
"Katakan padaku, apa maumu mengikuti gadis ini...! " bentak Pangeran Arkana. "Apa kau mau aku membakarmu sekarang...?" bentaknya lagi.
"Hihihi... Hihihi... Hai jin busuk, buktikan saja ucapanmu. Apa kau pikir aku takut padamu...?" ucap Kuntilanak itu sambil tertawa menyeramkan.
Kuntilanak itu terbang ke atas langit-langit kamar dan bertengger di sana seolah-olah mengejek Pangeran Arkana.
Pangeran Arkana menjadi semakin geram karena Kuntilanak itu sepertinya meremehkan ucapannya.
Seketika itu juga mata Pangeran Arkana menyala dan mengeluarkan sinar kekuningan. Itulah ilmu mata malaikat yang sudah berhasil dia kuasai dengan sempurna. Kini ilmu itu di gunakan untuk menyerang Kuntilanak yang telah mengikuti Kania dan kemudian berniat untuk mengganggu gadis itu.
Melihat pangeran jin itu mengeluarkan ilmu mata malaikat miliknya, Kuntilanak itu segera menghindar dan kabur dari hadapan pangeran Arkana.
Namun, Pangeran Arkana tidak membiarkan Kuntilanak itu pergi begitu saja. Putra Pangeran Alyan itu segera mengejar Kuntilanak itu hingga kemudian dia berhasil mendapatkan Kuntilanak itu.
Tanpa ampun lagi, habislah riwayat Kuntilanak itu sebagai hantu gentayangan di muka bumi ini. Makhluk penghuni alam ghaib yang berwujud perempuan berambut panjang dan berwajah sangat mengerikan itu terbakar habis di babat cahaya yang keluar dari pancaran mata Pangeran Arkana.
"Mampuslah, kau makhluk yang tak menerima kematiannya. Kini kau tidak bisa lagi berinkarnasi kembali." ucap Pangeran Arkana sambil tersenyum, puas.
Setelah membakar habis Kuntilanak yang mengganggu Kania, Pangeran Arkana kembali lagi untuk menemani Kania. Dia ingin bersama gadis itu walau tanpa sepengetahuan Kania. Biarlah dalam diam dia menikmati kebersamaan dengan gadis itu, pikir Pangeran Arkana.
Akan tetapi, betapa terkejutnya Pangeran Arkana saat kembali ke kamar Kania dan mendapati gadis itu sudah tak ada lagi di sana.
Pangeran Arkana mencari Kania ke kamar mandi. Siapa tahu saja, gadis itu berada di sana.
__ADS_1
"Kania...! Kania...!" Pangeran Arkana memanggil Kania beberapa kali. Namun Pemuda itu tak melihat tanda - tanda akan keberadaan Kania di kamar mandi.
"Kemana Kania pergi.." tanya Pangeran Arkana dalam hati. " Apa dia pergi ke rumah sakit..? Tapi masa baru saja tidur, sudah bangun dan kembali lagi ke rumah sakit." pangeran Arkana bergumam pada diri sendiri.
Penasaran akan di mana keberadaan Kania, akhirnya Pangeran Arkana Bergegas pergi ke rumah sakit untuk menyusul Kania. Siapa tahu saja dia bisa menemukan Kania di sana.
Namun, rupanya harapan Pangeran Arkana sia - sia. Seluruh sudut - sudut rumah sakit sudah dia telusuri. Setiap ruangan sudah pula, dia masuki. Namun dia tak menemukan keberadaan Kania di sana. Kemana Kania...?
Perasaan Pangeran Arkana kesal bercampur gusar. Mengapa Kania tidak bisa dia temukan di manapun. Sudah juga dia menggunakan ilmu Sepih Angin untuk mencari keberadaan di sekitar tempat itu dan di rumah Kania. Namun, tidak ada hasil.
Putus asa, .. Pangeran Arkana menemui Pangeran Khalied. Kepada Pamannya itu Pangeran Arkana lalu bercerita tentang hilangnya Kania seusai dia mengejar Kuntilanak yang berniat mengganggu Kania.
Pangeran Khalied menyimak detail demi detail cerita keponakannya itu dengan teliti.
"Sepertinya kamu melewatkan sesuatu, Pangeran Arkana.." kata Pangeran Khalied.
"Melewatkan apa, Paman..?" Pangeran Arkana balik bertanya.
Pangeran Khalied tak menjawab pertanyaan Pangeran Arkana. Tapi menatap Pemuda itu dengan tajam.
"Ayo, antarkan aku ke rumah Kania sekarang juga....!" ucap Pangeran Khalied.
Meskipun merasa aneh, tapi Pangeran Arkana segera melesat terbang menuju ke rumah Kania. Pangeran Khalied mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Hmmm... sepertinya aku mencium bau yang mencurigakan... " kata Pangeran Khalied begitu setibanya mereka di kamar Kania.
"Bau, bau apa, Paman? " tanya Pangeran Arkana penasaran.
"Coba kau tajamkan penciumanmu, bau apa yang kau cium, Pangeran..?" Pangeran Khalied balik bertanya.
Pangeran Arkana terdiam dan mencoba berkonsentrasi. Dia menajamkan indra penciumannya agar bisa mengetahui bau apa yang pamannya maksudkan.
"Hhmm.... mengapa aku seperti mencium bau serbuk karbit yang menyengat bercampur bau busuk. Tunggu, aku seperti mengenal bau ini. Bau ini seperti.... "
"Pangeran..!! Awas di belakangmu..!" seru Pangeran Khalied.
Sebuah sinar merah melesat cepat menuju ke arah Pangeran Arkana.
Pangeran Arkana sempat mengelak sehingga tak ayal lagi , sinar merah itu kini bergerak langsung ke arah Pangeran Khalied.
Dengan sigap, Pangeran Khalied putra Pangeran Hasyeem itu menerima serangan sinar merah tersebut dengan pukulan Halilintar.
Suara yang sangat keras terdengar dan menimbulkan ledakan suara dahsyat yang memekakkan telinga akibat bertemunya dua kekuatan besar.
"Paman,....!" Seru Pangeran Arkana. " Apakah paman tidak apa - apa..?" tanya Pangeran Arkana cemas.
"Aku tidak apa - apa, Pangeran." sahut Pangeran Khalied.
__ADS_1
"Benar, ini adalah bau iblish dan bala tentaranya, Paman..! "