Pedang Dan Cinta Sang Pangeran

Pedang Dan Cinta Sang Pangeran
Bab. 130 Hukuman


__ADS_3

"Selamat tidur, Tuan Putri Humaira. Aku mencintaimu dalam diam, dan itu adalah hal terindah yang pernah aku rasakan dalam hidupku"


***


Putri Humaira berdiri tegak di hadapan ayahandanya Pangeran Hasyeem dan ibundanya ratu Asmi.


Hari ini, bersama kakaknya Putri Arryan dan Zyftar, mereka bertiga bertemu dengan kedua orang tua mereka untuk meminta izin memelihara Balqis di istana tersebut.


"Jadi, kalian bermaksud ingin memelihara anak kecil ini..?" tanya Pangeran Hasyeem setelah mendengar cerita dari Putri Humaira tentang Balqis dan juga tentang yang terjadi dengan kedua orang tuanya.


"Iya, ... ayahanda. Kalau boleh. Kalau tidak maka kami akan membawanya kembali ke dunia manusia dan membesarkannya di sana." kata Putri Humaira.


Kening Pangeran Hasyeem berkerut ketika mendengar ucapan Putrinya itu.


Apa maksud dari kata 'kami' itu...?


"Tunggu dulu, katakan padaku, apa maksud dari kata 'kami' itu. Apakah maksudnya dirimu, Putri Humaira dan Putri Arryan atau Zyftar...?" tanya Pangeran Hasyeem dengan tegas.


Pucat pasi wajah Putri Humaira dan Zyftar mendengar bentakan Pangeran Hasyeem. Mereka takut dan gentar nyalinya ketika penguasa bukit Malaikat itu marah.


Akan tetapi, sebenarnya, Pangeran Hasyeem hanya bermaksud untuk menguji saja, sampai dimana rasa tanggung jawab kedua orang itu. Sebab dia tahu, keduanya sama-sama memendam rasa itu.


"Kanda, Pangeran. Bersabarlah...!Jangan dulu kanda Pangeran terbawa emosi dalam menghadapi masalah ini." kata Asmi sambil menahan tubuh Pangeran Hasyeem agar tidak maju mendekati Putri Humaira dan Zyftar.

__ADS_1


"Tidak, Ratuku. Aku hanya ingin jelas tentang masalah ini. Karena ini menyangkut nyawa anak manusia. Zyftar... aku memberimu amanah untuk menjaga Putriku dengan baik. Tapi mengapa bisa terjadi seperti ini."


"Ampun, Tuanku Pangeran Hasyeem, Hamba mengaku salah. Hamba siap menerima hukuman.. " kata Zyftar.


"Kenapa harus Zyftar yang dihukum, aku yang salah karena memilih untuk menyelamatkan gadis kecil itu. Aku yang meminta Zyftar untuk menyelamatkan gadis itu dari kematian. Tapi mengapa harus Zyftar pula yang harus menerima hukumannya. Ini tidak adil, ayahanda..! kata Putri Humaira dengan berani. Gadis itu protes karena menilai keputusan ayahanda tidak adil bagi Zyftar.


"Ayah, Zyftar tidak bersalah, mengapa harus di hukum..?" kata Putri Aryyan mencoba untuk membela pengawal pribadi adiknya itu.


"Tuan, Putri. Hamba memang bersalah. Hamba telah gagal melaksanakan tugas dengan baik. Hamba siap menerima hukuman. Tuan Putri tak perlu membela hamba lagi. Jangan membantah perkataan ayahanda tuan Putri." kata Zyftar kepada Putri Humaira.


"Tidak, Zyftar.. ! Aku Tidak rela jika kamu harus di hukum karena kesalahanku. Maka, jika ayahandaku ingin menghukum dirimu, maka dia juga harus menghukum diriku..!" kata Putri Humaira.


"Tuan Putri Humaira, jangan berkata seperti itu. Cabut kembali kata-kata itu. Tidak... tuan Putri tidak boleh di hukum..!" kata Zyftar.


"CUKUP...! kalian berdua tidak usah saling melindungi. Aku sudah memutuskan bahwa kalian berdua harus di hukum. Kalian berdua menikah dan tinggallah di dunia manusia selama dua belas periode kalender bulan." kata Pangeran Hasyeem kepada Putri Humaira dan Zyftar.


"Aku bersedia, menerima hukuman ini." kata Putri Humaira.


"Tuan Putri, jangan gegabah. Pikirkan baik - baik masalah ini. Jangan langsung menerima keputusan yang Mulia Pangeran Hasyeem." kata Zyftar.


Pemuda itu dengan gigih meminta kepada Putri Humaira untuk mencabut keputusannya dan segera memohon ampunan kepada Pangeran Hasyeem.


"Tuanku Pangeran Hasyeem, hamba mohon, jangan hukum tuan Putri Humaira. Biar hamba saja yang menerima hukuman ini. Hamba sanggup untuk memikul hukuman Tuan Putri Humaira. Asalkan Tuanku mau mengampuni tuan Putri."

__ADS_1


Putri Arryan amat terharu melihat betapa Zyftar begitu melindungi Putri Humaira. Tahulah dia apa maksud dan tujuan ayahandanya berkata demikian. Kini dia bisa melihat ketulusan cinta dari Zyftar untuk Putri Humaira sangatlah besar hingga sanggup berkorban sedemikian besar.


"Cukup, Zyftar. Tak perlu lagi kamu memintakan ampunan untukku. Jawab saja, apakah kamu mau menikah denganku atau tidak..?" tanya Putri Humaira akhirnya. Final dan telak...


Zyftar terdiam tak lagi bisa menjawab pertanyaan Putri Humaira.


"Zyftar... apakah... "


"Ampun, Tuan Putri, hamba bersedia...!" Jawab Zyftar akhirnya. Wajah pemuda itu memerah dan kemudian berubah kuning, lalu berubah putih.


"Hamba bersedia menikah dengan anda Putri Humaira dan menjalani hukuman tinggal di dunia manusia selama dua belas periode bulan." kata Zyftar lagi.


"Baiklah, karena kamu sudah bersedia menikah dengan putriku dan bersedia pula untuk menjalani hukuman tinggal di dunia, maka sekarang kalian berdua bersiaplah untuk aku nikahkan..!" kata Pangeran Hasyeem.


Putri Humaira dan Zyftar mengangguk tanda patuh pada keputusan Pangeran Hasyeem.


"Putriku, apa yang kau pinta dari Zyftar sebagai mahar pernikahan kalian..." kata Pangeran Hasyeem.


"Ananda minta Qur'an surah Ar Rahman dan seperangkat alat sholat sebagai mahar, ayahanda.. " jawab Putri Humaira.


"Zyftar, apakah kau sanggup menyediakan mahar untuk Putriku ini..?" tanya Pangeran Hasyeem.


"Insya Allah. Hamba sanggup, Tuanku." jawab Zyftar penuh percaya diri. Tak ada lagi keraguan di hatinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku beri kau waktu satu hari untuk mempersiapkan diri. Besok kembalilah kemari. Dan tentunya dengan mas kawin yang diminta oleh putriku..!" kata Pangeran Hasyeem.


"Baik Tuanku. Hamba akan segera mungkin untuk menyediakan mahar yang diminta tuan putri" kata Zyftar kemudian.


__ADS_2