Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
bab. 62 Bluma...


__ADS_3

Karena menurutnya tempat itu sangat di indah dan sejuk. Namun yang lebih indah lagi adalah langitnya yang berwarna biru cerah. Hanya tempat itu yang memiliki warna langit biru dan cahaya yang terang. Tempat apakah itu..? Itulah yang ada dalam pikiran masing-masing ketiganya.


"Maafkan, hamba. Tapi hamba juga tak tahu siapa pemilik tempat ini." jawab Zamura.


Kapal pengangkut ruh itu akhirnya sampai juga di Eddena. Eddena adalah sebuah pulau kecil di dimensi ke empat yang sangat indah. Tempat satu - satunya di dimensi ini yang mendapatkan sinar matahari. Sehingga awannya berwarna putih terang dan langitnya berwarna biru.


Kini kapal milik Charon itu telah merapat di dermaga Eddena. Seluruh penumpang kapal pun di turunkan. Tak terkecuali ketiga penumpang 'gelap' yang tak memiliki paspor ke akherat itu, juga telah turun lebih dahulu.


"Wah, alangkah indah pemandangan dari tempat ini.Lihatlah ruh - ruh itu. Mereka keluar dari dalam ruangan di bawah sana seperti layaknya kupu - kupu emas yang bercahaya, beterbangan menuju ke Eddena." tunjuk Pangeran Arkana.


Pangeran Khalied tidak menghiraukan ocehan kedua orang di belakangnya yang sibuk memberi komentar tentang keadaan di Eddena. fokus pemuda itu adalah Eddena dan juga kekasih hatinya yang katanya ada di tempat ini.


Pangeran Khalied mengamati tempat yang bernama Eddena ini. Tempat ini memang memiliki keindahan alam seperti layaknya surga. Sangat indah dan damai. Pantas saja, Charon mengirim mereka ke tempat ini, pikir Pangeran Khalied. Dia dapat mengerti akan pemikiran wanita itu. Memanglah, wanita itu memiliki perasaan yang lebih peka dan lembut. Sehingga mereka bahkan rela lelah demi sebuah rasa simpati dan rasa empati kepada sesama. Demikian juga yang dialami oleh Charon. Walaupun sebagian orang Charon dianggap jahat dan Ganas. Namun ternyata, wanita jelmaan ikan itu masih memiliki rasa empati kepada para ruh - ruh yang terlantar itu dan membawa mereka ke tempat yang aman dan damai ini.


Pangeran Khalied terus saja berjalan menelusuri tempat itu. Di belakangnya menyusul Pangeran Arkana dan Zamura.


Tempat itu meskipun hanya berupa sebuah pulau kecil yang di keliling oleh lautan. Eddena sendiri merupakan sebuah dataran tinggi yang terletak di pinggir laut. sehingga jika kita menoleh ke sekelilingnya, hanya tebing - tebing curam saja di sekeliling tempat itu.


Tampak mengerikan memang jika kita memandang ke arah laut dan tebing - tebing di sekitar Pulau Eddena. Lautan yang menghitam dengan warna langit yang hitam serta pemandangan tebing yang tinggi dan curang dengan kemiringan sembilan puluh derajat.


Namun berbanding terbalik saat kita melihat ke dalam pulau. Sejauh mata memandang, hanya hamparan luas rerumputan hijau saja yang terlihat. Di padang rumput yang luas itu hanya ditumbuhi satu pohon saja. yaitu pohon oak. Pohon itu menjadi satu - satunya pohon yang ada di pulau yang luas ini.


Pohon ini amatlah sangat besar. Saking besarnya, pohon itu sanggup menampung ratusan orang yang duduk di dahannya yang besar. selain besar, pohon itu juga berdaun lebat. Hingga daunnya dapat berfungsi sebagai atap.


Andai saja terjadi hujan, tentulah tidak akan basah orang yang berteduh di bawahnya. Saking lebatnya daunnya. Dan ke sanalah sekarang arah pangeran Khalied menuju.


"Ckckckck, luar biasa. Ternyata ada juga pohon raksasa di dimensi ini." komen Zamura. Dirinya sampai dibuat takjub karena melihat pohon yang sedemikian besar.


Pujian yang dilontarkan Zamura tampaknya tidak direspon dengan baik oleh Pangera Khalied. Dalam pikirannya, sibuk memikirkan dimana keberadaan Kania dan Zahra.

__ADS_1


Charon mengatakan bahwa Zahra dan Kania berada di kamar bunga. Dia sudah mencari Zahra dan Kania di seluruh ruangan dalam kapal itu, namun kedua gadis itu tak berada di sana. Lalu, kata Zamura, kamar bunga adalah nama tempat yang ada di Eddena.


Sedangkan di Eddena, tak ada rumah atau ruangan. Bagaiamana caranya dia menemukan kamar bunga. Pangeran Khalied merasa gusar dan amat marah pada diri sendiri. Dia merasa marah karena merasa tidak berdaya melindungi kekasihnya. Kekasihnya itu hilang di depan mata. Dan sampai saat ini, dia belum juga menemukan baik Kania maupun Zahra.


Pangeran Arkana dan Zamura memutuskan untuk memanjat pohon besar itu. Dengan ringan, tubuh keduanya terbang melesat ke atas pohon.


"Subhanallah.... pemandangan dari atas pohon ini benar-benar menakjubkan.!!" seru Zamura.


"Iya, kau benar, Zamura. Bagiku seperti melihat taman Eden saja."


"Paman, di sana ada taman bunga yang indah. Apakah paman tidak berniat untuk memeriksa ke sana. Barangkali saja, Zahra ada di sana." Ucap Pangeran Arkana seraya menunjuk ke suatu tempat.


Pangeran Khalied terbang melesat ke atas pohon. Dia juga penasaran, bagaimana pemandangan di bawah sana.


"Di mana taman bunga itu, Pangeran.??" tanya Pangeran Khalied.


""Itu paman, ...! tunjuk Pangeran Arkana lagi.


Benar sekali, dari atas dahan pohon itu, menengok ke bukit kecil yang ada di sebelah timur pohon itu. Itu sebuah taman bunga. Jika kita melihat dari dahan pohon, taman itu terlihat seperti sebuah sebuah.... ruangan.


Pangeran Khalied dan Pangeran Arkana saling pandang. Kamar bunga...!?


Jantung Pangeran Khalied berdebar - debar cepat. Apakah taman bunga itu yang di maksud dengan Kamar bunga.


Pangeran Khalied bergegas terbang menghampiri taman bunga itu. Rasa hatinya berdebar tak karuan. Dadanya serasa meletup - letup oleh kegembiraan. Dia akan bertemu lagi dengan kekasih hatinya.


Demikian juga halnya dengan Pangeran Arkana. Pria itu berlari mengejar sang paman yang sudah terbang terlebih dahulu ke tempat itu.


Benar saja, di sana dia melihat kedua gadis itu. Meraka sedang tersenyum bahagia seperti tanpa beban hidup. Berlarian kian kemari dan bercengkrama dengan..... peri.

__ADS_1


Yah..... rupanya makhluk yang dikejar Zahra dan Kania itu adalah peri - peri kecil yang sepintas lalu mirip seperti seekor kupu - kupu.


"Zahra...!" Seru Pangeran Khalied memanggil Zahra.


Merasa ada yang memanggilnya, Zahra pun menoleh. Dilihatnya, Khalied sedang berdiri menatap dirinya dengan senyum yang lebar.


"Khalied...!" Zahra berlari menyongsong Khalied yang juga sudah berlari dengan tak sabar mendatangi Zahra. Begitu bertemu, keduanya saling berpelukan dengan erat melepas rindu.


Berkali-kali, Pangeran Khalied mengecup pucuk kepala Zahra dengan sayang dan penuh kasih. Kerinduan dihatinya, dia curahkan semua pada gadis pujaannya itu. Hatinya benar - benar bahagia. Bunga - bunga laksana bermekaran di hati kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu.


Bahkan, sampai tak sadar, Pangeran Khalied meraup dan mencium bibir ranum Zahra yang merekah bak bunga.


Meskipun awalnya kaget dan tak menduga, tetapi Zahra akhirnya menerima juga dengan pasrah. Dia mencoba membalas ciuman Pangeran Khalied walaupun itu terasa canggung baginya.


Sedangkan Pangeran Arkana, hanya terpaku diam menatap ke arah Kania yang juga tengah menatap dirinya. Kedua insan yang sebenarnya saling menyintai namun terhalang oleh gengsi dan keadaan, itu hanya bisa saling bertegur sapa.


"Hai, ... akhirnya kau menemukan kami." ucap Kania pada Pangeran Khalied.


"Itu benar. Karena aku sudah bilang padamu bahwa kemana pun kau pergi, aku akan menemukanmu dan membawamu kembali bersamaku." jawab Pangeran Arkana.


"Arka... " Kania tak dapat lagi menguasai diri. Dia menangis karena senang bisa melihat kembali wajah Pangeran Arkana.


Sebenarnya, dia merasa takut, jika saja pemuda itu tak berhasil menemukan mereka. Yang dia pikirkan, apa yang kemudian akan terjadi. Akankah dirinya juga akan di tinggalkan dan di lupakan juga oleh Pangeran Arkana.


melihat Kania menangis, hati Pangeran Arkana ikut pula merasa sedih. Dengan segera, dia meraih kepala gadis itu dan Merebahkannya di dadanya yang bidang.


Kania mencurahkan tangis dan kesedihanya di dada Arkana. "Menangislah, tapi setelah ini, kau tidak boleh lagi menangis. Karena aku akan menghukummu jika melihat ada air mata jatuh di pipimu lagi." ucap Arkana.


Kania tersenyum meski di paksakan. Dia menghapus air matanya dengan kasar.

__ADS_1


"Hahaiii.... rupanya ada dua sejoli yang sedang di mabok cinta.... " sebuah suara mengagetkan kedua sejoli itu.


"Lari, Kak. Itu adalah Bluma...!!" seru Zahra kepada Pangeran Khalied.


__ADS_2