
Sedangkan Pangeran Khalied bergegas menyobati luka di tubuh Zahra.
"Pangeran, apakah kau tak berniat hendak menyusul mereka...? " tanya Zamura.
"iya, tunggu sebentar lagi, Zamura..!! " aku sudah mau selesai...! jawab Pangeran Khalied seraya membalut luka di leher Kania dengan perban.
Selesai membalut luka di leher Zahra Pangeran Khalied segera mengajak kekasihnya itu untuk ikut mengejar Kania yang kabur setelah menggigit Zahra.
"Pegang tanganku. Aku akan mengajakmu terbang. Kurasa mencari lewat udara akan lebih mudah untuk menemukan Kania." ucap Pangeran Khalied.
Kania segera memegang tangan kokoh Pangeran Khalied dan segera mereka berdua langsung terbang meninggalkan tempat itu untuk mencari Kania. Zamura pun mengikuti keduanya di belakang.
"Apakah kau melihat tanda - tanda keberadaan Kania, Pangeran Arkana?" tanya Pangeran Khalied kepada Pangeran Arkana yang terlihat celingukan mencari keberadaan Kania.
"Aku belum menemukannya, Paman..!!" Sahut Pangeran Arkana.
Mereka kemudian bersama - sama mencari keberadaan Kania di sekitar wilayah itu.
Mereka berpencar membagi diri menjadi dua kelompok. Pangeran Arkana bersama Zamura dan Pangeran Khalied bersama Zahra.
Kedua kelompok itu terus menyisir wilayah itu dari dua arah. Pangeran Khalied terus k selatan sedangkan Pangeran Arkana menyusur ke arah Barat. Hari sudah kembali lagi menjelang pagi. Langit sudah berwarna kelabu. Namun tanda - tanda bahwa mereka akan menemukan Kania belum menemukan titik terang.
Sampai pada suatu ketika, Mata tajam Zamura seperti melihat sebuah titik bergerak perlahan seperti mengendap-endap.
"Sepertinya aku melihat Kania di bawah sana... " kata Zamura kepada Pangeran Arkana. Mereka berdua menengok ke arah satu titik bergerak yang tampak di bawah sana.
"Iya, sepertinya itu memang Kania. Ayo kita sampiri..!" ajak Pangeran Arkana.
Pangeran Khalied diberitahu oleh Pangeran Arkana melalui ilmu Sepih Angin miliknya bahwa mereka menemukan Kania. Segera Pangeran Khalied mengajak Zahra untuk menyusul Pangeran Arkana.
"Sayang, sepertinya Pangeran Arkana berhasil menemukan Kania. Ayo, kita kesana sekarang. Mereka ada di Barat." ucap Pangeran Khalied.
Blusss, wajah Zahra bersemu merah. Bukan lantaran tangan Pangeran Khalied yang memegang tangannya, tetapi karena panggilan 'sayang' yang di tujukan kepadanya.
"Iya, Kak." jawab Zahra gugup. Pangeran Khalied menatap Zahra yang terlihat salah tingkah.
"Kau tidak apa - apa? " tanya Pangeran Khalied. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Zahra. Apalagi Zahra baru saja digigit Kania.
"Aku tak apa - apa. Ayo kita pergi sekarang..!" jawab Zahra.
Mereka kemudian pergi menyusul Pangeran Arkana dan Zamura ke arah Barat.
Sementara itu, Pangeran Arkana dan Zamura sudah berada di dekat Kania yang sedang asyik menghisap darah seekor kerbau hutan. Hewan itu rupanya ditemukan juga di tempat ini. Bentuknya juga sama seperti yang ada di bumi.
"Pangeran, sepertinya sekarang nona Kania benar-benar telah berubah menjadi makhluk penghisap darah seperti Lamma. Namun wujudnya belum berubah seperti Lamma. Mungkin karena masih ada sisi manusia dalam diri Nona Kania hingga wujudnya masih tetap manusia." kata Zamura.
Pangeran Arkana menunduk dan memperhatikan Kania yang masih saja asyik menghisap darah kerbau itu tanpa merasa terganggu oleh kehadiran kedua makhluk jin tersebut. Mungkin saja dia sudah terbiasa dengan bau kedua makhluk itu hingga tak lari ketika berada di dekatnya atau juga mungkin saja Kania keasyikan melahap makanannya karena lapar.
"Setelah ini mau kita apakan temanmu itu, Pangeran..?" tanya Pangeran Khalied yang muncul secara tiba-tiba di belakang Pangeran Arkana.
__ADS_1
"Entahlah, Paman. Aku juga tak tahu. Namun, sepertinya kita harus tetap membawa Kania bersama kita. Aku tak akan mungkin membiarkan Kania di tempat ini seorang diri." jawab Pangeran Arkana dengan sedih.
Pangeran Khalied memandang wajah keponakannya yang terlihat sedih dan bingung. Dia dapat melihat bahwa keponakannya itu teramat sangat mencintai gadis itu. Hingga meskipun gadis itu sudah berubah menjadi makhluk penghisap darah seperti tadi pun, dia tak akan sanggup untuk meninggalkan apalagi untuk membunuhnya.
"Baiklah, ayo kita sergap gadis itu. Sepertinya dia sudah kenyang sekarang!" kata Pangeran Khalied.
Pangeran itu menoleh ke arah Zahra. Dia melihat Zahra yang meringis kesakitan sambil memegang lehernya.
"Apakah lehermu masih sakit..??"
"Iya, sakit sekali dan juga rasanya sangat panas." jawab Zahra.
Pangeran Khalied segera memeriksa leher Zahra. Luka akibat gigitan Kania masih membekas nyata. meninggalkan warna merah kehitaman mirip seperti memar akibat luka dalam.
"Sepertinya racun akibat gigitan Kania menyebabkan rasa sakit dan panas seperti yang kau rasakan sekarang, sayang..?" ucap Pangeran Khalied.
"Kemarilah...!" perintah Pangeran Khalied sambil menariknya Zahra agar semakin mendekatinya."Maaf, aku terpaksa melakukannya!" ucap Pangeran Khalied.
Setelah itu, Pangeran Khalied segera menempelkan bibirnya ke leher Zahra yang terdapat luka akibat gigitan Kania lalu mengisapnya kuat - kuat.
Tubuh Zahra bergetar dan menggelinjang hebat karena rasa sakit yang teramat sangat akibat hisapan dari Pangeran Khalied di lehernya.
Sementara Pangeran Arkana dan Zamura juga sudah bergerak mendekati dan kemudian lantas meringkus Kania. Rupanya, kelemahan makhluk penghisap darah itu adalah saat mereka makan. Mereka seolah - olah tak berdaya saat makan. Keadaan ini yang membuat mereka lemah.
Hal ini disadari oleh Pangeran Arkana saat dirinya mengingat pertempuran terakhir dirinya dengan Lamma. Makhluk itu tak berdaya ketika sedang asyik menghisap darah Kania dan Pangeran Arkana menyerangnya.
Tubuh Zahra rubuh setelah darahnya di hisap oleh Pangeran Khalied. Pangeran Khalied pun memuntahkan darah berwarna hitam kebiru - biruan dari mulutnya. Itulah racun Lamma yang mulai menggerogoti tubuh Zahra.
"Bukan itu, Paman. Mengapa yang paman lakukan tadi tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Andai saja aku melakukan seperti tadi, maka sudah tentu Kania tidak akan bernasib seperti ini." keluh Pangeran Arkana.
"Sudahlah, tak perlu di sesali. Barangkali memang sudah takdir bahwa nasibnya Kania harus menjalani hal seperti itu." ucap Pangeran Khalied sambil menepuk bahu keponakannya. Bermaksud untuk memberikan dukungan.
"Mungkin juga seperti itu. Terima kasih, Paman." balas Pangeran Arkana. Dia lalu menotok jalan darah Kania agar gadis itu menjadi tenang.
Pangeran Arkana membersihkan mulut Kania yang masih berlumuran darah kerbau dan kemudian mengajaknya duduk di salah satu batu. Memandang gadis itu membuatnya teringat akan kata - kata Lamma.
Masalah yang mereka hadapi saat ini adalah bagaimana cara menemukan air yang tak terlihat. Namun dapat kau rasakan. Dapat kau pegang seumur hidupmu."Apa yang tak terlihat tapi dapat kau rasakan. Apa yang dapat kau pegang seumur hidupmu." Pangeran Arkana bertanya - tanya dalam hati.
Tak lama, di langit tampak gelap seperti ditutupi oleh sesuatu. Bahkan suasana di sekitar tempat itu berubah menjadi dingin dan mencekam.
Pangeran Arkana menoleh ke arah Pangeran Khalied. Memberi isyarat agak Pamannya dan Zamura, menoleh ke atas ke arah telunjuknya.
Segera saja Pangeran Khalied melihat ke atas mengikuti arah telunjuknya Pangeran Arkana. Betapa terkejutnya Pangeran Khalied dan Zamura saat melihat ke atas.
Langit berubah menjadi gelap itu ternyata bukan berasal dari matahari yang tertutup awan, melainkan satu yang besar yang tengah menutupi mereka.
Mata Zamura terbeliak tak percaya saat memandang ke atas. Di atas sana tengah berdiri seekor ular kobra yang sangat besar. Keadaan suasana yang gelap tadi adalah karena kepada kobra yang besar tadi menutupi langit hingga suasana berubah gelap.
"Ular Kobra, Tuanku..!" Serunya seraya langsung menghunus senjatanya. Pengawal pribadi Pangeran Khalied itu segera melesat terbang ke atas untuk melihat sebesar apa wujud dari ular kobra raksasa itu.
__ADS_1
"Astaga,.. besar sekali ular ini. Apakah ular ini yang dimaksud Zaddak." guman Zamura dalam hati.
Sementara itu, Pangeran Khalied langsung menyingkir dari tempat itu membawa tubuh Zahra yang masih tergolek lemah karena banyak kehilangan darah akibat di hisap oleh Pangeran Khalied ke tempat yang lebih aman.
"Sepertinya kita sedang berhadapan dengan Nagini, Tuanku. " kata Zamura kepada Pangeran Khalied
"Aku pun menduga demikian, Zamura." Kata Pangeran Arkana.
"Siapa Nagini..? Apa yang kalian maksud adalah ular kobra raksasa itu?" tanya Pangeran Khalied.
"Benar sekali, Tuanku. Ular kobra raksasa itu bernama Nagini. Dialah yang menjaga sumber mata air yang tak terlihat namun dapat kau rasa.." ucap Zamura.
"Kalau begitu kita harus menghadapi ular itu sekarang juga, agar kita cepat menemukan obat penawar untuk Kania. Aku yakin sekali, jika Sumber mata air itu pastilah berada di dekat sini. Karena Nagini sudah berada di sini." kata Pangeran Arkana lagi.
Pemuda itu sudah sejak tadi membawa Kania yang masih lemah karena dalam keadaan tertotok berlindung di balik baru besar yang banyak terdapat di tempat itu. Dan sekarang dia sudah siap sedia menghadapi Nagini, si ular kobra raksasa.
Ular itu kemudian mendesis dan menyemburkan bisanya. Bisa Nagini menghambur keluar dan hampir mengenai tubuh Zamura. Untung saja Pengawal Pangeran Khalied itu cepat mengelak. Hingga bisa itu hanya mengenai angin dan jatuh ke bawah.
Namun efek yang di timbulkan dari adanya serangan bisa Nagini adalah bahwa batu yang baru saja terkena percikan bisa Nagini seketika meleleh dan berubah mencair.
"Gawat, Tuanku. Bisa Nagini benar - benar mengerikan. Batu saja sampai meleleh. Apalagi jika terkena manusia..? " kata Zamura kepada kedua orang junjungannya itu.
Keduanya saling pandang untuk kembali menoleh ke bawah. Mereka sadar bahwa dua orang manusia sedang ada di bawah sana.
"Zahra..! " seru Pangeran Khalied untuk kemudian melompat ke bawah menghampiri tubuh Zahra.
Demikian juga halnya dengan Pangeran Arkana. "Kania..! " Pangeran Arkana pun berseru memanggil nama Kania.
Dia melihat tubuh Kania masih berlindung di balik batu. Bergegas pemuda tampan itu mendatangi Kania dan membawa gadis itu bergerak menyingkir ke tempat yang lebih tertutup.
"Pangeran, sepertinya aku melihat di sana ada suatu celah. Mungkin saja itu adalah sebuah gua." kata Zamura sambil menunjuk ke suatu celah di pinggir tebing di kaki gunung Tengkorak.
"Kau benar, itu tampaknya sebuah celah kecil. Aku sependapat denganmu, itu pasti sebuah gua. Ayo kita kesana. Zamura, bantu lindungi aku dari belakang. Karena aku mau membawa Kania ke sana.!! " ucap Pangeran Arkana sambil terbang melesat menuju ke celah kecil yang dilihatnya. Benar sekali, itu adalah sebuah Gua. Pangeran Arkana merasa gembira di hatinya karena gua itu bisa dia gunakan untuk menyembunyikan Kania.
Namun saat dirinya sudah hampir sampai di mulut, tiba-tiba saja, Nagini sudah berdiri di depan celah dan menutupi mulut gua tubuhnya..
"Zamura, serang bagian matanya..!!" Seru Pangeran Khalied pada Zamura yang berada di belakang Pangeran Arkana.
"Hati - hati terhadap semburan bisanya, Zamura." serunya lagi.
"Pangeran, apakah kamu percaya bahwa kita menjadi terkenal jika kita bisa membunuh Nagini ini,hahaha..?" Zamura tertawa sambil menebaskan pedangnya ke ekor Nagini..? "
Pedang Zamura berhasil menebas Ekor Nagini hingga menjadi terpisah dengan tubuh ular itu.
Namun anehnya, ekor Nagini kembali tumbuh seperti sedia kala.
Nagini kemudian mengejar pangeran Khalied dan Zamura.
Pangeran Khalied mengeluarkan ilmu Halilintar dan menggabungkannya dengan ilmu mata Malaikat milik Pangeran Arkana untuk menghadapi Nagini, makhluk ular penunggu Sumber mata air tak terlihat itu.
__ADS_1
Nah, bagaimana kelanjutan ceritanya. Ikuti terus cerita Pedang dan Cinta Sang Pangeran. Jangan lupa untuk menekan tombol like dan vote ya..
Salam manis dari Minaaida