
"Ampun, aku mohon, jangan bunuh aku. Aku mengaku kalah. Sesuai janjiku akan menyerahkan tempat ini. Kamu pun boleh mengambil gadis itu." kata Badra kemudian.
Selesai berkata demikian, secara perlahan - lahan tubuh Badra pun lenyap tak berbekas.
Pangeran Khalied membawa Zahra ke dalam pelukannya. Semua yang diliat Zahra kemudian ikut hilang tak berbekas.
"Ayo kita pulang, sayang..!" ajak Pangeran Khalied.
***
Pangeran Khalied berhasil mengalahkan Badra, genderuwo Penguasa Hutan Alas Amarta dan membawa kembali Zahra dengan selamat ke rumahnya.
Bukan itu saja, Badra pun menepati janjinya. Genderuwo itu menyerahkan istana Alas Amarta kepada Pangeran Khalied. Sedangkan Badra sendiri akhirnya pergi meninggalkan Istana itu.
Hal itu berarti, sekarang yang menjadi penguasa Hutan Alas Amarta adalah Pangeran Khalied.
"Kak, kenapa kakak lama sekali datangnya. Apa yang kakak lakukan..?" tanya Zahra setelah keduanya berada di dalam kamar Zahra.
"Maafkan aku, Sayang. Saat itu, aku sedang di rumah kakakku, Pangeran Azzura." jawab Pangeran Khalied.
"Pangeran Azzura, apakah kalian juga bersaudara kandung sama seperti Putri Humaira..?" Tanya Zahra.
"Iya, benar. Ibuku memiliki lima orang putra dan putri. Kakak pertamaku adalah pangeran Alyan. Dia sudah menikah dengan Kak Luna. Dan memiliki beberapa orang putra. Salah satunya adalah Pangeran Arkana. Kamu pasti mengenalnya. Dia adalah Arka. Oh iya, Kak Luna adalah manusia biasa sama seperti kamu. Hanya saja, ayah tiri Kak Luna, yaitu Panglima Ammar juga adalah seorang jin.." jelas Pangeran Khalied.
"Berarti, Arka adalah keponakan kakak.?" kata Zahra lagi.
Pangeran Khalied menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa ucapan Zahra benar. Memang lah benar adanya Pangeran Arkana adalah keponakannya. Karena ayah dsri Pangeran bermata kuning terang itu adalah Pangeran Allah, kakaknya.
"Oh, astaga..! Jadi Kalian semua adalah manusia - manusia keturunan jin.?" seru Zahra kagum.
"Ssstt.. kecilkan suaramu, sayang. Orang - orang masih tidur. Ini baru pukul empat pagi.. " kata Pangeran Khalied.
Zahra menutup mulutnya karena keceplosan membuka mulut dan bersuara nyaring. Padahal hari masih lagi malam.
Zahra mengenal Pangeran Arkana atau Arka karena mereka berdua sudah sering bertemu. Tapi sungguh dia tak menduga, jika Arkana adalah benar - benar keponakan pangeran Khalied.
Pangeran Khalied kemudian kembali melanjutkan obrolan dengan Zahra dan menjelaskan tentang asal usul keluarganya kepada Zahra.
"Yang kedua adalah Pangeran Azzura. Kakakku itu menikah dengan Putri Ambika. Putri Raja Siluman Harimau Putih yang bergelar Ki Jabat. Baik Kak Luna ataupun Kakak Putri Ambika, sama-sama jago berkelahi. Kakakku itu memiliki tiga pasang putra dan putri." lanjut Pangeran Khalied.
"Maksud kakak kembar..?" tanya Zahra.
"Benar, keponakan aku dari Pangeran Azzura semuanya kembar. Yang terakhir adalah sepasang anak perempuan yaitu si kembar Putri Malika dan putri Zalika. kata Pangeran Khalied.
__ADS_1
"Menarik sekali. Waktu keluarga kakak datang kemari, aku melihat seorang wanita yang sangat cantik." kata Zahra.
Alis Pangeran Khalied terangkat ke atas. Mencoba mengingat siapa wanita cantik yang dimaksud Zahra.
"Apakah saat itu dia memakai pakaian berwarna biru?" tanya Pangeran Khalied.
Zahra mencoba mengingat kembali pakaian wanita itu. "Iya, benar sekali. Aku ingat sekarang, dia memakai pakaian yang berwarna biru. Di sebelahnya duduk seorang pria dengan rambut di kuncir ke belakang dan berwarna keemasan.. " kata Zahra.
"Dia kakakku Putri Aryyan dan suaminya Andros." tukas angeran Khalied.
"Benarkah, betapa cantiknya dia. Apakah suaminya juga sebangsa kalian..?" tanya Zahra.
"Benar sekali. Suaminya juga berasal dari golongan kami." kata Pangeran Khalied.
Zahra manggut- manggut mendengar cerita Pangeran Khalied tentang keluarganya. Sungguh tak disangkanya, tak lama lagi, dia juga akan menjadi bagian dari keluarga Khalied, keluarga Pangeran Hasyeem.
Lantas, apakah nanti jika sudah menikah dia akan tinggal dengan Khalied di istana bukit Malaikat. Lalu bagaimana dengan ibunya.
Seolah-olah mengerti dan dapat membaca pikiran Zahra, Pangeran Khalied kemudian berdiri lalu membawa Zahra ke dalam pelukannya.
"Kita akan tinggal di sini. Sampai kau siap untuk tinggal di istanaku nanti." kata Pangeran Khalied sambil mengecup dahi Zahra dengan sayang.
"Istana, kakak.?" tanya Zahra heran.
Istana itu, pikir Zahra. Dia tak tahu seperti apa istana milik Badra. Akan tetapi, melihat dari bentuk istana itu, pasti seram.
"Jangan khawatir, aku akan membuat istana itu seindah seperti yang kau inginkan." kata Pangeran Khalied.
"Kakak, ... kau seperti tahu saja apa yang sedang kupikirkan.."ujar Zahra manja.
"Karena kita sehati..!" sahut Pangeran Khalied sambil menjentik ujung hidung Zahra yang bangir.
Mulut Zahra terbuka dan ingin menjerit akan tetapi dengan cepat Pangeran Khalied membungkam mulut Zahra dengan ciuman.
Zahra terdiam tak jadi menjerit. Tubuh gadis itu berdiri kaku dengan mata terpejam. Bahkan kemudian tubuh gadis itu bergetar hebat ketika ciuman Pangeran Khalied merambat turun ke lehernya.
"Akhh....Kak Khalied..
ohhh....akhh, Jangan, Kak..!" Zahra mendorong pelan tubuh kekar Pangeran Khalied agar pemuda itu menghentikan aktivitas panasnya.
Pangeran Khalied yang terhanyut gairahnya dan terbawa suasana segera tersadar. Segera dia menghentikan cumbuannya ke Zahra.
"Maafkan aku, aku terbawa suasana tadi. Sepertinya aku harus mempercepat lagi pernikahan kita, karena aku takut khilaf.. " kata Pangeran Khalied.
__ADS_1
Zahra tertawa kecil mendengar gerutuan Khalied. "Sabar, Kak. Besok lusa kita sudah menikah. Aku akan serahkan diriku kepadamu seutuhnya. Sabar, yahh.." kata Zahra sambil memberikan kecupan di pipi Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied merasa senang. Hatinya sedikit terhibur oleh kecupan Zahra.
Tak terasa waktu sudah memasuki subuh. Suara azan subuh terdengar sampai ke kamar Zahra.
"Sudah subuh, aku harus pergi. Kau pergilah sholat subuh. Setelah sholat subuh, jangan langsung tidur. Aku akan menjemputmu. Kita akan jalan - jalan pagi." kata Pangeran Khalied.
"Baik, Kak...!" kata Zahra.
Pangeran Khalied pun segera pergi meninggalkan kamar Zahra untuk sholat subuh di mesjid. Sebenarnya, para jin pun melaksanakan sholat subuh di masjid ikut berjamaah di mesjid berbaur dengan para jemaah manusia. Akan tetapi karena mereka tak terlihat, sehingga kita tidak bisa melihat kehadiran mereka.
Pangeran Khalied menepati janjinya. Sesudah sholat subuh dia kembali lagi menjemput Zahra dan mengajak gadis itu jalan - jalan subuh.
"Kita kencan subuh, atau kencan pagi..?" tanya Zahra.
"Tentu saja aku lebih suka menyebutnya sebagai kencan pagi hari." jawab Pangeran Khalied.
Keduanya tertawa bersama sebelum akhirnya berjalan beriringan menikmati suasana pagi yang cerah.
****
Pagi hari buta di rumah Zahra sudah terlihat kesibukan para wanita di dapur.
Sejak semalam, Pangeran Khalied dan keluarga mereka sudah berada di sana. Karena tadi malam, ada acara khataman. Zahra menamatkan bacaan Al-Qurannya dan kemudian dilanjutkan dengan acara merias tangan dengan henna.
Pangeran Khalied merasa bangga dan terharu ketika Zahra melantunkan ayat - ayat suci Al-Quran dengan suara merdunya. Sehingga membuat yang mendengar merasa syahdu dan tersentuh Kalbunya termasuk Pangeran Hasyeem dan ibundanya Ratu Asmi.
Setelah selesai acara Khataman, Pangeran Hasyeem dan keluarganya mohon diri. Tetapi Pangeran Khalied tetap tinggal untuk menemani Zahra yang lagi asyik memasang henna di tangannya dengan di bantu oleh juru hias henna.
Terlihat Zahra yang sudah mandi selesai sholat subuh dan langsung di rias oleh MUA. Gadis itu tampil anggun bak putri dengan balutan kebaya yang serba putih. Juga hiasan melati di kepala gadis itu, membuat kecantikan Zahra begitu sempurna. Sehingga, Pangeran Khalied sampai tak berkedip memandang wajah cantik calon mempelainya.
Pukul 10.00, acara yang di nantikan oleh semua orang dimulai. Para tamu undangan sudah banyak yang hadir. Keluarga Istana Bukit Malaikat yang di pimpin oleh Pangeran Hasyeem, Keluarga Pangeran Alyan dari Hutan Larangan, Keluarga Pangeran Azzura dari Hutan Alas Purwo dan juga keluarga Panglima Ammar dari istana Bukit Duri. Juga tak ketinggalan Putri Humaira dan Zyftar yang datang bersama putri angkat mereka, Balqis. Yang datang paling terakhir adalah Putri Arryan dan Andros beserta keluarganya.
"Khalied bin Hasyeem, aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan seorang perempuan bernama Zahra binti Thamrin yang berwali hakim kepada saya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan di bayar tunai." ucap Penghulu sambil menjabat tangan Pangeran Khalied.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zahra binti Thamrin dengan mas kawin yang tersebut di bayar tunai" sahut Pangeran Khalied.
"Bagaimana,.Saksi, SAH..?"
"SAH...!!! " jawab Para Saksi.
Bagaimana pembaca, apakah Sah...?
__ADS_1
Jangan Lupa, kasih like dan vote yang banyak untuk kado pernikahan Pangeran Khalied dan Zahra. 🫰🫰❤️🩹