
Sedang asyik berjalan menuju istana, tiba - tiba Putri Humairah merasakan tangannya di sentuh oleh seseorang.
"Putri Humairah...!" sapa Pangeran Sya'if. Pangeran Sya'if adalah putra bungsu pangeran Hammed. Pangeran Hammed adalah sepupu jauh ayahnya. Sudah lama Pangeran Sya'if jatuh hati kepada Putri Humairah. Sayangnya putri Humairah hanya menganggapnya sebagai teman dan saudara.
"Oh, eh.. Pangeran Sya'if. Apa kabar. Sudah lama kau tak datang berkunjung kemari. Kapan kau tiba..?" tanya Putri Humairah berbasa-basi.
" Kabarku baik, Putri. Aku dan ayah baru saja tiba." jawab Pangeran Sya'if.
Sementara itu, Zyfhar yang berjalan menyusul di belakang putri Humairah berhenti agak jauh dari sana. Dia berdiri tak jauh dari putri Humairah. Memang sudah menjadi tugasnya, mengawal kemana pun putri Humairah pergi.
"Hei, Zyfhar. Rupanya kau masih setia mengawal tuan Putri. Bagaimana kabarmu, wahai sobat..?" sapa Pangeran Sya'if kepada Zyfhar.
Pangeran Sya'if adalah Pangeran yang santun dan berbudi. Dia tidak pernah berlaku sombong terhadap siapa saja. Juga tak pernah membeda - bedakan dalam berteman. Walaupun dia adalah anak seorang raja, tapi dia selalu menghormati orang lain. Tak peduli orang itu rakyat jelata ataupun kaum bangsawan.
"Alhamdulillah, hamba baik - baik saja, Pangeran." jawab Zyfhar dengan sopan.
Putri Humairah menatap ke arah Pangeran Sya'if dan Zyfhar yang sedang bercakap-cakap. Diam - diam, putri Humairah mengeluh dalam hati. Mengapa akhir - akhir ini jantung dan hatinya selalu bermasalah bila berada di dekat Zyfhar. Sepertinya dia harus memeriksakan jantung dan hatinya kepada dokter atau tabib istana.
"Putri Humairah, sejak tadi, kerjamu hany melamun saja. Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu..?" tanya Pangeran Sya'if. Pangeran muda itu berjalan mendekati Putri Humairah dan berdiri persis di hadapan putri itu. Bahkan putri Humairah bisa merasakan hembusan nafas pangeran Sya'if karena
Saling berhadapan dalam jarak yang seintim itu membuat keduanya terlihat seperti sepasang sejoli yang di mabuk cinta.
Pemandangan itu di saksikan oleh Zyfhar yang sejak tadi diam - diam memperhatikan junjungannya.
Hati pemuda itu terasa seperti di panggang di atas bara. Namun dia sadar diri, tak mungkin dirinya mendapatkan cinta putri Humairah yang derajatnya saja jauh berbeda dengan dirinya.
Maka dari itu, dari pada sakit, Zyfhar memilih untuk menundukkan kepala dari pada melihat pemandangan yang amat sangat menyakitkan mata.
"Zyfhar, tolong sampaikan pada ayahku, bahwa aku dan Pangeran Sya'if hendak berkeliling di taman." kata Putri Humairah kepada Zyfhar.
"Baik, tuanku. Kalau begitu hamba pergi dulu. Assalamu'alaikum, tuan Putri." ucap Zyfhar kemudian terbang melesat menemui Pangeran Hasyeem.
Sepeninggal Zyfhar, Putri Humairah mengajak Pangeran Sya'if untuk berjalan - jalan di taman. Namun di dalam hati, Putri Humairah sebenarnya merasa resah. Pikiran putri cantik itu selalu terbayang atas peristiwa yang dialaminya tadi bersama Zyfhar. Bayang - bayang Zyfhar yang mencium bibirnya, membuat jantungnya kembali berdegup kencang. Dia masih dapat merasakan sisa - sisa sentuhan hangat bibir pemuda itu di bibirnya.
"Putri Humairah,.... Putri Humairah...!" panggilan Zyfhar membuyarkan lamunan putri Humairah akan Zyfhar. Dengan malu - malu, putri Humairah menjawab panggilan pangeran Sya'if.
"Ada apa pangeran Sya'if. Mengapa kau memanggilku seperti itu..?
" Aku memanggilmu, karena sejak tadi aku bertanya, namun kau tidak menjawabnya."
"Maafkan aku, aku sedikit melamun. Memang, kalau boleh tahu, apa yang ingin kau tanyakan...?"
__ADS_1
Pangeran Sya'if mengangkat bahu seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku bertanya, mengapa bagaimana keadaan pangeran Alyan.Karena sudah lama sekali, aku tidak bertemu dengan kakakmu, itu. Di mana sekarang dia berada...?" ujar pangeran Sya'if.
"Oh, itu. Kakaku itu sekarang berkuasa di hutan larangan. Sedangkan Pangeran Azzurra, kakakku yang satunya lagi, dia menjadi penguasa di hutan Alas Purwo." Jawab Putri Humairah.
"Terus, di manakah Pangeran Khalied berada? Sejak aku tiba hingga saat ini, aku tak melihat batang hidungnya saudara kembarmu itu, Putri." tanya Pangeran Sya'if lagi.
"Entahlah, kata ayahku dia sedang menjalankan tugas penting kerajaan. Maka dari itu dia tak berada di sini." jawab Putri Humairah.
Tanpa terasa, mereka tiba di ujung taman yang berhadapan langsung dengan sungai. Memang, taman itu di bangun oleh pangeran Hasyeem untuk sang Ratu, yaitu istrinya Ratu Asmi. Karena Ratu asmi sangat menyukai taman dan juga sungai - sungai yang ada mengalir dari pegunungan.
"Putri, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." ucap Pangeran Sya'if setelah mempersilahkan Putri Humairah duduk di bangku taman.
"Apakah itu, Pangeran Sya'if..?" tanya Putri Humairah.
"Sebenarnya, sudah lama aku bermaksud ingin menyampaikan isi hatiku ini. Tapi aku masih ragu untuk menyampaikan hal ini. Aku takut kamu marah dan menghindar dariku."ucap Pangeran Sya'if .
"Katakan, saja. aku akan mendengarkan." jawab Putri Humairah.
"Putri, sebenarnya sudah lama aku..." Pangeran Sya'if terdiam sejenak sambil memandang ke arah putri Humairah. "aku menyukaimu, Putri Humairah. Aku jatuh cinta padamu."ucap Pangeran Sya'if.
Putri terdiam setelah mendengar pengakuan Pangeran Sya'if. Sebenarnya, dia sudah menduga bahwa pangeran Sya'if akan membahas hal itu.
Namun yang tak dia duga adalah bahwa pangeran Sya'if akan mengatakan hal ini sekarang.
Kini Putri Humairah bingung. Bagaimana harus menanggapi pernyataan cinta pangeran Sya'if.
"Putri Humairah, kau tak perlu menjawab sekarang. Aku tahu, kau masih bingung saat ini. Mungkin saja kamu tak menduga bahwa aku akan menyatakan hal ini. Tak perlu kau jawab sekarang." ucap Pangeran Sya'if.
Pangeran Sya'if berkata demikian karena melihat kebungkaman dan juga rona kebingungan di wajah Putri Humairah.
"Pangeran Sya'if, jujur saja, memang saat ini aku sedang bingung dan juga agak sedikit terkejut. Pernyataan cintamu, sungguh aku tak menduga. Hanya saja, saat ini aku sedang menyukai seseorang. Namun sayangnya, aku pun tak tahu, apakah dia juga menyukai aku." ucap Putri Humairah. Dia ingin jujur pada Pangeran Sya'if karena tak ingin memberi harapan padanya.
"Kalau boleh tahu, siapakah orang yang beruntung itu, Putri..?" tanya Pangeran Sya'if.
"Saat ini, aku tak bisa mengatakannya, Pangeran. Karena aku tak tahu, apakah dia juga mencintaiku." jawab Putri Humairah.
"Baiklah, aku bisa menghargai keputusan kamu, Putri. Namun bolehkah jika aku masih berharap bahwa suatu saat nanti siapa tahu hatimu berubah, sampai saat itu, aku masih tetap menunggu, Putri." ucap Pangeran Sya'if.
"Aku tak punya hak untuk melarang, Pangeran. Aku menghargai semua yang kau lakukan... " sahut Putri Humairah.
__ADS_1
Keduanya masih saja terlibat obrolan yang panjang, hingga tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sejak tadi terus saja mengawasi keduanya.
Sepasang mata berwarna merah itu tak lepas menatap ke arah keduanya dengan pandangan yang sulit di artikan. Tatapan yang penuh kecemburuan nampak jelas terpancar dari matanya.
***
***
Sementara itu, kita tinggalkan dulu Zyfhar yang sedang galau dilanda kecemburuan terhadap pangeran Sya'if dan putri Humairah. Juga putri Humairah yang gelisah galau merana menanti pernyataan cinta dari Zyfhar, sang pengawal pribadinya.
kita sekarang beralih kepada Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana serta Zamura yang sedang kebingungan mencari Zahra dan Kania yang hilang terbawa oleh kabut misterius di pantai entah berantah di negeri tak bertuan di dimensi ke empat.
"Paman, bagaimana ini. Sepertinya tak ada tanda - tanda yang menunjukkan keberadaan mereka di tempat ini." ucap Pangeran Arkana setengah putus asa setengahnya lagi, kelengerr. 😁😁😁
Maklum saja, mereka sudah mengelilingi dan menyusuri sepanjang garis pantai dan juga tempat - tempat di sekitarnya, dari pagi hingga malam hari, namun, tak ada tanda - tanda bahwa mereka akan bertemu dengan kedua gadis itu.
Sekarang sudah menjelang tengah malam. Mereka sudah lelah dan kesal. Dengan gusar Pangeran Khalied menghempaskan diri di pinggir pantai.
Hati dan pikirannya tak tenang. Dia sangat mengkhawatirkan Zahra. Pun demikian halnya dengan Pangeran Arkana, pemuda itu juga sedang mengkhawatirkan nasib Kania.
"ZAHRAAAA!!" Teriak pangeran Khalied memanggil nama kekasihnya itu dengan gusar. "ZAHRA, DIMANA KAU. ZAHRA.....!!" panggil Pangeran Khalied.
Tiba-tiba, Pangeran Khalied ingat ingat akan pesan Nyi Blorong. Yang tiada itu ada. Yang Mati itu hidup.
Apakah ini berarti ketiadaan Zahra dan Kania adalah sebenarnya ada. Jika iya, itu berarti mereka masih ada di sana. Hanya saja, barangkali pandangan mata mereka di tutup oleh seseorang atau sesuatu.
"Pangeran Arka, Zamura, ayo kita harus ke tempat tadi. Jika aku tak salah, mereka pasti masih di sana." ucap Pangeran Khalied.
Ketiga makhluk jin itu bergegas terbang kembali ke tempat semula. Tempat mereka terakhir melihat kedua teman wanita mereka berdiri.
"Tiada itu ada, Yang Mati itu Hidup..., maka sudah dapat di pastikan bahwa kedua gadis itu sebenarnya tidak hilang. Hanya saja kita yang tidak dapat melihat mereka karena pandangan kita sedang di halangi oleh seseorang atau sesuatu." ucap Pangeran Khalied sambil mempercepat larinya. Dia tak ingin kehilangan wanita yang baru beberapa hari ini resmi menjadi kekasihnya.
Tak makan waktu lama, pangeran Khalied dan kedua orang itu yaitu Pangeran Arkana dan Zamura tiba di tempat itu. Segera saja, Pangeran Khalied mengambil tempat duduk dinatS baru dan mulai bersemedi untuk membuka mata bathinnya.
Hal serupa langsung di lakukan oleh Zamura dan Pangeran Arkana. Masing-masing mereka mengambil tempat duduk di atas batu karang dan mengikuti pangeran Khalied bersemedi.
Benar saja, dalam pandangan mata bathinnya, Pangeran Khalied melihat Zahra dan Kania yang terlihat sedang kebingungan dan memanggil - manggil dirinya serta Pangeran Arkana. Namun tiba-tiba saja, pangeran Khalied melihat segerombolan manusia berwajah ikan dengan tubuh di penuhi sisik berwarna kehijauan mendekati mereka dan menarik paksa tangan kedua gadis itu. Mereka kemudian membawa gadis itu masuk ke dalam sebuah kapal besar yang entah muncul dari mana.
"Akh, sial..! Ternyata mereka telah membawa Zahra dan Kania bersama Kapal mereka...!" ucap Pangeran Khalied kesal.
Kini Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana sudah berhasil mendapatkan informasi tentang Zahra dan Kania. Bagaimana cara mereka mendapatkan kembali Zahra dan Kania..?
__ADS_1