Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 110


__ADS_3

Zahra yang mendengar apa yang diperintahkan Si Codet kepada anak buahnya terkejut bukan kepalang. Apa yang diinginkan oleh Si Codet. Mengapa lelaki dengan luka memanjang di wajahnya itu menginginkan dirinya.


"Siapa kalian...!" bentak Zahra.


Ketika melihat Zahra bertanya seperti itu, mereka semua tertawa terbahak - bahak. Mereka serempak langsung bergerak mendekati Zahra dan ibunya.


"Mau apa kalian ....?" bentak Mpok Suri, ibunya Zahra. Dia berdiri di depan anaknya. melindungi Zahra dari preman - preman anak buah si Codet.


Zahra menatap kepada seorang laki-laki yang wajahnya terdapat luka seperti bekas goresan memanjang. Wajah orang itu dingin dan sadis.


Disampingnya berdiri seorang laki-laki lain yang tampangnya tak kalah dingin dan sadis. Orang itu jika dilihat sekilas mirip seperti seorang dukun.


Mata si Codet berbinar menatap Zahra. Tubuh sintal dan bersih milik Zahra amat menggoda hatinya. Pasti Zahra masih perawan, pikir Si Codet. Memikirkan itu membuat si Codet menelan air liur. Dia sudah tak sabar ingin merasakan nikmatnya tubuh molek Zahra.


Tanpa mereka sadari, seseorang juga hadir di tempat itu. Dialah Pangeran Khalied. Pangeran Khalied sudah tahu akan kedatangan Si Codet karena berkaca dari peristiwa di waktu yang lain.


Pangeran Khalied yang bisa membaca pikiran orang lain menjadi geram dan marah ketika dia mengetahui apa yang ada di dalam pikiran si Codet dan gurunya.


"Zamura, kemarilah... aku ada tugas untukmu...!" Pangeran Khalied memanggil Zamura untuk membantunya menghadapi si Codet.


Dalam sekejap mata, Zamura muncul di hadapan Pangeran Khalied dalam wujud aslinya.


"Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan..?" Zamura bertanya kepada tuannya itu.


"Kau lihat lelaki yang berdiri di sebelah orang yang wajahnya terdapat luka," tunjuk Pangeran Khalied kepada Ki Boma, guru Si Codet.


"Tugasmu adalah menghadapi dirinya. Aku mau membereskan lelaki yang itu." tunjuk Pangeran Khalied pada Si Codet.


Zamura mengangguk patuh dan berdiri mengawasi lelaki yang menjadi target tugasnya.


Sementara itu, Zahra mengenali lima orang pemuda yang pernah ingin menggagahinya tempo hari. Zahra langsung faham, dengan siapa kini dia berhadapan. Laki-laki mengerikan yang sedang berdiri di depannya ini pastilah Si Codet. Preman pasar yang suka mengganggu ketenangan dan ketentraman para warga kampung sini.


Zahra pun langsung merasa khawatir. Dia mencemaskan keadaan dirinya dan ibunya. Kedatangan Si Codet ke rumahnya tengah malam begini pastilah ingin berbuat yang tidak baik.


Dalam hati, gadis itu benar - benar mengharapkan kehadiran Khalied sekarang ini di rumahnya.


Zahra beringsut ke belakang ibunya saat Si Codet berjalan mendekat ke arah mereka. Dia merasa takut saat bersitatap dengan Codet yang menatap Zahra penuh nafsu.


' Mau apa, kalian...? Pergi...! Pergi kalian semua dari sini.. " seru Mpok Suri.

__ADS_1


" Hahaha, hei Wanita Tua. Tempat ini adalah wilayah kekuasaanku. Kekuasaan si Codet. Raja Preman dari kampung Salak. Tak ada seorang pun yang berani mengusirku. Mengerti..!! " bentak si Codet pada Mpok Suri. Tangannya terayun hendak menampar wanita itu.


Mpok Suri menjerit kesakitan saat tangan Si Codet yang besar dan kasar mengenai pelipisnya. Zahra memekik ketakutan seraya memeluk ibunya.


" Jangan sakiti ibuku, aku mohon." pintanya. Dia lalu merogoh sakunya. "Ini, ambilah uang ini, hanya ini uang yang kami punya. Kami tidak punya apa-apa lagi..." kata Zahra seraya menyodorkan uang itu kepada Codet dan anak buahnya.


Si Codet dan anak buahnya tertawa terbahak-bahak menyaksikan ibu dan anak gadisnya yang meringkuk ketakutan sambil berpelukan.


"Hahaha, sayangnya, kali ini aku tidak tertarik dengan uang kalian. Aku lebih tertarik dengan dirimu.. !"


Codet merenggut paksa Zahra dari ibunya dan memutar lengan wanita itu dalam cengkramannya. Zahra meringis menahan sakit. Air matanya yang sejak tadi di tahannya, akhirnya tumpah juga.


Si Codet makin bernafsu melihat wajah Zahra yang putih mulus digenangi air mata.


Mpok Suri tak tinggal diam. Dengan berani, ibunya Zahra itu menarik Zahra hingga Zahra pun terlepas dari cengkraman Si Codet.


"Pergi...! atau aku akan berteriak untuk memanggil warga sehingga warga akan berdatangan dan menghajar kalian.. !! " ancam Mpok Suri.


Rasa takut dalam dirinya hilang saat melihat putrinya tersakiti. Naluri melindungi seorang ibu begitu kuat mengalahkan rasa takut.


Bukan main marahnya Si Codet karena merasa diancam dan remehkan oleh seorang wanita.


Si Codet bergerak maju mendekati Mpok Suri di susul anak buahnya. Kini anak buah si Codet sudah memegangi Zahra dan ibunya.


Si Codet mengeluarkan sebilah belati dari balik bajunya dan menodongkan ke leher Mpok Suri.


"Kamu mau merasakan ujung belati ini menembus kulit tua dan keriputmu itu, Hah..!! " bentaknya.


Zahra menjerit melihat ujung mata belati yang tajam itu menggores leher ibunya. Darah mengalir ke luar dari leher ibunya.


" Ibu ...!! Jangan sakiti ibuku. Aku mohon lepaskan kami." hibanya pada si Codet. Namun, bukannya melepaskan Zahra dan ibunya, malah kini Si Codet mendekati Zahra.


" Lepaskan, anakku...! Atau aku benar-benar akan berteriak saat ini. Tolong.... tolong.....! " ancam Mpok Suri.


" Hahahaha, berteriaklah sepuasnya hatimu, Wanita Tua. Tak akan ada yang mendengar teriakan kalian....? " kata Si Codet.


" Seseorang, tolong kami.... Tolong... Tolong kami....! " teriak Mpok Suri sambil terus memberontak untuk melepaskan diri. Dia ingin membebaskan putrinya dari cengkraman si Codet.


Seseorang anak buah si Codet meraih sebuah balok kayu yang tergeletak tak jauh dari tempat itu. Dia bermaksud hendak memukul mpok Suri dari belakang.

__ADS_1


Balok terayun ke atas dan melayang ke arah kepala Mpok Suri.


"IBU...!!." Zahra menjerit histeris melihat hal itu.


Namun keanehan terjadi, balok itu tak sampai mengenai kepala Mpok Suri dan hanya melayang saja di udara.


Ternyata balok itu di tahan oleh Pangeran Khalied. Pangeran itu muncul tepat pada saat - saat genting. Melayang - layang di udara menahan balok itu dan kemudian melemparkan balok itu berikut anak buah si Codet yang memegangnya.


Anak buah si Codet yang malang itu terlempar jauh dan terhempas jatuh ke bumi dengan sangat keras. Seketika itu juga lelaki itu meregang nyawa.


Zahra terbelalak tak percaya dengan penglihatannya. Ternyata Allah SWT mendengar doa - do'anya. Pemuda itu datang di saat dia benar-benar membutuhkan pertolongan pemuda itu.


Kini Pangeran Khalied sudah berdiri di depan Zahra dan ibunya.


"Khalied, kau datang...?" ucap Zahra dengan mata berkaca - kaca. Dia bersyukur, ibunya selamat dari kekejaman anak buah si Codet.


"Aku sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi, maka aku selalu mengawasi dan menjagamu. Tetaplah berada di dekatku, Zahra." ucap Pangeran Khalied.


"Baik, Khalied. Terima kasih karena sudah datang." kata Zahra.


"Siapa kau. Mengapa ikut campur urusanku...!! " Ucap Si Codet murka.


"Aku adalah teman gadis itu. Sudah kewajibanku untuk menolongnya. Jika kau tak suka, kau boleh angkat kaki sekarang juga bersama semua anak buahmu..!" kata Pangeran Khalied dengan tenangnya.


"Cuih..! Aku bahkan sudah tak sabar untuk mencincang tubuhmu!! " ucap Si Codet dengan lantangnya.


"Omongan kamu besar juga, Bung..! " kata Pangeran Khalied sambil tersenyum dan menampakkan sepasang gigi taringnya yang kemudian memanjang.


"Iblis.... rupanya kau adalah iblis..!!" seru Si Codet. "Anak - anak, serang iblis itu." perintahnya kemudian.


Anak buah Codet serentak mengepung Pangeran Khalied. Mereka ingin melumpuhkan Pangeran Khalied dengan cara mengeroyok pemuda itu beramai-ramai.


Akan tetapi, hanya dengan sekali gebrakan saja, semua anak buah si codet roboh dan tumbang bergelimpangan terkapar tak berdaya.


Bukan main terkejutnya Si Codet melihat hal ini.


"Alangkah kuat pemuda itu. Aku harus berhati-hati terhadapnya." ucap Si Codet dalam hati.


Melihat itu, Ki Boma bermaksud mengunakan cara licik untuk mengalahkan Pangeran Khalied. Dia bermaksud untuk mendekati Zahra dan berniat untuk menyandera gadis itu.

__ADS_1


Akan tetapi, baru saja dia hendak menyentuh Zahra, muncul di hadapannya Zamura dalam wujud aslinya.


"Codet, rupanya hari ini kita sedang berhadapan dengan para jin. Hati-hati, jangan anggap sepele karena alam mereka berbeda dengan alam kita." ucap Ki Boma....


__ADS_2