sebentar lagi, Zamura..!! " aku sudah mau selesai...! jawab Pangeran Khalied seraya membalut luka di leher Kania dengan perban.


__ADS_2