
Semua makanan dan minuman serta buah - buahan segar yang enak itu diberikan kepada ibunya Zahra untuk menyambut kedatangan calon besan mereka.
Ibunya Zahra merasa sangat takjub sekali. Belum pernah dia melihat makanan dan minuman serta buah - buahan sebanyak ini.
"Assalamu'alaikum, ...!" sebuah suara terdengar dari arah luar rumah.
"Waalaikum salam..!" sahut Ibunya Zahra, Zahra dan Pangeran Khalied secara bersamaan.
"Itu suara Ibunda Ratu Asmi.!" kata Pangeran Khalied.
"Siapa..?" tanya Ibu Suri, ibunya Zahra heran. Apa dia tak salah dengar. Tadi Khalied menyebutkan 'ibunda ratu Asmi'. Siapa yang dia maksud..
__ADS_1
"Ibuku, ibunda ratu Asmi. Yang datang kemari bersama ayahandaku serta uwaku..." jawab Pangeran Khalied.
Seorang raja dan ratu....? Benarkah besannya seorang Raja dan Ratu. Astaga.... mimpi apa dia semalam mendapatkan anugrah sebesar ini. Tapi bagaimana dengan dirinya dan putrinya. Apakah dia dan putrinya itu pantas mendapatkan anugrah ini.
Jadi Khalied seorang pangeran..? Itu yang baru ibu Suri ketahui. selama ini pemuda yang sering bertamu ke rumahnya, dan sudah banyak membantu keluarganya adalah anak seorang raja..?
Pangeran Khalied dan Zahra bergegas keluar hendak menemui Pangeran Hasyeem dan Ratu Asmi yang datang bersama rombongan keluarganya saat itu.
Di belakang mereka menyusul Ibu Suri, ibunya Zahra. Mereka semua hadir menyambut kedatangan 'tamu' jauh yang berasal dari alam sebelah.
Sungguh, dirinya merasa sangat malu dan sungkan menyadari keadaan dirinya. Bagaimana keadaan telah menakdirkan dirinya yang miskin ketika harus menerima takdir dan kenyataan, bahwa putrinya di persunting oleh seorang putra raja. Sehingga menjadikan dirinya memiliki calon besan seorang raja dan ratu.
__ADS_1
Seluruh keluarga Pangeran Khalied masuk ke dalam. Mereka adalah Pangeran Hasyeem dan istrinya. Lalu ada keluarga Pangeran Allyan dan istrinya Aluna beserta Panglima Ammar dan juga istrinya yang kedua, yaitu Nisa. Juga keluarga Mas Ardi dan anaknya. Istri Mas Ardi sudah lama berpulang ke Rahmatullah. Ada pula Nadia yang menggantikan ibunya Mirna, karena ibunya itu sedang sakit. Yang terakhir adalah keluarga Putri Arryan yang datang bersama Andros. Hanya keluarga Pangeran Azzura dan keluarga Putri Humaira saja yang tidak ada di sana.
Pangeran Khalied, Pangeran Pangeran Allyan dan Pangeran Hasyeem bukannya tidak menyadari akan kegelisahan dan rasa sungkan di hati Ibunya Zahra. Keduanya tahu, betapa wanita tua itu setengah mati menahan rasa malu ketika mengetahui siapa calon besannya.
Sehingga kemudian terucaplah kata dari mulut Pangeran Hasyeem.
"Tak usah terlalu tinggi memandang kami hanya karena kedudukan dan pangkat yang dibuat oleh sebagian mahkluk. Karena sesungguhnya nilai dan derajat kemuliaan seseorang terletak pada ketakwaannya kepada Sang Pencipta. Janganlah sungkan pada kami, karena kami datang ke sini hanya bermaksud ingin mempersunting putri ibu."
"Kalau demikian, silahkan di cicipi dulu hidangan ala kadarnya dari kami. Semoga saja kalian suka." kata Ibunya Zahra.
Beberapa tetangga Zahra turut pula datang dalam acara lamaran tersebut
__ADS_1
karena mereka penasaran dengan calon suami Zahra. Mereka sangat Atunsias sekali ingin melihat tampang pemuda yang menjadi jodoh Zahra. Mereka juga turut merasa gembira atas kebahagiaan yang dirasakan oleh Zahra dan ibunya.
"Semua saya kembalikan pada Zahra saja. Terserah anak - anak tentang masa depan mereka. Apa yang sudah menjadi pikiran dan cita - cita kalian, silahkan saja. " kata Ibunya Zahra.